
Jika Anda ingin mengenal Imam Husein as, bayangkanlah segala kebaikan, keindahan, dan patriotisme dalam sebuah wujud. Di saat itu, akan diketahui bahwa wujud itu adalah Al-Husain as.
{ 0 comments }
Sindikasi Media Ummat Islam
Posts tagged as:

Jika Anda ingin mengenal Imam Husein as, bayangkanlah segala kebaikan, keindahan, dan patriotisme dalam sebuah wujud. Di saat itu, akan diketahui bahwa wujud itu adalah Al-Husain as.
{ 0 comments }
Berikut ini adalah artikel yang ditulis temanku, Akmal Naery Basral tentang Asyura. Sangat layak untuk dibaca.
Penderitaan Husain bin Ali bin Abi Thalib menjelang ajal menjadi tema sentral peringatan Asyura di beberapa belahan bumi. Juga di Irak, yang menutupi perbatasannya sejak pekan lalu untuk menyambut perayaan ini.
SEMBURAN darah yang deras merendam wajah-wajah itu bercerita tentang suatu petang yang terik di Padang Karbala, Irak, lebih dari satu milenium silam. Hari itu, Jumat 10 Muharam 61 Hijriah (20 Oktober 680), seorang lelaki gurun bernama Syimir bin Dzil Jauzan mengayunkan pedangnya ke leher Husain bin Ali bin Abi Thalib.
Dengan sekali tebas, kepala cucu Nabi Muhammad SAW itu terlepas dari tubuhnya yang sudah lebih dulu koyak dicabik-cabik belasan pedang, lembing, dan anak panah. Angin mati di tepian Sungai Eufrat. Kepala Husain diarak dari Karbala sampai Damaskus, Suriah, oleh pasukan musuh yang dipimpin Umar bin Sa’ad. Oleh Gubernur Damaskus, Ubaidillah bin Ziyad, kepala itu diserahkan lagi sebagai bukti loyalitasnya kepada Yazid bin Muawiyah.
Punggung-punggung yang boyak akibat torehan mata pedang itu berkisah tentang ambisi Yazid, cucu salah seorang penentang terbesar ajaran Islam, Abu Sufyan sang bangsawan suku Quraisy. Terbunuhnya Ali bin Abi Thalib (600-661), ayah Husain, sebagai khalifah keempat menimbulkan ketegangan yang kembali melibatkan obsesi keturunan Abu Sufyan untuk duduk di pucuk kekuasaan lewat anaknya, Muawiyah, ayah Yazid.
Sebuah muslihat dipasang. Husain diminta membebaskan penduduk Kufah, Irak, dari cengkeraman tentara Yazid. Maka berangkatlah ia dari Mekah ditemani hampir seratus pengikut. Sampai di Karbala, rombongan Husain beristirahat di tengah padang yang memanggang. Saat itu Kamis 9 Muharam, ketika Husain menyadari kemahnya dikepung, dan ia dijebak oleh pasukan Umar bin Sa’ad, yang sepuluh kali lebih banyak. Negosiasi hanya menunda waktu, tapi bukan hasil akhir. Seluruh rombongan Husain tumpas pada hari berikut, tanpa kecuali.
Sejak itu Asyura (dalam ba-hasa Arab berarti sepuluh) bukan hanya berarti hari saat Ibrahim diselamatkan Allah ketika dibakar Namrud. Atau Nuh diselamatkan dari bahteranya setelah bumi tenggelam selama enam bulan. Atau hari turunnya Taurat kepada Musa. Bagi kaum Syiah terutama, Asyura adalah hari untuk merasakan sakitnya pengkhianatan yang dirasakan Husain pada detik-detik terakhir hidupnya. Asyura adalah momen untuk berbagi penderitaan, terutama secara fisik, atas pedih yang diderita Imam Husain. Entah itu di Iran, Libanon, Suriah, Afganistan, Turki, atau di Irak yang baru bebas merayakan Asyura pada tahun kedua setelah tumbangnya Saddam Hussein. (Akmal Nasery Basral adalah wartawan dan sastrawan Indonesia. Sumber: tempinteraktif)
{ 0 comments }

Interpol Arab Saudi menyerukan pengguna jaringan internet agar berhati-hati dengan e-mail berkedok penipuan yang datang dari luar kerajaan. Sejumlah warga Saudi yang memiliki account e-mail telah menjadi korban aktivitas phising (penipuan data di internet untuk menjebol informasi sangat pribadi seseorang) tersebut.
