Posts tagged as:

Afghanistan

Netanyahu: Ayah Saya Telah Ramalkan Tragedi 9/11

by konspirasi on March 9, 2010





TEL AVIV (SuaraMedia News) – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bahwaa ayahnya pernah memprediksikan serangan 11 September terhadap menara kembar World Trade Center New York pada tahun 1990-an.

Haaretz melaporkan bahwa pernyataan tersebut dilontarkan pada peringatan 100 tahun hari lahir ayah sang perdana menteri, Benzion Netanyahu, yang merupakan seorang sejarawan dan aktivis Zionis.



Perdana Menteri Israel tersebut menambahkan bahwa orang-orang yang tidak mengetahui masa lalu mereka tidak akan mengerti dan tidak akan mampu memprediksi masa depan mereka.



Pada tanggal 17 April 2008, harian Israel Maariv melaporkan bahwa Benjamin Netanyahu, yang kala itu merupakan pemimpin Partai Likud, mengatakan kepada audiens di Universitas Bar Ilan bahwa Peristiwa 11 September 2001 menguntungkan Israel.



“Kami mendapat keuntungan dari satu hal, dan hal itu adalah serangan terhadap menara kembar dan juga Pentagon, serta perjuangan Amerika di Irak,” kata Netanyahu kepada Maariv. Ia juga menambahkan bahwa kejadian tersebut “menggiring opini publik Amerika untuk keuntungan kami.”






Tidak berapa lama kemudian, Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad mengungkapkan keraguan atas kebenaran peristiwa 11 September, ia menyebut 9/11 hanyalah dalih yang sengaja diciptakan untuk menginvasi Afghanistan dan Irak.



“Dengan dalih itu, mereka (AS) menyerang Afghanistan dan Irak. Dan sejak saat itu, ada jutaan orang yang tewas, itu baru di Irak.”



Menanggapi ancaman Iran, Netanyahu membandingkan Ahmadinejad dengan Adolf Hitler dan menyamakan program nuklir Teheran dengan ancaman Nazi terhadap Eropa pada akhir tahun 1030-an.



Netanyahu mengatakan bahwa ada satu hal yang membedakan Iran dengan Nazi. “Rezim Nazi memulai konflik global sebelum mengambangkan senjata nuklir,” kata Netanyahu. “Rezim ini (Iran) mengembangkan senjata nuklir sebelum terlibat dalam konflik global.”



Beberapa waktu lalu, Tim King dari situs Salem News menyebutkan: “Pemerintah AS memang ingin masyarakat percaya bahwa gedung-gedung tersebut ambruk karena lalapan api. Akan tetapi, dalam sejarah belum pernah ada api yang mampu meruntuhkan gedung pencakar langit. Jilatan api memang membakar hingga kerangka bangunan, tapi api tidak bisa meruntuhkan gedung.”



“Anggap saja hal itu mungkin terjadi, maka menara kembar WTC menjadi bangunan yang paling tidak mungkin runtuh. Kerangka baja menara kembar tersebut tidak akan sampai ambruk, bahkan jika gedungnya sendiri runtuh.”



“Ketika kami mulai menulis mengenai hal ini. Matt Lintz, desainer web kami, mengetahui adanya upaya-upaya Angkatan Udara AS untuk meretas situs Salem News.”



Salem News menyebutkan bahwa mungkin setengah penduduk AS masih belum menyadari bahwa ada gedung ketiga yang juga turut runtuh pada tanggal 11 September 2001. Dan gedung tersebut tidak dihantam pesawat. Namun, dalam gedung tersebut terdapat banyak catatan yang berharga bagi industri keuangan.



Richard Gage, seorang arsitek asal San Francisco yang merupakan pendiri organisasi nirlaba Architecs & Engineers for 9/11 Truth, mengatakan: “Bagaimana mungkin baja seberat 200.000 ton tercerai berai dan roboh dalam waktu hanya 11 detik? Ribuan orang arsitek dan insinyur mempertanyakan hal tersebut, mereka menyerukan kepada Kongres untuk memerintahkan investigasi baru terhadap peristiwa runtuhnya menara kembar dan Building 7 (7 World Trade Center).”



