List/Grid

Tag Archives: Dubai

Terbongkarnya Cerita Palsu Di Balik Tertangkapnya Agen Mossad

Terbongkarnya Cerita Palsu Di Balik Tertangkapnya Agen Mossad

WARSAWA – Kedua orang tua yang lolos dari kejaran Nazi dan sebuah sertifikat perkawinan lama agaknya menjadi cerita palsu yang dikarang agen Mossad Uri Brodsky untuk mendapatkan paspor Jerman untuk… Read more »

Jerman Tak Ikut Campur Agen Mossad Pembunuh Hammas

Jerman Tak Ikut Campur Agen Mossad Pembunuh Hammas

BERLIN – Pemerintah Jerman tidak akan campur tangan dalam kasus agen Israel diduga diduga telah memainkan peran dalam pembunuhan seorang pejabat Hamas Dubai, media Jerman melaporkan. Menteri telah sepakat bahwa… Read more »

Pesawat Emirat Dipaksa Tidak Terbang “karena takut”

Pesawat Emirat Dipaksa Tidak Terbang “karena takut”

Akibat ketakutan yang berlebihan, otoritas keamanan bandara internasional JFK New York terpaksa menghentikan pesawat maskapai penerbangan Emirat yang hendak menginggalkan bandara, namun insiden tersebut ternyata hanyalah ‘peringatan palsu’, kata sumber… Read more »

Siapakah Sebenarnya Teroris Bom New York!?

Siapakah Sebenarnya Teroris Bom New York!?

NEW YORK – Upaya pengeboman yang gagal di New York, Amerika Serikat (AS) pada Sabtu 1 Mei lalu, masih belum jelas apa motifnya. Tetapi spekulasi berkembang jika aksi tersebut terkait… Read more »

Australia Tak Berani Lawan Israel dalam Kasus Pemalsuan Paspor

Australia Tak Berani Lawan Israel dalam Kasus Pemalsuan Paspor

Aktivis hak asasi manusia dan pendiri organisasi Israeli Terrorism Monitor (ITM), Asem Judeh mempertanyakan sikap pemerintah Australia yang terkesan tidak serius menangani kasus pemalsuan paspor warga negaranya oleh agen mata-mata… Read more »

Kumandang Adzan Membawa 6 Orang Asing Masuk Islam di Dubai

Kumandang Adzan Membawa 6 Orang Asing Masuk Islam di Dubai

Baru sebulan berada di Dubai UEA, enam orang asing yang berada di negara teluk tersebut menyatakan diri masuk Islam, setelah mereka mendengar suara muadzin dengan merdu mengumandangkan adzan – sehingga… Read more »

Ethiopia: Kala Negara Miskin Suplai Makanan Untuk Negara Kaya

Ethiopia: Kala Negara Miskin Suplai Makanan Untuk Negara Kaya





ADDIS ABABA (SuaraMedia News) – Sebuah investigasi Observer menunjukkan bagaimana negara-negara kaya mendapatkan jaminan untuk memenuhi kebutuhan warganya, dengan memanfaatkan lahan seluas dua kali lipat daratan Inggris. Dan, lahan tersebut berada di Afrika, kawasan yang identik dengan kekurangan pangan. Guardian melaporkan hasil investigasi tersebut pada hari Senin (07/03).

Di Ethiopia, tepatnya di Rift Valley di Awassa, tedapat sebuah rumah kaca terbesar di negara tersebut. Rumah kaca tersebut belum sepenuhnya rampung, namun perkembanganya sudah cukup mengesankan. Luasnya lebih dari 20 hektar – 20 kali lebih besar daripada lapangan bola. Di dalam rumah kaca tersebut, ditanam tomat, cabai, dan sayur-sayuran lain yang berjajar dalam barisan sepanjang 500 m. Kondisi di dalam rumah kaca tersebut dikendalikan oleh komputer. Para insinyur Spanyol bertangung-jawab atas struktur baja rumah kaca. Para pakar dari Belanda bertanggung-jawab atas penggunaan air yang bersifat minimal di rumah kaca itu. Setiap hari, 1000 orang wanita memetik dan mengepak 50 ton bahan pangan. Dalam 24 jam, setelah menempuh jarak sepanjang 1000 mil, bahan pangan itu telah berada di toko dan restoran di Dubai, Jeddah, dan negara-negara lain di Timur-Tengah.






