List/Grid

Search for nuklir+menurut+para+pakar

Israel  Pernah Tawarkan Nuklir kepada Afrika Selatan

Israel Pernah Tawarkan Nuklir kepada Afrika Selatan

Dokumen era Apartheid yang tergolong ‘declassified’ oleh pemerintah Afrika Selatan telah mengungkapkan bahwa negara itu pernah ditawarkan senjata nuklir oleh Israel pada tahun 1975, surat kabar Inggris Daily Mail melaporkan… Read more »

Deklarasi Brazil-Turki Buyarkan Strategi Barat

Deklarasi Brazil-Turki Buyarkan Strategi Barat

Menurut para analis, Senin (17/5) Barat kebingungan setelah Brazil dan Turki, dua kekuatan baru itu berhasil mengubah upaya mediasinya di Iran menjadi sebuah deklarasi nuklir. Pada saat yang sama, negara-negara… Read more »

Israel Tidak Akan Mengubah Kebijakan Nuklirnya

Israel Tidak Akan Mengubah Kebijakan Nuklirnya

Seorang pejabat senior Israel menekankan bahwa Tel Aviv tidak akan mengubah kebijakan nuklirnya meskipun adanya seruan internasional untuk menghapus nuklir di Timur Tengah. “Tidak ada yang baru di sini, dan… Read more »

Puluhan Kelompok Yahudi AS Lancarkan Serangan Anti-Obama

Puluhan Kelompok Yahudi AS Lancarkan Serangan Anti-Obama

NEW YORK – Suatu gelombang dukungan terbangun dalam demonstrasi anti-Obama mendatang yang telah ditetapkan pada 25 April mendatang di kota New York, di luar Gedung Konsulat Israel. Menurut penyelenggara Beth… Read more »

Siapa Takut 9 / 11 Teori Konspirasi?

Siapa Takut 9 / 11 Teori Konspirasi?

Ó Maidhc Cathail “Sesungguhnya wanita itu terlalu banyak protes, methinks.” -Ratu Gertrude, Hamlet. Setiap kali seseorang terlalu sangat menekankan tentang sesuatu yang tidak benar, kita cenderung untuk mencurigai bahwa mungkin… Read more »

Korea Utara Siap Dialog – Atau Perang – Dengan AS

Korea Utara Siap Dialog – Atau Perang – Dengan AS





PYONGYANG (SuaraMedia News) – Korea Utara pada hari Selasa (09/03) mengatakan pihaknya akan memperkuat pertahanan nuklirnya sehubungan dengan ancaman militer AS. Negara komunis tersebut juga bersiap untuk melakukan dialog, atau bahkan berperang dengan Washington.

Komentar tersebut dikeluarkan oleh seorang juru bicara kementerian luar negeri Korea Utara menyusul dilakukannya latihan gabungan militer besar-besaran antara AS dan Korea Selatan. Korea Utara memandang latihan tersebut sebagai ancang-ancang untuk melakukan invasi.



Pada hari Senin, negara komunis tersebut mengatakan, pihaknya telah memerintahkan militernya untuk siap siaga. Korut juga mengaku siap meledakkan fasilitas-fasilitas milik Korsel.



AS dan Korsel mengatakan bahwa latihan tahunan yang bertajuk operasi Key Resolve dan Foal Eagle tersebut bersifat defensif. Latihan tersebut melibatkan 18.000 personel militer AS dan 20.000 orang pasukan Korsel.






Namun, Seoul membantah argumen negara tetangganya tersebut dan mengatakan bahwa reaksi Korut tersebut adalah sebuah “kecaman stereotip”. Korsel juga menegaskan bahwa pihaknya tidak mendeteksi adanya aktivitas militer tidak biasa di perbatasan utaranya.



“Korea Utara tahu benar bahwa kami tidak bermaksud jahat,” kata juru bicara Menteri Pertahanan Korea Selatan, Won Tae-jae.



Biasanya, Korut merespon latihan perang di perbatasan selatan negaranya tersebut dengan marah, namun tidak ada kejadian apapun yang terjadi sesudahnya.



Latihan tahun ini digelar bertepatan dengan upaya diplomatik guna mengajak Korea Utara kembali ke meja perundingan pelucutan nuklir dengan enam negara.



Korut memutuskan untuk keluar dari forum tersebut pada bulan April, satu bulan sebelum melakukan uji coba senjata atom.



Sebagai prasyarat untuk kembali ke meja perundingan, Korea Utara menuntut komitmen AS untuk membuka jalur dialog mengenai kesepakatan damai guna mengakhiri gencatan senjata yang menyudahi Perang Korea tahun 1950-1953.



Secara teknis, Korea Utara dan Selatan masih berada dalam keadaan perang, karena Perang Korea tahun 1950-1953 diakhiri tanpa penandatanganan kesepakatan damai antara kedua negara.



