Posts tagged as:

dan

Netanyahu: Ayah Saya Telah Ramalkan Tragedi 9/11

by konspirasi on March 9, 2010





TEL AVIV (SuaraMedia News) – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bahwaa ayahnya pernah memprediksikan serangan 11 September terhadap menara kembar World Trade Center New York pada tahun 1990-an.

Haaretz melaporkan bahwa pernyataan tersebut dilontarkan pada peringatan 100 tahun hari lahir ayah sang perdana menteri, Benzion Netanyahu, yang merupakan seorang sejarawan dan aktivis Zionis.



Perdana Menteri Israel tersebut menambahkan bahwa orang-orang yang tidak mengetahui masa lalu mereka tidak akan mengerti dan tidak akan mampu memprediksi masa depan mereka.



Pada tanggal 17 April 2008, harian Israel Maariv melaporkan bahwa Benjamin Netanyahu, yang kala itu merupakan pemimpin Partai Likud, mengatakan kepada audiens di Universitas Bar Ilan bahwa Peristiwa 11 September 2001 menguntungkan Israel.



“Kami mendapat keuntungan dari satu hal, dan hal itu adalah serangan terhadap menara kembar dan juga Pentagon, serta perjuangan Amerika di Irak,” kata Netanyahu kepada Maariv. Ia juga menambahkan bahwa kejadian tersebut “menggiring opini publik Amerika untuk keuntungan kami.”






Tidak berapa lama kemudian, Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad mengungkapkan keraguan atas kebenaran peristiwa 11 September, ia menyebut 9/11 hanyalah dalih yang sengaja diciptakan untuk menginvasi Afghanistan dan Irak.



“Dengan dalih itu, mereka (AS) menyerang Afghanistan dan Irak. Dan sejak saat itu, ada jutaan orang yang tewas, itu baru di Irak.”



Menanggapi ancaman Iran, Netanyahu membandingkan Ahmadinejad dengan Adolf Hitler dan menyamakan program nuklir Teheran dengan ancaman Nazi terhadap Eropa pada akhir tahun 1030-an.



Netanyahu mengatakan bahwa ada satu hal yang membedakan Iran dengan Nazi. “Rezim Nazi memulai konflik global sebelum mengambangkan senjata nuklir,” kata Netanyahu. “Rezim ini (Iran) mengembangkan senjata nuklir sebelum terlibat dalam konflik global.”



Beberapa waktu lalu, Tim King dari situs Salem News menyebutkan: “Pemerintah AS memang ingin masyarakat percaya bahwa gedung-gedung tersebut ambruk karena lalapan api. Akan tetapi, dalam sejarah belum pernah ada api yang mampu meruntuhkan gedung pencakar langit. Jilatan api memang membakar hingga kerangka bangunan, tapi api tidak bisa meruntuhkan gedung.”



“Anggap saja hal itu mungkin terjadi, maka menara kembar WTC menjadi bangunan yang paling tidak mungkin runtuh. Kerangka baja menara kembar tersebut tidak akan sampai ambruk, bahkan jika gedungnya sendiri runtuh.”



“Ketika kami mulai menulis mengenai hal ini. Matt Lintz, desainer web kami, mengetahui adanya upaya-upaya Angkatan Udara AS untuk meretas situs Salem News.”



Salem News menyebutkan bahwa mungkin setengah penduduk AS masih belum menyadari bahwa ada gedung ketiga yang juga turut runtuh pada tanggal 11 September 2001. Dan gedung tersebut tidak dihantam pesawat. Namun, dalam gedung tersebut terdapat banyak catatan yang berharga bagi industri keuangan.



Richard Gage, seorang arsitek asal San Francisco yang merupakan pendiri organisasi nirlaba Architecs & Engineers for 9/11 Truth, mengatakan: “Bagaimana mungkin baja seberat 200.000 ton tercerai berai dan roboh dalam waktu hanya 11 detik? Ribuan orang arsitek dan insinyur mempertanyakan hal tersebut, mereka menyerukan kepada Kongres untuk memerintahkan investigasi baru terhadap peristiwa runtuhnya menara kembar dan Building 7 (7 World Trade Center).”