Interpol itu mengatakan, pesan-pesan yang masuk ke inbox, meminta pentransferan sejumlah uang tunai agar barang dapat dipaketkan ke korban. Para korban diminta mentransfer uang tunai secara keseluruhan terlebih dahulu. Para penipu berkilah melalui berbagai alasan untuk memuluskan pengiriman itu.
Keamanan cyber menuturkan, bahwa “Aksi itu juga dilakukan melalui komunikasi langsung via telpon untuk menyepakati jumlah uang yang hendak dibayarkan korban, melengkapi operasional pengiriman. Biasanya para penjahat cyber menyamar menggunakan nama-nama lembaga internasional, asosiasi kebajikan atau nama orang-orang terkenal untuk meraup kepercayaan dari para korban.”
Interpol menambahkan, saat uang telah ditransfer maka komunikasi pun langsung terputus sehingga sulit untuk dideteksi dan mengembalikan uang para korban.”
Milyaran Pesan Spam Masuk Setiap Hari
Pihak keamanan cyber mengungkapkan, jumlah pesan sampah yang dikirim mencapai 180 milyar pesan setiap hari. Jumlah itu setara dengan 90% dari total keseluruhan e-mail yang dikirimkan di seluruh dunia. Laporan itu menyebutkan bahwa pesan eletronik telah menjadi prasarana empuk guna menyebarkan aksi kejahatan dan virus, pastinya akan menghambat gerakan jaringan internet.
Laporan keamanan cyber yang diungkap dari perusahaan “Seiko” mengatakan, para penjahat jaringan internet itu akan terus bertekad melanjutkan metafora eletronik ilegal mereka agar dapat menyediakan satu set program canggih bagi perusahan-perusahan legal. Melalui itu mereka dapat menjalin mitra kerja dan aliansi dalam rangka meningkatan keuntungan dan pemasukan mereka.(sn/imo/op)
{ 0 comments }
Karbala, itulah tujuanku setelah dua pekan meliput pemilihan umum di Irak. Tentang Karbala, Ibnu Sa’ad salah satu perawi hadits meriwayatkan: Dalam perjalanan menuju shiffin, Imam Ali bin Abi Thalib melewai gurun pasir Karbala. Ia berhenti dan menangis dengan sangat.
Ketika ditanya mengapa menangis? Imam Ali mengatakan suatu hari dia mengunjungi Nabi Muhammad SAW dan menemukan beliau sedang menangis. Saat ditanyakan kepada Rasul Allah, apa yang membuat beliau menangis?
Nabi Muhammad menjawab “Wahai Ali, (malaikat) Jibril baru saja bersamaku dan memberitahuan kepadaku, bahwa anak (cucu)ku, Hussain, akan syahid di Karbala, suatu tempat di dekat pinggir Sungai Eufrat, ini sangat mengharukan hatiku, sehingga aku tak tahan untuk tidak menangis.”
Bagi seorang jurnalis dan orang asing tak mudah jalan ke Karbala. Apalagi ditengah kecurigaan, kekerasan dan teror.
Pagi-pagi, sekitar pukul 07.00, sopir yang selalu menemaniku, Bassam Sein, sudah menjemputku di hotel. Setelah menitipkan barang-barang besar ke orang Indonesia yang menikah dengan orang Irak, Ahmad Gofar, dengan KIA Sephia buatan Korea Selatan (mirip Timor tapi stir kiri) biru tua, kami meluncur ke Karbala, 118 kilometer dari ibukota Irak, Baghdad.
Jalanan macet, karena rombongan tentara Amerika Serikat menutup dua jalur jalan, masuk menuju Baghdad. Akibatnya satu jalur ke luar Baghdad dipakai menjadi dua jalur. Tampak pasukan AS sedang mengawal hommer, truk, truk tangki dan tank, semuanya dilengkapi senjata yang isinya siap dimuntahkan bila ada gangguan.