Ada sebuah paradoks di sini. Ethiopia adalah salah satu negara termiskin di dunia. Namun, ketika 13 juta rakyat Ethiopia butuh pangan, pemerintah Ethiopia menyediakan 3 juta hektar tanah tersubur di Ethiopia bagi negara-negara makmur dan sejumlah orang terkaya di dunia yang lantas mengekspor pangan kepada rakyat mereka sendiri.



Tanah seluas 1000 hektar di Awassa tersebut disewa selama 99 tahun oleh seorang usahawan milyarder dari Saudi yang lahir di Ethiopia, Sheikh Mohammed al-Amoudi. Al-amoudi adalah satu dari 50 orang terkaya di dunia. Perusahaan Al-Amoudi, Saudi Star, akan mengakuisisi dan mengembangkan lahan seluas 500.000 hektar di Ethiopia pada beberapa tahun mendatang. Sejauh ini, perusahaan itu telah membeli empat pertanian dan telah menanam  gandum, padi, sayur-mayur, dan bunga untuk pasar Saudi. Perusahaan itu diharapkan dapat mempekerjakan lebih dari 1000 orang.



Ethiopia hanyalah satu dari 20 negara Afrika yang tanahnya dibeli atau disewa untuk pertanian intensif. Sebuah investigasi yang dilakukan ole Observer memperkirakan bahwa sekitar 5 juta hektar lahan – dua kali luas daratan Inggris – telah diakuisisi dalam beberapa tahun terakhir atau sedang berada dalam proses negosiasi. Negosiasi tersebut melibatkan pemrintah dan para investor kaya yang bekerja dengan memanfatkan subsidi pemerintah. Data yang digunakan dalam investigasi tersebut dikumpulkan oleh Grain, International Institute for Environment and Development, International Land Coalition, ActionAid, dan lembaga swadaya masyarakat lainnya.



Para pelaku di bidang agribisnis internasional, investment banks, hedge funds, commodity traders, wealth funds, setrta dana pensiun Inggris, yayasan dan individu tertarik pada lahan termurah di dunia yang terletak di Afrika. Entitas-entitas tersebut mengincar Sudan, Kenya, Nigeria, Zambia, Malawi, Ethiopia, Kongo, Zambia, Uganda, Madagaskar, Zimbabwe, Mali, Sierra Leone, Ghana, dan sebagainya.



Ethiopia telah menyetujui 815 proyek pertanian bermodal asing sejak tahun 2007. Tanah Ethiopia dapat disewa dengan harga $1 per hektar per tahun. Negara-negara emirat seperti Saudi,  Qatar, Kuwait, dan Abu Dhabi merupakan pembeli terbesar. Pada tahun 2008, Saudi mengumumkan pengurangan produksi sereal sebesar 12 perse demi konservasi air. Sebagai gantinya, Saudi menyediakan $5bn sebagai pinjaman untuk perusahaan yang ingin berinvestasi di luar negeri dalam sektor pertanian yang potensial.  Foras, perusahaan investasi Saudi yang didukung oleh Islamic Development Bank dan para investor kaya Saudi, berencana untuk membeli lahan di Mali, Senegal, Sudan, dan Uganda. Perusahaan telah menyediakan dana sebesar $1bn dan berharap dapat mensuplai 7 juta ton beras bagi pasar Saudi dalam 7 tahun ke depan.



Dengan tindakan semacam itu, Saudi tak hanya mengakuisisi lahan Afrika, namun juga menghemat air sebanyak ratusan galon per tahun. Menurut PBB, air akan menjadi faktor yang sangat menentukan dalam 100 tahun mendatang.