“Untuk meruntuhkan bangunan semacam itu dalam waktu singkat, maka harus ada ledakan buatan di gedung tersebut. Dan ledakannya harus mengarah ke luar,” kata Richard Gage, seorang arsitek asal San Francisco yang merupakan pendiri organisasi nirlaba Architecs & Engineers for 9/11 Truth.



Jeff Gates, seorang penulis di Salem News, mengatakan bahwa satu-satunya negara yang akan diuntungkan dari peperangan (pasca persitiwa 9/11) adalah Israel. (dn/vn/hz/sm) www.suaramedia.com


{ 0 comments }





ADDIS ABABA (SuaraMedia News) – Sebuah investigasi Observer menunjukkan bagaimana negara-negara kaya mendapatkan jaminan untuk memenuhi kebutuhan warganya, dengan memanfaatkan lahan seluas dua kali lipat daratan Inggris. Dan, lahan tersebut berada di Afrika, kawasan yang identik dengan kekurangan pangan. Guardian melaporkan hasil investigasi tersebut pada hari Senin (07/03).

Di Ethiopia, tepatnya di Rift Valley di Awassa, tedapat sebuah rumah kaca terbesar di negara tersebut. Rumah kaca tersebut belum sepenuhnya rampung, namun perkembanganya sudah cukup mengesankan. Luasnya lebih dari 20 hektar – 20 kali lebih besar daripada lapangan bola. Di dalam rumah kaca tersebut, ditanam tomat, cabai, dan sayur-sayuran lain yang berjajar dalam barisan sepanjang 500 m. Kondisi di dalam rumah kaca tersebut dikendalikan oleh komputer. Para insinyur Spanyol bertangung-jawab atas struktur baja rumah kaca. Para pakar dari Belanda bertanggung-jawab atas penggunaan air yang bersifat minimal di rumah kaca itu. Setiap hari, 1000 orang wanita memetik dan mengepak 50 ton bahan pangan. Dalam 24 jam, setelah menempuh jarak sepanjang 1000 mil, bahan pangan itu telah berada di toko dan restoran di Dubai, Jeddah, dan negara-negara lain di Timur-Tengah.






Ada sebuah paradoks di sini. Ethiopia adalah salah satu negara termiskin di dunia. Namun, ketika 13 juta rakyat Ethiopia butuh pangan, pemerintah Ethiopia menyediakan 3 juta hektar tanah tersubur di Ethiopia bagi negara-negara makmur dan sejumlah orang terkaya di dunia yang lantas mengekspor pangan kepada rakyat mereka sendiri.



Tanah seluas 1000 hektar di Awassa tersebut disewa selama 99 tahun oleh seorang usahawan milyarder dari Saudi yang lahir di Ethiopia, Sheikh Mohammed al-Amoudi. Al-amoudi adalah satu dari 50 orang terkaya di dunia. Perusahaan Al-Amoudi, Saudi Star, akan mengakuisisi dan mengembangkan lahan seluas 500.000 hektar di Ethiopia pada beberapa tahun mendatang. Sejauh ini, perusahaan itu telah membeli empat pertanian dan telah menanam  gandum, padi, sayur-mayur, dan bunga untuk pasar Saudi. Perusahaan itu diharapkan dapat mempekerjakan lebih dari 1000 orang.



Ethiopia hanyalah satu dari 20 negara Afrika yang tanahnya dibeli atau disewa untuk pertanian intensif. Sebuah investigasi yang dilakukan ole Observer memperkirakan bahwa sekitar 5 juta hektar lahan – dua kali luas daratan Inggris – telah diakuisisi dalam beberapa tahun terakhir atau sedang berada dalam proses negosiasi. Negosiasi tersebut melibatkan pemrintah dan para investor kaya yang bekerja dengan memanfatkan subsidi pemerintah. Data yang digunakan dalam investigasi tersebut dikumpulkan oleh Grain, International Institute for Environment and Development, International Land Coalition, ActionAid, dan lembaga swadaya masyarakat lainnya.



Para pelaku di bidang agribisnis internasional, investment banks, hedge funds, commodity traders, wealth funds, setrta dana pensiun Inggris, yayasan dan individu tertarik pada lahan termurah di dunia yang terletak di Afrika. Entitas-entitas tersebut mengincar Sudan, Kenya, Nigeria, Zambia, Malawi, Ethiopia, Kongo, Zambia, Uganda, Madagaskar, Zimbabwe, Mali, Sierra Leone, Ghana, dan sebagainya.