Menuju Karbala, melewati beberapa kota kecil, Bassam, bekas tentara Garda Republik-nya Saddam Hussein yang kini jadi sopir taksi harus bertanya arah yang benar menuju Karbala saat masuk kota Al-Mahmudiyah. Maklum, penunjuk jalan di Irak sangat minim. Bagi orang Irak sendiri,bahkan seorang sopir seperti Bassam, sangat membingungkan untuk menemukan jalan, apalagi bagi orang asing.
Di Pasar Al-Mahmudiyah, tampak rombongan tentara AS sedang jalan-jalan, salah seorang yang paling depan nampak menenteng tali mengikuti anjing yang mengendus-ngendus jalan. Beberapa warga yang di dekatnya menyingkir, dan wajah mereka tampak geli (jijik).
Kota kecil lainnya yang dilewati Iskandariyah dan Al-Musayyib. Sepanjang jalan tampak hiasan jalan bergambar Imam Hussain, beberapa di antaranya cuma tulisan Arab gundul “madrasah Ahlul Bayt”. Di beberapa tempat saat memasuki kota-kota kecil itu polisi memblok jalan, dengan senjata terhunus. Mereka melihat ke dalam mobil yang lewat satu persatu, di beberapa tempat bersama tentara Irak. Bassam hanya membuka jendela mobil, lalu mengucapkan “Assalamualaikum.”
Di daerah Latifiyah, penjagaan justru ketat, untuk kendaraan yang menuju Baghdad. Beberapa tentara memakai kupluk penutup muka dan rompi anti peluru dengan tulisan ICDC. Rombongan tentara Amerika sepanjang hampir dua kilometer berjalan beriringan menuju Baghdad.
Melewati jembatan Sungai Eufrat, bulu kudukku berdiri, teringat cerita, saat Imam Hussain menggendong bayi berumur enam bulan, Ali Al-Ashgar, putranya yang kehausan, karena saluran air yang menuju kemahnya ditutup sejak 7 Muharram. Bayi yang menangis kehausan itu, tak sempat menikmati tetesan air Sungai Eufrat, karena keburu mati kena anak panah beracun yang melesat dari busur tentaranya Yazid bin Muawiyah menembus leher bayi itu saat Imam Hussain akan mengambil air dari sungai.
Pintu gerbang perbatasan Karbala sudah dekat, sudah tampak lengkungan dan gambar besar Imam Hussain. Pada 7 Muharram 61 Hijiriyah, kuda Imam Hussain secara aneh berhenti dan tidak mau bergerak lebih jauh lagi. Saat itu Imam dan rombongannya berencana menuju Kufah, sekitar 80 kilometer lagi. Setelah berhentinya kuda Imam Hussain menyatakan : “Inilah tanah itu, tanah penderitaan dan penyiksaan.”
Dalam buku “14 Manusia Suci,” terbitan, Pustaka Hidayah, Jakarta, 1990, diceritakan Imam Hussain turun dari kudanya dan memerintahkan pengikut-pengikutnya berkemah di tempat itu dengan mengatakan, “disinilah kita akan syahid dan anak-anak kita akan dibunuh. Disini kemah kita akan dibakar dan keluarga kita akan ditawan. Inilah tanah di mana datukku, Rasulullah telah meramalkan, dan ramalannya pasti terpenuhi.”
Mobil yang membawaku dicegat. Mobil kami diperiksa, aku diinterogasi. Mengetahui aku bukan orang Irak dan jurnalis, Haidar, 28 tahun, polisi itu membawa persoalan ke komandannya. Setelah menunggu setengah jam komandan itu kembali menginterogasi, lalu ia menelepon. “Tunggu konfirmasi dari Karbala,” kata sang komandan. Setengah jam kemudian datang dua pemuda tak berseragam dengan mobil Hyundai Accent warna putih dengan plat tertulis exp Dubai, artinya kata Bassam mobil itu diimpor dari Dubai, Uni Emirat Arab.
Haidar, polisi kelahiran Najaf dan mengaku pengikut Muqtada Al-Sadr dengan senjata laras panjang masuk ke mobil Sephia Bassam. Kami diminta mengikuti mobil Hyundai warna putih itu. Sekitar 15 kilometer, kami memasuki kota Karbala. Polisi itu memasuki kantornya, Al-Abbasiya Police Station, begitu tertulis di gerbang dalam.