Lahan Afrika menarik bukan hanya untuk kebutuhan pangan, namun juga untuk biofuel. China telah menandatangai kontrak dengan Republik Demokratik Kongo untuk menanam kelapa sawit di tas lahan seluas 2,8 juta hektar sebagai bahan biofuel. Madagaskar dan perusahaan Korea Selatan, Daewoo, sempat membahas proyek biofuel yang melibatkan lahan seluas 1.2 juta hektar – hampir separuh lahan yang dapat ditanami di negara itu. Namun, kesepakatan tersebut terhambat oleh adanya kerusuhan.



Menurut Tim Rice, penulis laporan ActioAid, diperkirakan bahwa Uni Eropa (UE) memerlukan lahan seluas 17,5 juta hektar – lebih dari separuh luas Italia – untuk memenuhi 10 persen kebutuhan biofuel pada tahun 2015. “Pencaplokan lahan demi biofuel di Afrika telah memojokkan petani dan produksi pangan. Jumlah orang yang kelaparan akan meningkat,” kata Rice. Perusahan-perusahaan Inggris telah mendapatkan lahan di Angola, Ethiopia, Mozambik, Nigeria, dan Tanzania, untuk menanam sayur-mayur dan bunga.



Perusahaan-perusahaan India, dengan dukungan pinjaman dari pmerintah, telah membeli atau menyewa ratusan ribu hektar lahan di Ethiopia, Kenya, Madagascar, Senegal, dan Mozambik, untuk pertanian padi, tebu, jagung, dan kacang-kacangan untuk memenuhi kebutuhan domestik.



Perusahan-peusahaan Korea Selatan pada tahun lalu telah membeli 700.000 hektar lahan di utara Sudan untuk menanam gandum. Uni Emirat Arab telah mengakuisisi 750.000 lahan di negara tersebut. Bulan lalu, Saudi mendapatkan kesepakatan atas lahan seluas 42.000 hektar di propinsi Nil.



Menurut pemerintah Sudan, lahan di negaranya sedang laris-manis. “Kami mendapat banyak permintaan dari banyak pengembang. Negosiasi masih berlangsung,” kata Peter Chooli, direktur sumber daya air dan irigasi, di Juba, pada minggu lalu. “Sebuah kelompok dari Denmark sedang berdiksusi dengan pemerintah dan pihak lain ingin menggunakan lahan di dekat Nil.”



Seorang bukanir yang menjalankan perusahaan invetasi Jarch Capital di New York, Philip Heilberg, telah menyewa lahan seluas 800.000 hektar di Darfur, Sudan. Heilberg berjanji, ia tak hanya akan menciptakan lapangan kerja, namun juga akan memberikan 10 persen atau lebih keuntungan yang ia peroleh kepada masyarakat setempat. Namun, ia dituduh pemerintah Sudan telah “mencaplok” tanah adat. Ia juga dituduh memancing upaya Amerika untuk memecah-belah Sudan.



Menurut Devlin Kuyek, peneliti dari Grain yang berbasis di Montreal, berinvestasi di Afrika adalah sebuah strategi baru untuk mendapatkan pangan yang dijalankan oleh banyak pemerintah.



“Negara-negara kaya mengincar Afrika tak hanya demi pengembalian modal yang sehat. Namun, juga sebagai polis asuransi. Kekurangan pangan dan kerusuhan di 28 negara pada tahun 2008, menurunnya persediaan air, perubahan iklim, dan pertumbuhan populasi yang pesat telah membuat tanah jadi menarik. Afrika memiliki sebagian besar lahan, dan, dibandingkan dengan benua lain,  murah,” kata Kuyek. (es/gd) www.suaramedia.com


Dua Tersangka Pembunuh Al-Mabhuh Kabur ke AS

Dua Tersangka Pembunuh Al-Mabhuh Kabur ke AS

Pengungkapan kasus pembunuhan komandan senior Hamas, Mahmoud Al-Mabhuh di Dubai terus bergulir. Meski nama-nama dan foto tersangka sudah dipublikasikan, belum ada tanda-tanda para tersangka akan tertangkap.

