Posts tagged as:

Indonesia

Balada Imam Tak Bersalah Di Sarang Napi

by konspirasi on January 21, 2010





KAIRO (SuaraMediaNews) – Imam Ghulam Ilahi Baksh (52 tahun) bingung ketika ia ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Setelah melewati sebuah proses pengadilan yang cukup cepat pada minggu lalu, ia akhirnya dinyatakan tidak bersalah dan ia melenggang dari pengadilan sebagai orang bebas. Meski dipenjara bukanlah pengalaman yang menyenangkan, toh Baksh berhasil mendapat hikmah dari pengalaman menyebalkan tersebut. Ia pun berbagi cerita kepada Indian Express pada hari Selasa (19 Januari 2010).

“Saya masih tidak mengerti mengapa saya ditangkap,” kata Baksh kepada Indian Express. Baksh adalah seorang imam dari Mumbai Selatan. Pada 13 Januari 2006, sebuah satuan antiteroris  tiba-tiba mengepung rumah Baksh. Baksh pun diringkus dengan tuduhan menyembunyikan teroris dan membiayai aktivitas terorisme. Baksh dipaksa menandatangani berkas sebelum ia diringkus dan dijebloskan ke dalam penjara Arthur Road. Ia tak memperoleh penjelasan sedikit pun tentang kejahatan yang dituduhkan padanya.






Di kemudian hari, Baksh mengetahui bahwa ia terlempar ke penjara akibat percakapan lewat telepon yang ia lakukan dengan orang-orang yang diduga sebagai anggota  Lashkar-e-Taiba.  Lashkar-e-Taiba adalah sebuah kelompok Muslim yang menentang pemerintahan India di Kashmir. Kashmir sendiri merupakan sebuah daerah  di kawasan Himalaya yang terbagi menjadi dua antara Pakistan dan India. Mayoritas penduduk Kashmir adalah Muslim. PBB dan Pakistan mendukung opsi penentuan nasib sendiri bagi penduduk Kashmir, sementara India menentang opsi tersebut.



Selama empat tahun, Baksh susah-payah berusaha membuktikan bahwa ia tidak bersalah. Perjuangannya berbuah manis. Dalam pengadilan yang berlangsung pada hari Minggu (17 Januari 2010), ia diputus bebas. “Tak ada bukti yang menunjukkan bahwa ia adalah anggota dari organisasi apa pun,” kata hakim.



“Maulana, tak ada saksi atas Anda. Anda dibebaskan karena kurangnya bukti,” kata hakim pada Baksh. Baksh tak kuasa menahan air mata. Ia  pun menghaturkan syukur kepada Allah di koridor pengadilan yang dijaga oleh sejumlah petugas kepolisian.



Terdapat sekitar 140 juta Muslim di India yang dihuni oleh mayoritas penduduk Hindu. India merupakan negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia setelah Indonesia dan Pakistan. Banyak orang yang mengeluh bahwa Muslim di India ditangkapi, diperlakukan tidak tidak semestinya, dan disiksa agar mengaku bahwa mereka melakukan kejahatan “teror” atau terlibat dengan aktivitas Kashmir.



Baksh masih ingat bagaimana ia ditempatkan dalam sebuah sel pengasingan di penjara. “Bayangkan sebuah barak dimana Anda tinggal seorang diri tanpa ditemani seorang pun selama berbulan-bulan,” kata Baksh. “Saya sangat ingin ditemani.” Bagi Baksh, tak ada hukuman yang lebih menyiksa daripada kesendirian.



Setelah menyerahkan beberapa permohonan, Baksh akhirnya dipindah ke sel lain yang dihuni oleh banyak narapidana pelaku pembunuhan. Baksh, yang telah menjadi imam selama 24 tahun, akhirnya menemukan ide untuk melakukan sebuah aktivitas seraya menunggu datangnya keadilan: ia mengajarkan toleransi antara Muslim dan pemeluk Hindu.



“Ada pemeluk Hindu, Muslim, dan Kristen di barak. Ada beberapa masalah ketika saat sembahyang bagi umat Hindu dan saat namaz (saat sholat bagi Muslim) jatuh pada waktu yang sama. Baksh berusaha menciptakan sebuah skema yang mengatur pembagian waktu berdoa bagi masing-masing kelompok. “Ketika Saya meminta saudara Hindu saya untuk bersembahyang sebelum atau sesudah waktu sholat, mereka setuju. Semua berjalan mulus setelah itu.”