Ethiopia telah menyetujui 815 proyek pertanian bermodal asing sejak tahun 2007. Tanah Ethiopia dapat disewa dengan harga $1 per hektar per tahun. Negara-negara emirat seperti Saudi,  Qatar, Kuwait, dan Abu Dhabi merupakan pembeli terbesar. Pada tahun 2008, Saudi mengumumkan pengurangan produksi sereal sebesar 12 perse demi konservasi air. Sebagai gantinya, Saudi menyediakan $5bn sebagai pinjaman untuk perusahaan yang ingin berinvestasi di luar negeri dalam sektor pertanian yang potensial.  Foras, perusahaan investasi Saudi yang didukung oleh Islamic Development Bank dan para investor kaya Saudi, berencana untuk membeli lahan di Mali, Senegal, Sudan, dan Uganda. Perusahaan telah menyediakan dana sebesar $1bn dan berharap dapat mensuplai 7 juta ton beras bagi pasar Saudi dalam 7 tahun ke depan.



Dengan tindakan semacam itu, Saudi tak hanya mengakuisisi lahan Afrika, namun juga menghemat air sebanyak ratusan galon per tahun. Menurut PBB, air akan menjadi faktor yang sangat menentukan dalam 100 tahun mendatang.



Lahan Afrika menarik bukan hanya untuk kebutuhan pangan, namun juga untuk biofuel. China telah menandatangai kontrak dengan Republik Demokratik Kongo untuk menanam kelapa sawit di tas lahan seluas 2,8 juta hektar sebagai bahan biofuel. Madagaskar dan perusahaan Korea Selatan, Daewoo, sempat membahas proyek biofuel yang melibatkan lahan seluas 1.2 juta hektar – hampir separuh lahan yang dapat ditanami di negara itu. Namun, kesepakatan tersebut terhambat oleh adanya kerusuhan.



Menurut Tim Rice, penulis laporan ActioAid, diperkirakan bahwa Uni Eropa (UE) memerlukan lahan seluas 17,5 juta hektar – lebih dari separuh luas Italia – untuk memenuhi 10 persen kebutuhan biofuel pada tahun 2015. “Pencaplokan lahan demi biofuel di Afrika telah memojokkan petani dan produksi pangan. Jumlah orang yang kelaparan akan meningkat,” kata Rice. Perusahan-perusahaan Inggris telah mendapatkan lahan di Angola, Ethiopia, Mozambik, Nigeria, dan Tanzania, untuk menanam sayur-mayur dan bunga.



Perusahaan-perusahaan India, dengan dukungan pinjaman dari pmerintah, telah membeli atau menyewa ratusan ribu hektar lahan di Ethiopia, Kenya, Madagascar, Senegal, dan Mozambik, untuk pertanian padi, tebu, jagung, dan kacang-kacangan untuk memenuhi kebutuhan domestik.



Perusahan-peusahaan Korea Selatan pada tahun lalu telah membeli 700.000 hektar lahan di utara Sudan untuk menanam gandum. Uni Emirat Arab telah mengakuisisi 750.000 lahan di negara tersebut. Bulan lalu, Saudi mendapatkan kesepakatan atas lahan seluas 42.000 hektar di propinsi Nil.



Menurut pemerintah Sudan, lahan di negaranya sedang laris-manis. “Kami mendapat banyak permintaan dari banyak pengembang. Negosiasi masih berlangsung,” kata Peter Chooli, direktur sumber daya air dan irigasi, di Juba, pada minggu lalu. “Sebuah kelompok dari Denmark sedang berdiksusi dengan pemerintah dan pihak lain ingin menggunakan lahan di dekat Nil.”



Seorang bukanir yang menjalankan perusahaan invetasi Jarch Capital di New York, Philip Heilberg, telah menyewa lahan seluas 800.000 hektar di Darfur, Sudan. Heilberg berjanji, ia tak hanya akan menciptakan lapangan kerja, namun juga akan memberikan 10 persen atau lebih keuntungan yang ia peroleh kepada masyarakat setempat. Namun, ia dituduh pemerintah Sudan telah “mencaplok” tanah adat. Ia juga dituduh memancing upaya Amerika untuk memecah-belah Sudan.