Menjelang masuk kantor polisi, tampak benar penjagaan yang ketat, beton semen, dan tumpukan pasir. Masuk ke kantor polisi aku justru ngeri, karena selama ini polisi justru yang sering jadi sasaran bom. Masuk ke kantor yang berantakan, dan tampak baru dibangun kembali. Di lantai dua kami kembali dinterogasi, selama hampir dua jam.
Disitulah saya melihat kesabaran Bassam, dia seorang sunni membawa orang asing ke daerah syiah. Tuduhan terhadapnya macam-macam, mulai sangkaan Ali Baba (begal) sampai ditanya maksudnya ke Karbala (tempat suci kaum Syiah). Sebagai bekas tentara, Bassam mengikuti saja prosedur polisi yang kesanku bertele-tele, dan mbulet.
Salah seorang komandan bernama Sayyid Ahmad, mengatakan kekhawatirannya atas keselamatanku. “Anda kesini tujuannya meliput pemilu ngapain ke sini, pemilu, kan sudah berakhir,” katanya.
Penjelasanku sebagai jurnalis masih tak bisa diterimanya. Akhirnya aku memakai alasan pribadi. “Ok, ini kuburannya kakek buyutku, masak seorang cucu mau ziarah dihalang-halangi,” kataku.
Akhirnya diputuskan pasporku ditahan, begitu juga surat-surat Bassam. Seorang polisi menulis sepucuk surat, dari robekan kertas roti, seukuran 3 kartu nama, dalam Bahasa Arab, menulis tanda terima surat-surat kami dan alamat hotel yang harus kami inapi.
Tak mudah memang jalan ke Karbala. Aku anggap ini cobaan kecil, dibanding cobaaan yang maha dahsyat yang dialami Imam Hussain. Rencana aku menginap di Karbala, jadi terganggu gara-gara peristiwa tadi. Aku tak merasa nyaman lagi dengan perlakukan polisi. Ternyata, polisi dimana-mana sama saja.
Karbala, kini bukan lagi padang pasir, tetapi telah menjelma menjadi kota. Tak mudah mencari tempat parkir. Akhirnya, mobil kami mendapat tempat di pojok sebuah pasar, sekitar 500 meter dari kompleks makam.
Tak seperti makam Imam Musa di Kadzimiyah Baghdad yang bebas dari mobil, dan hanya untuk pedesterian. Di dekat pagar kompleks makam, masih tampak mobil lalu lalang. Di depan komplek ada taman kecil, para fotografer amatir menawarkan orang yang mau berfoto.
Aku dan Bassam meminta tiga jepretan, foto dengan latar belakang gerbang dan kubah makam Imam Hussain. “Nanti selepas asar bisa diambil di toko di pojok itu,” katanya menunjuk sekitar 300 meter ke arah jajaran toko-toko.
Setelah bayar kontan 5.000 dinar Irak, aku masuk ke ke komplek makam. Sebelum masuk HP-harus dititipkan di sebuah tempat penitipan.
Sebelum masuk ke gerbang kami harus antri melewati tiang-tiang besi dan pemeriksaan badan. Di pintu gerbang orang berdoa, ada yang mencium-cium pintu gerbang yang wangi. Setelah gerbang selasar luas berlantai marmer di beberapa tempat terhampar karpet, tampak orang salat dan sekadar duduk-duduk. Di beberapa bagian, tenda-tenda hitam dipasang untuk prosesi perkabungan karbala. Sebelum masuk ke pintu berikutnya, sepatu harus dititipkan.
Di depan gerbang pengunjung bisa membaca doa yang tercantum di sisi kiri dan kanan gerbang itu. Makam Imam Hussain terkurung pagar perak, harum wangi menyebar dari makam itu. Di dalamnya banyak sekali uang dari berbagai negara, kertas-kertas, kain-kain, dan obat-obatan. Mungkin orang minta sesuatu. Aku memasukkan kartu nama Tempo ke dalam makam Imam Hussain.