Juru bicara kementerian luar negeri Korut, dikutip oleh kantor berita resmi Pyongyang, menyebut latihan militer tersebut sebagai “latihan perang nuklir yang bertujuan untuk melakukan serangan awal kepada Korea Utara.”



Latihan tersebut membuktikan kebenaran proposal kesepakatan damai, tambah juru bicara tersebut.



“Korea Utara sepenuhnya siap untuk melakukan dialog atau perang. Kami akan terus mengembangkan pertahanan nuklir selama ancaman dan provokasi militer AS masih terus dilakukan.”



AS, China, Rusia, Jepang, dan Korea Utara seringkali mengungkapkan harapan mereka bahwa Korea Utara akan bergabung kembali dengan proses dialog tersebut.



Oktober tahun lalu, baik AS maupun Korut telah menunjukkan itikad baik dengan digelarnya dialog kedua negara.



Departemen Luar Negeri AS bahkan menghadiahkan visa ke AS pada seorang pejabat senior Korea Utara yang akan melakukan pembicaraan dengan akademisi AS dan mungkin juga dengan diplomat negara Paman Sam itu.



Sumber yang mengetahui permasalahan itu mengatakan bahwa visa tersebut akan diberikan pada Ri Gun, negosiator nomor dua di Korea Utara dalam negosiasi nuklir antara dua Korea, China, Jepang, Rusia, dan AS yang kini sedang terhenti.



Pada hari Jumat (16/10/09), AS mengatakan akan mengijinkan Ri Gun berkunjung ke negaranya dalam bulan ini, sebuah gerakan yang menurut para analis dapat menjadi langkah pertama menuju pembicaraan antara keduanya untuk mengakhiri program nuklir Pyongyang.



Ri Gun akan menghadiri beberapa pertemuan di New York dan San Diego dengan sejumlah akademisi dan pakar swasta yang mempelajari Korea Utara.



Departemen Luar Negeri tidak mengatakan apa-apa tentang kemungkinan adanya pembicaraan antara pejabat AS dan Korea Utara, namun sebuah sumber mengatakan bahwa besar kemungkinan diplomat AS Sung Kim akan bertemu dengan Ri secara informal dalam kunjungannya ini.



AS berharap sebuah dialog bilateral akan mengembalikan Korea Utara ke pembicaraan yang lebih luas untuk menghentikan program nuklirnya. (dn/af/bc/sm) www.suaramedia.com


Profil Prof. Masoud Ali-Mohammadi, Pakar Nuklir Yang Dibunuh Mosad

Profil Prof. Masoud Ali-Mohammadi, Pakar Nuklir Yang Dibunuh Mosad

Selasa pagi, Iran digemparkan oleh berita terbunuhnya seorang ahli nuklir dalam sebuah insiden ledakan bom di dekat rumahnya. Dia adalah Dr Masoud Ali-Mohammadi. Ali-Mohammadi meraih gelar sarjana di bidang fisika dari Universitas Shiraz. Sepanjang masa studinya di universitas tersebut ia terlibat secara aktif di Asosiasi Mahasiswa Islam.

Ketika perang meletus, Ali-Mohammadi bekerjasama dengan Sepah-e Pasdaran (Pasukan Garda Revolusi Islam) sampai tahun 2003. Dia melanjutkan studinya di bidang fisika dan berhasil merampungkan studi pasca sarjana dan doktoralnya di Universitas Industri Sharif, Tehran.

Menurut penuturan Sayyid Mohammad Kazem Manzurul Ajdad, salah seorang murid terdekatnya, “Dr Masoud Ali-Mohammadi adalah figur yang sangat menghargai waktu. Beliau selalu datang ke kelas tepat waktu. Kuliah beliau termasuk kuliah yang padat peserta. Bagi para mahasiswa, kuliah yang disampaikan oleh Dr Ali-Mohammadi sangat menarik dan bermanfaat.”

Manzurul Ajdad menambahkan, “Dr Ali-Mohammadi mengajar pembahasan Quantum secara mendalam. Beliau adalah dosen yang sangat menonjol dan dihormati bukan hanya oleh murid-muridnya tetapi juga oleh semua mahasiswa yang mengenalnya.”

Menurut penurutan Manzurul Ajdad, Dr Ali-Mohammadi pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Fisika Universitas Tehran.

Dua tahun lalu, pakar nuklir ini mendapat penghargaan pada festival ilmiah internasional Kharazmi.

Dr Moasud Ali-Mohammadi selain dikenal sebagai ilmuan menonjol juga dipandang karena loyalitasnya yang tinggi kepada pemerintahan Republik Islam dan kepemimpinan Wali Faqih. Pekan lalu dalam sebuah pertemuan dengan para aktivitis mahasiswa Universitas Shiraz, beliau menyebut loyalitas kepada Wali Faqih dan pemerintahan Islam sebagai prioritas kewajiban. (irib)