Posts tagged as:

Hasan

“Jalan tengah” Antara Genit dan Sengit

by konspirasi on January 6, 2010

Beberapa tahun lalu ia adalah santri di sebuah pesantren tradisional di daerah pesisir di Jawa Timur. Dalam bangunan sederhana di tengah desa yang tidak terlalu subur itu ia tidur di sebuah bangunan sangat sederhana bahkan kurang higienis, menurut standar pola hidup moderen. Ia dengan tekun mengikuti pelajaran-pelajaran yang diberikan oleh sang guru yang mengajarkan sistem ‘muratan’, yaitu studi naskah kitab kuning yang diberi arti dalam bahasa Jawa, mulai dari level dasar dalam bidang gramatika, seperti alfiyah, balaghah dan fikih. Ia juga sangat kalem, bahkan nyaris ‘feminin’. Ia betah lama menimba ilmu agama berkat prinsip thuluz-zaman dan mengabdikan dirinya dalam melayani dan mengormati gurunya, bahkan di luar urusan belajar dengan harapan suatu saat akan menjadi kyai terpandang di kampungnya.

Kini keadaan benar-benar berbalik. Setelah mengikuti ujian persamaan dan menenteng ijazah SMA berkat modernisasi yang tak terbendung, ia seakan mngubur semua masa lalunya yang tradisional. Lebih dari itu, setelah berpindah ke ibukota dan menjadi mahasiswa, ia sibuk menenteng buku-buku karya pemikir Barat mulai dari Marx sampai Horkheimer, menghdiri seminar yang dihadiri oleh para narasumber asing, dan aktif dalam kelompok studi yang gemar mendiskusikan wacana-wacana modern, seperti pluralisme, lokasime Islam, feminisme dan segala pemikiran Islam yang anti-tradisonal dan kritis. Setelah menguasai bahasa Inggris dan mampu menulis artikel-artikel yang berisikan apresiasi terhadap pemikiran Barat tentang Islam, ia pun mendapatkan beasiswa studi di Barat dari lembaga-lembaga donor yang sangat berpengaruh. Sepulang dari negeri bule, ia langsung didaulat untuk menjadi pengamat politik dan pakar keislaman. Lembaga-lembaga mentereng langsung melamarnya. Lembaga-lembaga studi menjadi terminalnya. Media-media massa menampung pandangan-pandangannya. Ia sudah bisa dianggap ‘mantan santri’. Ia lebih senang bila masa lalunya tidak diingat-ingat. Ia adalah pemegang gelar PhD dari sebuah universitas ternama di Amerika yang sudah menghabiskan banyak paspor karena menghadiri undangan seminar tentang Islam di Austalia, Eropa dan Amerika.

Inilah contoh sebuah generasi Muslim yang jumlahnya sangat banyak. Mereka tersebar di sebagian besar perguruan tinggi Islam negeri maupun swasta di Indonesia. Sebagian dari mereka mendapatkan scholarship di universitas-universitas ternama di Eropa, Amerika dan Kanada dan mengambil studi bidang politik berkat rekomendasi sejumlah LSM dan lembaga yang sangat concern terhadap isu-isu Islam kontemporer. Sebagian melanjutkan ke UIN Syarif Hidayatullah, IAIN Jogjakarta dan Surabaya sambil aktif menulis artikel di sejumlah suratkabar lokal. Umumnya mereka aktif dalam LSM dan lembaga-lambaga yang giat mengadakan workshop dan seminar tentang modernitas, pluralisme dan semacamnya. Sebagian besar dari mereka adalah PNS yang sibuk mengumpulkan KUM agar karir kedosenannya terus menanjak. Kebanyakan mereka adalah anak-anak muda yang cukup cerdas, terbuka, komunikatif, apresiatif terhadap pandangan di luar main stream dan ramah, meski tidak terlalu relijius (menurut standar normatif).

Beberapa tahun lalu ia hanyalah anak dalam keluarga yang tidak relijius bahkan cenderung ‘kejawen’ di kawasan yang disebut mataraman. Ayahnya yang pernah menjadi menjadi simpatisan PKI, meski tidak sempat di-pulau buruh-kan, tidak pernah mengajarinya ngaji al-Quran. Di rumahnya juga tidak ada kaligrafi-kaligrafi ayat al-Quran. Shalat dan kegiatan keagamaan tidak pernah menjadi sesuatu yang sangat diwajibkan pada masa kanak dan remajanya. Gaya hidupnya jauh dari relijiusitas. Ia bahkan sempat pacaran dan tidak jejaka lagi.

Setelah lulus SMA, ia dinyatakan lulus seleksi UMPTN dan menjadi mahasiswa fakultas teknik di sebuah perguruan tinggi tekenal di sebuah kota besar. Ia mengikuti opspek dan ditatar oleh sekelompok mahasiswa senior yang memiliki kemampuan mengubah orientasi keagamaan maba (mahasiswa baru) ini. Usai mengikuti opspek, ia ‘dibina’ dan terus ‘digarap’ dan dimasukkan dalam kelompok mahasiswa Islam yang cenderung tekstual. Sejak saat itu ia mulai tahu pentingnya shalat dan menjalani Islam sebagai sistem hidup. Kini ia mulai belajar mengaji, bahkan menganggap belajar bahasa Arab sebagai sebuah ketataan. Ia mulai merawat jenggot dan melipat bagian bawah celana sambil membawa al-Qur’an terjemah yang telah diberi tanda-tanda pada halaman-halaman tertentu karena memuat ayat-ayat ‘tegas’ soal jihad, penegakan ‘hukum Allah’, dan amar makruf dan nahi mungkar. Buku-buku favoritnya adalah karya-karya tokoh-tokoh Islam fundamentalis, seperti Hasan al-Banna danb Sa’id Hawwa, juga kitab-klitab fikih ‘kaku’ karya Muhammad bin Abdul-Wahab dan Abdul-Aziz bin Baz. Ia cukup cerdas sehingga diberi beasiswa oleh negara untuk melanjutkan studi S2 dan S3 di Jerman. Di negeri Hitler itu ia tetap bersemangat dengan brotherhood¬nya dengan aktif dalam jaringan ‘Islam literal’ dan seiring dengan intensitas komitmennya, ia pun menjadi tokoh penting dalam hirarki kelompoknya. Sepulang dari negeri itu, ia makin fundamentalis dan makin membenci Barat. Ia kini menjadi salah satu pakar dalam sebuah departemen dan dosen di almamaternya. Pakar metalorgi ini juga aktif dalam penggalangan politik yang menuntut dikembalikannya khilafah ala Otoman di Indonesia, bahkan seluruh dunia. Ia tidak gemar berwacana atau berdiskusi apalagi ngobrol di café.