Assyura berasal dari kara asyroh, sepuluh. Alkisah, pada waktu fajar 10 Muharram 61 Hijiriyah, Imam Hussain melihat pasukan Yazid, sang komandan Umar bin Sa’ad
memerintahkan pasukannya bergerak menyerang kemah Imam Hussain. Melihat itu Imam Hussain segera mengumpulkan pengikut-pengikutnya. “Hari ini Allah telah mengijinkan kita untuk melaksanakan perang suci, dan Dia akan memberikan pahala atas kesyahidan kita. Maka siapkanlah diri kalian untuk berperang melawan musuh Islam dengan kesabaran dan perlawanan,” katanya.
“Wahai para putra orang-orang mulia dan mempunyai harga diri, bersabarlah. Kematian tak lain hanyalah jembatan yang harus kalian seberangi setelah menghadapi cobaan dan godaan, untuk mencapai surga dan kesenangan,” ujar Imam Hussain.
Ajakan dan pidato Imam Hussain menuju ke-syahid-an, disambut para pengikutnya. “Wahai pemimpin, kami siap untuk membela Anda dan ahlul bait Anda, serta siap mengorbankan jiwa kami untuk Islam,” katanya serempak.
Seorang demi seorang keluar dari lingkungan kemah dan berperang melawan tentara Yazid. Mereka gugur satu persatu di Padang Karbala. Tangan Imam Hussain tertembus panah saat memegang bayi berusia enam bulan yang akan diberi minum air Sungai Eufrat. Imam Hussain lalu bertempur dengan pasukan yang bengis itu. Pasukan Yazid berhasil membunuh Imam Hussain, mereka menusuk dan memotong kepalanya. Lalu dengan tombak potongan kepala itu dibawa keliling padang tandus itu, sambil menyebut “Allahu Akbar.”
Aku jadi teringat lagu dalam sebuah album kaset Iwan Fals, yang kebetulan aku bawa dan diputar sepanjang jalan menuju Karbala. “Orang bicara cinta, atas nama tuhannya, sambil mereka membunuh, membantai berdasarkan keyakinannya.”
Aku berdoa, teringat akan cerita sejarah pembantaian itu. Aku menangis atas kekejaman manusia, tetapi aku gembira mengingat keberanian mereka untuk syahid. Kulihat orang-orang menangis tersedu-sedu, di tempat lain yang tak kelihatan suara perempuan menjerit-jerit, menambah syahdu kompleks makam itu. Aku salat sunnah dua
rakaat, membaca doa ziarah dan berdoa semoga bisa diajak bersama beliau di tempat yang indah di akhirat nanti.
Tak terasa sejam lebih aku berada di dalam kompleks makam itu. Keluar menuju penitipan sepatu, saat saya akan membayar, ditolak. “Jangan, saya kerja untuk Imam Hussain,” katanya. Ucapan yang sama juga saat mengambil handphone.
Di luar komplek, saya membeli dua lusin tanah karbala yang sudah dikeraskan. Biasanya tanah itu digunakan penganut syiah untuk bersujud saat salat. Di luar juga dijual bebagai macam asesoris untuk perkabungan Imam Hussain, seperti kayu sepanjang setengah lengan, dengan rantai tajam setengah meter. Pada hari perkabungan di Karbala alat itu dipakai untuk dipukul-pukulkan ke tubuh para pengikut prosesi itu, untuk merasakan kesakitan penderitaan Imam Hussain.
Penyakitan diri sendiri itu membuat tubuh mereka berdarah-darah, serupa seperti yang biasa dipraktikkan di Filipina dan Amerika Selatan, yang menyalib diri dan memantekan paku ke kayu salib, seperti penderitaan Yesus Kristus disalib penguasa kejam.
Aku mampir juga ke makam Imam Abbas, yang ikut terbantai di Karbala pada saat membela Imam Hussain. Kompleks makamnya, hanya berjarak 200 meter.
Akhirnya, aku memutuskan tidak menginap di Karbala. Kami langsung menuju Najaf tempat makam Imam Ali bin Abi Thalib, ayahnya Imam Hussain.