Baksh mengatakan bahwa ia melakukan hal yang berguna. Merengkuh sesama telah membantunya menghadapi saat-saat tersulit dalam hidupnya. “Saya senang menjadi imam, meskipun di dalam penjara.” (es/iol). www.suaramedia.com


{ 0 comments }

“Jalan tengah” Antara Genit dan Sengit

by konspirasi on January 6, 2010

Beberapa tahun lalu ia adalah santri di sebuah pesantren tradisional di daerah pesisir di Jawa Timur. Dalam bangunan sederhana di tengah desa yang tidak terlalu subur itu ia tidur di sebuah bangunan sangat sederhana bahkan kurang higienis, menurut standar pola hidup moderen. Ia dengan tekun mengikuti pelajaran-pelajaran yang diberikan oleh sang guru yang mengajarkan sistem ‘muratan’, yaitu studi naskah kitab kuning yang diberi arti dalam bahasa Jawa, mulai dari level dasar dalam bidang gramatika, seperti alfiyah, balaghah dan fikih. Ia juga sangat kalem, bahkan nyaris ‘feminin’. Ia betah lama menimba ilmu agama berkat prinsip thuluz-zaman dan mengabdikan dirinya dalam melayani dan mengormati gurunya, bahkan di luar urusan belajar dengan harapan suatu saat akan menjadi kyai terpandang di kampungnya.

Kini keadaan benar-benar berbalik. Setelah mengikuti ujian persamaan dan menenteng ijazah SMA berkat modernisasi yang tak terbendung, ia seakan mngubur semua masa lalunya yang tradisional. Lebih dari itu, setelah berpindah ke ibukota dan menjadi mahasiswa, ia sibuk menenteng buku-buku karya pemikir Barat mulai dari Marx sampai Horkheimer, menghdiri seminar yang dihadiri oleh para narasumber asing, dan aktif dalam kelompok studi yang gemar mendiskusikan wacana-wacana modern, seperti pluralisme, lokasime Islam, feminisme dan segala pemikiran Islam yang anti-tradisonal dan kritis. Setelah menguasai bahasa Inggris dan mampu menulis artikel-artikel yang berisikan apresiasi terhadap pemikiran Barat tentang Islam, ia pun mendapatkan beasiswa studi di Barat dari lembaga-lembaga donor yang sangat berpengaruh. Sepulang dari negeri bule, ia langsung didaulat untuk menjadi pengamat politik dan pakar keislaman. Lembaga-lembaga mentereng langsung melamarnya. Lembaga-lembaga studi menjadi terminalnya. Media-media massa menampung pandangan-pandangannya. Ia sudah bisa dianggap ‘mantan santri’. Ia lebih senang bila masa lalunya tidak diingat-ingat. Ia adalah pemegang gelar PhD dari sebuah universitas ternama di Amerika yang sudah menghabiskan banyak paspor karena menghadiri undangan seminar tentang Islam di Austalia, Eropa dan Amerika.

Inilah contoh sebuah generasi Muslim yang jumlahnya sangat banyak. Mereka tersebar di sebagian besar perguruan tinggi Islam negeri maupun swasta di Indonesia. Sebagian dari mereka mendapatkan scholarship di universitas-universitas ternama di Eropa, Amerika dan Kanada dan mengambil studi bidang politik berkat rekomendasi sejumlah LSM dan lembaga yang sangat concern terhadap isu-isu Islam kontemporer. Sebagian melanjutkan ke UIN Syarif Hidayatullah, IAIN Jogjakarta dan Surabaya sambil aktif menulis artikel di sejumlah suratkabar lokal. Umumnya mereka aktif dalam LSM dan lembaga-lambaga yang giat mengadakan workshop dan seminar tentang modernitas, pluralisme dan semacamnya. Sebagian besar dari mereka adalah PNS yang sibuk mengumpulkan KUM agar karir kedosenannya terus menanjak. Kebanyakan mereka adalah anak-anak muda yang cukup cerdas, terbuka, komunikatif, apresiatif terhadap pandangan di luar main stream dan ramah, meski tidak terlalu relijius (menurut standar normatif).