Inilah contoh dari tipe kedua generasi muda Muslim di Indonesia yang jumlahnya makin banyak. Sebagian dari mereka mulai berpikir realistis dengan memperjuangkan visi keislamannya dalam sebuah organisasi politik formal. Sebagian lain memperjuangkan idealism melalui organisasi non partai yang menuntut pendirian khilafah di Tanah Air dan seluruh dunia. Ada pula yang aktif dalam organisasi non formal, karena menganggap sistem Negara tidak Islami karena tidak menjalakan hukum Allah, dan karenanya pendirian orpol maupun ormas sama dengan mengakui sistem yang tidak Islami.

Hadirnya kelompok yang dikenal dengan penganut Islam liberal dan semaraknya kelompok Islam literal tidak bisa sepenuhnya dipandang sebagai sebuah fenomena khas Indonesia. Tidaklah berlebihan bila kedua model itu dikaitkan dengan dengan kepentingan hegemoni Barat untuk mengikis miltansi di dunia Islam.

Di tengah polarisasi dua kelompok dan kecenderungan itu, ada sebuah kelompok kritis yang menggabungkan rasionalitas dan teks. Mereka bukan jadi-jadian. Kelompok ini memiliki akar sejarah yang berpendar dalam filsafat, Kelompok ini muncul sebagai respon atas keberhasilan Imam Khomaini menumbangkan rezim monarki 2000 tahun Pahlevi dan makin kuat setelah kemunculan Mahmoud Ahmadinejad sebagai David di tengah angkara Goliath dunia tak pelak telah melambungkan popularitas mazhab Syiah dan diperlakukan sebagai jalan tengah yang membelah jalan Islam liberal dan Islam lieral. Syiah mulai dilirik sebagai Islam alternatif (Islat).

Seperti dilaporkan Sayed Hosein Nasr, filsafat Islam memiliki kehidupan yang lebih panjang di bagian Timur ketimbang di bagian Barat dunia Islam. Iran tidak hanya memiliki tanah subur yang menyebabkan filsafatnya mampu bertahan hidup sampai sekarang, tetapi juga secara definitif menjadi arena utama aktivitas dalam filsafat Islam. Sekurang-kurangnya, ada dua faktor pendukung berkembangnya pemikiran filsafat di Iran. Pertama, faktor kultural-historis. Kedua, tradisi keagamaan Syi’ah.

Dalam sejarahnya, Iran dikenal sebagai ladang tempat lahirnya filosof, sufi, saintis, dan penyair terkenal. Iran dapat dipandang sebagai tempat yang merepresentasikan kontinuitas perkembangan pemikiran keagamaan, khususnya filsafat selama fase akhir sejarah Islam. Karena itu tidaklah salah bila bertahannya filsafat di Iran dikaitkan dengan latarbelakang kultural yang lekat dengan rasionalitas dan mistisisme Zoroastranisme. Bahkan sebagain gagasan filsafat Mulla Shadra diduga terpengaruhi oleh para filosof era Pahlavi kuno.

Satu kenyataan penting sekaitan dengan perjalanan filsafat dalam sejarah Islam adalah turut andilnya masalah kemazhaban tradisional Islam dalam proses perkembangan pemikiran filsafat. Tanpa perlu menunjuk siapa filosof bermazhab Islam apa, yang jelas, Iran adalah salah satu situs peradaban yang besar (ed.), Routledge’s Encyclopedia of Islamic Philosophy, (rearranged into Islamic version by Dr. Mulyadhi Kartanegara), Routledge, London and New York; 1998. hal.10).

Menurut sejarah, penyerbuan Mongol telah menghancurkan dinasti Abbasiah dan membasmi komunitas Muslim di Spanyol. Bersamaan dengan itu, umat Islam pun tenggelam dalam tidur panjangnya. Abad keenam Masehi merupakan awal kebangkrutan umat Islam sunni. Abad ketujuh justru menjadi awal tumbuhnya imperium Islam di belahan Timur dan dunia Syi’ah.

Pada tahun 1499, berdirilah kerajaan Safawi yang bertahan sampai sekitar dua ratus tahun. Pada periode Safawi inilah berkembang berbagai aliran pemikiran dalam matrik mazhab Syi’ah. Salah satu pemikiran yang berkembang pesat adalah filsafat. Filsafat tetap diajarkan, bahkan menjadi sebuah tradisi yang hidup sepanjang zaman di sekolah-sekolah Syi’ah yang didirikan dinasti Safawi. Pada periode Safawi, tepatnya pada abad XIII sampai XVII, filsafat di Iran mencapai puncaknya. Dari hawzah-hawzah itulah, para tokoh filsafat Iran bermunculan. Bahkan, Iran menjadi pusat utama ilmu-ilmu intelektual, khususnya filsafat, bagi dunia Islam yang didatangi umat Islam dari seluruh penjuru dunia.

Perkembangan pemikiran pada zaman dinasti Safawi mempunyai karakteristik khas sebagai mazhab Isfahan. Mazhab ini menampung perkembangan pemikiran mazhab masya’i, isyraqi, ‘irfani, dan kalam.

Pada awal awal abad XIX sebelum periode Qajar, filsafat Molla Sadra dibangkitkan kembali secara penuh di Isfahan oleh Mulla Ismail Khajui dan Mulla Ali Nuri. Molla Ali Nuri terkenal sebagai komentator al-Asfar al-Arba’ah karya Molla Sadra, sekaligus mengajarkannya pada generasi setelahnya.

Selama periode Qajar, Tehran secara bertahap meningkat menjadi pusat studi filsafat Islam yang menghasilkan sejumlah gurubesar terkenal di akhir periode Qajar dan Pahlewi, seperti Mirza Mahdi Asytiyani, Sayyed Muhammad Kazim ‘Assar, Abu al-Hasan Jalweh, dan Tonekaboni.