Sebelum ke Najaf, aku mampir di tempat foto. Ternyata tukang foto amatir itu belum menyerahkan foto ku di tempat foto. Pada penjaga foto itu, aku menitipkan, agar fotoku yang sudah jadi itu dimasukkan saja ke makam Imam Hussain. Kami harus kembali ke kantor polisi memgambil kembali paspor dan tanda pengenal.
Hampir sejam kami menunggu Sayyid Ahmad, sang komandan. Ia mengringi dan mengantarkan kami dengan mobilnya sampai perbatasan wilayah provinsi Karbala.
(dimuat Tempo Interaktif, Sabtu, 19 Februari 2005).
{ 0 comments }

ANKARA (SuaraMedia News) – Muslim dengan aset yang ada di rekening Swiss sekarang harus memikirkan kembali pilihan perbankan mereka dalam menghadapi lolosnya referendum pada hari Minggu yang melarang menara-menara Masjid di negeri ini, dan melihat Turki sebagai alternatif, Menteri Negara Turki dan kepala perunding untuk Uni Eropa, Egemen Bağış, mengatakan .
Komentar Bağış itu muncul di tengah-tengah gelombang ketidakpuasan yang berkembang di seluruh dunia sebagai reaksi terhadap keputusan Swiss pada hari Minggu yang menyetujui larangan konstitusional pembangunan menara Masjid di negara mereka. Referendum itu segera dikutuk oleh kelompok-kelompok hak asasi manusia dan Muslim di seluruh dunia dan Bağış, berbicara dengan sekelompok wartawan di Stockholm, juga mengutuk masalah itu.
“Saya yakin bahwa keputusan ini akan menjadi sebuah kesempatan bagi saudara-saudara kita di negara-negara Muslim yang menyimpan uang mereka di bank-bank Swiss untuk mempertimbangkan kembali keputusan mereka untuk melakukannya. Pintu bank Turki, yang semuanya lolos tanpa cedera pada kejatuhan bank-bank pada tahun 2008, sementara bank-bank besar dunia tenggelam, terbuka untuk mereka, “katanya.
Menteri mengatakan bahwa itu adalah suatu kesalahan untuk membawa masalah ini ke referendum untuk memulai dengan, berkata: “Swiss bukan anggota Uni Eropa. Jika demikian, maka mereka akan dipaksa untuk mempertahankan standar Uni Eropa. “Memperhatikan bahwa negara-negara Uni Eropa seperti Perancis dan Swedia telah bereaksi negatif terhadap berita tentang larangan itu, ia melanjutkan.”
Uni Eropa juga tidak senang atas perkembangan ini. Jika sikap ini tidak berubah, Swiss tidak akan dapat
melarikan diri menjadi sebuah “museum intoleransi terbuka”. Bağış mengatakan dia yakin Swiss akan mempertimbangkan kembali gerakan anti-menara itu dalam menghadapi kecaman dan tekanan dari masyarakat internasional.
Rekomendasi Bağış mungkin hanya bergaung dengan beberapa. Dalam menghadapi reaksi internasional yang kuat terhadap larangan itu, perdebatan dalam negeri tentang apakah langkah itu akan menghasilkan serangan balasan ekonomi bagi bangsa dilaporkan telah dimulai di Swiss, dengan banyak ekonom berada di antara daftar orang-orang tidak senang dengan hasil referendum. Swiss menerima rata-rata d250.000 wisatawan setiap tahun dari negara-negara Muslim, menghasilkan 5 persen dari pendapatan pariwisata nasional.
Urs Rellstab, juru bicara Economiesuisse, payung terbesar organisasi ekonomi Swiss, juga mengeluarkan pernyataan mengikuti referendum, mencatat bahwa 7 persen dari ekspor negara pergi ke negara-negara mayoritas muslim. Oleh karena ini adalah pasar yang berkembang, mereka sangat penting dalam periode krisis ini, Rellstab mencatat. Media Swiss juga menangkap dimensi masalah ini, dengan harian La Liberte yang mencatat keprihatinan kalangan bisnis bahwa larangan akan merupakan blokade lain bagi bank-bank Swiss dan mengarah ke aliran uang di tempat lain di samping konsekuensi ekonomi negatif lainnya.