“Untuk meruntuhkan bangunan semacam itu dalam waktu singkat, maka harus ada ledakan buatan di gedung tersebut. Dan ledakannya harus mengarah ke luar,” kata Richard Gage, seorang arsitek asal San Francisco yang merupakan pendiri organisasi nirlaba Architecs & Engineers for 9/11 Truth.



Jeff Gates, seorang penulis di Salem News, mengatakan bahwa satu-satunya negara yang akan diuntungkan dari peperangan (pasca persitiwa 9/11) adalah Israel. (dn/vn/hz/sm) www.suaramedia.com


{ 0 comments }





WASHINGTON (SuaraMedia News) – Seorang pejabat di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Irak telah mengatakan kepada para jaksa federal bahwa ia percaya bahwa para pejabat Departemen Luar Negeri berusaha untuk memblokir setiap penyelidikan serius episode penembakan tahun 2007 di mana para penjaga keamanan Blackwater Worldwide dituduh membunuh 17 warga sipil Irak, menurut kesaksian pengadilan kepada publik pada hari Selasa.

David Farrington, seorang agen keamanan Departemen Luar Negeri di Kedutaan Besar Amerika pada saat penembakan di Nisour Square Baghdad, mengatakan kepada jaksa bahwa beberapa koleganya memberikan bukti dengan cara yang mereka harapkan akan membantu para pengawal Blackwater dapat menghindari hukuman untuk kejahatan yang diangkat di banyak headline dan mengangkat ketegangan antara pejabat Amerika dan Irak.



Deskripsi tentang kesaksian Farrington datang dalam pintu tertutup Oktober lalu dari Kenneth Kohl, kepala penuntut dalam kasus melawan pengawal Blackwater.






“Saya berbicara kepada David Farrington, yang bersangkutan, yang menyatakan keprihatinan tentang integritas dari pekerjaan yang dilakukan oleh sesama perwira,” Kohl mengenang. Dia mengatakan bahwa Farrington telah mengatakan padanya dalam pertemuan-pertemuan di mana agen-agen keamanan diplomatik mengatakan bahwa setelah mereka pergi ke tempat kejadian dan mengambil selongsong dan bukti lain, “Mereka bilang kami sudah punya cukup untuk membebaskan orang-orang ini sekarang.”



Farrington, yang juga bersaksi di sidang pra-peradilan pintu tertutup dalam kasus penembakan Nisour Square, menolak memberikan komentar. Kesaksian sendiri belum dibukanya oleh pengadilan.



Blackwater menjadi kontraktor jutaan dolar sementara Amerika Serikat meningkatkan perang di Irak dan Afghanistan, memberikan perlindungan bagi pejabat Departemen Luar Negeri dan pekerjaan rahasia untuk Central Intelligence Agency.



Perusahaan, yang didominasi oleh mantan pejabat Amerika, telah digambarkan oleh para kritikus sebagai terlalu dekat dengan badan-badan intelijen dan diplomatik di mana mereka bekerja.



The New York Times melaporkan bahwa Departemen Kehakiman sedang menyelidiki tuduhan bahwa Blackwater telah berusaha untuk menyogok pejabat pemerintah Irak dalam mempertahankan harapan bisnis keamanan mereka setelah penembakan yang mematikan.



Pada bulan Desember, seorang hakim federal menolak tuntutan pidana terhadap lima mantan Blackwater penjaga di Square Nisour, dan mengkritik Departemen Kehakiman yang menangani kasus ini, menegur jaksa untuk mencoba menggunakan pernyataan dari terdakwa yang telah ditawarkan kekebalan dan kesaksian dari para saksi yang tercemar oleh kebocoran media berita.



Dokumen-dokumen yang dipublikasikan pada Selasa menunjukkan bahwa sebelum penolakan pada bulan Desember, jaksa dan agen Federal Bureau of Investigation yang bekerja pada kasus Nisour Square membela diri pada bulan Oktober untuk menyatakan bahwa mereka punya banyak bukti murni. Dalam sidang tertutup, mereka juga berpendapat bahwa mereka memiliki bukti bahwa, dalam segera setelah penembakan, telah terjadi upaya untuk membuat kasus itu lolos, baik oleh Blackwater dan oleh sekurang-kurangnya beberapa pejabat kedutaan.