Selama periode ini, atmosfir hawzah Irak (Najaf dan Karbala), yang semula merupakan pusat pendidikan Syi’ah di seluruh dunia, demikain pula hawzah di Iran (Qom dan Masyhad), kurang mendukung kemajuan pemikiran filsafat, karena kecenderungan pada ilmu-ilmu tekstual, seperti fiqh, yang masih sangat determinan. Bahkan tidak sedikit ulama dan marja’ (otoritas hukum) menunjukkan sikap negatif terhadap pengajaran filsafat. Namun keadaan perlahan-lahan berubah ketika muncul halaqah-halaqah pelajar filsafat, irfan, dan ilmu-ilmu rasional yang diasuh beberapa ulama yang dinilai sukses dalam ilmu-ilmu tekstual bahkan bergelar mujtahid.

Molla Husain-Qali yang mengadopsi metode itu mendidik murid-muridnya dengan filsafat Molla Sadra dan sayr suluk spiritual. Walaupun Mirza Hasan putra Akhund Molla Muhammad Ismail Wahidul-Ain Isfahani juga tinggal di Karbala untuk beberapa waktu, namun mayoritas pelajar filsafat di sana menimba ilmu dari Molla Husainquli Hamadani. Tepatnya, Molla Sabzewari memindahkan filsafat dari Sabzawar ke Najaf. Di antara murid tersohor Molla Husain-Quli Hamadani adalah: Sayyed Jamaluddin Asad-Abadi al-Afghani, Sayyed Abdul-Husain Lari, Sayyed Ahmad Karbala’i, Sayyed Sa’id al-Habubi, Agha Muhammad Baqir Istahbanati, Mehdi Ilahi Qomsyeh’i, dan Mirza Jalweh (seorang tokoh filsafat Iran yang hijrah ke Najaf guna menyempurnakan pengetahuannya tentang ilmu naqli).

Di Najaf, Mirza Jalweh memperkenalkan filsafat ketuhanan pada murid-muridnya, seperti Ayatullah Syaikh Muhammad Husain Gharawi Isfahani dan Syaikh Muhammad Ridha Yazdi. Agha Muhammad Baqir Isthahbanati terbunuh pada masa Masyrutiyyat pada tahun 1326 H, di Istahbanat.

Kepindahan Agha Sayyed Muhammad Husain Badkubey ke Najaf juga merupakan faktor lain tersebarnya filsafat di sana. Ia adalah murid Mirza Jalweh, Hakim Esykewari, dan Hakim Kermansyahi, yang mengembangkan filsafat di Najaf. Ia mengabadikan namanya dengan mendidik filosof ketuhanan besar seperti Allamah Sayyed Muhammad Husain Thabathaba’i. Syaikh Murtadha Taleqani, seorang filosof ketuhanan di Najaf yang hidup sezaman dengan Agha Muhammad Husain Badkubey, telah mendidik dan membawa guru besar Allamah Muhammad Taqi Ja’fari kepada dunia pemikiran.

Setelah Perang Dunia II, Iran tetap merupakan tempat subur bagi berkembangnya pemikiran filsafat Islam. Berawal pada tahun 1950-an (pasca Perang Dunia II), terjadi suatu ketertarikan kembali dalam filsafat Islam di Iran. Ini merupakan suatu kebangkitan kembali tradisi filsafat Islam yang belakangan mampu menjawab tantangan pemikiran Barat. Abul-Hasan Rafi’i Qazwini dam Qadhi Said Qummi adalah dua tokoh yang menjadi pelopor pengembangan filsafat pada masa itu.

Apresiasi modern terhadap al-Hikmah al-Muta’aliyah berkembang di kalangan akademisi, atau setidaknya kalangan yang tumbuh dalam pendidikan atau khasanah pemikiran modern. Para figur yang paling menonjol di kalangan ini adalah Henry Corbin, Sayyed Hossein Nasr, dan Mehdi Ha’ri Yazdi. Sementara apresiasi tradisional lebih bertahan di kalangan pesantren atau hawzah ilmiah, khususnya kalangan yang mengenyam pendidikan tradisional keagamaan di Qom.

Allamah Thabathabai dan Imam Khomeni disebut-sebut sebagai ‘yang paling bertanggungjawab’ menghidupkan filsafat di hawzah ilmiah Qom, yang sebelumnya didominasi oleh para ulama fikih’. Kedua tokoh ini telah mencetak puluhan bahkan ratusan ulama pemikir yang kelak memberikan kontribusi besar dalam memperkenalkan Syiah sebagai mazhab yang mampu mengharmoniskan bayan, burhan dan irfan. Muthahhari melalui karya-karyanya yang sangat luas telah menggoncang blantika pemikiran Islam terutama di dunia Islam yang sebelumnya hanya silau dengan pemikir-pemikir Sunni, seperti Sayed Quthb dan al-Maududi.

Kejutan masih berlanjut. Ternyata di hawzah Qom, telah terjadi pengayaan wacana Islam kontemporer melalui para ulama para murid Khomeini dan Thabathabai. Sejumlah nama bisa dicantumkan antara lain, Abdullah Jawadi Amuli, Hasan Zadeh Amuli, Muhammad Sadegi, Ja’far Subhani, Ali Gerami, Yahya Anshari Syirazi, dan yang paling gres adalah Muhammad Taqi Mishbah Yazdi. Mereka adalah para cohen dan penguasa stoa-stoa pemikiran di Qom.

Kini dengan tampilnya Iran sebagai kekuatan baru di dunia, terutama di Dunia Islam dan sambutan monumental rakyat Indonesia terhadap kedatangan Ahamdinejad ke Indonesia, hipotes ini semakin kuat. Kegigihan gerombolan wahabi dan tekstualis belakangan ini dalam memprovokasi pemerintah dan masyarakat Indonesia untuk mencurigai Syiah, sebagaimana dilakukan oleh majalah Sabili, makin memperbesar indikasi kekhawatiran makin meluasnya pengaruh pemikiran Syiah. Siapapun, terutama yang anti Syiah, akan bingung mendengar bahwa NU, Muhammadiyah dan Pemerintah menjadi tuan rumah Konferensi Pesratuan Sunni dan Syiah.

Diminatinya wacana Syiah dalam sentra-sentra pemikiran di Indonesia ini sungguh menggembirakan, setidaknya sebagai langkah awal umat Islam untuk memahami bahwa agamanya memiliki warisan kekayaan yang berlimpah; sistem filsafat, teologi, politik, ekonomi, budaya, sistem pemerintahan, yang semuanya terangkum dalam bangunan megah yang sudah terukir berabad-abad.

Mungkin produk-produk gagasan para pemikir Syiah dapat dijadikan sebagai jalan tengah demi menciptakan sebuah formulasi pemikiran Islam yang sesuai dengan heterogenitas bangsa Indonesia.