Bağış juga menunjukkan bahwa di Turki, dengan 99 persen mayoritas Muslim, minoritas non-Muslim seperti Armenia, Yahudi, dan warga keturunan Yunani telah be
rhasil selama berabad-abad dengan bebas beribadah di gereja dan sinagog. Perdana Menteri Recep Tayyip Erdoğan pada pertemuan grup parlemen Partai Keadilan dan Pembangunan (AK Party) kemarin (01/12), di mana tanpa menyebutkan Swiss, secara tegas ia berkata: “Hari libur Idul Adha (yang baru saja terlewati) sekali lagi adalah alat di mana orang-orang dapat bersatu dalam kebersamaan. Sama seperti orang-orang ini telah hidup bersama dalam kesatuan dan kebersamaan sepanjang sejarah, mereka akan terus melakukannya. Masjid, gereja dan sinagog akan hidup bersama dalam lingkungan yang sama. Di negara kita, di mana toleransi memerintah, ini tidak masalah sama sekali. “
Presiden Abdullah Gül, menjawab pertanyaan tentang masalah sebelum naik pesawat ke Yordania, mengatakan bahwa referendum itu adalah indikator penting meningkatnya Islamofobia di Swiss. Ia menyayangkan sebuah isu yang melibatkan kebebasan dasar yang harus dibawa menjadi referendum, Gül berkata: “Topik ini harus diikuti dengan cermat. Ini telah menjadi elemen yang menarik perhatian dalam mendemonstrasikan bagaimana Islamofobia di dunia Barat mengembangkan suatu kebencian terhadap Islam. Bagi Swiss, ini memalukan. “
Kementerian Luar Negeri Turki juga menyuarakan reaksi resmi kemarin, merilis sebuah pernyataan yang mengatakan langkah untuk melarang menara Masjid telah “menciptakan kekecewaan” dan mengatakan itu bertentangan dengan kebebasan. “Turki, salah satu wakil ketua Inisiatif Aliansi Peradaban Perserikatan Bangsa-Bangsa, sedang di tengah-tengah upaya intensif untuk memperkuat suasana saling pengertian dan toleransi antara berbagai budaya dan kepercayaan. Keputusan rakyat Swiss ini disambut dengan kesedihan besar di negara kita. Di sisi lain, keputusan yang dibuat juga merupakan penyebab keprihatinan bagi lebih dari 100.000 warga negara kita yang telah menerima Swiss sebagai rumah kedua mereka, ” kata pernyataan yang dibacakan, menambahkan bahwa Turki bersama dengan masyarakat internasional sedang menunggu Swiss untuk mengatasi ini situasi.
Deniz Baykal, pemimpin oposisi Turki Partai Rakyat Republik (CHP), yang membawa larangan menara ini selama pertemuan kelompok parlemen partainya kemarin dan mengecam keputusan itu. “Dan sekarang kita bahkan melihat Masjid, menara Masjid yang dilarang oleh sebuah pemungutan suara. Tapi saya melihat ini sebagai titik penting yang mana Eropa dapat melakukan beberapa introspeksi tentangnya, dan bagi kita untuk menguji kembali Eropa dan diri kita sendiri,” katanya. Baykal menegaskan bahwa larangan menara tidak ada hubungannya dengan arsitektur dan bahwa kemampuan untuk referendum tersebut untuk terwujud membutuhkan adanya reevaluasi pandangan, posisi dan status Eropa atas nama Islam dan umat Islam.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Swiss Micheline Calmy-Rey mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa kementrian sedang bekerja untuk memberikan informasi kepada para duta besar negara-negara Muslim di Bern. “Kami mencoba untuk menginformasikan khususnya negara-negara Arab dan muslim mengenai masalah hasil pemungutan suara. Saya bertemu dengan para duta besar negara-negara yang relevan mengenai masalah ini,” kata Calmy-Rey. Hampir 400.000 Muslim tinggal di Swiss, sebuah negara dengan populasi 7,5 juta. Referendum untuk melarang menara lolos dengan 57,5 persen untuk suara “ya” dan meskipun adanya usaha Kementerian Luar Negeri Swiss, itu terus menarik kecaman keras dari negara-negara dengan dan tanpa mayoritas Muslim. (iw/tz) www.suaramedia.com
{ 1 comment }