Perkembangan baru kasus ini, dua dari 26 tersangka kabarnya langsung kabur ke AS begitu selesai menjalankan misinya membunuh Al-Mabhuh. Wall Street Journal dalam laporannya menyebutkan, hasil pertukaran informasi antara investigator internasional menunjukkan bahwa satu dari 26 tersangka masuk ke negara AS sehari setelah membunuh Al-Mabhuh, dengan menggunakan paspor Irlandia. Tersangka kedua masuk ke AS dengan menggunakan paspor Inggris, pada bulan Februari.

Sementara itu, kepolisian Dubai juga sudah berhasil mengidentifikasi dua perusahaan AS yang mengeluarkan kartu kredit untuk para tersangka itu. Pihak Kepolisian Dubai masih terus mengusut kasus pembunuhan Al-Mabhuh dan mencoba mengurai bukti-bukti yang mengarah pada keterlibatan orang-orang Israel di sejumlah negara Eropa. Sejauh ini, belum ada satu pun tersangka yang tertangkap yang akan menjadi titik terang siapa sebenarnya dalang konspirasi pembunuhan pimpinan Hamas ini. (ln/prtv)

Hindari Singgung Muslim, EA Tarik Video Game Dari Timur Tengah

Hindari Singgung Muslim, EA Tarik Video Game Dari Timur Tengah





ABU DHABI (SuaraMedia News) – Salah satu penerbit permainan video terbesar di dunia memilih untuk menunda judul terbarunya dari kawasan Timur Tengah untuk menghindari menyinggung penduduk lokal, terutama kaum Muslim.

Keputusan Electronic Arts (EA) minggu ini untuk membatalkan penjualan Dante’s Inferno di Timur Tengah menyusul serentetan pencekalan dari badan sensor pemerintah kawasan baru-baru ini yang menarget rilisan-rilisan yang dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai relijius dan budaya negara tersebut.



Permainan kontroversial yang terinspirasi oleh Komedi Ketuhanan Dante Alighieri itu menampilkan pertempuran para iblis atas sebuah jiwa melalui sembilan “lingkaran neraka”. Permainan ini dirilis minggu lalu di Eropa dan hari Selasa lalu di AS.



Kemarin perusahaan tersebut mengkonfirmasi bahwa keputusan untuk tidak menjual Dante’s Inferno di Timur Tengah adalah didasarkan pada riset pasar terhadap selera konsumen setempat.



Bagaimanapun, langkah EA tersebut menimbulkan momok bagi penerbit lain untuk juga menghindari rilis permainan video di kawasan ini, terlepas dari estimasi bahwa industri permainan di Timur Tengah melebihi satu miliar dolar AS, terdiri atas sebagian besar generasi muda di Emirat.






Distributor permainan setempat ingin tahu apakah perusahaan lain akan mengikuti jejak EA, melarang sendiri permainan mereka daripada mengambil risiko judul produksi mereka dicekal oleh sensor pemerintah.



“Ini belum pernah terjadi. Ini adalah yang pertama kalinya,” ujar Rabeeh Zakaria, manajer unit untuk distributor permainan Pluto di Dubai, merujuk pada keputusan EA untuk menyensor permainannya sendiri.



“Saya pikir pihak penerbit memutuskan untuk menghindari kerumitan. Melempar permainan ke pasar dan kemudian harus menariknya membutuhkan usaha, karena itu mereka hanya menghemat tenaga dan uang.”



Bahkan jika permainan itu dirilis, ujarnya, “skenarionya akan tetap sama. Temanya tidak pantas dan permainan itu akan tetap dicekal.”



Distributor Dante’s Inferno di Uni Emirat Arab, Red Entertainment, mengatakan perusahaannya mengingatkan EA mengenai keterlambatan pengembangan permainan itu bahwa kontennya mungkin akan mendatangkan pencekalan.