Di hadapan kita ada ruang kosong yang bisa diisi dengan “Islam Jalan Tengah” , tidak genit dan tidak pula sengit. Ia dapat berdiri tegak antara Islam liberal yang genit, funky dan ‘madani’ (civil) dan Islam literal yang angker dan ‘medeni’ (bahasa Jawa : menyeramkan)!

Tentu, tantangan dan hambatan akan terus menghadang. Namun dinamika waktu dan makin terbukanya akses informasi akan dapat mengatasinya. Bangsa Indonesia kini makin matang dan jenuh dengan penjejalan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok truth claim yang berusaha memasangkan kacamata kuda pada generasi muda yang kritis dan makin cerdas.

Berangkat dari kesadaran akan hal itu, perlu ada sebuah upaya serius untuk merintisnya. salah satunya dengan mendirikan center of excellent atau sebuah wadah pencerahan yang “kali ini” mesti dikolala secara profesional agar tidak mengalami nasib yang sama dengan lembaga-lembaga dakwah yang dikelola secara pertemanan… Mau?

{ 0 comments }

Melepas Kelana “Sang Pendekar Mabuk”

by konspirasi on December 31, 2009

Dalam waktu yang berdekatan kita kehilangan tokoh-tokoh besar, antara lain Nurcholis Madjid, kemudian WS Rendra dan yang terbaru Gus Dur.

Tidak sedikit di antara kita yang memiliki pandangan negatif terhadap Gus Dur karena sikap dan pernyataan-pernyataannya seputar isu-isu Palestina, terorisme dan lainnya. Pandangan-pandangan Gus Dur yang kerap dilontarkan secara sporadis, spontan dan emosional sering menimbulkan kontroversi dan kesalaphaman serta multi tafsir. Sehingga tidak jarang, memerlukan klarfikasi, meski hal itu sulit didapatkan.

Dalam bidang politik nasional, sudah bukan rahasia lagi, pernyataan-pernyataannya yang pedas dan kadang terkesan serampangan, menimbulkan kegerahan bagi lawan juga kawan. Gus Dur bagai “pendekar mabuk” yang melancarkan jurus-jurus yang tidak bisa diprediksi oleh siapapun, bahkan orang-orang terdekatnya. Karena itu, beberapa episode perpecahan dan mufaraqah sempat mewarnai kiprah politiknya, mulai dari Matori Abduljalil lalu Alwi Shihab hingga Muhaimin Iskandar. Meski diketahui bersebarangan dengan para petinggi NU, karena sikapnya yang tidak bisa “diatur”, Gus Dur, sebagai pemilik trah darah biru pendiri ormas Islam terbesar itu, masih dihormati dan dimaafkan atas semua pernyatannya. Kasus-kasus terkait dengan dugaan korupsi sempat menghinggapi namanya, tapi semua lenyap begitu saja. Boleh jadi, itu salah satu kelebihan dan kebesaran nama dan pengaruhnya.

Masa kepresidennya juga bisa dianggap sebagai masa paling kacau sejak lengsernya dinasti Orba. Tiada hari tanpa kontroversi dan kehebohan yang berujung pada pelengserannya dengan segala carut marut dan kelucuannya, termasuk keluarnya dektrit yang gagal meletus di penghujung kekuasaannya. Gus Dur dijungkalkan karena dianggap tidak akomodasionis, otoriter dan tidak cakap menjalankan peran eksekutif.

Di luar semua itu, ada beberapa poin positif dalam diri Gus Dur, antara lain kegigihan dan konsistensinya membela hak kaum minoritas etnis dan agama. Libur nasional Imlek adalah buah perjuangannya, yang secara tidak langsung bisa menghapus citra negatif Indonesia yang sebelumya tercoreng oleh kasus kerusuhan Mei yang diduga sangat merugikan etnis Cina di Indoensia, dan Jakarta utamanya.

Pembelaan Gus Dur terhadap kelompok-kelompok agama minoritas kadang malah menimbulkan kemirisan dan mengudang kecaman dari kalangan Islam, terutama yang tidak memiliki kesamaan teologis dengan NU yang notanene beraliran Sunni-Syafii. Gus Dur tanpa beban menghadiri misa dan acara-acara ritual Kristen. Sebagai orang yang sangat pandai dan terbuka, ia diyakini oleh sebagian kalangan mempunyai landasan teologis rasional di balik sikapnya itu.

Sikapnya terhadap minoritas Islam pun demikian.Penyataan monumentalnya “NU adalah Syiah kultural” (1) telah menjadi semacam perisai yang telah menyelamatkan banyak nyawa dan kehormatan para warga negara yang menjadikan Ahlulbait sebagai gerbang keyakinannya. Tentu, tidak semua kasus pelecehan dan penganiyaan terhadap penganut Syiah bisa diantisipasi dan digagalkan dengan pernyataan itu, namun setidaknya, itu mesti diakui memiliki pengaruh yang cukup. Dan karena itu, kita patut berterimakasih dan mengucapkan “Selamat jalan”. Semoga dosa-dosanya diampuni oleh Allah dan kebaikan-kebaikannya dibalas dengan ridha dan pahalaNya, amin.

Semoga NU dan para Muslim penganut mazhab Imam Syafii yang memilki kesamaan kultural dan teologis dengan mazhab Syiah dapat terus menjalin hubungan kian erat demi mengukuhkan Islam yang santun di bumi Indonesia tercinta.

Dalam rangka mengenang jasanya, Islamic Cultural Center bekerjasama dengan Keduataan Besar Iran akan menyelenggarakan Tahlil di Aula ICC malam ini (Kamis pukul 19.00) di Buncit raya kav. 35 Pejaten Barat- Jaksel.

(1)Dalam berbagai kesempatan, Gus Dur selalu mengatakan bahwa secara kultural, NU ada kesamaan dengan Syi’ah. Tradisi pemujaan wali, kepercayaan pada keramat, ziarah kubur, penghormatan kepada ahlul bait (keluarga Nabi: Ali, Fatimah, Hasan, Husen), adalah sebagian tradisi yang berkembang kuat di kalangan Syi’ah. Pernyataan Gus Dur ini, oleh Kiai Hamid dan kiai-kiai yang sepaham, dianggap sebagai perasaan simpati pada Syi’ah.http://www.tempointeraktif.com/share/?act=TmV3cw==&type=UHJpbnQ=&media=bmV3cw==&y=JEdMT0JBTFNbeV0=&m=JEdMT0JBTFNbbV0=&d=JEdMT0JBTFNbZF0=&id=NzEzMw==

{ 0 comments }

Para Ksatria Karbala

by konspirasi on December 29, 2009

Image

Tragedi Karbala adalah pertarungan antara kebenaran dan kebatilan, antara kemanusiaan dan kebinatangan, antara kemuliaan dan kehinaan, antara kebebasan dan keterbelengguan.

