Sebuah artikel bagus yang ditulis oleh teman saya, Dr. Suadi Saad, salah satu intelektual muda NU yang sangat akrab dengan literatur dan karya-karya pemikir Syiah.
Tragedi pembunuhan terhadap Husain b. Ali as (cucu Rasulullah saw) oleh Yazid b. Muawiyah, yang terjadi pada tanggal 10 Muharram 61 H (680 M) di padang Karbala, merupakan tonggak sejarah Islam yang tak akan terlupakan oleh kaum muslim, apapun mazhabnya. Hal itu, salah satunya, karena peristiwa tersebut menyangkut keluarga Nabi saw yang dihormati oleh mereka semua.
Di kalangan muslim Ahlussunnah, misalnya, terdapat banyak riwayat tentang kedudukan Imam Husayn as dan `itrah (keluarga) Nabi saw. Disinyalir pula ada beberapa ayat Qur’an yang diturunkan mengenai kedudukan mereka. Di antara hadis tersebut adalah sabda Rasulullah saw, “حسين منى و أنا منه” (Husain adalah bagian dariku dan aku adalah bagian darinya), juga hadis-hadis yang diriwayatkan di dalam menafsirkan ayat-ayat Mubâhalah, Tathhîr, dan Mawaddah. Di dalam tradisi Ahlussunnah juga banyak hadis yang diriwayatkan dari Nabi saw yang meramalkan kesyahidan Imam Husain as di Karbala serta kewajiban untuk membela beliau. Di dalam buku-buku sejarah Ahlussunnah juga disebutkan faktor-faktor yang memicu timbulnya Revolusi Karbala pada masa Muawiyah dan Yazid itu, demikian juga watak sebenarnya dari pemerintahan mereka. Misalnya, watak kesenangan dan ketamakan Muawiyah akan kekuasaan serta kebejatan moral Yazid yang senang mengumbar nafsu birahinya. Itulah yang mendorong beberapa mufti dan ulama Ahlussunnah seperti al-Alusi, al-Taftazani, al-Syawkani, dan lainnya untuk menyatakan Yazid sebagai seorang kafir.
Selain alasan di atas, karena peristiwa itu merupakan manifestasi perjuangan melawan kebatilan dan kesewenang-wenangan. Kita mengetahui bahwa Imam Husain as pada zamannya telah bangkit melakukan serangkaian perlawanan dan kemudian mati syahid dalam melakukan perlawanan itu. Banyak sekali riwayat yang berbicara mengenai pernyataan kesedihan dan belasungkawa terhadap Imam Husain as. Seorang muslim yang bermazahab apapun tidak bisa mengingkari riwayat-riwayat yang semacam itu.
Pada saat itu kondisi umat Islam telah sedemikian rupa, hingga sampai pada titik di mana Imam Husain as sadar bahwa merupakan kewajibannya untuk bangkit demi menjaga dan memelihara Islam. Kebangkitannya adalah kebangkitan di jalan membela kebenaran. Perselisihannya dengan khalifah bukan didasarkan atas keyakinan bahwa “kamu tidak boleh eksis dan saya yang harus eksis”. Akan tetapi perselisihannya bersumber kepada ajaran-ajaran pokok dan mendasar. Walaupun yang menempati kedudukan Yazid adalah orang lain, tetapi dia bertindak seperti yang dilakukan Yazid, Imam Husain as pun tetap akan bangkit. Baik orang itu berbaik-baik kepada beliau maupun berlaku buruk.
Perang Imam Husain as adalah perang akidah dan keyakinan, perang yang dilandasi oleh keyakinan. Yaitu perang antara kebenaran dan kebatilan. Dalam perang antara kebenaran dan kebatilan, Iman Husain as tidak lagi mempunyai pengaruh kepada pihak lawan, dan dalam keadaan yang demikian, setiap orang mukmin harus lebih memilih mati dibandingkan hidup. Seorang muslim, ketika melihat bahwa kebenaran sudah tidak bisa lagi dijalankan dan kebatilan sudah tidak bisa dicegah, maka dia harus bangkit dan siap untuk mati syahid.