Menurut Devlin Kuyek, peneliti dari Grain yang berbasis di Montreal, berinvestasi di Afrika adalah sebuah strategi baru untuk mendapatkan pangan yang dijalankan oleh banyak pemerintah.



“Negara-negara kaya mengincar Afrika tak hanya demi pengembalian modal yang sehat. Namun, juga sebagai polis asuransi. Kekurangan pangan dan kerusuhan di 28 negara pada tahun 2008, menurunnya persediaan air, perubahan iklim, dan pertumbuhan populasi yang pesat telah membuat tanah jadi menarik. Afrika memiliki sebagian besar lahan, dan, dibandingkan dengan benua lain,  murah,” kata Kuyek. (es/gd) www.suaramedia.com


{ 0 comments }





ANKARA (SuaraMedia News) – Israel mungkin akan merasa tidak senang, namun sebuah tayangan populer televisi dan film Turki yang dulu menceritakan mengenai seorang dokter Yahudi yang mencuri organ tubuh para tahanan Muslim di Irak, kini mengemukakan rencana untuk merilis sebuah film yang mengambil setting di Palestina.

“Valley of the Wolves: Palestine” diproyeksikan akan menelan dana lebih dari 10 juta euro. Dengan biaya produksi sebesar itu, film tersebut masuk dalam jajaran film termahal Turki.



Dijadwalkan rilis pada bulan November, film tersebut mencoba menyusul kesuksesan “Valley of the Wolves: Iraq” yang rilis pada tahun 2006.



“Valley of the Wolves: Iraq” yang menceritakan para prajurit AS yang membabi buta di Irak, mencatatkan penjualan tiket sebanyak 4,2 juta lembar di tengah tudingan anti-Amerika dan anti-Semit.



“Setelah Irak, kami memutuskan bahwa dalam film Polat berikutnya, kami akan kembali mengangkat kisah internasional,” kata Bahadir Ozdener, sang penulis naskah, yang duduk di sebuah ruangan penuh kamera antik di Nisantasi, sebuah kawasan elit di Istanbul.



Yang menjadi tokoh utama adalam Polat Alemdar, seorang agen yang selalu menenteng pistol, berpakaian rapi dan tidak terlalu banyak menunjukkan ekspresi wajah.






Diperankan oleh aktor Necati Sasmaz, yang belum pernah memiliki pengalaman akting sebelumnya, dan disulih suara oleh aktor lainnya, Polat terkadang disebut-sebut sebagai James Bond-nya Turki. Sosok Polat diidolakan oleh jutaan anak muda Turki, yang sampai meniru gerak-gerik dan pola bicaranya.



Dalam film baru tersebut, Ozdener mengatakan bahwa dirinya ingin membuka mata dunia dan menceritakan sejarah, mengenai apa yang sebenarnya terjadi di Palestina.



Dia menyebut konflik Palestina sebagai sebuah contoh sempurna dari target-target kaum penjajah. Turki telah sejak lama menjadi anggota NATO, sekutu tradisional Amerika Serikat, dan menjalin hubungan dengan Israel sejak pertengahan tahun 1990-an. Turki menganut paham sekuler, namun mayoritas penduduk negara tersebut adalah Muslim.



“Cerita yang diangkat dalam tayangan ini adalah kisah alternatif dari peristiwa yang sebenarnya terjadi,” tambah Orhan Tekelioglu, seorang cendekiawan yang menulis mengenai film tersebut dalam kolomnya di surat kabar Radikal.



“Sederhananya, (film) itu mengisahkan mengenai Turki yang mendapatkan serangan kekuatan asing, pertama dari AS, kemudian dari Israel.”



Valley of the Wolves: Palestine dibuat beberapa saat setelah seri Valley of the Wolves memicu kecaman di Israel.



Pada bulan Januari lalu, sehubungan dengan penayangan sebuah episode serial televisi populer tersebut, yang mengisahkan agen-agen Israel menculik seorang anak Turki, Deputi Menteri Luar Negeri Israel, Danny Ayalon, memanggil duta besar Turki.



Pertemuan Ayalon dan duta besar Turki berbuntut panjang karena Ayalon menolak menjabat tangan Ahmet Oguz Cellikol, sang duta besar Turki, dan mendudukkan Cellikol di kursi yang lebih rendah di hadapan kamera televisi.