Bahkan, jaksa diberitahu bahwa kedutaan belum pernah melakukan penyelidikan yang signifikan dari setiap episode banyak penembakan di Irak yang melibatkan Blackwater sebelum kasus Square Nisour, menurut dokumen itu.



Dalam kesaksian Oktober, Kohl menggambarkan bagaimana Departemen Kehakiman memiliki “keprihatinan serius” tentang gangguan keadilan dalam kasus ini. Dia juga mengatakan jaksa memberi penjelasan kepada Kenneth Wainstein, kemudian seorang asisten jaksa agung, pada bukti obstruksi oleh manajemen Blackwater.



Kohl mengungkapkan bahwa jaksa telah menemukan bahwa lima penjaga Blackwater yang berada di konvoi yang terlibat dalam penembakan Square Nisour melapor kepada manajemen Blackwater apa yang mereka lihat. Satu penjaga, katanya, menggambarkannya sebagai “pembunuhan berdarah dingin.” Kohl mengatakan bahwa manajemen Blackwater pernah melaporkan pernyataan-pernyataan oleh para penjaga ke Departemen Luar Negeri.



Dia mengatakan bahwa jaksa menginformasikan pejabat senior Departemen Kehakiman pada tahun 2007 bahwa mereka sedang menyelidiki apakah manajer Blackwater  “memanipulasi” pernyataan resmi yang dibuat oleh para penjaga ke Departemen Luar Negeri.



Tapi dia bersaksi bahwa jaksa juga memiliki bukti bahwa para pejabat kedutaan menggagalkan penyelidikan. Selain kesaksian Farrington, Kohl mengatakan bahwa para pejabat militer Amerika Serikat telah mengatakan kepada jaksa bahwa mereka menyaksikan penyidik Departemen Luar Negeri “mendesak” saksi Irak.

Dia juga bersaksi bahwa agen keamanan diplomatik, yang melakukan penyelidikan awal kedutaan sebelum FBI dan Departemen Kehakiman memulai penyelidikan kriminal, meninggalkan fakta-fakta yang penting dari laporan mereka yang berkaitan dengan cerita saksi.

Philip J. Crowley, asisten menteri luar negeri untuk urusan publik, membela penanganan kasus Nisour Square oleh departemen. Dia berkata: “Tujuh belas orang tewas di siang bolong. Kami menganggap kasus ini serius dari awal. Kami mengundang F.B.I. untuk bergabung dengan penyelidikan, dan lebih dari dua tahun kemudian, kami terus mengejar kasus ini dan mencari keadilan. ”

Pejabat dari Blackwater, yang sekarang dikenal sebagai  Xe Service, tidak menanggapi permintaan itu untuk memberikan komentar.

Kohl menggambarkan apa yang dia yakini adalah “obstruksi terpendam dalam kasus ini.”

Dia mengatakan bahwa seorang pejabat Blackwater telah mengatakan kepadanya bahwa seluruh penyelidikan kriminal seharusnya dapat dihindari jika Departemen Luar Negeri memberikan pejabat Blackwater lebih banyak waktu untuk menyiapkan pernyataan resmi oleh para penjaga yang terlibat dalam penembakan.

“Dia berkata, Anda tahu mengapa ini semua terjadi, mengapa kita di sini?”  Kohl mengenang. “Karena Departemen Luar Negeri tidak memberikan kita cukup waktu untuk bekerja pada pernyataan-pernyataan ini dengan orang-orang ini. Kami hanya punya beberapa jam, dan kami harus membawakan ini ke kedutaan.”

Pemberhentian perkara pidana terhadap para penjaga Blackwater dalam penembakan  Nisour Square menyebabkan protes sengit oleh warga Irak terhadap Amerika Serikat, dan memimpin pemerintah Irak mengancam akan membawa perkara ini dalam kasusnya sendiri.