“Kami menemukan bahwa beberapa konten dalam permainan ini sebelum dirilis akan menyinggung kaum Muslim,” ujar Nitin Mathew, manajer pemasaran untuk Red Entertainment.



“Kebijakan kami adalah jika ini akan menyinggung orang-orang di kawasan, kami akan mempertimbangkan dengan serius untuk tidak merilisnya di sini. Kami telah memperingatkan EA.”



Kishan Palija, direktur pengelolaan jaringan toko Geekay Games di Dubai, mengatakan bahwa para penerbit mungkin sebenarnya sedang menolong diri sendiri dengan memilih untuk tidak merilis judul berisiko itu di kawasan-kawasan tertentu.



“Mereka juga harus memelihara citra perusahaan, karena mereka tidak ingin terlihat buruk di depan Dewan Media Nasional,” ujar Palija.



Meskipun ia lebih suka jika tidak ada permainan video yang dicekal, ia memuji langkah EA untuk tidak merilis Dante’s Inferno di kawasan tersebut demi kepentingan komersial dan persaingan.



“Itu adalah keputusan yang berani,” ujarnya.



“Jika permainan itu datang namun dicekal oleh Dewan Media Nasional, Anda mungkin masih dapat menemukannya di toko-toko bebas cukai dan penjualan masih akan terjadi. Dengan begini, tidak akan ada yang dapat menjualnya, namun saya tidak senang karena jika dicekal saya akan kehilangan usaha.”



Palija menambahkan bahwa para pelanggan telah beberapa hari menanyakan Dante’s Inferno.



“Orang-orang mencari permainan itu. Saya terus mendapat pertanyaan dari toko-toko mengenai kemungkinannya dirilis,” ujar Palija. “Permainan itu cukup populer dan akan memperoleh penjualan yang cukup baik jika dirilis, namun tidak ada peluang baginya untuk lolos sensor.”



Abbas Ali, penggemar permainan video dari Emirat yang mengelola situs teknologi konsumen Tbreak.com, sependapat bahwa itu merupakan langkah cerdas bagi EA untuk tidak menjualnya di kawasan tersebut.



“Saya melihat permainan itu delapan bulan lalu di sebuah even EA di London dan segera tahu bahwa permainan ini tidak akan bisa masuk ke Timur Tengah,” ujar Ali, 37.



Ia ragu bahwa hal ini akan banyak berdampak pada industri, namun, mengatakan bahwa “impor abu-abu untuk setiap permainan video yang telah dicekal tersedia di pasaran.”



 



Impor abu-abu adalah kopian sah dari permainan video yang diimpor secara ilegal.



Zakaria, bersama dengan perusahaan distribusi Pluto, mengatakan bahwa perusahaannya juga bertanggung jawab untuk THQ’s Darksiders, yang impornya dibatalkan bulan lalu setelah Dewan Media Nasional mempelajari kontennya.



Judul terkenal God of War yang dirilis Sony tahun 2005 juga dicekal di Uni Emirat Arab karena kontennya yang menyinggung. Namun, permainan itu dan sekuelnya, God of War II, dijual di jalan-jalan. Diyakini secara luas bahwa God of War III mendatang juga akan dicekal di negara tersebut.



Juru bicara Sony Gulf mengatakan bahwa Sony Computer Entertainment Europe tidak menunda peluncuran sebuah judul, “Namun tentu kami akan mematuhi keputusan Dewan Media Nasional untuk tidak merilis sebuah judul di Emirat.” (rin/tn) www.suaramedia.com


Terlibat Kasus Mossad Di Dubai, Netanyahu Dihantui Hukuman

Terlibat Kasus Mossad Di Dubai, Netanyahu Dihantui Hukuman





DUBAI (SuaraMedia News) – Israel merasa khawatir dengan ancaman yang dikeluarkan oleh kepolisian Dubai. Dubai mengatakan bahwa mereka akan mengeluarkan perintah penangkapan terhadap Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel, jika Mossad terbukti terlibat dalam pembunuhan Mahmoud al Mabhouh, seorang pemimpin Hamas.