Turki marah besar dengan tindakan tersebut, dan kini, hubungan Israel dan Turki bertambah tegang dengan film tersebut, yang akan menceritakan sepak terjang Polat Alemdar di Gaza, Tepi Barat dan Yerusalem.



“Kami tidak bisa menanggapi sesuatu yang belum kami saksikan,” kata Tal Gat, deputi konsulat jenderal Israel di Istanbul.



Liga Anti Penistaan (Anti-Defamation League – ADL), sebuah kelompok Yahudi yang berbasis di AS dan menentang anti-Semitisme, mengatakan bahwa film tersebut berseberangan dengan tradisi Ottoman (Turki) yang menjunjung toleransi beragama.



“Dalam sejarahnya, Turki tidak “tercemar” dengan anti-Semitisme,” kata Abraham Foxman, direktur nasional ADL. “Tapi ironisnya, saat ini Turki menyebarkan anti-Semitisme melalui media massa.”



Tayangan Valley of the Wolves, yang dibuat oleh perusahaan produksi Pana Film, meraup sukses luar biasa di Turki.



Valley of the Wolves berisi cerita mitologi yang disukai kalangan nasionalis. Mengisahkan mengenai pahlawan tunggal yang memandu orang-orang Turki keluar dari lembah Asia Tengah, melewati jebakan musuh.



Serial televisi yang dikenal dengan nama “Kurtlar Vadisi” di Turki tersebut pertama kali ditayangkan pada tahun 2003. Dalam tayangan awal tersebut, Polat Alemdar ditugasi untuk menembus tembok kejahatan terorganisir di Turki.



Dengan dibumbui adegan baku tembak dan kekerasan, tayangan tersebut dengan cepat mampu mencuri perhatian para pemirsa. Menurut klaim Pena, saat ini tayangan tersebut ditonton oleh 20 hingga 40 juta warga Turki.



Kemudian, muncullah Valley of the Wolves: Iraq, film yang ditayangkan pada tahun 2006. Dalam film tersebut, Polat Alemdar berjibaku dalam kejadian pada bulan Juli 2003, ketika pasukan AS menangkap dan menyekap pasukan khusus Turki di sebelah utara Irak.



Dengan gaya pengambilan gambar layaknya film Hollywood, film tersebut menceritakan mengenai penyiksaan yang terjadi di penjara Abu Ghraib.



Setelah Irak, Pana Film membuat seri yang mengisahkan konflik melawan gerakan separatis Kurdi. Namun pemerintah mendesak agar tayangan “Valley of the Wolves: Terror” dihentikan setelah tayang satu episode, karena tema yang diangkat dianggap terlalu sensitif.



Kritikus film Turki, Alin Tasciyan, yakin bahwa Valley of the Wolves, yang mengusung gaya Hollywood, dapat menyampaikan pesan yang amat berbeda. Dia menybut film tahun 2006 tentang Irak tersebut sebagai film yang “anti-Amerika, namun dengan gaya yang sangat Amerika.” (dn/hz) www.suaramedia.com


{ 0 comments }





WASHINGTON (SuaraMedia News) – Krisis ekonomi dan pemilihan Barack Obama telah memicu kenaikan jumlah kelompok sayap kanan dan milisi bersenjata di AS.

”Kami melihat ledakan nyata dalam jumlah milisi dan gerakan patriot anti-pemerintah,” ujar Mark Potok dari Southern Poverty Law Center (SPLC).



”Ini adalah gerakan yang menganggap pemerintah sebagai musuh utama dan sepenuhnya termakan oleh segala jenis teori konspirasi.”



Laporan berjudul ”Rage on the Right” menemukan bahwa kelompok-kelompok sayap kanan telah meningkat dua kali lipat dalam setahun terakhir.



Itu menunjukkan bahwa 512 kelompok Patriot anti-pemerintah aktif di AS dalam satu tahun belakangan ini, melonjak dari 149 kelompok di tahun 2008.



Milisi, tangan paramiliter dari gerakan Patriot, juga bertanggung jawab atas sebagian besar peningkatan tersebut, dari 42  di tahun 2008 menjadi 127 setahun kemudian.



”Pertumbuhan luar biasa ini disebabkan oleh kekhawatiran buruk,” ujar Potok, yang memimpin Laporan Intelijen kelompok tersebut.