{ 0 comments }

Jejak Syiah dan Tradisi Asyura di Aceh

by konspirasi on December 25, 2009

ADAKAH pemeluk Syiah di Aceh? Ini perlu dipertanyakan ketika banyak sekali simbol-simbol “Syiah” ditemukan, dan sangat menonjol di kehidupan sehari hari masyarakat Aceh.

Sejarah mula kedatangan Islam ke Aceh, pemimpinnya dikenal bernama Shir, seperti Shir Poli, Shir Nuwi, Shir Duli. Dalam hikayat-hikayat Aceh lama, kata gelar Shir sering pula disebut Syahir. Misal, Shir Nuwi dibaca Syahir Nuwi, Shir Poli dibaca Syahir Poli dan seterusnya. Kata Syahir ini lebih kurang setara dengan kata Ampon Tuwanku dalam tradisi melayu di Malaysia.

Asal kata shir, datangnya dari keluarga bangsawan di kawasan Persia, dan sekitanya. Maka putri Raja Persia yang setelah negerinya ditaklukkan Umar Ibnul-Khatab, ditawan dan dibawa ke Madinah, mulanya bernama Shir Banu. Setelah dibebaskan oleh Ali bin Abi Thaleb, Shir Banu menikah dengan putra Ali bernama Husen. Sementara dua saudara Shir Banu lainnya menjadi menantu Abubakar dan menantu Umar Ibnul Khattab. Belakangan nama menantu Ali itu berubah menjadi Syahira Banu, dan dalam lafal di Hikayat Hasan Husen, nama itu dipanggil Syari Banon, yang menjadi isteri Sayyidina Husen bin Ali. Husen syahid dibunuh Yazid bin Muawiyah di Karbala pada 10 Muharam. Shir Banu atau Syari Banon menjanda sambil membesarkan anaknya Ali Zainal Abidin, yang sering dipanggil Imam as-Sajad, karena selalu suka bersujud (shalat).

Dalam hikayat Hasan Husen, nama Syari Banon disebut berulang ulang karena beliau ini mendampingi suami dengan sangat setianya, hingga ke kemah terakhir di Karbala, mengantar Husen menuju kesyahidan. Banon bersama putra kesayangannya Ali Zainal Abidin yang masih sangat belia, menyaksikan sendiri tragedy yang jadi sejarah hitam umat Islam, karena darah titisan Rasul saw tumpah di bumi Kufah oleh tangan orang yang mengatasnamakan dirinya khalifah kaum muslimin. Peristiwa Karbala ini, di Aceh diperingati dengan khanduri Asyura secara turun temurun. Adakalanya diiringi dengan membaca hikayat Hasan Husen, dan para wanita Aceh mempersiapkan penganan sebagai khanduri keu pangulee. Acapkali pula, para pendengar hikayat ini mencucurkan airmata tatkala cerita sampai kepada pembantaian anak cucu Rasulullah saw itu.

Rafli, penyanyi Aceh kontemporer mendendangkan peristiwa itu dengan lirik:

//”Lheuh syahid Hasan ji prang lom Husen/ Ji neuk poh bandum cuco Sayyidina/ Dum na pasukan bandum di yue tron/ Lengkap ban ban dum alat senjata”// ( Dah syahid Hasan, Husen pun digempur/ Nak dihabisi cucu Sayyidina (Rasulullah)/ Seluruh pasukan disuruh turun/ Lengkap semua dengan senjata.)

Semangat mencintai ahlul bait, keluarga Rasulullah saw itu muncul pula di Aceh dalam bentuk tari tarian. Di antaranya yang terkenal adalah Saman Aceh. Ragam gerak, lirik lagu dan ratoh dipenuhi symbol symbol Karbala . “Tumbok Tumbok Droe”(memukul mukul dada sendiri) dilakukan oleh para pemain Saman Aceh (juga dalam seudati) sebagai symbol penyesalan Karbala . Seluruh gerak tari Saman itu diilhami oleh kepedihan, penyesalan, dan ratap tangis atas syahidnya Sayyidina Husen, yang terperangkap oleh tipu daya penduduk Kufah yang mendukung Yazid bin Muawiyah.

Di Iran, dan beberapa kawasan sekitar benua Persia itu, amat lazim dijumpai perempuan dan laki laki memukul mukul dada hingga ada yang berdarah untuk mengenang peristiwa Karbala di hari Asyura, setiap tahunnya. Dalam naskah hikayat Muhammad Nafiah, yang mengisahkan peran adik laki laki Hasen bin Ali dari lain ibu, yasng menuntut bela atas syahidnya Husen di Karbala, jelas sekali dilukiskan bagaimana pengikut Yazid “dikafirkan” oleh sang penulis hikayat itu. Tatkala Muhammad Nafiah ingin mengeksekusi mati seorang lagi perempuan hamil yang masih hidup, sementara yang lain sudah dibunuh semua, maka turunlah suara dari manyang (langit).

//”Sep ka wahe Muhammad Nafiah, bek le tapoh kaphe ulu/ Bah tinggai keu bijeh, agar uroe dudoe mangat na asoe neuraka”// ( “Cukup sudah wahai Muhammad Nafiah, jangan lagi dibunuh kafir hamil itu/ agar dia beranak pinak lagi untuk isi nereka kelak”)

Karensa Muhammad Nafiah ingin mengabaikan perintah penghentian pembantaian itu, maka tiba tiba dia dan kudanya diperangkap oleh kekuatan sghaib. Lalu terkurunglah dia bersama kudanya dalam sebuahgua batu. //Muhammad Nafiah lam guha bate/ Sinan meu teuentee dua ngen guda// (Muhammad Nafiah dalam gua batu/ Terkurung disitu bersama kudanya).

