OSLO (SuaraMedia News) – Sara Azmeh Rasmussen, wanita keturunan Syiria-Norwegia, merasa geram terhadap sebuah buku berbahasa Arab yang ia sebut disubsidi oleh Arab Saudi. Menurut terjemahan Rasmussen, buku itu berjudul “Penyerang Yahudi – dan negara mereka Israel”. Ia mengatakan isinya seburuk anti-semitisme Hitler.
Kisah lama tentang konspirasi dunia Yahudi didistribusikan. Rasmussen menemukan sebuah bagian di mana kaum Yahudi disebut berbahaya, curang, serakah dan licik, dan kebencian terhadap kaum Yahudi dijelaskan melalui karakteristik itu bersama dengan ayat-ayat Al Qur’an dan penjelasan relijius yang ditulis oleh seorang cendekiawan.
Dewan Islam berada di gedung yang sama dengan Masjid dan toko buku. Sekretaris Jenderal Shuaib Sultan membantah tanggung jawab apa pun atas toko buku dan Masjid tersebut. Namun Rasmussen berpendapat bahwa Dewan Islam tidak dapat menutup mata begitu saja terhadap literatur yang dilewati oleh orang-orang yang akan menuju ke kantor dewan. Buku itu masih dijual dengan harga 55 kroner.
Azmeh Rasmussen tiba dari Syiria pada tahun 1995. Ia tidak mau membicarakan sejarahnya sendiri dengan anti-semitisme. Namun ia mengatakan bahwa ia merasa malu dan menganggapnya sangat serius hingga ia ingin benar-benar mengatasinya.
Selama beberapa tahun ia berencana untuk menulis tesis master tentang bagaimana kaum Yahudi digambarkan di buku-buku sekolah di Syiria dan Mesir. Untuk alasan pribadi, ia harus mengesampingkan rencana itu. Beberapa tahun terakhir ini ia berusaha menulis sebuah kolom tentang subyek itu. Namun sayangnya, ia tidak memiliki banyak waktu untuk melakukan pekerjaan menyeluruh yang diperlukan.
Ia mengatakan bahwa selain itu terdapat penghalang emosional, karena akan membangkitkan sejarah yang tidak ia banggakan.
Kebencian terhadap Yahudi sangat kuat di Syiria, dan tugas-tugas sekolah serta kuliah membangun sebuah kesan bermusuhan dengan Yahudi. Ia mengatakan bahwa sistem pendidikan dan media adalah dua sumber paling penting bagi kebencian terhadap Yahudi di Timur Tengah.
Ia mengatakan bahwa kaum Yahudi digambarkan sebagai bangsa yang suka berperang. Mereka tidak dilihat per individu. Al Jazeera dan media lainnya tidak terlihat jelas anti-Yahudi, tapi mereka hanya memperlihatkan Yahudi sebagai penakluk militer. Mereka tidak memperlihatkan wajah Yahudi yang lain. Ia mengatakan bahwa sejauh yang ia ketahui, mereka tidak pernah mewawancarai, misalnya, seorang penulis Yahudi tentang sebuah buku.
Ketika Rasmussen datang ke Norwegia, itu adalah pertama kalinya ia melihat seorang Yahudi biasa di sebuah kelas pendidikan dewasa di Oslo. Ia mengatakan bahwa pengalamannya itu mengejutkannya. Orang Yahudi itu adalah pria yang baik dan menyenangkan, dan Rasmussen harus memikirkan kembali seluruh sudut pandangnya terhadap dunia.
Sekarang ia meyakini bahwa semua Muslim harus tanpa ragu menolak pelecehan dan kebencian yang dialami anak-anak Yahudi dari anak-anak Muslim. Rasmussen mengatakan bahwa ini juga demi kaum Muslim.
Sara Azmeh Rasmussen membakar jilbabnya di Hari Wanita tahun lalu. Ia melihat dirinya sebagai seorang Muslim kultural, meskipun ia telah kehilangan keyakinannya.
Ia mengatakan tidak mau memperpanas suasana melawan kaum Muslim. “Poin saya adalah jika kita tidak saling menghormati, itu akan melemahkan kredibilitas kita ketika kita kaum Muslim meminta untuk dihormati sebagai minoritas. Kebencian terhadap kaum Yahudi juga menghambat kita untuk berkembang ke arah humanistik dan demokratis.”
Pada Senin malam waktu setempat, Sekretaris Jenderal Sultan mengecam kebencian yang dihadapi oleh para pelajar Yahudi. Azmeh Rasmussen mencari bahasa penyampaian yang lebih jelas.
Ia mengatakan bahwa ia tidak meragukan kesungguhan Sultan dalam ucapannya, namun tidak menghendaki adanya “tetapi”. Sultan menentang kebijakan Israel. Ia juga mengkritik kebijakan Israel, tapi kebijakan Israel tidak ada hubungannya dengan pelecehan dan kebencian terhadap anak-anak Yahudi. Mereka adalah generasi muda yang dapat terluka seumur hidup akibat penargetan itu, dan ia kecewa bahwa Sultan tidak memperjelas hal tersebut.
Laporan para guru mengenai kebencian terhadap Yahudi di kelas-kelas dan buku anti-semitik muncul setelah cendekiawan Muslim Yusuf al Qardawi tahun lalu memuji Holocaust dan berterima kasih pada Hitler karena telah menghukum kaum Yahudi.
Rasmussen mengatakan bahwa ia mendengarnya dalam bahasa Arab, dan tidak ada keraguan akan apa yang dikatakan Qardawi. (rin/ie) www.suaramedia.com
Incoming search terms for the article:
- anti yahudi
- yahudi saudi
- jilbab muslimah arab saudi
- kebencian kaum yahudi terhadap kaum islam
- kebijaksanaan anak-anak yahudi
- hujat indonesia malaysia 2010
- saudi yahudi?
- sejarah jilbab
- Tugas-tugas sekretaris berjilbab
- yahudi di arab saudi
