ISLAMABAD (Suara Media News) – Pemerintahan Obama dilaporkan telah mengalokasikan 50 juta dollar untuk memeja-hijaukan sejumlah jurnalis dan pembawa berita di Pakistan. Pasalnya, para kuli tinta dan pembawa berita tersebut dianggap menunjukkan sikap anti AS oleh pemerintah Obama.
“Sebagaimana yang Anda ketahui secara lebih baik dibanding saya, terdapat berbagai cerita kosnpirasi melawan Amerika di media Pakistan,” kata Richard Snelsire, juru bicara Kedutaan Besar AS di Pakistan kepada IslamOnline.net.

“Dan dapat dipahami, terdapat kekhawatiran sehubungan dengan hal itu.”

Pada tahun lalu, Kongres telah menyetujui anggaran sebesar 7 milyar dollar demi kepentingan AS di Pakistan. Kini, pemerintah Obama berusaha membujuk Kongres agar merestui penggunaan sebagian dana tersebut. Menurut media AS dan sumber-sumber di Kantor Luar Negeri, pemerintahan Obama telah melakukan pendekatan terhadap Kongres agar dapat memanfaatkan 1,45 juta dolar dari total dana tersebut.




Dari 1,45 juta dollar tersebut, sekitar 50 juta dollar diantaranya akan digunakan untuk kepentingan strategi komunikasi di Pakistan. Dengan 50 juta dolar tersebut, pemerintah AS akan mendorong berlangsungnya modernisasi media di Pakistan. Dengan demikian, pemerintahdapat menangkis pandangan ekstrimis terhadap AS.

Belum jelas, bagaimana cara pendistribusian dana tersebut di kalangan media Pakistan. Apakah dana itu akan didistribusikan secara langsung kepada media-media Pakistan? Apakah Washington akan membeli saham kanal-kanal TV dan penerbitan di Pakistan, baik secara langsung maupun tidak langsung?

“Pada saat ini, Saya tak dapat menjawab pertanyaan Anda tentang uang,” jawab Snelsire ketika ditanya bagaimana cara penyaluran 50 juta dolar tersebut.

“Terus terang, uang itu tidak ada pada kami (di Islamabad), dan Saya tidak tahu kapan dan bagaimana uang itu akan datang.”

Dengan adanya permintaan yang ditujukan kepada Kongres, muncul dugaan bahwa saat ini terdapat rencana untuk menempatkan sebuah tim bernama Rapid Response Team di Pakistan. Tim tersebut merupakan bagian dari rencana strategi komunikasi komprehensif yang ditujukan untuk mengatasi propaganda anti AS.

Para pejabat terkemuka AS, termasuk Sekretaris Dalam Negeri AS, Hillary Clinton, dan utusan khusus AS untuk Pakistan dan Afghanistan , Richard Holbrooke, telah mengeluarkan komentar tentang sebagian media di Pakistan.

Mereka menuduh media-media tersebut menyebarkan sentimen anti AS berdasarkan pandangan konspirasi.

Sejumlah pihak beranggapan bahwa dana sebesar 50 juta dollar tersebut tak akan manjur untuk menyokong kepentingan AS di Pakistan.

“Ini bukan rencana baru bagi saya. Ini sudah dijalankan di Pakistan selama tiga-empat tahun terkahir,” kata Hamid Mir, jurnalis senior yang berbasis di Islamabad kepada IOL.

“Uang 50 juta dolar tersebut bisa saja merupakan kelanjutan dari rencana tersebut.”

Mir menyebutkan program-program Voice of America dalam bahasa Urdu yang ditayangkan oleh berbagai kanal TV di Pakistan. Tampaknya, Mir merasa pesimis terhadap keberhasilan rencana AS.

Menurut Mir, para diplomat AS di Islamabad menghadirkan kendala besar bagi hubungan baik antara AS dan media lokal Pakistan.

“Utusan AS memperlakukan jurnalis secara kasar seakan-akan mereka adalah budak. Jika mereka ingin menciptakan hubungan baik denga media pakistan, semestinya mereka memperlakukan media secara setara.”

Mir berpendapat bahwa media mencerminkan perasaan masyarakat. Menurutnya, media tak dapat mengubah pendekatan populer atau sentimen melalui “operasi plastik”.

“Rencana baru ini akan gagal sebagaimana program-program sebelumnya. Jika Amerika ingin perubahan dramatis dalam perilaku media Pakistan, maka seharusnya mereka menghentikan serangan di daerah-daerah kesukuan.”

AS memang telah melakukan serang di sejumlah daerah kesukuan di utara Pakistan. Menurut AS, serangan itu ditujukan untuk mendapatkan militan Al-Qaeda dan Taliban.

Selama dua tahun terakhir, hampir 20 orang pemimpin Al-Qaeda dan Taliban berhasil dibunuh. Namun, lebih dari 1.500 warga sipil turut menanggung kerugian akibat serangan tersebut.

“Ini sekedar langkah kosmetik yang dilakukan lagi oleh AS,” kata Dr Shameem Akhtar, seorang analis yang berbasis di Karachi.

“Bisa saja ada sejumlah agen lagi di sini, namun tak akan mempu memperbaiki citra di mata warga Pakistan.”

Dr Shameem Akhtar, mantan dekan Departemen Ilmu Hubungan Internasional di Universitas Karachi, percaya bahwa meskipun media bermaksud untuk membantu memperbaiki citra AS di Pakistan, citra AS tetap tak akan terdongkrak dengan adanya situasi di Pakistan.

“Media, tak diragukan lagi, adalah sebuah sarana yang penting. Namun, saya tak dapat mengubah siang menjadi malam. Saya khawatir bahwa dengan adanya kondisi dimana orang-orangbtak bersalah terbunuh dalam serangan dan pengeboman di Pakistan dan Afgahnistan, tak satu pun, termasuk media dapat memperbaiki citra AS,” papar Akhtar.

“Amerika sendirilah yang dapat memperbaiki citranya dengan cara mengubah kebijakan represifnya.” (es/iol) www.suaramedia.com
{ 0 comments }