Beberapa tahun lalu ia hanyalah anak dalam keluarga yang tidak relijius bahkan cenderung ‘kejawen’ di kawasan yang disebut mataraman. Ayahnya yang pernah menjadi menjadi simpatisan PKI, meski tidak sempat di-pulau buruh-kan, tidak pernah mengajarinya ngaji al-Quran. Di rumahnya juga tidak ada kaligrafi-kaligrafi ayat al-Quran. Shalat dan kegiatan keagamaan tidak pernah menjadi sesuatu yang sangat diwajibkan pada masa kanak dan remajanya. Gaya hidupnya jauh dari relijiusitas. Ia bahkan sempat pacaran dan tidak jejaka lagi.

Setelah lulus SMA, ia dinyatakan lulus seleksi UMPTN dan menjadi mahasiswa fakultas teknik di sebuah perguruan tinggi tekenal di sebuah kota besar. Ia mengikuti opspek dan ditatar oleh sekelompok mahasiswa senior yang memiliki kemampuan mengubah orientasi keagamaan maba (mahasiswa baru) ini. Usai mengikuti opspek, ia ‘dibina’ dan terus ‘digarap’ dan dimasukkan dalam kelompok mahasiswa Islam yang cenderung tekstual. Sejak saat itu ia mulai tahu pentingnya shalat dan menjalani Islam sebagai sistem hidup. Kini ia mulai belajar mengaji, bahkan menganggap belajar bahasa Arab sebagai sebuah ketataan. Ia mulai merawat jenggot dan melipat bagian bawah celana sambil membawa al-Qur’an terjemah yang telah diberi tanda-tanda pada halaman-halaman tertentu karena memuat ayat-ayat ‘tegas’ soal jihad, penegakan ‘hukum Allah’, dan amar makruf dan nahi mungkar. Buku-buku favoritnya adalah karya-karya tokoh-tokoh Islam fundamentalis, seperti Hasan al-Banna danb Sa’id Hawwa, juga kitab-klitab fikih ‘kaku’ karya Muhammad bin Abdul-Wahab dan Abdul-Aziz bin Baz. Ia cukup cerdas sehingga diberi beasiswa oleh negara untuk melanjutkan studi S2 dan S3 di Jerman. Di negeri Hitler itu ia tetap bersemangat dengan brotherhood¬nya dengan aktif dalam jaringan ‘Islam literal’ dan seiring dengan intensitas komitmennya, ia pun menjadi tokoh penting dalam hirarki kelompoknya. Sepulang dari negeri itu, ia makin fundamentalis dan makin membenci Barat. Ia kini menjadi salah satu pakar dalam sebuah departemen dan dosen di almamaternya. Pakar metalorgi ini juga aktif dalam penggalangan politik yang menuntut dikembalikannya khilafah ala Otoman di Indonesia, bahkan seluruh dunia. Ia tidak gemar berwacana atau berdiskusi apalagi ngobrol di café.

Inilah contoh dari tipe kedua generasi muda Muslim di Indonesia yang jumlahnya makin banyak. Sebagian dari mereka mulai berpikir realistis dengan memperjuangkan visi keislamannya dalam sebuah organisasi politik formal. Sebagian lain memperjuangkan idealism melalui organisasi non partai yang menuntut pendirian khilafah di Tanah Air dan seluruh dunia. Ada pula yang aktif dalam organisasi non formal, karena menganggap sistem Negara tidak Islami karena tidak menjalakan hukum Allah, dan karenanya pendirian orpol maupun ormas sama dengan mengakui sistem yang tidak Islami.

Hadirnya kelompok yang dikenal dengan penganut Islam liberal dan semaraknya kelompok Islam literal tidak bisa sepenuhnya dipandang sebagai sebuah fenomena khas Indonesia. Tidaklah berlebihan bila kedua model itu dikaitkan dengan dengan kepentingan hegemoni Barat untuk mengikis miltansi di dunia Islam.