Departemen Kehakiman kini melakukan banding atas penolakan tersebut. Blackwater telah meyelesaikan satu serangkaian tuntutan hukum sipil yang dibawa oleh korban penembakan Nisour Square, tapi gugatan lain yang dibawa oleh kelompok korban lain masih tertunda. (iw/nyt) www.suaramedia.com


{ 1 comment }





ISLAMABAD (Suara Media News) – Pemerintahan Obama dilaporkan telah mengalokasikan 50 juta dollar untuk memeja-hijaukan sejumlah jurnalis dan pembawa berita di Pakistan. Pasalnya, para kuli tinta dan pembawa berita tersebut dianggap menunjukkan sikap anti AS oleh pemerintah Obama.

“Sebagaimana yang Anda ketahui secara lebih baik dibanding saya, terdapat berbagai cerita kosnpirasi melawan Amerika di media Pakistan,” kata Richard Snelsire, juru bicara Kedutaan Besar AS di Pakistan  kepada  IslamOnline.net.



“Dan dapat dipahami, terdapat kekhawatiran sehubungan dengan hal itu.”



Pada tahun lalu, Kongres telah menyetujui anggaran sebesar 7 milyar dollar demi kepentingan AS di Pakistan. Kini, pemerintah Obama berusaha membujuk Kongres agar merestui penggunaan sebagian dana tersebut. Menurut media AS dan sumber-sumber di Kantor Luar Negeri, pemerintahan Obama telah melakukan pendekatan terhadap Kongres agar dapat memanfaatkan 1,45 juta dolar dari total dana tersebut.






Dari 1,45 juta dollar tersebut, sekitar 50 juta dollar diantaranya akan digunakan untuk kepentingan strategi komunikasi di Pakistan. Dengan 50 juta dolar tersebut, pemerintah AS akan mendorong berlangsungnya modernisasi media di Pakistan. Dengan demikian, pemerintahdapat menangkis pandangan ekstrimis terhadap AS.



Belum jelas, bagaimana cara pendistribusian dana tersebut di kalangan media Pakistan. Apakah dana itu akan didistribusikan secara langsung kepada media-media Pakistan? Apakah Washington akan membeli saham kanal-kanal TV dan penerbitan di Pakistan, baik secara langsung maupun tidak langsung?



“Pada saat ini, Saya tak dapat menjawab pertanyaan Anda tentang uang,” jawab  Snelsire ketika ditanya bagaimana cara penyaluran 50 juta dolar tersebut.



“Terus terang, uang itu tidak ada pada kami (di Islamabad), dan Saya tidak tahu kapan dan bagaimana uang itu akan datang.”



Dengan adanya permintaan yang ditujukan kepada Kongres, muncul dugaan bahwa saat ini terdapat rencana untuk menempatkan sebuah tim bernama Rapid Response Team di Pakistan. Tim tersebut merupakan bagian dari rencana strategi komunikasi komprehensif yang ditujukan untuk mengatasi propaganda anti AS.



Para pejabat terkemuka AS, termasuk Sekretaris Dalam Negeri AS,  Hillary Clinton, dan utusan khusus AS untuk Pakistan dan Afghanistan , Richard Holbrooke, telah mengeluarkan komentar tentang sebagian media di Pakistan.



Mereka menuduh media-media tersebut menyebarkan sentimen anti AS berdasarkan pandangan konspirasi.



Sejumlah pihak beranggapan bahwa dana sebesar 50 juta dollar tersebut tak akan manjur untuk menyokong kepentingan AS di Pakistan.



“Ini bukan rencana baru bagi saya. Ini sudah dijalankan di Pakistan selama tiga-empat tahun terkahir,” kata Hamid Mir, jurnalis senior yang berbasis di Islamabad kepada IOL.



“Uang 50 juta dolar tersebut bisa saja merupakan kelanjutan dari rencana tersebut.”



Mir menyebutkan program-program  Voice of America dalam bahasa Urdu yang ditayangkan oleh berbagai kanal TV di Pakistan. Tampaknya, Mir merasa pesimis terhadap keberhasilan rencana AS.



Menurut Mir, para diplomat AS di Islamabad menghadirkan kendala besar bagi hubungan baik antara AS dan media lokal Pakistan.



“Utusan AS memperlakukan jurnalis secara kasar seakan-akan mereka adalah budak. Jika mereka ingin menciptakan hubungan baik denga  media pakistan, semestinya mereka memperlakukan media secara setara.”