Harian berbahasa Ibrani, Maariv, mengutip ucapan seorang polisi senior yang mengumumkan bahwa Dubai telah mengeluarkan perintah penangkapan terhadap Netanyahu jika terbukti terlibat dalam pembunuhan yang dilakukan Mossad terhadap al Mabhouh di sebuah hotel di Uni Emirat Arab.



Netanyahu diduga telah menandatangani surat perintah pembunuhan Mabhouh. Pihak kepolisian Dubai mengatakan bahwa ancaman tersebut harus dipertimbangkan secara serius dan tidak diremehkan.



Di balik pembunuhan Mabhouh, ada indikasi keterlibatan Mossad, demikian kata komisaris kepolisian Dubai, Dahi Khalfan.



Dia menambahkan bahwa ancaman tersebut juga berlaku bagi seluruh badan intelijen di dunia, Mossad, Hamas, atau badan intelijen lainnya.






Kepala polisi tersebut juga menampik tudingan Israel yang mengatakan bahwa al Mabhouh terlibat dalam pengiriman senjata dari Iran ke Gaza, dan hendak bertemu dengan para pejabat Iran di Dubai. “Jika benar Mabhouh berkeinginan melakukan pertemuan dengan pejabat Iran, seperti yang diberitakan media Israel, maka Mabhouh bisa melakukannya di Syria atau di Iran, tidak perlu di Dubai.”



“Benjamin Netanyahu, perdana menteri Israel, akan menjadi orang pertama yang masuk daftar buronan karena dia pasti menjadi orang yang menandatangani keputusan pembunuhan al Mabhouh di Dubai. Kami akan mengeluarkan perintah penangkapan terhadap dirinya,” kata Khalfan di situs Uni Emirat Arab, The National.



Kepala polisi Dubai tersebut juga mengatakan bahwa cara-cara yang dipergunakan untuk menghabisi al Mabhouh adalah cara-cara Mossad, namun ia tidak memberikan keterangan lebih lanjut mengenai hal tersebut.



Khalfan menolak mengidentifikasi nama tersangka yang diduga kuat terlibat dalam pembunuhan tersebut. Ia juga menyanggah pendapat Hamas yang mengatakan bahwa para pembunuh memasuki wilayah Dubai beserta rombongan menteri Israel, Uzi Landau, pada saat melakukan kunjungan ke Dubai baru-baru ini.



Pada hari Rabu, Khalfan menyampaikan peringatan, “ada badan intelijen luar negeri yang beroperasi di belakang punggung kami.” Ia kemudian menambahkan, “siapapun yang melakukan itu harus waspada terhadap bagian belakangnya sendiri.”



Mahmoud Abdul Raouf al-Mabhouh tewas pada tanggal 20 Januari 2010 di Uni Emirat Arab.



Mabhouh, yang dilahirkan 50 tahun yang lalu di Jalur Gaza namun tinggal di Syria sejak tahun 1989, dibunuh satu hari setelah tiba di Dubai, kata seorang tokoh Hamas Izzat al-Rishq.



Rishq tinggal di Damaskus, bersama dengan sejumlah pemimpin utama Hamas, termasuk pemimpin gerakan tersebut, Khalid Meshaal.



Amerika Serikat, yang memulai perbaikan hubungan dengan Damaskus, meminta aparat Syiria untuk membantu “menetralkan” Hamas agar tidak menjadi “kekuatan bersenjata” Timur Tengah.



Syria melawan tekanan AS beberapa tahun lalu untuk mengusir pemimpin Hamas. Presiden Syria, Bahsar al-Assad telah berulangkali menekankan bahwa gerakan perlawanan adalah hak yang sah dari rakyat Palestina. (dn/im/hz/sm) www.suaramedia.com