Di tengah polarisasi dua kelompok dan kecenderungan itu, ada sebuah kelompok kritis yang menggabungkan rasionalitas dan teks. Mereka bukan jadi-jadian. Kelompok ini memiliki akar sejarah yang berpendar dalam filsafat, Kelompok ini muncul sebagai respon atas keberhasilan Imam Khomaini menumbangkan rezim monarki 2000 tahun Pahlevi dan makin kuat setelah kemunculan Mahmoud Ahmadinejad sebagai David di tengah angkara Goliath dunia tak pelak telah melambungkan popularitas mazhab Syiah dan diperlakukan sebagai jalan tengah yang membelah jalan Islam liberal dan Islam lieral. Syiah mulai dilirik sebagai Islam alternatif (Islat).

Seperti dilaporkan Sayed Hosein Nasr, filsafat Islam memiliki kehidupan yang lebih panjang di bagian Timur ketimbang di bagian Barat dunia Islam. Iran tidak hanya memiliki tanah subur yang menyebabkan filsafatnya mampu bertahan hidup sampai sekarang, tetapi juga secara definitif menjadi arena utama aktivitas dalam filsafat Islam. Sekurang-kurangnya, ada dua faktor pendukung berkembangnya pemikiran filsafat di Iran. Pertama, faktor kultural-historis. Kedua, tradisi keagamaan Syi’ah.

Dalam sejarahnya, Iran dikenal sebagai ladang tempat lahirnya filosof, sufi, saintis, dan penyair terkenal. Iran dapat dipandang sebagai tempat yang merepresentasikan kontinuitas perkembangan pemikiran keagamaan, khususnya filsafat selama fase akhir sejarah Islam. Karena itu tidaklah salah bila bertahannya filsafat di Iran dikaitkan dengan latarbelakang kultural yang lekat dengan rasionalitas dan mistisisme Zoroastranisme. Bahkan sebagain gagasan filsafat Mulla Shadra diduga terpengaruhi oleh para filosof era Pahlavi kuno.

Satu kenyataan penting sekaitan dengan perjalanan filsafat dalam sejarah Islam adalah turut andilnya masalah kemazhaban tradisional Islam dalam proses perkembangan pemikiran filsafat. Tanpa perlu menunjuk siapa filosof bermazhab Islam apa, yang jelas, Iran adalah salah satu situs peradaban yang besar (ed.), Routledge’s Encyclopedia of Islamic Philosophy, (rearranged into Islamic version by Dr. Mulyadhi Kartanegara), Routledge, London and New York; 1998. hal.10).

Menurut sejarah, penyerbuan Mongol telah menghancurkan dinasti Abbasiah dan membasmi komunitas Muslim di Spanyol. Bersamaan dengan itu, umat Islam pun tenggelam dalam tidur panjangnya. Abad keenam Masehi merupakan awal kebangkrutan umat Islam sunni. Abad ketujuh justru menjadi awal tumbuhnya imperium Islam di belahan Timur dan dunia Syi’ah.

Pada tahun 1499, berdirilah kerajaan Safawi yang bertahan sampai sekitar dua ratus tahun. Pada periode Safawi inilah berkembang berbagai aliran pemikiran dalam matrik mazhab Syi’ah. Salah satu pemikiran yang berkembang pesat adalah filsafat. Filsafat tetap diajarkan, bahkan menjadi sebuah tradisi yang hidup sepanjang zaman di sekolah-sekolah Syi’ah yang didirikan dinasti Safawi. Pada periode Safawi, tepatnya pada abad XIII sampai XVII, filsafat di Iran mencapai puncaknya. Dari hawzah-hawzah itulah, para tokoh filsafat Iran bermunculan. Bahkan, Iran menjadi pusat utama ilmu-ilmu intelektual, khususnya filsafat, bagi dunia Islam yang didatangi umat Islam dari seluruh penjuru dunia.

Perkembangan pemikiran pada zaman dinasti Safawi mempunyai karakteristik khas sebagai mazhab Isfahan. Mazhab ini menampung perkembangan pemikiran mazhab masya’i, isyraqi, ‘irfani, dan kalam.

Pada awal awal abad XIX sebelum periode Qajar, filsafat Molla Sadra dibangkitkan kembali secara penuh di Isfahan oleh Mulla Ismail Khajui dan Mulla Ali Nuri. Molla Ali Nuri terkenal sebagai komentator al-Asfar al-Arba’ah karya Molla Sadra, sekaligus mengajarkannya pada generasi setelahnya.