Mir berpendapat bahwa media mencerminkan perasaan masyarakat. Menurutnya, media tak dapat mengubah pendekatan populer atau sentimen melalui “operasi plastik”.



“Rencana baru ini akan gagal sebagaimana program-program sebelumnya. Jika Amerika ingin perubahan dramatis dalam perilaku media Pakistan, maka seharusnya mereka menghentikan serangan di daerah-daerah kesukuan.”



AS memang telah melakukan serang di sejumlah daerah kesukuan di utara Pakistan. Menurut AS, serangan itu ditujukan untuk mendapatkan militan Al-Qaeda dan Taliban.



Selama dua tahun terakhir, hampir 20 orang pemimpin  Al-Qaeda dan Taliban berhasil dibunuh. Namun, lebih dari 1.500 warga sipil turut menanggung kerugian akibat serangan tersebut.



“Ini sekedar langkah kosmetik yang dilakukan lagi oleh AS,” kata  Dr Shameem Akhtar, seorang analis yang berbasis di Karachi.



“Bisa saja ada sejumlah agen lagi di sini, namun tak akan mempu memperbaiki citra di mata warga Pakistan.”



Dr Shameem Akhtar, mantan dekan Departemen Ilmu Hubungan Internasional di Universitas Karachi, percaya bahwa meskipun media bermaksud untuk membantu memperbaiki citra AS di Pakistan, citra AS tetap tak akan terdongkrak dengan adanya situasi di Pakistan.



“Media, tak diragukan lagi, adalah sebuah sarana yang penting. Namun, saya tak dapat mengubah siang menjadi malam. Saya khawatir bahwa dengan adanya kondisi dimana orang-orangbtak bersalah terbunuh dalam serangan dan pengeboman di Pakistan dan Afgahnistan, tak satu pun, termasuk media dapat memperbaiki citra AS,” papar Akhtar.



“Amerika sendirilah yang dapat memperbaiki citranya dengan cara mengubah kebijakan represifnya.” (es/iol) www.suaramedia.com


{ 0 comments }



KABUL (SuaraMedia News) – Badan-badan bantuan PBB memperingatkan peningkatan tajam anak-anak Afghanistan yang tidak ditemani dalam melamar suaka di Eropa.

Angka-angka terbaru dari badan pengungsi PBB menunjukkan peningkatan sebesar 60% tahun lalu, dengan lebih dari 6.000 di bawah 18 tahun mencari suaka.

Unicef mengatakan ada kebutuhan mendesak untuk melindungi anak-anak dari bermigrasi sendirian.

Konvensi PBB tentang Hak Anak mewajibkan negara untuk melindungi anak-anak dari semua kebangsaan.

Pada tahun 2008, badan pengungsi PBB menunjukkan angka, 3.800 Afghan di bawah 18 diterapkan untuk suaka di Eropa.

PBB percaya angka-angka terbaru migrasi tersebut adalah puncak gunung es; banyak anak di bawah umur yang tidak ditemani melamar untuk suaka karena mereka takut akan penahanan dan deportasi.

Sebuah studi baru dari Unicef, badan anak-anak PBB, mengungkapkan kurangnya kebijakan yang koheren di Eropa terhadap migran anak dan sering gagal untuk melindungi mereka.


Pekerja bantuan menunjuk pada sebuah kasus baru-baru ini di mana dua anak laki-laki Afghanistan, satu baru berusia 13 tahun, meninggal karena berusaha bersembunyi dalam truk-truk perjalanan dari Yunani ke Italia.

Unicef mengatakan sebuah studi perawatan Inggris yang ditawarkan oleh pihak berwenang setempat menunjukkan bahwa anak-anak tanpa pendamping sering mengalami rasisme, tidak dipercaya ketika mereka mencoba untuk memberitahu orang dewasa tentang kisah mereka, dan berjuang dengan mengalami trauma mental pada perjalanan mereka ke Inggris.

PBB mengatakan lebih banyak penelitian mengenai fenomena tumbuhnya migran anak yang dibutuhkan, tetapi bahwa temuan awal ini menunjukkan bahwa kebutuhan untuk menawarkan perlindungan yang lebih baik adalah sangat mendesak.

