Posts tagged as:

Ada





ADDIS ABABA (SuaraMedia News) – Sebuah investigasi Observer menunjukkan bagaimana negara-negara kaya mendapatkan jaminan untuk memenuhi kebutuhan warganya, dengan memanfaatkan lahan seluas dua kali lipat daratan Inggris. Dan, lahan tersebut berada di Afrika, kawasan yang identik dengan kekurangan pangan. Guardian melaporkan hasil investigasi tersebut pada hari Senin (07/03).

Di Ethiopia, tepatnya di Rift Valley di Awassa, tedapat sebuah rumah kaca terbesar di negara tersebut. Rumah kaca tersebut belum sepenuhnya rampung, namun perkembanganya sudah cukup mengesankan. Luasnya lebih dari 20 hektar – 20 kali lebih besar daripada lapangan bola. Di dalam rumah kaca tersebut, ditanam tomat, cabai, dan sayur-sayuran lain yang berjajar dalam barisan sepanjang 500 m. Kondisi di dalam rumah kaca tersebut dikendalikan oleh komputer. Para insinyur Spanyol bertangung-jawab atas struktur baja rumah kaca. Para pakar dari Belanda bertanggung-jawab atas penggunaan air yang bersifat minimal di rumah kaca itu. Setiap hari, 1000 orang wanita memetik dan mengepak 50 ton bahan pangan. Dalam 24 jam, setelah menempuh jarak sepanjang 1000 mil, bahan pangan itu telah berada di toko dan restoran di Dubai, Jeddah, dan negara-negara lain di Timur-Tengah.






Ada sebuah paradoks di sini. Ethiopia adalah salah satu negara termiskin di dunia. Namun, ketika 13 juta rakyat Ethiopia butuh pangan, pemerintah Ethiopia menyediakan 3 juta hektar tanah tersubur di Ethiopia bagi negara-negara makmur dan sejumlah orang terkaya di dunia yang lantas mengekspor pangan kepada rakyat mereka sendiri.



Tanah seluas 1000 hektar di Awassa tersebut disewa selama 99 tahun oleh seorang usahawan milyarder dari Saudi yang lahir di Ethiopia, Sheikh Mohammed al-Amoudi. Al-amoudi adalah satu dari 50 orang terkaya di dunia. Perusahaan Al-Amoudi, Saudi Star, akan mengakuisisi dan mengembangkan lahan seluas 500.000 hektar di Ethiopia pada beberapa tahun mendatang. Sejauh ini, perusahaan itu telah membeli empat pertanian dan telah menanam  gandum, padi, sayur-mayur, dan bunga untuk pasar Saudi. Perusahaan itu diharapkan dapat mempekerjakan lebih dari 1000 orang.



Ethiopia hanyalah satu dari 20 negara Afrika yang tanahnya dibeli atau disewa untuk pertanian intensif. Sebuah investigasi yang dilakukan ole Observer memperkirakan bahwa sekitar 5 juta hektar lahan – dua kali luas daratan Inggris – telah diakuisisi dalam beberapa tahun terakhir atau sedang berada dalam proses negosiasi. Negosiasi tersebut melibatkan pemrintah dan para investor kaya yang bekerja dengan memanfatkan subsidi pemerintah. Data yang digunakan dalam investigasi tersebut dikumpulkan oleh Grain, International Institute for Environment and Development, International Land Coalition, ActionAid, dan lembaga swadaya masyarakat lainnya.



Para pelaku di bidang agribisnis internasional, investment banks, hedge funds, commodity traders, wealth funds, setrta dana pensiun Inggris, yayasan dan individu tertarik pada lahan termurah di dunia yang terletak di Afrika. Entitas-entitas tersebut mengincar Sudan, Kenya, Nigeria, Zambia, Malawi, Ethiopia, Kongo, Zambia, Uganda, Madagaskar, Zimbabwe, Mali, Sierra Leone, Ghana, dan sebagainya.