Selama periode Qajar, Tehran secara bertahap meningkat menjadi pusat studi filsafat Islam yang menghasilkan sejumlah gurubesar terkenal di akhir periode Qajar dan Pahlewi, seperti Mirza Mahdi Asytiyani, Sayyed Muhammad Kazim ‘Assar, Abu al-Hasan Jalweh, dan Tonekaboni.

Selama periode ini, atmosfir hawzah Irak (Najaf dan Karbala), yang semula merupakan pusat pendidikan Syi’ah di seluruh dunia, demikain pula hawzah di Iran (Qom dan Masyhad), kurang mendukung kemajuan pemikiran filsafat, karena kecenderungan pada ilmu-ilmu tekstual, seperti fiqh, yang masih sangat determinan. Bahkan tidak sedikit ulama dan marja’ (otoritas hukum) menunjukkan sikap negatif terhadap pengajaran filsafat. Namun keadaan perlahan-lahan berubah ketika muncul halaqah-halaqah pelajar filsafat, irfan, dan ilmu-ilmu rasional yang diasuh beberapa ulama yang dinilai sukses dalam ilmu-ilmu tekstual bahkan bergelar mujtahid.

Molla Husain-Qali yang mengadopsi metode itu mendidik murid-muridnya dengan filsafat Molla Sadra dan sayr suluk spiritual. Walaupun Mirza Hasan putra Akhund Molla Muhammad Ismail Wahidul-Ain Isfahani juga tinggal di Karbala untuk beberapa waktu, namun mayoritas pelajar filsafat di sana menimba ilmu dari Molla Husainquli Hamadani. Tepatnya, Molla Sabzewari memindahkan filsafat dari Sabzawar ke Najaf. Di antara murid tersohor Molla Husain-Quli Hamadani adalah: Sayyed Jamaluddin Asad-Abadi al-Afghani, Sayyed Abdul-Husain Lari, Sayyed Ahmad Karbala’i, Sayyed Sa’id al-Habubi, Agha Muhammad Baqir Istahbanati, Mehdi Ilahi Qomsyeh’i, dan Mirza Jalweh (seorang tokoh filsafat Iran yang hijrah ke Najaf guna menyempurnakan pengetahuannya tentang ilmu naqli).

Di Najaf, Mirza Jalweh memperkenalkan filsafat ketuhanan pada murid-muridnya, seperti Ayatullah Syaikh Muhammad Husain Gharawi Isfahani dan Syaikh Muhammad Ridha Yazdi. Agha Muhammad Baqir Isthahbanati terbunuh pada masa Masyrutiyyat pada tahun 1326 H, di Istahbanat.

Kepindahan Agha Sayyed Muhammad Husain Badkubey ke Najaf juga merupakan faktor lain tersebarnya filsafat di sana. Ia adalah murid Mirza Jalweh, Hakim Esykewari, dan Hakim Kermansyahi, yang mengembangkan filsafat di Najaf. Ia mengabadikan namanya dengan mendidik filosof ketuhanan besar seperti Allamah Sayyed Muhammad Husain Thabathaba’i. Syaikh Murtadha Taleqani, seorang filosof ketuhanan di Najaf yang hidup sezaman dengan Agha Muhammad Husain Badkubey, telah mendidik dan membawa guru besar Allamah Muhammad Taqi Ja’fari kepada dunia pemikiran.

Setelah Perang Dunia II, Iran tetap merupakan tempat subur bagi berkembangnya pemikiran filsafat Islam. Berawal pada tahun 1950-an (pasca Perang Dunia II), terjadi suatu ketertarikan kembali dalam filsafat Islam di Iran. Ini merupakan suatu kebangkitan kembali tradisi filsafat Islam yang belakangan mampu menjawab tantangan pemikiran Barat. Abul-Hasan Rafi’i Qazwini dam Qadhi Said Qummi adalah dua tokoh yang menjadi pelopor pengembangan filsafat pada masa itu.

Apresiasi modern terhadap al-Hikmah al-Muta’aliyah berkembang di kalangan akademisi, atau setidaknya kalangan yang tumbuh dalam pendidikan atau khasanah pemikiran modern. Para figur yang paling menonjol di kalangan ini adalah Henry Corbin, Sayyed Hossein Nasr, dan Mehdi Ha’ri Yazdi. Sementara apresiasi tradisional lebih bertahan di kalangan pesantren atau hawzah ilmiah, khususnya kalangan yang mengenyam pendidikan tradisional keagamaan di Qom.