Sebuah laporan dari Child Right Information Network pada 2008 mencatat bahwa sebagian besar anak-anak mengatakan orangtua mereka di Afghanistan telah membayar penyelundup untuk mengawal mereka ke tempat yang aman. Banyak mampir selama berbulan-bulan di Iran sebelum melarikan diri ke barat untuk menghindari deportasi ke tanah air yang dilanda perang. Bagi sebagian besar, Patras adalah perhentian penultima perjalanan panjang mereka ke Eropa Barat. Tetapi mereka jauh dari tempat kudus yang mereka cari.
Kelompok bantuan mengatakan anak-anak harus dianggap sebagai anak di bawah umur bukan migran. Giorgos Karapiperis, seorang dokter dengan tim Palang Merah setempat yang menawarkan tempat penampungan dan nasihat kepada para migran, mengatakan: “Kami menutup mata terhadap masalah nyata. Ada undang-undang yang menentukan bahwa kita membantu anak-anak seperti itu.”

Anggota dari organisasi-organisasi bantuan mengatakan sebagian besar anak-anak menolak untuk mengajukan permohonan suaka di sini karena mereka ingin untuk melanjutkan perjalanan. “Mereka ingin mencapai tujuan akhir mereka sehingga mereka dapat mulai bekerja dan membayar utang mereka kepada trafficker,” kata Palang Merah Karapiperis. Dia mengatakan mereka mengambil “pinjaman” sebesar € 1,000 hingga € 7,000 – di atas pembayaran orangtua mereka – untuk melanjutkan perjalanan dari Iran, melalui Turki, ke Yunani.

Direktur pengungsi PBB di Teheran, Sten Bronee, mengatakan sebagian besar orang dewasa Afghan memasuki Iran “diserap” diantara dua juta orang pengungsi. Namun dia menambahkan: “Fakta bahwa tidak ada anak migran mencari bantuan kami menunjukkan mereka sedang dikawal oleh cincin penyelundupan.”

Kadang-kadang pinjaman disepakati di Patras. Satu Afghanistan, 9, mengatakan ia membayar trafficker € 800 untuk membawanya ke Italia. Dia dibawa keluar dari pelabuhan tetapi kemudian kembali ke Patras. Dia mengatakan orang tuanya telah memberinya uang, yang dibawa oleh seorang dewasa di dalam kelompoknya. (iw/bbc/crin) www.suaramedia.com


{ 0 comments }

Strategi Halus AS Rayu Eropa Dukung Perang Afghanistan

by konspirasi on February 13, 2010







PARIS (SuaraMedia News) – Menteri Pertahanan AS Robert Gates berada di Eropa dan bertemu dengan negara-negara sekutu AS untuk membahas mengenai perang di Afghanistan. Hal itu merupakan peristiwa yang biasa terjadi.

Namun, ada sesuatu yang menghilang. Dalam kunjungan selama satu minggu tersebut, Gates tidak meminta rekan-rekannya di Eropa untuk mengirimkan tambahan pasukan.



Pergeseran pendekatan Gates tersebut merefleksikan adanya pertumbuhan signifikan jumlah pasukan AS dan sekutu tahun lalu, demikian halnya dengan perubahan strategi dalam perang yang dipimpin Amerika Serikat tersebut.



Bukannya memaksakan penambahan jumlah pasukan, misi Gates telah berubah menjadi lebih halus, ditujukan untuk menyesuaikan percampuran pasukan sekutu, dan penekanan mengenai pentingnya bagi para pelatih untuk meningkatkan kemampuan pasukan pertahanan Afghanistan.



Dengan penambahan pasukan yang disetujui Presiden Obama pada bulan Desember lalu, jumlah pasukan AS akan meningkat menjadi hampir 100.000 orang tahun ini. Perlu ditambahkan bahwa jumlah pasukan sekutu hampir mencapai 40.000 orang.






Para pejabat AS mengatakan bahwa sekutu berkomitmen untuk mengirimkan 10.000 orang tambahan pasukan sejak pemerintahan Obama melakukan tinjauan ulang strategi tahun lalu. Pada hari Minggu lalu di Italia, Gates mengatakan bahwa mengirimkan sebanyak mungkin pelatih pasukan adalah hal yang penting.