Ethiopia telah menyetujui 815 proyek pertanian bermodal asing sejak tahun 2007. Tanah Ethiopia dapat disewa dengan harga $1 per hektar per tahun. Negara-negara emirat seperti Saudi,  Qatar, Kuwait, dan Abu Dhabi merupakan pembeli terbesar. Pada tahun 2008, Saudi mengumumkan pengurangan produksi sereal sebesar 12 perse demi konservasi air. Sebagai gantinya, Saudi menyediakan $5bn sebagai pinjaman untuk perusahaan yang ingin berinvestasi di luar negeri dalam sektor pertanian yang potensial.  Foras, perusahaan investasi Saudi yang didukung oleh Islamic Development Bank dan para investor kaya Saudi, berencana untuk membeli lahan di Mali, Senegal, Sudan, dan Uganda. Perusahaan telah menyediakan dana sebesar $1bn dan berharap dapat mensuplai 7 juta ton beras bagi pasar Saudi dalam 7 tahun ke depan.



Dengan tindakan semacam itu, Saudi tak hanya mengakuisisi lahan Afrika, namun juga menghemat air sebanyak ratusan galon per tahun. Menurut PBB, air akan menjadi faktor yang sangat menentukan dalam 100 tahun mendatang.



Lahan Afrika menarik bukan hanya untuk kebutuhan pangan, namun juga untuk biofuel. China telah menandatangai kontrak dengan Republik Demokratik Kongo untuk menanam kelapa sawit di tas lahan seluas 2,8 juta hektar sebagai bahan biofuel. Madagaskar dan perusahaan Korea Selatan, Daewoo, sempat membahas proyek biofuel yang melibatkan lahan seluas 1.2 juta hektar – hampir separuh lahan yang dapat ditanami di negara itu. Namun, kesepakatan tersebut terhambat oleh adanya kerusuhan.



Menurut Tim Rice, penulis laporan ActioAid, diperkirakan bahwa Uni Eropa (UE) memerlukan lahan seluas 17,5 juta hektar – lebih dari separuh luas Italia – untuk memenuhi 10 persen kebutuhan biofuel pada tahun 2015. “Pencaplokan lahan demi biofuel di Afrika telah memojokkan petani dan produksi pangan. Jumlah orang yang kelaparan akan meningkat,” kata Rice. Perusahan-perusahaan Inggris telah mendapatkan lahan di Angola, Ethiopia, Mozambik, Nigeria, dan Tanzania, untuk menanam sayur-mayur dan bunga.



Perusahaan-perusahaan India, dengan dukungan pinjaman dari pmerintah, telah membeli atau menyewa ratusan ribu hektar lahan di Ethiopia, Kenya, Madagascar, Senegal, dan Mozambik, untuk pertanian padi, tebu, jagung, dan kacang-kacangan untuk memenuhi kebutuhan domestik.



Perusahan-peusahaan Korea Selatan pada tahun lalu telah membeli 700.000 hektar lahan di utara Sudan untuk menanam gandum. Uni Emirat Arab telah mengakuisisi 750.000 lahan di negara tersebut. Bulan lalu, Saudi mendapatkan kesepakatan atas lahan seluas 42.000 hektar di propinsi Nil.



Menurut pemerintah Sudan, lahan di negaranya sedang laris-manis. “Kami mendapat banyak permintaan dari banyak pengembang. Negosiasi masih berlangsung,” kata Peter Chooli, direktur sumber daya air dan irigasi, di Juba, pada minggu lalu. “Sebuah kelompok dari Denmark sedang berdiksusi dengan pemerintah dan pihak lain ingin menggunakan lahan di dekat Nil.”



Seorang bukanir yang menjalankan perusahaan invetasi Jarch Capital di New York, Philip Heilberg, telah menyewa lahan seluas 800.000 hektar di Darfur, Sudan. Heilberg berjanji, ia tak hanya akan menciptakan lapangan kerja, namun juga akan memberikan 10 persen atau lebih keuntungan yang ia peroleh kepada masyarakat setempat. Namun, ia dituduh pemerintah Sudan telah “mencaplok” tanah adat. Ia juga dituduh memancing upaya Amerika untuk memecah-belah Sudan.



Menurut Devlin Kuyek, peneliti dari Grain yang berbasis di Montreal, berinvestasi di Afrika adalah sebuah strategi baru untuk mendapatkan pangan yang dijalankan oleh banyak pemerintah.