Dalam bagian lain, dikisahkan bahwa pada suatu hari, ketika Muhammad Nafiah masih kecil, Ali bin Abi Thaleb membawa pulang ke Madinah anak laki lakinya itu dan duduk-duduk bercengkerama bersama Rasul dan dua kakaknya lain ibu, Hasan dan Husen. Rasulullah saw mendudukkan Hasan dan Husen di pangkuan sebelah kiri, sementara Muhammad Nafiah duduk di atas paha kanan Rasulullah. Tatkala Fatimah, ibunnya Hasan dan Husen melintas, dia bermasam muka karena melihat justru putra Ali yang bukan berasal dari rahim Fatimah mendapat tempat di sebelah kanan Rasulullah, sementara putra-putranya, Hasan dan Husen duduk di paha kiri Rasul.

Rasul memandang wajah masam Fatimah az-Zahra, putri kesayangannya itu. Lalu Rasul memanggil Fatimah, dan bersabda:

“Wahai anakku, janganlah bermasam muka. Yang ini, sambil menunjuk Hasan dan Husen, akan menemui ajal kelak ketika kita sudah tiada, karena dibunuh orang. Yang inilah, sambil menunjuk Muhammad Nafiah, yang akan menuntut bela atas kematian kedua mereka ini, maksudnya Hasan dan Husen. Jibrail telah menyampaikann hal itu kepadaku wahai Fatimah”

Mendengar ucapan Rasul waktu itu, barulah wajah Fatimah kembali berseri seperti sediakala. Ada pesan Jibrail kepada Rasulullah atas peristiwa yang bakal terjadi atas anak cucunya setelah Rasul dan Fatimah tiada kelak. Begitu mulianya kedudukan Muhammad Nafiah, putra Ali dari isteri lain, (mungkin hasil perkawinan mut‘ah dalam peperangan yang lama).

Hikayat itu telah menjadi bacaan sehari-hari kaum muslimin di Aceh. Dalam benak orang Aceh, kafir perempuan yang hamil tua itu, meskipun dia adalah pemeluk agama Islam, namun dipandang sebagai kafir karena dia pengikut Yazid bin Muawiyah. Dan inilah cikal bakal kafir sekarang ini yang akan menjadi pengisi neraka kelak. Wallahu ’aklamu bis-shawab!

Jika dibandingkan dengan cerita tentang kehebatan Amerika dalam film-film perang mereka dengan Vietnam umpamanya, muncul kesan publik bahwa Amerik-lah yang paling jagoan, meskipun semua orang tahu pada akhirnya dia harus angkat kaki dari negara bekas jajahan Perancis itu, meskipun orang Vietnam melawan dengan bambu runcing. Tak ada catatan sejarah yang akurat tentang Muhammad Nafiah yang menghabiskan seluruh pasukan Yazid di Kufah, namun hikayat itu justru mengisahkan yang tinggal hanya seorang “kaphe ulu” (maaf: hamil) yang anak turunannya menjadi cikal bakal penghuni neraka kelak.

Saya bisa memahami bagaimana kepedihan kaum muslimin katika Husen syahid, dan perasaan itu dihibur dengan pembelaan yang gemilang oleh cerita kemenangan Muhammad Nafiah bin Sayyidina Ali, setelah Husen dan pengikutnya syahid di Karbala. Ini juga menjadi bukti terhadap apa yang diriwayatkan, tentang cerita Fatimah bermasam muka, karena Hasan Husen diletakkah di atas paha kiri Rasulullah, ketika mereka masih kecil dulu dan Muhammad Nafiah justru di paha kanan Rasul.

Dalam tradisi Aceh, hikayat berbentuk hiburan yang selalu mengandung pesan, nasihat, sumber pengetahuan, sejarah serta agama. Hikayat Hasan Husen, Nubuwat Nabi, Fatimah Wafat, Muhammad Nafiah dan lain-lain merupakann bacaan rakyat yang utama disamping hikayat-hikayat lain seperti Putroe Gumbak Meuh, Peurakoison, Nun Farisi, Indra Budiman, Indra Bangsawan, Baya Siribee dan lain-lain. Kala itu memang belum ada novel Lasjkar Pelangi, atau Sang Pemimpi, atau Ayat-ayat Cinta dan sebagainya. Sinetron pun belum dikenal oleh masyarakat Aceh lama. Maka cerita dalam hikayatlah yang menjadi referensi perilaku, sumber nasehat, dan pengetahunan sejarah bagi masyarakat luas.

Di kawasan pantai barat Aceh, termasuk utamanya Aceh Selatan, berkembang kesenian tradisional “Pho” Tari pho dimainkan oleh sejumlah anak anak gadis remaja, dengan mendendangkan syair penuh nuansa sendu, seumpama orang meratapi kematian. Dalam format khusus, gadis remaja menyusun format berkeliling melingkar, dan meratapi sesuatu, bagaikan meratapi kematian. Ingatlah bagaimana masyarakat Aceh memperingati “Asyura” dengan nyanyian dan hikayat Hasan Husen, semua dilantunkan dalam irama pilu penuh duka lara.

Di komunitas lain di Pidie, agak menarik disimak rentetan nama-nama anggota keluarga Sayed (Habib). Sebut saja berawal dari Nama Sayed Idris alias Teungku Syik di Keude, memiliki tiga anak laki laki dan dua anak perempuan. Yang laki laki bernama Sayed Hasyem, Sayed Husen, Sayed Abidin (Zainal Abidin), sementara anak perempuannya bernama Cutwan Dhien dan Cutwan Samalanga (nama aslinya tidak dikenal lagi). Sayed Husen berputrakan Sayed Abubakar, Sayed Puteh, dan Sayed Bunthok, sementara yang perempuan bernama Cutwan Syarifah, Cutwan Manyak dan Cutwan Fatimah.

Sayed Zainal Abidin mempunyai seorang putri tunggal bernama Ummi Kalsum (Cutwan Kasum) Dari perkawinannya dengan saudara sepupu, Sayed Abubakar, Cutwan Kasum memiliki saeorang putri tunggal diberi nama Cutwan Fatimah, yang menikah dengan Sayed Ali bin Sayed Abdullah Bambi. Sayed Abdullah Bambi menikah dengan Cutwan Khadijah binti Habib Husen Az-Zahir. Sementara kakak Cutwan Khadijah bernama Habib Hasan dan Habib Ahmad Sabil. Khadijah sendiri berputrakan selain Sayed Ali adalah Sayed Muihammad, dan Aja Rohani.

