Ada tiga asumsi menyikapi agama, menerima atau menolaknya.
Asumsi pertama: Pembawa agama dan penyampai wahyu Tuhan itu manusia biasa, yang berbuat salah dan kadang lupa. Karena itu, sebagian ajarannya tidak bisa mutlak diterima dan diterapkan, bahkan perlu dikoreksi dan diganti dengan pandangan-pandangan lain yang dinilai lebih logis dan relevan.
Premis I : Penyampai wahyu Tuhan dan pengawal adalah manusia biasa (tidak pasti benar karena lupa dan salah)
Premis II : Nabi adalah penyampai wahyu Tuhan
Premis II: Wahyu Tuhan adalah biasa (tidak pasti benar)
Karena agama yang dianutnya “biasa”, ia merasa perlu menyempurnakan, bongkar pasang dan merevisinya. Ini sangat bisa dimaklumi bila dilihat dari konteks dasar penerimaannya.
Ini bisa diumpamakan dengan orang yang menerima martabak biasa bahkan sangat biasa. Sambila menggerundel menambahkan garam, telur dan beberapa bahan utk bisa menikamtinya.
Asumsi kedua: Penyampai wahyu Tuhan dan pengawal agama adalah manusia biasa. Karena biasa (salah dan lupa), maka ajarannya biasa (salah dan lupa). Karena ajarannya (biasa) bisa salah dan lupa, maka ajaran Tuhan yang benar tidak bisa disampaikan. Karena tidak bisa disampaikan ke manusia, maka tidak ada agama yang bisa diterima.
Premis I : Wahyu Tuhan adalah biasa (tidak pasti)
Premis II: Sesuatu yang tidak pasti benar mesti ditolak
Premis II: Wahyu Tuhan mesti ditolak
Karena agama yang dianutnya ternyata tidak benar, maka ia pun meninggalkannya. Ini juga bisa dimaklumi bila melihat konteks dasar penerimaannya.
Ini bisa diumpamakan dengan orang yang menolak makan martabak yang sama sekali tidak sesuai dengan ekspektasinya tentang martabak yang layak dimakan.
Asumsi ketiga: Pembawa dan penyampai wahyu bukanlah manusia biasa, karena manusia penyampai wahyu berbeda dengan manusia yang tidak menyampaikan wahyu. Apabila penyampai wahyu adalah manusia biasa (salah dan lupa), maka :
1) Manusia penyampai wahyu dan yang bukan penyampai wahyu adalah sama (lupa dan salah) (Ajaran Nabi tidak terjamin kebenarannya) (asumsi pertama).
2) Ajaran Tuhan tidak akan pernah sampai (asumsi kedua).
Padahal kita umat bergama dan umat Islam secara khusus telah menerima agama dan membenarkan wahyu yang disampaikan oleh manusia penyampai tersebut. Maka konsekuensinya adalah : penyampai wahyu pastilah manusia luar biasa (tidak lupa dan tidak salah) agar :
1) Ajaran Tuhan yang disampaikannya luar biasa (tidak salah dan tidak lupa)
2) Penyampain ajaran Tuhan adalah manusia luar biasa (tidak salah dan tidak lupa)
3) Ajarannya yang disampaikan mesti diterima dan diterapkan karena disampaikan oleh manusia yang tidak salah dan tidak lupa.
Ini bisa diumpamakan dengan orang yang menerima dan menikmati martabak luar biasa (spesial), dan tidak merasa perlu sibuk menambahkan bumbu atau lainnya apalagi minta dibuatkan martabak baru.