“Negara-negara kaya mengincar Afrika tak hanya demi pengembalian modal yang sehat. Namun, juga sebagai polis asuransi. Kekurangan pangan dan kerusuhan di 28 negara pada tahun 2008, menurunnya persediaan air, perubahan iklim, dan pertumbuhan populasi yang pesat telah membuat tanah jadi menarik. Afrika memiliki sebagian besar lahan, dan, dibandingkan dengan benua lain,  murah,” kata Kuyek. (es/gd) www.suaramedia.com


{ 0 comments }





WASHINGTON (SuaraMedia News) – Pria pelaku penembakan terhadap dua orang polisi di Pentagon tampaknya melakukan tindakan tersebut karena yakin bahwa pemerintah AS sendiri yang menjadi dalang serangan 11 September.

Menurut keterangan Polisi, John Patrick Bedell, nama sang pelaku, beraksi sendirian dan tidak memiliki hubungan dengan organisasi “teroris”.



Dalam hasil investigasi terbaru, ditunjukkan bahwa Bedell yakin peristiwa ambruknya menara kembar World Trade Center di New York merupakan konspirasi pemerintah AS.



Dalam sebuah tulisan tertanggal 25 November 2006 berjudul “Directions to Freedom, Part Two” (arah menuju kebebasan, bagian dua), Bedell mengatakan bahwa konspirasi kejahatan internasional pemerintah Amerika Serikat adalah sebuah realita yang terjadi sejak lama.



Bedell mengkritik dinas intelijen dan militer AS, yang menurutnya merupakan alat-alat rezim tidak sah.






“Organisasi (pemerintah) ini, seperti sekian banyak pemerintaha pembunuh lainnya dalam sejarah, akan bersedia mengorbankan ribuan nyawa penduduknya, dalam peristiwa seperti serangan 11 September, sebagai tumbal untuk melanggengkan kekuasaan barbarnya,” tulis Bedell.



Dalam posting dengan nama pengguna JPatrickBedell, ia menginginkan keadilan terhadap kasus kematian Kolonel Marinir James Sabow di Orange County pada tahun 1991 lalu, yang dinyatakan sebagai peristiwa bunuh diri namun diyakini merupakan upaya menutupi fakta. Bedell menuliskan bahwa kasus tersebut akan menjadi langkah maju dalam menguak kebenaran di balik 9/11.



Ada pula posting serupa yang mengkritik undang-undang marijuana pemerintah AS dengan menyertakan link terhadap kasus pengadilan di Orange County atas tuduhan mengolah marijuana dan melawan petugas kepolisian.



Dalam catatan pengadilan yang tersedia secara online menunjukkan bahwa tanggal lahir dalam kasus yang disebutkan oleh JPatrickBedell sesuai dengan John Patrick Bedell yang melakukan penembakan Pentagon.



Bedell, 36, menghembuskan nafas terakhir pada hari Kamis malam karena luka-luka yang diderita setelah terlibat baku tembak dengan polisi penjaga Pentagon pada pagi harinya.



Dalam rekam medisnya, Bedell tercatat memiliki sejarah gangguan jiwa dan menunjukkan perilaku aneh, hal  itu membuat orang tua Bedell beberapa pekan lalu memberitahu aparat di Hollister, California, dan memperingatkan bahwa putra mereka ada dalam kondisi tidak stabil serta mungkin memiliki senjata, demikian kata pihak berwajib pada hari Jumat.



Dua orang polisi yang terlibat baku tembak dengan Bedell langsung dilarikan ke rumah sakit dan hanya menderita cedera ringan.



Curtis Hill, Sherif wilayah San Benito mengatakan bahwa Bedell pernah masuk rumah sakit jiwa setidaknya empat kali. Catatan persidangan menunjukkan bahwa Bedell didiagnosis mengidap bipolar disorder (gangguan suasana hati yang mirip namun berbeda dengan kepribadian ganda).