Allamah Thabathabai dan Imam Khomeni disebut-sebut sebagai ‘yang paling bertanggungjawab’ menghidupkan filsafat di hawzah ilmiah Qom, yang sebelumnya didominasi oleh para ulama fikih’. Kedua tokoh ini telah mencetak puluhan bahkan ratusan ulama pemikir yang kelak memberikan kontribusi besar dalam memperkenalkan Syiah sebagai mazhab yang mampu mengharmoniskan bayan, burhan dan irfan. Muthahhari melalui karya-karyanya yang sangat luas telah menggoncang blantika pemikiran Islam terutama di dunia Islam yang sebelumnya hanya silau dengan pemikir-pemikir Sunni, seperti Sayed Quthb dan al-Maududi.

Kejutan masih berlanjut. Ternyata di hawzah Qom, telah terjadi pengayaan wacana Islam kontemporer melalui para ulama para murid Khomeini dan Thabathabai. Sejumlah nama bisa dicantumkan antara lain, Abdullah Jawadi Amuli, Hasan Zadeh Amuli, Muhammad Sadegi, Ja’far Subhani, Ali Gerami, Yahya Anshari Syirazi, dan yang paling gres adalah Muhammad Taqi Mishbah Yazdi. Mereka adalah para cohen dan penguasa stoa-stoa pemikiran di Qom.

Kini dengan tampilnya Iran sebagai kekuatan baru di dunia, terutama di Dunia Islam dan sambutan monumental rakyat Indonesia terhadap kedatangan Ahamdinejad ke Indonesia, hipotes ini semakin kuat. Kegigihan gerombolan wahabi dan tekstualis belakangan ini dalam memprovokasi pemerintah dan masyarakat Indonesia untuk mencurigai Syiah, sebagaimana dilakukan oleh majalah Sabili, makin memperbesar indikasi kekhawatiran makin meluasnya pengaruh pemikiran Syiah. Siapapun, terutama yang anti Syiah, akan bingung mendengar bahwa NU, Muhammadiyah dan Pemerintah menjadi tuan rumah Konferensi Pesratuan Sunni dan Syiah.

Diminatinya wacana Syiah dalam sentra-sentra pemikiran di Indonesia ini sungguh menggembirakan, setidaknya sebagai langkah awal umat Islam untuk memahami bahwa agamanya memiliki warisan kekayaan yang berlimpah; sistem filsafat, teologi, politik, ekonomi, budaya, sistem pemerintahan, yang semuanya terangkum dalam bangunan megah yang sudah terukir berabad-abad.

Mungkin produk-produk gagasan para pemikir Syiah dapat dijadikan sebagai jalan tengah demi menciptakan sebuah formulasi pemikiran Islam yang sesuai dengan heterogenitas bangsa Indonesia.

Di hadapan kita ada ruang kosong yang bisa diisi dengan “Islam Jalan Tengah” , tidak genit dan tidak pula sengit. Ia dapat berdiri tegak antara Islam liberal yang genit, funky dan ‘madani’ (civil) dan Islam literal yang angker dan ‘medeni’ (bahasa Jawa : menyeramkan)!

Tentu, tantangan dan hambatan akan terus menghadang. Namun dinamika waktu dan makin terbukanya akses informasi akan dapat mengatasinya. Bangsa Indonesia kini makin matang dan jenuh dengan penjejalan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok truth claim yang berusaha memasangkan kacamata kuda pada generasi muda yang kritis dan makin cerdas.

Berangkat dari kesadaran akan hal itu, perlu ada sebuah upaya serius untuk merintisnya. salah satunya dengan mendirikan center of excellent atau sebuah wadah pencerahan yang “kali ini” mesti dikolala secara profesional agar tidak mengalami nasib yang sama dengan lembaga-lembaga dakwah yang dikelola secara pertemanan… Mau?

