PORT-AU-PRINCE (SuaraMedia News) – AS tampaknya telah menjadi pahlawan di mata rakyat Haiti. Mereka mengharapkan agar AS tetap tinggal di Haiti dan bahkan “mengambil alih” Haiti.
Sejak Haiti diguncang gempa pada tangal 12 Januari lalu, bantuan kemanusiaan mengalir ke negara tersebut. AS mengirimkan 6.500 tentara ke Haiti. Pasukan ini mendukung kelancaran pembagian bantuan pangan dengan cara mengatasi gangguan keamanan. Organisasi internasional, sepeti Program Pangan Dunia PBB, mengakui bahwa pembagian makanan bisa saja menjadi terlalu riskan untuk dilakukan ketika terdapat konflik antar gang di daerah kumuh.
Pada hari Minggu, pasukan AS bersama organisasi-organisasi berhasil membagikan 400 metrik ton beras di sembilan situs. Di Place du Canape Vert, beberapa ratus keluarga menerima bantuan beras dalam karung-karung besar. Pada karung-karung tersebut, terdapat tulisan “Produk dari AS” atau “Beras Terbaik AS”. Program Pangan Dunia berencana untuk membantu 2 juta orang pada dua minggu mendatang.
Pembagian makanan tidak selalu merata. Penduduk pun tidak selalu merasa puas dengan batuan yang telah diberikan. Ada penduduk yang langsung bisa memasak nasi, berselang satu jam setelah pembagian bantuan. Sejumlah warga beruntung memiliki kacang-kacangan, sayuran, atau daging sebagai pelengkap untuk menikmati nasi. Namun, ada pula penduduk yang tidak memiliki apa-apa selain nasi. Mereka bertanya kapan mereka akan memperoleh sesuatu di samping beras. Beras saja tidak cukup, keluh mereka. Sebagian penduduk bahkan tidak kebagian beras.
“Memang ada, tapi kami tak dapat melakukan apa-apa. Kami cuma punya beras. Tidak ada minyak. Tidak ada apa-apa. Dan tidak gampang mencari air,” kata Flore Laurent yang sedang hamil delapan bulan. Laurent mengharapkan peran tentara AS. “Saya memberikan suara bagi bantuan AS, 100 persen,” katanya.
Ketika warga Haiti berada dalam keadaan sangat membutuhkan bantuan, pemerintah Haiti tidak dapat menjalankan peran sebagaimana yang diharapkan oleh warganya. Maka, warga Haiti pun menambatkan harapannya kepada AS.
“Saya ingin agar Amerika mengambil-alih negara. Pemerintah Haiti tidak mampu berbuat apa-apa bagi kami,” kata Jean-Louis Geffrard, seorang buruh yang kini bertahan hidup di bawah tenda di sebuah tanah lapang.
“Ketika kami berkata pada pemerintah bahwa kami kelaparan, pemerintah menjawab ‘Kami juga kelaparan’”, imbuh Canga Matthieu, seorang mahasiswa kedokteran yang kuliahnya berantakan akibat gempa.
Terdapat sejumlah komentar yang senada, seperti “Pemerintah AS semestinya mengurus kami” atau “Mereka terorganiasi dengan baik. Amerika Serikat adalah negara terkaya di dunia, dan mereka dapat membantu.”
“Pemerintah Haiti sempat ada bagi kami, dan mereka tidak memberi apa-apa. AS semestinya mengambil-alih negara, ” kata Andrelita Laguerre yang sedang menjaga empat orang anak dan seorang cucu di kamp. “Kebanyakan kawan saya berharap agar AS mengambil-alih. Semoga saja!”
Warga Haiti tampaknya mengharapkan agar pasukan AS berperan dalam bidang yang lebih luas daripada penjagaan keamanan atau pembagian makanan. Pengalaman Sersan Satu Jason Jacot, seorang insinyur angakatan bersenjata, menunjukkan hal itu. Jacot pergi ke sebuah gardu listrik di kawasan Delmas pada hari Minggu untuk mengawasi perbaikan oleh para pekerja Haiti dan Dominika. Markestre Theolien, seorang penyelia dari perusahaan listrik Haiti, menunjukkan kondisi transformer di gardu listrik tersebut: transformer itu sudah usang, usianya sudah 27 tahun. Ia meminta sebuah transformer baru. Ketika ditanya, dari mana bantuan itu semestinya datang, ia tersenyum dan berkata, “AS”.
Jacot berbicara lewat penterjemah, ”Jadi, mereka mengharap kami untuk mengambil-alih? Tidak, tidak, tidak. Bagaimana kami dapat membantu tanpa sepenuhnya membangun kembali? Kami tidak datang untuk membangun kembali.” Jacot mengatakan bahwa ia akan berbincang dengan direktur utilitas guna mempelajari apa yang diperlukan. Theolien menegaskan, “Apa yang kami inginkan adalah agar AS membangun kembali, memodernisasi”.
Menanggapi harapan warga Haiti agar AS bersedia membangun kembali Haiti, para pejabat AS menekankan – baik lewat pernyataan publik maupun lewat interaksi dengan warga Haiti – bahwa AS hanya akan bertindak secara terbatas di Haiti. Pemerintah AS tidak akan bertangung-jawab dalam pembangunan kembali Haiti.
“Angkatan bersenjata…. tidak datang untuk melakukan rekosntruksi apa pun. Itu bukan misi kami,” kata Kolonel Rick Kaiser. Kaiser adalah insinyur dari angkatan bersenjata AS yang bertugas untuk mengawasi perbaikan darurat pelabuhan-pelabuhan Port-au-Prince, sistem perairan dan listrik, serta berbagai infrastruktur lain di Haiti.
Para pejabat pemerintahan AS, termasuk Sekertaris Negara Hillary Rodham Clinton, mengatakan bahwa setiap aktivitas di Haiti berada di bawah “kepemimpinan Haiti”. Padahal, pemerintahan Haiti nyaris tidak berfungsi. Louis Lucke, seorang pejabat senior dari kantor U.S. Agency for International Development di Haiti, berdiri di depan kompleks medis yang dijalankan oleh AS pada hari Sabtu (30/01) bersama Presiden Haiti René Préval. Dalam situasi seperti itu, Lucke menyatakan kepada para wartawan bahwa “orang-orang Haiti sedang memimpin proses di semua area yang membutuhkan.” (es/nbc) /www.suaramedia.com