Orang tua Bedell melaporkan hilangnya putra mereka pada tanggal 4 Januari, satu hari setelah petugas patroli jalan raya Texas menghentikan Bedell karena kedapatan mengebut di Amarillo, demikian disebutkan dalam catatan orang hilang. Kepada petugas PJR tersebut, Bedell mengaku hendak menuju East Coast. Sang petugas menggunakan telepon Bedell untuk menelepon sang ibu, Kaye Bedell, karena pria tersebut terlihat kacau.



Kaye Bedell mengatakan bahwa putranya baik-baik saja, sang petugas kemudian melepaskan Bedell dan hanya memberikan peringatan. Namun keesokan harinya ia mengatakan kepada aparat California bahwa putranya tidak punya tujuan ke East Coast karena tidak memiliki kerabat atau sanak saudara di daerah tersebut, ia juga mengatakan bahwa dia dan suaminya mengkhawatirkan kondisi mental putra mereka, kata Hill.



Bedell pulang ke rumah pada tanggal 18 Januari. Ia meminta orang tuanya untuk “tidak banyak tanya” mengenai kemana dia pergi sebelumnya. Namun, ia kembali pergi setelah itu, dan kedua orang tuanya tidak tahu kemana tujuan Bedell. (dn/pv/lt/np) www.suaramedia.com


{ 0 comments }





VIENNA (SuaraMedia News) – Kim Jong Ryul menghabiskan waktu 20 tahun menjalankan bisnis para diktator Korea Utara dengan perusahaan-perusahaan Eropa, sebelum kemudian membelot kepada Austria pada tahun 1994. Kini, ia mengkhawatirkan keselamatan dirinya setelah keluar dari persembunyian pekan ini.

“Saya telah keluar dari persembunyian. Tapi berapa lama saya akan melihat matahari bersinar, saya tidak tahu. Saya rasa waktunya tidak lama,” katanya kepada AFP.

“Korea Utara akan coba menangkap lalu membunuh saya. Saya merasa sangat takut,” kata Kim Jong Ryul.

Dengan mengenakan kacamata berbingkai baja sambil tersenyum ramah, pria berperawakan kecil yang kini telah berusia 75 tahun tersebut menghabiskan waktu 20 tahun untuk melakukan hal-hal yang legal maupun ilegal bagi Korea Utara. Ia mengatakan bahwa dirinya dapat dengan mudah mengakali embargo ekonomi yang dijatuhkan kepada negara komunis tersebut.






Dalam beberapa kali perjalanan belanja menuju benua Eropa, pria yang fasih berbahasa Jerman tersebut bisa membeli apa saja, mulai dari teknologi mata-mata, senjata dan pesawat kecil hingga mobil mewah dan karpet, serta sepucuk pistol berlapis emas untuk Kim Il Sung, ayah pemimpin Korea Utara saat ini, Kim Jong Il.

Salah satu tempat tujuan yang paling sering ia datangi adalah Vienna, karena Korea Utara tahu benar bahwa Austria dapat diandalkan untuk merahasiakan rekening bank, di negara tersebut, perdagangan dapat dilakukan tanpa batasan, dan pengawasan bandaranya tidak ketat.

Dengan menggunakan paspor diplomatik Korea Utara, Kim Jong Ryul seringkali menghabiskan waktu berbulan-bulan di Eropa, biasanya dengan membawa serta tas kopor penuh uang tunai. Di Eropa, Kim Jong Ryul berurusan dengan perusahaan-perusahaan kecil yang tidak peduli siapa yang membeli barang mereka asal mendapatkan tambahan biaya 30 persen.

Kedutaan besar Korea Utara di Vienna seringkali dipergunakan sebagai lokasi penyimpanan perlengkapan mata-mata terlarang dan teknologi canggih sebelum dikemas ulang dan dikirim ke luar negeri dengan dokumen pengapalan palsu, ditambah dengan bantuan oknum bea cukai yang telah disogok, katanya.

Bukan hanya Austria, perusahaan-perusahaan di Swiss, Jerman dan Perancis juga berniaga dengan orang-orang asal Korea Utara. Ada pula barang yang didatangkan dari Cekoslowakia (sebelum pecah menjadi Republik Ceko dan Slovakia).