{ 0 comments }

Tiga Momen Bersama Gus Dur

by konspirasi on January 1, 2010

Image

Ada tiga momen perjumpaan saya dengan Gus Dur yang masih sangat berkesan di hati saya. Ketiga momen itu terdiri dari momen yang menggembirakan, menakjubkan, dan memilukan. Catatan ini semoga selalu menghidupkan spirit Gus Dur di sanubari orang-orang yang mengenal dan sempat bersentuhan dengannya, dan mengenalkan Gus Dur kepada orang yang masih membenci atau tak habis ...

Image

{ 0 comments }

Melepas Kelana “Sang Pendekar Mabuk”

by konspirasi on December 31, 2009

Dalam waktu yang berdekatan kita kehilangan tokoh-tokoh besar, antara lain Nurcholis Madjid, kemudian WS Rendra dan yang terbaru Gus Dur.

Tidak sedikit di antara kita yang memiliki pandangan negatif terhadap Gus Dur karena sikap dan pernyataan-pernyataannya seputar isu-isu Palestina, terorisme dan lainnya. Pandangan-pandangan Gus Dur yang kerap dilontarkan secara sporadis, spontan dan emosional sering menimbulkan kontroversi dan kesalaphaman serta multi tafsir. Sehingga tidak jarang, memerlukan klarfikasi, meski hal itu sulit didapatkan.

Dalam bidang politik nasional, sudah bukan rahasia lagi, pernyataan-pernyataannya yang pedas dan kadang terkesan serampangan, menimbulkan kegerahan bagi lawan juga kawan. Gus Dur bagai “pendekar mabuk” yang melancarkan jurus-jurus yang tidak bisa diprediksi oleh siapapun, bahkan orang-orang terdekatnya. Karena itu, beberapa episode perpecahan dan mufaraqah sempat mewarnai kiprah politiknya, mulai dari Matori Abduljalil lalu Alwi Shihab hingga Muhaimin Iskandar. Meski diketahui bersebarangan dengan para petinggi NU, karena sikapnya yang tidak bisa “diatur”, Gus Dur, sebagai pemilik trah darah biru pendiri ormas Islam terbesar itu, masih dihormati dan dimaafkan atas semua pernyatannya. Kasus-kasus terkait dengan dugaan korupsi sempat menghinggapi namanya, tapi semua lenyap begitu saja. Boleh jadi, itu salah satu kelebihan dan kebesaran nama dan pengaruhnya.

Masa kepresidennya juga bisa dianggap sebagai masa paling kacau sejak lengsernya dinasti Orba. Tiada hari tanpa kontroversi dan kehebohan yang berujung pada pelengserannya dengan segala carut marut dan kelucuannya, termasuk keluarnya dektrit yang gagal meletus di penghujung kekuasaannya. Gus Dur dijungkalkan karena dianggap tidak akomodasionis, otoriter dan tidak cakap menjalankan peran eksekutif.

Di luar semua itu, ada beberapa poin positif dalam diri Gus Dur, antara lain kegigihan dan konsistensinya membela hak kaum minoritas etnis dan agama. Libur nasional Imlek adalah buah perjuangannya, yang secara tidak langsung bisa menghapus citra negatif Indonesia yang sebelumya tercoreng oleh kasus kerusuhan Mei yang diduga sangat merugikan etnis Cina di Indoensia, dan Jakarta utamanya.

Pembelaan Gus Dur terhadap kelompok-kelompok agama minoritas kadang malah menimbulkan kemirisan dan mengudang kecaman dari kalangan Islam, terutama yang tidak memiliki kesamaan teologis dengan NU yang notanene beraliran Sunni-Syafii. Gus Dur tanpa beban menghadiri misa dan acara-acara ritual Kristen. Sebagai orang yang sangat pandai dan terbuka, ia diyakini oleh sebagian kalangan mempunyai landasan teologis rasional di balik sikapnya itu.

Sikapnya terhadap minoritas Islam pun demikian.Penyataan monumentalnya “NU adalah Syiah kultural” (1) telah menjadi semacam perisai yang telah menyelamatkan banyak nyawa dan kehormatan para warga negara yang menjadikan Ahlulbait sebagai gerbang keyakinannya. Tentu, tidak semua kasus pelecehan dan penganiyaan terhadap penganut Syiah bisa diantisipasi dan digagalkan dengan pernyataan itu, namun setidaknya, itu mesti diakui memiliki pengaruh yang cukup. Dan karena itu, kita patut berterimakasih dan mengucapkan “Selamat jalan”. Semoga dosa-dosanya diampuni oleh Allah dan kebaikan-kebaikannya dibalas dengan ridha dan pahalaNya, amin.