Sementara Habib Hasyem alias Habib Peureumbeue, mempunyai beberapa orang putra, antara lain Sayed Ahmad (Pak Mukim) Sayed Abdullah, dan yang perempuan bernama Cutwan Khadijah pula. Cutwan Khadijah menikah dengan Habib Ahmad Mon Keulayu, dan berputrakan antara lain Sayed Hasan, Sayed Husen, Sayed Aabdurrahman, Sayed Alwi, Sayed Ali dan Sayed Jamaluddin. Simaklah putaran nama-nama itu, semuanya berkisar sekitar nama keluarga Rasulullah, mulai dari Hasyem, Abdullah, Khadijah, Ahmad (Muhammad) Ali, Fatimah, Hasan, Husen, Umi Kalsum, Zainal Abidin, Abubakar, dan seterusnya. Sementara masyarakat umum yang bukan keturunan Sayed, selalu memberikan nama anak-anak mereka dengan nama-nama Abbas, Hamzah, Aminah, Thaleb, Zainab, Rukaiyah, disamping nama-nama seperti yang saya sebutkan itu.

Apakah fenomena ini dapat dijadikan indikasi bahwa para pemilik nama-nama itu merupakah pengikut Syiah Aceh? Apakah nama-nama demikian karena menasabkan diri pada keturunan Rasulullah? Atau telah terjadi pertalian dua kepentingan, petama menasabkan diri pada darah nabi, dan kedua melestarikan nama-nama yang dikenal sebagai nama ahlul bait yang utama? Tentu hal ini memerlukan penelitian lebih lanjut.

Simak pula, kisah yang selalu dilantunkan pada bulan Muharram (bulan dimana syahidnya Sayyidina Husen di Karbala):

//”Bak siploh uroe buleueun Muharram/ Kesudahan Husen Jamaloe (Jamalul/ Peu na mudah ta khanduri / Po Tallah bri pahla dudoe”// ( “Sepuluh hari bulan Muharram/ Kesudahan Husen Jamalul/ Jika ada kemudahan agar ber khanduri/ Allah memberi pahla nantinya”)

Bagaimanan jika disimak praktek ritual ibadah wajib seperti shalat lima waktu, puasa, zakat dan haji? Orang Aceh semuanya mengikuti praktek ibadah kaum Sunni, sebagaimana lazimnya kaum muslimin di tempat-tempat lain di Indonesia. Namun bacaan shalawat kepada Nabi dan keluarganya, selalu diucapkan dengan menambahkan kata Sayyidina di depan nama Muhammad, dan Ibrahim. “Allahumma shalli ala Sayyidina Muhammad, wa ’ala ali Sayyidina Muhammad, kama shallaita ala Sayyidina Ibrahim, wa ala ali Sayyina Ibrahim, dan seterusnya”. Hal ini amat ditentang oleh pengikut Wahabi yang sangat anti terhadap praktek ibadah seperti memuja nama Rasul itu dengan meletakkan nama Sayyidina di depan nama-nama mereka.

Saya hampir sampai pada kesimpulan bahwa orang Aceh itu pencinta Ahlul Bait yang sangat setia, kalaupun mereka tidak pernah mengaku sebagai pengukut syi‘ah. Bukankah pada masa tertentu dalam sejarah Islam, kaum syi‘ah meperkenalkan istilah taqiyah (bersembunyi) dan dari itu lahirlah ungkapan, bahwa orang yang mengaku dirinya syi‘ah bukanlah syi‘ah lagi”

Simaklah sebuah cerita lucu tapi mengharukan, yang berlaku dalam satu keluarga miskin dan buta huruf di sebuah desa di Aceh pada tahun 1950-an. Tersebutlah nama Waki Saad Gapui, yang menikah dengan perempuan desa buta huruf, Maimunah namanya. Mereka berputrakan beberapa orang dan semua laki-laki. Saad adalah penggemar hikayat Hasan Husen, seperti juga penduduk kampung lainnya. Maka dalam hikayat itu dikisahkan begini:

“Hasan dan Husen cuco di Nabi/ Aneuek tuan Siti Fatimah Dora/ Tuan teu Husen Syahid dalam Prang / Tuan teu Hasan syahid ji tuba/ Syahid di Husen ka keunong beusoe/ Di Hasan sidroe keunong bencana (racun)/ Tuan teu Husen syahid dalam Prang/ Tuan teu Hasan di rumoh tangga”//

Terkesima dengan keagungan nama yang disebut dalam bait hikayat itu, Saad sepakat memberikan nama-nama anaknya seperti nama-nama cucunda Nabi. Yang tertua diberi nama Hasan (Keuchik Hasan) yang kedua diberi nama Dan (Apa Dan) dan yang ketiga diberi nama Husen (meninggal waktu kecil). Maka kalau dibaca dalam satu nafas menjadi Hasan Dan Husen dilanjutkan dengan Cuco di Nabi. Padahal kata sambung itu bukan nama orang. Saad tidak peduli, dan nama anak keduanya tetap saja DAN, meskipun ketika dewasa nama itu menjadi Mad Dan, karena kesulitan menulis nama dalam KTP. Lalu adik-adiknya diberi nama Sulaiman (nama Nabi), Ibrahim (nama Nabi), Zainal Abidin (nama putra Husen) dan Abdul Hamid. Apa yang terjadi dalam kehidupan kejiwaan Saad? Meskipun buta huruf dan petani biasa, Saad merasa sangat dekat dengan kehidupan Rasulullah, sehingga kumandang nama Ahlul Bait selalu terdengar dalam keluarga mereka. Saya merasa yakin, seandainya Saad memiliki anak perempuan, pasti akan diberi nama Khadijah, Fatimah atau Aminah!

Pertanyaannya kini adalah, apakah, sekali lagi, hal ini dapat dijadikan indikator bahwa orang Aceh baik keturunan Sayyed, atau orang biasa dapat disebut pengukut Syi‘ah? Atau dengan sebutan lain, apakah mereka ini bisa dipanggil dengan sebutan Syi‘ah Aceh? Saya sendiri cenderung berfikir demikian. Namun agar praduga ini cukup memiliki hujjah yang kuat, perlu dilakukan penelitian yang lebih dalam tentang fenomena yang saya uraikan dalam tulisan ini. Ini perlu dilakukan untuk memastikan bahwa Islam yang mula-mula masuk ke Aceh justru berasal dari para Ahlul Bait yang hijrah karena tekanan politik dinasti Ummayah (turunan Muawiyah bin Abu Sofyan) terhadap keturunan Sayyidina Ali yang belakangan dikenal dengan kaum Alawiyin, pengikut Ali yang sepupu dan menantu Rasulullah.