Asyura dan Bi`tsah
Jika kita menilik sejarah ke belakang, maka perjuangan Imam Husain as hampir identik dengan perjuangan kakeknya, Nami Muhammad saw. Pada awal abad ketujuh, bersamaan dengan permulaan risalah beliau (bi`tsah) dan munculnya Islam, terjadi gerakan reformasi keagamaan yang sangat serius, yang bertujuan untuk mentransformasi budaya dan hubungan-hubungan sosial lainnya yang ada di Mekah. Gerakan ini mengajak masyarakat untuk melakukan revisi yang mendalam terhadap agama mereka, mengubah persepsi mereka, mempertimbangkan kembali tindak-tanduk dan hubungan sosial mereka yang berbahaya dan tak berakhlak. Gerakan ini kritis terhadap praktek penyembahan berhala. Dengan menekankan moralitas, spiritualitas, dan kemanusiaan, gerakan ini menyatakan bahwa hidup manusia di bumi ini mempunyai makna dan tujuan. Gerakan ini juga mendukung rasionalitas dan keadilan, serta mendorong kebiasaan, tradisi, dan aturan yang positif.
Di dalam perkembangan gerakan pembaharuan keagamaan ini, sebagaimana gerakan sosial lainnya, terdapat bahaya dan ancaman yang mengintai di belakangnya. Ancaman ini menjadi semakin serius setelah wafatnya Nabi Muhammad saw di mana akhirnya gerakan yang idealistik dan monoteistik bermetamorfosis menjadi sistem Khilafah dan “Kekaisaran Islam”. Selama metamorfosis ini, sedikit demi sedikit, muncul sebuah “kelas baru” yang ketamakannya mencapai taraf psikotik. Kelas baru yang sangat materialistik dan ambisius ini memegang kontrol monopolistik atas kekayaan dan kekuasaan politik. Proses ini akhirnya berpuncak pada munculnya kekuasaan Bani Umayah. Disebabkan oleh kekejaman rejim ini, seperti biasanya, semua orang pun bungkam seribu bahasa. Tak ada anggota masyarakat yang berani melawan terhadap perilaku penguasa yang bejat.
Dua tahun sebelum Muawiyah (dari Bani Umayah) meninggal, Imam Husain as berbicara kepada beberapa tokoh muslim di Mina, “Aku khawatir, dengan keadaan seperti sekarang ini, Kebenaran menjadi ditinggalkan dan barangkali sama sekali dilupakan.” Sejak itulah, rejim penguasa berusaha keras untuk menyingkirkan Imam Husain as.
Di satu sisi, kita melihat rejim Umayah seakan-akan adalah kekuasaan yang relijius, tetapi ia tidak dipilih oleh rakyat. Ia adalah kekuasaan yang otokratis dan diktator, tidak adil, dan tidak toleran terhadap oposisi. Di sisi lain, kita menyaksikan seorang manusia yang ingin memecah kebungkaman, untuk menyatakan “tidak” terhadap penguasa yang lalim. Ia berjuang demi reformasi, bukan karena ambisi. Dia adalah pejuang kebebasan, yang menolak hidup dengan berarang muka. Ia menderita demi mempertahankan kebenaran dan membawa perubahan struktural dalam masyarakat, tetapi ia tetap membolehkan para sahabat dan teman-temannya untuk memilih jalan mereka sendiri secara bebas.
Memang, salah satu karakteristik dasar dari risalah-risalah agung adalah wataknya yang memisahkan yang benar dari yang batil dalam segala menifestasinya. Ketika kebenaran memudar akibat keadaan yang ada, ketika segala sesuatu dilakukan dengan mengatasnamakan kebenaran, dan ketika beberapa orang mengeksploitir kata-kata itu, maka berbagai kekuatan kebenaran terus-menerus dimarjinalkan dan kebobrokan merajalela. Lalu, ketika kebenaran diturunkan dari keagungannya dan kebatilan berkuasa, nilai apakah yang masih tersisa bagi umat manusia?