Semua hal tersebut diungkapkan dalam sebuah buku baru yang mengisahkan mengenai kehidupan Kim Jong Ryul berjudul “Im Dienst des Diktators” (melayani diktator) yang ditulis oleh Ingrid Steiner-Gashi dan Dardan Gashi. Diterbitkannya buku tersebut pekan ini membuat pria tua tersebut keluar dari persembunyian setelah sekian lama.

Sebelumnya, ia merupakan seorang anggota partai yang setia dan tidak pernah melakukan keselahan. Kolonel Kim Jong Ryul membelot ke Austria pada tanggal 18 Oktober 1994 ketika melakukan kunjungan ke negara tersebut. Ia memalsukan data kematiannya untuk menghilangkan jejak, agar tidak terendus Korea Utara.

Ia merasa muak dengan rezim Korea Utara yang bermewah-mewah di atas kelaparan dan penderitaan rakyatnya. Ia juga sudah tidak mau lagi disuruh-suruh oleh penguasa tertinggi Korea Utara. Kim meninggalkan keluarganya di Korea Utara tanpa memberikan kabar sedikitpun mengenai rencananya.

“Saya menginginkan kebebasan, saya butuh kebebasan,” katanya kepada AFP.

Ketika keluarganya mengantar kepergiannya di bandara Pyongyang pada bulan Oktober 1993, dia sudah bertekad untuk membelot.

Namun, Kim tetap memendam hasrat untuk pulang ke tanah kelahirannya jika rezim penguasa telah tumbang, dan kematian Kim Il Sung pada tahun 1994 memberikannya harapan.

“Saya harap jika sang diktator telah tiada, maka akan ada perubahan, sebuah revolusi.”

“Saya sudah menunggu begitu lama, dan setelah 15 tahun saya masih tetap di sini. Dengan buku ini, saya harap ada sesuatu yang bisa saya tinggalkan.”

Selama 15 tahun, Kim Jong Ryul tinggal secara ilegal di Austria, mencoba untuk tidak menonjolkan diri, membatasi pertemanan, dan hidup dari uang simpanan yang disembunyikan sebelum ia melarikan diri.

Selama itu pula Kim tidak pernah medengar kabar keluarganya, yang tidak pernah diberitahu mengenai keputusan pembelotan tersebut, demi menjaga keselamatan dirinya dan keluarga.

“Saya tidak tahu apakah sanak keluarga saya masih bernyawa. Mengirim surat adalah hal yang amat berbahaya, karena mereka semua mengira saya sudah mati.”

Kini, harapan Kim, yang memiliki lima buah televisi dan belajar bahasa Jepang agar lebih mudah mengikuti perkembangan mengenai negara asalnya, untuk pulang semakin redup.

“Saya ingin melihat kembali keluarga saya, putra dan putri saya satu kali lagi sebelum saya menutup mata, namun hal itu mungkin tak akan terjadi.”

“Bagi orang Asia, setia kepada pemimpin adalah hal yang amat penting. Saya telah melanggar hal itu, dan kini saya menjadi pengkhianat. Saya mengkhianati tanah kelahiran dan saya mengkhianati revolusi.”

“Risiko berbicara dengan para pengarang buku sudah saya perhitungkan sebelumnya. Lagipula saya pasti akan mati, jika demikian, mengapa harus mati tanpa arti?”

“Saya sangat takut, saya tidak tahu peluru dari mana yang akan menghabisi saya.”

Namun, Kim mengaku tidak menyesal, ia mengatakan bahwa membelot merupakan keputusan yang 100 persen benar. Namun, ia tetap melakukan tindak pencegahan. “Mulai besok, Anda tidak akan melihat saya lagi. Besok, atau hari-hari setelahnya, saya akan menghilang.” (dn/af) www.suaramedia.com


{ 0 comments }





WASHINGTON (SuaraMedia News) – Krisis ekonomi dan pemilihan Barack Obama telah memicu kenaikan jumlah kelompok sayap kanan dan milisi bersenjata di AS.

”Kami melihat ledakan nyata dalam jumlah milisi dan gerakan patriot anti-pemerintah,” ujar Mark Potok dari Southern Poverty Law Center (SPLC).