”Orang-orang yang terkait dengan gerakan Patriot tahun 1990an menciptakan banyak kekerasan, yang paling dramatis adalah pengeboman kota Oklahoma yang menewaskan 168 orang.”



Milisi dan Patriot pertama kali mencuri perhatian di pertengahan tahun 1990an dalam menanggapi apa yang disebut oleh kelompok itu sebagai pemerintah tiran yang berusaha membatasi kebebasan individu.



Anggota mereka yang paling terkenal adalah Timothy McVeigh, yang membunuh 168 orang dalam serangan bom di sebuah gedung federal di Oklahoma tahun 1995.



SPLC merupakan sebuah organisasi hukum nirlaba Amerika, yang secara internasional dikenal atas program pendidikan toleransinya, kemenangan hukumnya atas supremasi kulit putih dan pelacakannya terhadap kelompok-kelompok pembenci.



Terpilihnya Barack Obama di tahun 2008 sebagai presiden kulit hitam pertama di Amerika dan terjadinya krisis ekonomi dipandang sebagai pemicu kebangkitan kelompok-kelompok ekstremis.



”Perekonomian sedang kacau, dan banyak pengangguran yang menjadi terluka, frustrasi, marah dan mencari alasan mengapa mereka mengalami apa yang mereka alami,” ujar Potok.



”Ada banyak kemarahan dan frustrasi dan terkadang hal itu disalurkan  melalui teori konspirasi atau dengan mengkambinghitamkan kelompok tertentu ke dalam rasa marah yang kita lihat di seluruh penjuru negeri ini.”



Sebuah penilaian tahun 2009 oleh Kantor Intelijen dan Analisis Departemen Keamanan Dalam Negeri menemukan bahwa krisis ekonomi dan terpilihnya Obama menimbulkan ekstremisme sayap kanan di AS dan dapat digunakan sebagai alat rekrutmen di antara veteran perang.



Laporan SPLC juga menemukan bahwa banyak sekali orang yang tampaknya siap untuk mengambil tindakan dan banyak sekali politisi serta akademisi arus utama yang mengadopsi sikap anti-pemerintah.



”Rasa marah yang meluas ke seluruh lanskap politik Amerika – atas perubahan ras dalam populasi, peningkatan hutang publik dan perekonomian yang buruk, dana talangan bagi para bankir dan elit lainnya, dan serangkaian inisiatif oleh pemerintahan liberal Obama yang dianggap sosialis atau bahkan fasis – melampaui sayap kanan radikal.”



”Tea Party dan kelompok-kelompok sejenis yang telah berkembang dalam beberapa bulan terakhir ini tidak dapat dianggap sebagai kelompok ekstremis, namun mereka kaya akan ide-ide radikal, teori konspirasi, dan rasisme.” (rin/io) www.suaramedia.com


{ 0 comments }





OLDHAM (SuaraMedia News) – Sebuah organisasi Muslim Oldham telah mematahkan klaim yang dibuat dalam dokumenter Channel 4 tentang grup yang berbasis di London – Forum Islam Eropa (IFE) – yang dengan cara apapun yang ekstrim sedang berusaha ‘menyusupi’ Partai Buruh di ibukota East End.

Dalam program berita-berita yang telah disiarkan, wartawan Andrew Gilingham menyelidiki kelompok itu dan mengklaim bahwa mereka telah menempatkan ’saudara’ mereka dalam posisi kekuasaan politik.



Penyelidikan mengisyaratkan IFE mendukung ekstremisme; berusaha untuk mendirikan sebuah Negara Islam, berusaha untuk memaksakan hukum Syari’ah dan bahwa mereka telah “menyusupi” Partai Buruh Tower Hamlets dengan menempatkan orang-orang dalam cabang-cabang lokal mengontrol posisi partai kunci – yang semuanya telah ditolak IFE.



Oldham Muslim Centre (OMC), yang pada awalnya didirikan oleh Islamic Forum Trust, badan amal milik IFE, berkata program, ‘Britain’s Islamic Republic’ menjelek-jelekan kelompok itu dan kerja nyata mereka di masyarakat.






Juru bicara pusat, Nanu Miah mengatakan: “Program ini sangat bermotif politik.”