Di sinilah para rasul, para imam, dan syuhada yang agung memegang peran. Mereka bangkit untuk mengenyahkan gelapnya kebatilan, sehingga cahaya kebenaran muncul kembali menyinari seluruh penjuru hidup manusia dan mencerahkan akal, menyadarkan jiwa, serta mengubah perihidup hewani yang rendah menuju perihidup manusiawi yang mulia.
Itulah mengapa kita yakin bahwa budaya Asyura bersinar bagaikan permata di dalam sejarah Islam dan kemanusiaan, dan bahwa Imam Husain as merupakan guru yang agung dan tulus hati bagi seluruh umat manusia.
Beberapa Fondasi
Di antara prinsip ideologis peristiwa Asyura adalah pengesaan Tuhan (tawhîd) dan amar ma`ruf nahi munkar. Ketauhidan itu termanifestasi di dalam pernyataan Imam Husain as “Aku menerima sepenuhnya kehendak-Mu”. Tujuan beliau adalah semata-mata untuk mencapai ridla Allah. Beliau melaksanakan tugasnya dan tidak ragu untuk mengorbankan jiwanya.
Fondasi politik dari gerakan Karbala adalah dilupakannya amr bil-ma`ruf (menyuruh kepada kebaikan) dan nahy `an al-munkar (mencegah kemungkaran) sebagai sebuah faktor politis bagi pelaksanaan hukum Islam. Pidato Imam Husain as menggambarkan berbagai dimensi dan konotasi yang luas dari konsep amr bi al-ma`ruf dan nahy `an al-munkar dan, yang lebih penting lagi, sisi praktis dari isu yang secara politik sangat kritis, yakni melawan para penguasa lalim, mengembalikan hak orang-orang tertindas, menumpas penindasan dan perilaku yang batil, serta menjunjung tinggi keadilan di dalam masyarakat.
Gerakan Asyura dan pemberontakan Imam Husain as merupakan puncak kewajiban amar ma`ruf nahi munkar dan menggambarkan adanya pengorbanan di dalam melaksanakanya. Tugas ini banyak diutarakan di dalam berbagai pernyataan dan tindakan Imam Husain as. Misalnya, beliau tidak mau mengadakan perjanjian dengan Yazid dan memberontak untuk menjaga agama yang dibawa oleh kakek-Nya.
Landasan lain yang menjadi penggerak dan dasar yang efektif dari peristiwa Asyura adalah keadaan yang menyedihkan dari para pemimpin dan tokoh-tokoh agama, serta tidak adanya sense of responsibility mereka terhadap masyarakat Islam. Tekad Imam Husain as untuk memberontak, sebagaimana dinyatakan di dalam khutbah beliau dua tahun sebelum kematian Mu`awiyah, bukanlah kekuasaan dan dunia, tetapi “ingin menunjukkan (kepada umat) peta ajaran agama dan mereformasi umat Islam…”
Imam Husain as adalah personifikasi dari Jihâd dan kesyahidannya adalah manifestasi dari keyakinan akan Hari Akhirat. Imam Husain as telah terbunuh bukan di dalam rangka membela kepentingan pribadi, bukan di dalam rangka mengorbankan dirinya sebagai tebusan bagi dosa-dosa umat, melainkan dalam rangka membela kebenaran dan dalam jalan memerangi kebatilan.
Tentu saja, kita menginginkan teladan dan ajaran beliau tetap hidup di muka bumi. Kita ingin, ajaran perlawanan kebenaran terhadap kebatilan senantiasa hidup di muka bumi. Kita ingin bahwa ini merupakan ajaran kebebasan dan kemerdekaan, serta satu ajaran perlawanan terhadap kelaliman, yang akan senantiasa hidup.