”Ini adalah gerakan yang menganggap pemerintah sebagai musuh utama dan sepenuhnya termakan oleh segala jenis teori konspirasi.”



Laporan berjudul ”Rage on the Right” menemukan bahwa kelompok-kelompok sayap kanan telah meningkat dua kali lipat dalam setahun terakhir.



Itu menunjukkan bahwa 512 kelompok Patriot anti-pemerintah aktif di AS dalam satu tahun belakangan ini, melonjak dari 149 kelompok di tahun 2008.



Milisi, tangan paramiliter dari gerakan Patriot, juga bertanggung jawab atas sebagian besar peningkatan tersebut, dari 42  di tahun 2008 menjadi 127 setahun kemudian.



”Pertumbuhan luar biasa ini disebabkan oleh kekhawatiran buruk,” ujar Potok, yang memimpin Laporan Intelijen kelompok tersebut.



”Orang-orang yang terkait dengan gerakan Patriot tahun 1990an menciptakan banyak kekerasan, yang paling dramatis adalah pengeboman kota Oklahoma yang menewaskan 168 orang.”



Milisi dan Patriot pertama kali mencuri perhatian di pertengahan tahun 1990an dalam menanggapi apa yang disebut oleh kelompok itu sebagai pemerintah tiran yang berusaha membatasi kebebasan individu.



Anggota mereka yang paling terkenal adalah Timothy McVeigh, yang membunuh 168 orang dalam serangan bom di sebuah gedung federal di Oklahoma tahun 1995.



SPLC merupakan sebuah organisasi hukum nirlaba Amerika, yang secara internasional dikenal atas program pendidikan toleransinya, kemenangan hukumnya atas supremasi kulit putih dan pelacakannya terhadap kelompok-kelompok pembenci.



Terpilihnya Barack Obama di tahun 2008 sebagai presiden kulit hitam pertama di Amerika dan terjadinya krisis ekonomi dipandang sebagai pemicu kebangkitan kelompok-kelompok ekstremis.



”Perekonomian sedang kacau, dan banyak pengangguran yang menjadi terluka, frustrasi, marah dan mencari alasan mengapa mereka mengalami apa yang mereka alami,” ujar Potok.



”Ada banyak kemarahan dan frustrasi dan terkadang hal itu disalurkan  melalui teori konspirasi atau dengan mengkambinghitamkan kelompok tertentu ke dalam rasa marah yang kita lihat di seluruh penjuru negeri ini.”



Sebuah penilaian tahun 2009 oleh Kantor Intelijen dan Analisis Departemen Keamanan Dalam Negeri menemukan bahwa krisis ekonomi dan terpilihnya Obama menimbulkan ekstremisme sayap kanan di AS dan dapat digunakan sebagai alat rekrutmen di antara veteran perang.



Laporan SPLC juga menemukan bahwa banyak sekali orang yang tampaknya siap untuk mengambil tindakan dan banyak sekali politisi serta akademisi arus utama yang mengadopsi sikap anti-pemerintah.



”Rasa marah yang meluas ke seluruh lanskap politik Amerika – atas perubahan ras dalam populasi, peningkatan hutang publik dan perekonomian yang buruk, dana talangan bagi para bankir dan elit lainnya, dan serangkaian inisiatif oleh pemerintahan liberal Obama yang dianggap sosialis atau bahkan fasis – melampaui sayap kanan radikal.”



”Tea Party dan kelompok-kelompok sejenis yang telah berkembang dalam beberapa bulan terakhir ini tidak dapat dianggap sebagai kelompok ekstremis, namun mereka kaya akan ide-ide radikal, teori konspirasi, dan rasisme.” (rin/io) www.suaramedia.com


{ 0 comments }



KABUL (SuaraMedia News) – Badan-badan bantuan PBB memperingatkan peningkatan tajam anak-anak Afghanistan yang tidak ditemani dalam melamar suaka di Eropa.

Angka-angka terbaru dari badan pengungsi PBB menunjukkan peningkatan sebesar 60% tahun lalu, dengan lebih dari 6.000 di bawah 18 tahun mencari suaka.