Ingatlah pula bahwa pada saat haji wadak, Rasul pernah berkata di hadapan jama‘ah yang bergerak kembali ke Madinah setelah selesai berhaji. Rasul sawa sambil mengangkat tangan Ali, Rasul bersabda, “Wahai saudaraku kaum muslimin, aku dengan dia (sambil menunjuk Ali) bagaikan Musa dengan Harun, jika sesudah ku masih ada nabi, maka dialah orangnya. Namun karena tak ada nabi sesudahku, maka dialah penerusku. Kau saksikankah ucapanku ini wahai sekalian manusia?” kata Rasul dibukit Ghadir Khum itu. Maka dari turunan Sayyidina Ali itulah, kaum Alawiyin membangsakan diri. Wallahu a‘lamu bis-shawab.

[Ditulis oleh Oleh: Dr. Hasballah M Saad, pemerhati sejarah dan kebudayaan, pegiatan Aceh Cultur Institut (ACI)]

{ 0 comments }

Tragedi Fort Hood Bawa Harapan Baru Bagi Muslim

by konspirasi on November 17, 2009

Umat Muslim berkumpul dan berbagi makanan di Pusat Komunitas Muslim Silver Spring, dimana Mayor Nidal Hassan biasa berkumpul.

Umat Muslim berkumpul dan berbagi makanan di Pusat Komunitas Muslim Silver Spring, dimana Mayor Nidal Hassan biasa berkumpul. (SuaraMedia News)FREMONT  (SuaraMedia News) – Meskipun kekhawatiran bahwa penembakan Fort Hood akan menyebabkan reaksi yang baru terhadap Muslim AS, optimisme terlihat pada pertemuan di hari Minggu oleh ratusan anggota Dewan Hubungan Islam-Amerika (CAIR) Bay Area.

“Ada harapan baru untuk Muslim AS,” kata tuan rumah dan dokter gigi Fremont Mohammad Rajabally, yang mengatakan sikap terhadap umat Islam telah membaik, tetapi bisa jatuh kembali ke dalam kesalahpahaman dan kebencian tanpa advokasi yang gigih.

Pesta penggalangan dana untuk cabang Bay Area kelompok hak-hak sipil Muslim terbesar di  negara tersebut menggunakan nama ceria, “A New Era of Hope”, tapi mengikuti litani berita buruk secara lokal dan nasional.


“Saya tahu bahwa umat Islam telah berkata setelah Fort Hood, sebagian dari mereka mengatakan mereka merasakan hal yang sama seperti yang mereka rasakan setelah 9 / 11,” kata Zahra Billo, seorang direktur penjangkauan CAIR Bay Area.

Psikiater tentara AS, Mayor Nidal Hasan telah dituduh dengan 13 pembunuhan berencana sehubungan dengan tragedi pada  5 November di pangkalan militer Texas. Hasan telah berusaha untuk meninggalkan militer dan telah mengeluhkan diskriminasi anti-Muslim, menurut laporan media, dan beberapa takut serangan dan pertanyaan tentang motivasi keagamaan Hasan mendorong kemarahan yang tidak berdasar kepada kelompok minoritas.

Namun, Billo berkata ketakutan awal mengenai reaksi kecaman belum terjadi. Itu merupakan perbaikan, katanya. Pada waktu 9 / 11, ketika Billo adalah seorang mahasiswa dan mengingat merasakan keprihatinan mendalam mengenai bagaimana dia dan kaum muslimin lainnya rasakan.

“Saya tidak merasakan hal yang sama,” kata Billo bereaksi atas penembakan tersebut. “Ya, kami mendapat panggilan kebencian, tapi kita juga mendapatkan dukungan.”

CAIR Bay Area mengatakan sekitar 200 menjawab panggilan hak-hak sipil dalam setahun terakhir, sedikit lebih dari separuh dari mereka adalah berasal dari umat Islam yang menghadapi semacam kesulitan dengan badan pemerintah, biasanya tentang pertanyaan kewarganegaraan atau imigrasi.

Tiga dari puluhan panggilan yang terkait dengan pemerintah berasal dari Musmorthood_1lim yang menghadapi pertanyaan dari FBI, kata kelompok tersebut. Sebagian besar kasus lain tentang diskriminasi di tempat kerja, sekolah dan tempat lain.

Beberapa kasus-kasus itu memiliki profil tinggi, seperti pemukulan pada bulan Agustus terhadap seorang sopir taksi di Pleasanton. Polisi mengatakan para penyerang mengira pengemudi Sikh itu seorang  Muslim, dan melabeli dia “Taliban” sebelum mereka memukulinya, mematahkan gigi dan menyebabkan luka-luka lainnya yang membutuhkan jahitan. CAIR menyerukan serangan tersebut harus diperlakukan sebagai kejahatan rasial.

Walaupun difitnah oleh lawan-lawan sengit sebagai kelompok teroris ataupun simpatisan, CAIR memiliki reputasi dalam arus utama di Bay Area, sebagaimana dibuktikan oleh selusin walikota dan anggota dewan kota dari East Bay dan Silicon Valley yang bergabung dalam jamuan makan malam di Marriott Fremont.  

Anggota  lokal berkata organisasi tersebut menghadapi tantangan yang lebih sulit di penjuru negara. Empat anggota Kongres Partai Republik menuntut penyelidikan dari magangnya kelompok tersebut di Capitol Hill bulan lalu, dengan alasan itu akan memberi mereka kemampuan untuk menyusup ke dalam komite keamanan tinggi.

Grup juga telah sibuk menanggapi berita minggu lalu bahwa agen-agen federal berniat untuk merebut Masjid County Sacramento yang dimiliki dan disewa oleh sebuah yayasan terkait dengan pemerintah Iran. Kebingungan tentang penyelidikan tersebut telah menyebabkan tindakan rasisme terhadap anggota Masjid, kata direktur CAIR.

Banyak dari contoh-contoh itu yang menjadi perhatian salah satu peserta perjamuan, Sajid Khan, tetapi pengacara San Jose mengatakan dia juga yakin bahwa bertahun-tahun advokasi dan pendidikan telah membuat perbedaan. Lahir dan dibesarkan di Bay Area oleh orangtua yang pindah dari India pada 1960-an, ia berkata ia belum pernah menghadapi diskriminasi karena ia adalah Muslim.  

“Saya cenderung untuk melihat sisi positif negeri ini,” kata Khan. “Yang negatif tidak terjadi tapi saya pikir itu hanyalah efek samping, bukan norma.” (iw/ct) www.suaramedia.com

{ 0 comments }

</