Beberapa Pelajaran
Tragedi Karbala adalah sebuah peristiwa yang luarbiasa, dan melihat fakta bahwa keagungannya unik dan tak tertandingi, konsekuensinya juga besar. Yang mendorong Imam Husain as untuk bangkit memberontak adalah untuk menghentikan penyimpangan dan bid`ah terjadi di area politik Islam. Penyimpangan itu adalah penentangan terhadap eksistensi sistem Islami dengan meletakkan kekuasaan di tangan orang-orang yang tidak qualified. Setelah Nabi saw wafat berbagai peristiwa berjalan sedemikian rupa sehingga akhirnya mengubah Khilafah menjadi sebuah jabatan turun-temurun. Imam Husain as berjuang melawan penyimpangan ini.
Jika kita melihat Asyura dari sudut pandang ilmu manajemen modern, maka nampak sangat jelas kuatnya kepemimpinan di dalam bidang “motivasi”. Motivasi Asyura adalah di luar batas waktu dan ruang. Motivasi ini adalah bahwa kata Asyura berarti peristiwa plus motivasi. “Asyura” menimbulkan respons intelektual dan emosional yang mendalam dan Imam Husain as telah berhasil menciptakan motivasi yang paling tinggi di kalangan para sahabatnya.
Di dunia yang sekuler saat ini, kita masih melihat peristiwa Asyura tetap relevan. Jika Asyura adalah sebuah realitas, karakter sekuler dunia saat ini juga adalah fakta. Ada tiga elemen dasar di dalam budaya dunia kontemporer: ilmu, individualitas, dan kemerdekaan. Ketiga elemen yang menjadi ideal ini termanifestasi di dalam sejarah dalam bentuk tiga tokoh legendaris: Sokrates, Kristus, dan Husain. Kita menemukan tiga bentuk tragedi pada ketiga tokoh ini, yang menggambarkan tragedi yang mulia dan kematian yang agung. Perbandingan antara ketiga figur ini mengungkapkan berbagai konsep yang laten dalam kehidupan manusia. Tragedi abadi Sopkrates muncul dari pengetahuan manusia tentang kebodohannya sendiri. Tragedi Kristus adalah terjadi karena kecintaan kepada Tuhan. Dan tragedi Imam Husain as adalah demi mempertahankan kemedekaan umat manusia.
Tragedi Karbala menimbulkan banyak perubahan dan perkembangan dalam cara berfikir mengenai berbagai aspek politik, relijius, dan sosial umat Islam. Telah nyata bahwa gerakan Asyura memainkan peran penting dalam memberi semangat bagi kaum muslim di dalam perjuangan mereka menegakkan kebenaran.
Imam Husain as telah bertekad untuk menjalankan “Kehendak Tuhan” untuk membangun dan memperbaharui kembali masyarakat Islam yang murni serta menumpas berbagai konflik masa depan di Dunia Islam, disertai tekad untuk menumpaskan kelaliman para penguasa.
Tantangan yang ada pada masa kini, sekalipun berbeda, tetapi permusuhannya sama saja. Di masa lalu terdapat unsur defensif yang kuat, dan sekarang demikian pula. Pada masa lalu musuhnya adalah orang muslim yang dipengaruhi oleh non-Muslim. Sekarangpun orang muslim masih menyerang tanah kaum muslim lainnya dengan ditopang oleh non-Muslim.
Kuatnya umat muslim terletak pada persatuan umat dan unsur pengorbanan sebagaimana digambarkan oleh Imam Husain as. Kelemahan umat terletak pada ketakberstuan di kalangan umat muslim, ketamakan kepada kekuasaan dan kekayaan dunia, yang menggerakkan kekuatan-kekuatan iblis melawan Islam. Peristiwa Asyura mengajarakan kaum muslim untuk tidak berkompromi dengan para penguasa lalim masa masa kini.
Akhirnya, mari kita tidak membiarkan Imam Husain as mati. Mari kita menjaga beliau dalam bentuk sebuah pemikiran, sebuah ide, dan sebuah keyakinan memerangi kezaliman. Semoga.