Unicef mengatakan ada kebutuhan mendesak untuk melindungi anak-anak dari bermigrasi sendirian.

Konvensi PBB tentang Hak Anak mewajibkan negara untuk melindungi anak-anak dari semua kebangsaan.

Pada tahun 2008, badan pengungsi PBB menunjukkan angka, 3.800 Afghan di bawah 18 diterapkan untuk suaka di Eropa.

PBB percaya angka-angka terbaru migrasi tersebut adalah puncak gunung es; banyak anak di bawah umur yang tidak ditemani melamar untuk suaka karena mereka takut akan penahanan dan deportasi.

Sebuah studi baru dari Unicef, badan anak-anak PBB, mengungkapkan kurangnya kebijakan yang koheren di Eropa terhadap migran anak dan sering gagal untuk melindungi mereka.


Pekerja bantuan menunjuk pada sebuah kasus baru-baru ini di mana dua anak laki-laki Afghanistan, satu baru berusia 13 tahun, meninggal karena berusaha bersembunyi dalam truk-truk perjalanan dari Yunani ke Italia.

Unicef mengatakan sebuah studi perawatan Inggris yang ditawarkan oleh pihak berwenang setempat menunjukkan bahwa anak-anak tanpa pendamping sering mengalami rasisme, tidak dipercaya ketika mereka mencoba untuk memberitahu orang dewasa tentang kisah mereka, dan berjuang dengan mengalami trauma mental pada perjalanan mereka ke Inggris.

PBB mengatakan lebih banyak penelitian mengenai fenomena tumbuhnya migran anak yang dibutuhkan, tetapi bahwa temuan awal ini menunjukkan bahwa kebutuhan untuk menawarkan perlindungan yang lebih baik adalah sangat mendesak.

Sebuah laporan dari Child Right Information Network pada 2008 mencatat bahwa sebagian besar anak-anak mengatakan orangtua mereka di Afghanistan telah membayar penyelundup untuk mengawal mereka ke tempat yang aman. Banyak mampir selama berbulan-bulan di Iran sebelum melarikan diri ke barat untuk menghindari deportasi ke tanah air yang dilanda perang. Bagi sebagian besar, Patras adalah perhentian penultima perjalanan panjang mereka ke Eropa Barat. Tetapi mereka jauh dari tempat kudus yang mereka cari.
Kelompok bantuan mengatakan anak-anak harus dianggap sebagai anak di bawah umur bukan migran. Giorgos Karapiperis, seorang dokter dengan tim Palang Merah setempat yang menawarkan tempat penampungan dan nasihat kepada para migran, mengatakan: “Kami menutup mata terhadap masalah nyata. Ada undang-undang yang menentukan bahwa kita membantu anak-anak seperti itu.”

Anggota dari organisasi-organisasi bantuan mengatakan sebagian besar anak-anak menolak untuk mengajukan permohonan suaka di sini karena mereka ingin untuk melanjutkan perjalanan. “Mereka ingin mencapai tujuan akhir mereka sehingga mereka dapat mulai bekerja dan membayar utang mereka kepada trafficker,” kata Palang Merah Karapiperis. Dia mengatakan mereka mengambil “pinjaman” sebesar € 1,000 hingga € 7,000 – di atas pembayaran orangtua mereka – untuk melanjutkan perjalanan dari Iran, melalui Turki, ke Yunani.

Direktur pengungsi PBB di Teheran, Sten Bronee, mengatakan sebagian besar orang dewasa Afghan memasuki Iran “diserap” diantara dua juta orang pengungsi. Namun dia menambahkan: “Fakta bahwa tidak ada anak migran mencari bantuan kami menunjukkan mereka sedang dikawal oleh cincin penyelundupan.”

Kadang-kadang pinjaman disepakati di Patras. Satu Afghanistan, 9, mengatakan ia membayar trafficker € 800 untuk membawanya ke Italia. Dia dibawa keluar dari pelabuhan tetapi kemudian kembali ke Patras. Dia mengatakan orang tuanya telah memberinya uang, yang dibawa oleh seorang dewasa di dalam kelompoknya. (iw/bbc/crin) www.suaramedia.com


{ 0 comments }

</