Pekan lalu, Perancis mengumumkan bahwa pihaknya hanya akan menyediakan tambahan pelatih sebanyak 80 orang. Sebagian kalangan memandang hal tersebut sebagai hinaan untuk AS. Sebaliknya, Italia sebelumnya mengumumkan bahwa pihaknya akan meningkatkan jumlah pasukannya sebanyak 1.000 orang.



Namun Menteri Pertahanan Perancis, Herve Morin tetap mempertahankan kontribusi yang diberikan negaranya. Hal tersebut diungkapkan dalam sebuah sesi konferensi pers gabungan bersama Gates. “Kami telah menambahkan 1.300 orang pasukan dalam waktu kurang dari dua tahun,” kata Morin.



Akan tetapi, AS membantah bahwa pihaknya merasa kecewa dengan keputusan Perancis yang hanya mengirimkan 80 orang pelatih ke Afghanistan. AS tetap berharap bahwa Presiden Nicolas Sarkozy nantinya akan mampu memberikan kontribusi lebih besar.



Dukungan publik Perancis terhadap perang Afghanistan semakin tergerus. Serangkaian kematian prajurit Perancis di medan tempur Afghanistan semakin meningkatkan sikap antipati terhadap perang tersebut.



“Cukup penting untuk memelihara sejumlah perspektif,” kata Menteri Pertahanan AS Robert Gates kepada para wartawan ketika ditanya mengenai sikap Perancis.



“Tahun lalu, Perancis telah meningkatkan jumlah pasukannya di Afghanistan, dari sepertiga menjadi setengah, dan mereka juga memikul tanggung jawab baru.”



Dalam konferensi pers gabungan bersama Herve Morin, seorang pejabat tinggi Departemen Pertahanan AS mengatakan bahwa Washington sebenarnya berharap agar Perancis bersedia meningkatkan jumlah pelatih yang dikirimkan, lebih dari 80 orang.



“Ini bukan data statis, dan waktu terus berputar, nantinya orang-orang akan mampu melakukan evaluasi ulang dan memberikan kontribusi yang lebih besar,” demikian kata sang pejabat yang menolak namanya diungkapkan kepada publik.



“Dilihat dari sudut manapun, Gates merasa tidak puas mendengar tawaran Perancis tersebut,” kata sang pejabat.



Perancis menjadi satu-satunya negara yang menjanjikan tambahan tenaga baru di sela-sela petemuan para menteri pertahanan NATO di Istanbul pekan lalu. Namun tawaran 80 orang tersebut jauh lebih sedikit dibandingkan dengan harapan Washington yang berkisar pada angka ratusan.



Dengan menerjunkan 3.750 orang pasukan, Perancis menjadi negara dengan jumlah pasukan terbesar keempat di Afghanistan, setelah AS, Inggris dan Jerman.



Sarkozy menepis kemungkinan pengiriman tambahan unit tempur ke Afghanistan, presiden Perancis tersebut hanya mengisyaratkan kemungkinan pengiriman tambahan pelatih.



Para pemimpin NATO mengatakan bahwa kehadiran tambahan pelatih amat diperlukan jika ingin mencapai target 300.000 orang personel pasukan keamanan Afghanistan pada tahun 2011.



Di bawah komando George W. Bush, Gates membujuk para sekutu Eropa AS di hadapan publik, Gates meminta negara-negara Eropa mengesampingkan sikap jengkel kepada pemerintahan AS dan meningkatkan kontribusi mereka di Afghanistan, yang waktu itu berjumlah 17.000 orang. Kini, negara-negara sekutu telah mengirimkan atau menjanjikan hampir 50.000 orang.



Gates mengatakan bahwa ketika sebelumnya menekan negara-negara sekutu di hadapan publik, dia dituding telah menggunakan diplomasi pengeras suara. “Jadi, kali ini saya memutuskan untuk diam,” kata Gates. “Biarkan hasil akhir yang berbicara.” (dn/lt/wb) www.suaramedia.com




{ 0 comments }

</