“Itu berlangsung hingga ke waktu pemilu dan saya merasa ada individu-individu tertentu mencoba menodai karya baik anggota IFE untuk keuntungan politik mereka sendiri.”



“Kami benar-benar tersinggung oleh program ini dan implikasinya.”



“IFE didirikan untuk menangani isu-isu sosial yang berhubungan dengan Tower Hamlets termasuk narkoba, kejahatan, perang geng, pendidikan dan di atas semua meningkatkan kesadaran tentang Islam dan mempersatukan masyarakat bersama-sama.



“Masalah yang sama dapat dilihat di Oldham dan melalui OMC kita keluar di jalan-jalan hampir setiap hari mencoba untuk menangani masalah yang sama.”



“Tapi di jantung agenda kita dan dari anggota IFE adalah satu hal dan itu adalah toleransi, toleransi terhadap satu sama lain, untuk masyarakat dan agama yang berbeda.”



“OMC, telah diakui untuk bekerja ke arah menjembatani komunitas Oldham dan memiliki kebijakan pintu terbuka untuk semua.”



Miah mengatakan program itu hanya memperdalam pandangan penuh kecurigaan terhadap umat Muslim dan organisasi-organisasi Muslim.



“Saya merasa di Oldham khususnya, masyarakat luas sangat berpikiran terbuka dan menerima budaya yang berbeda di kota kami dan ini juga merupakan refleksi dari kota-kota di Inggris, tetapi program ini akan hanya mencoba memecah belah orang, bukan menyatukan mereka , “katanya.



“Mengapa kita tidak pernah melihat film dokumenter tentang pekerjaan yang baik dari komunitas Muslim di Inggris? Hal ini akan membantu menghilangkan mitos-mitos dan memiliki dampak yang lebih baik untuk meningkatkan kohesi masyarakat.



“Muslim terus-menerus dijelek-jelekan oleh media dan hal ini perlu berhenti.”



Islam Komisi Hak Asasi Manusia (IHRC) juga “sangat prihatin” dengan “perburuan” pada organisasi-organisasi Muslim saat ini .



Hal ini juga menyangkut program-program tersebut akan mengarah ke kebencian terhadap Muslim  dan merasa setiap metode partisipasi politik yang tulus kini digambarkan sebagai “infiltrasi.”



Ketua IHRC, Massoud Shadjareh berkata: “Serangan terhadap IFE merupakan indikasi dari perburuan terhadap partisipasi masyarakat sipil Muslim. Muslim terus-menerus diminta untuk menjadi peserta aktif dalam masyarakat sipil dan ketika mereka melakukannya mereka dilihat dengan ketidakpercayaan dan kecurigaan.”



Seorang juru bicara untuk IFE berkata: “Perlu dicatat bahwa Dispatches tidak memberikan bukti untuk tuduhan yang dibuat terhadap kita, hanya mengandalkan teknik presentasi sensasional dan ‘pelaporan penyamaran’ yang mengungkapkan tanpa ada bukti sama sekali.



“Kami yakin bahwa anggota kami dan masyarakat luas akan menolak cara menyimpang dan menakutkan di mana Dispatches telah melihat bahwa cocok untuk menggambarkan organisasi sukarela kami.”



Sebelumnya, seorang menteri dari Partai Buruh juga mengatakan bahwa partainya telah disusupi oleh IFE yang digambarkannya sebagai sebuah kelompok Muslim yang ingin menciptakan tatanan sosial dan politik Islam di Inggris.



IFE telah menempatkan simpatisannya di kantor terpilih dan mengklaim dapat meraih mobilisasi massa pemilih, tuding Jim Fitzpatrick, Menteri Lingkungan Inggris.



Berbicara kepada The Sunday Telegraph, Fitzpatrick menambahkan bahwa IFE telah menjadi sebuah kelompok rahasia di dalam partai Buruh dan partai politik lainnya



Jim Fitzpatrick, anggota dewan untuk kota Poplar dan Canning, mengatakan bahwa IFE telah menyusup dan mencemari partainya dalam cara yang sama dengan apa yang dilakukan oleh Militant Tendency tahun 1980an. Daftar milik Partai Buruh yang bocor menunjukkan kenaikan anggota 110% di satu konstituensi dalam waktu dua tahun. (iw/an) www.suaramedia.com


{ 0 comments }

</