Semoga NU dan para Muslim penganut mazhab Imam Syafii yang memilki kesamaan kultural dan teologis dengan mazhab Syiah dapat terus menjalin hubungan kian erat demi mengukuhkan Islam yang santun di bumi Indonesia tercinta.

Dalam rangka mengenang jasanya, Islamic Cultural Center bekerjasama dengan Keduataan Besar Iran akan menyelenggarakan Tahlil di Aula ICC malam ini (Kamis pukul 19.00) di Buncit raya kav. 35 Pejaten Barat- Jaksel.

(1)Dalam berbagai kesempatan, Gus Dur selalu mengatakan bahwa secara kultural, NU ada kesamaan dengan Syi’ah. Tradisi pemujaan wali, kepercayaan pada keramat, ziarah kubur, penghormatan kepada ahlul bait (keluarga Nabi: Ali, Fatimah, Hasan, Husen), adalah sebagian tradisi yang berkembang kuat di kalangan Syi’ah. Pernyataan Gus Dur ini, oleh Kiai Hamid dan kiai-kiai yang sepaham, dianggap sebagai perasaan simpati pada Syi’ah.http://www.tempointeraktif.com/share/?act=TmV3cw==&type=UHJpbnQ=&media=bmV3cw==&y=JEdMT0JBTFNbeV0=&m=JEdMT0JBTFNbbV0=&d=JEdMT0JBTFNbZF0=&id=NzEzMw==

{ 0 comments }

Andai Gus Dur Menjadi Presiden Sebelum Sakit

by konspirasi on December 31, 2009

Sebuah catatan memoar yang ditulis oleh oleh Yahya Cholil Staqup, mantan Juru Bicara Presiden Gus Dur. Cukup menggugah.

Ini kehilangan tak terperi. Tapi diam-diam aku merasakannya seperti formalitas saja. Ketuk palu atas sesuatu yang telah ditetapkan sebelumnya.

Kehilangan yang sesungguhnya telah terjadi dua belas tahun yang lalu, ketika suatu hari kamar mandi kantor PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama), di Kramat Raya Jakarta, tak kunjung terbuka. Kamar mandi itu terkunci dari dalam dan Gus Dur ada di dalamnya. Orang-orang menggedor-gedor pintu, tak ada sahutan. Ketika akhirnya pintu itu dijebol, orang mendapati Gus Dur tergeletak bersimbah darah muntahannya sendiri. Itulah stroke-nya yang pertama dan paling dahsyat, yang sungguh-sungguh merenggut kedigdayaan fisiknya.

Sebelum malapetaka itu, Gus Dur adalah sosok “pendekar” yang nyaris tak terkalahkan. Pada waktu itu, tak ada yang tak sepakat bahwa beliau adalah salah satu tumpuan harapan untuk masa depan Indonesia yang lebih baik. Tapi ketika akhirnya memperoleh kesempatan menakhodai bangsa ini, keruntuhan fisik telah membelenggu beliau sedemikian rupa sehingga gelombang pertempuran yang terlampau berat pun menggerusnya. Aku tak pernah berhenti percaya bahwa seandainya yang menjadi presiden waktu itu adalah Gus Dur sebelum sakit, pastilah hari ini Indonesia sudah punya wajah yang berbeda, wajah yang lebih cerah dan lebih bersinar harapannya.

Aku telah menjadi pengagum berat Gus Dur dan mendaulat diriku sendiri sebagai murid beliau sejak aku masih remaja. Tapi memang Gus Dur telampau besar untukku, sehingga aku tak pernah mampu menangkap secuil pemahaman yang berarti dari ilmunya, kecuali senantiasa terlongong-longong takjub oleh gagasan-gagasan dan tindakan-tindakannya.

Ketika datang kesempatan bagiku untuk benar-benar mendekat secara fisik dengan tokoh idolaku, yaitu saat aku ditunjuk sebagai salah seorang juru bicara presiden, saat itulah pengalaman-pengalaman besar kualami. Bukan karena aku melompat dari santri kendil menjadi pejabat negara. Bukan sorot kamera para wartawan, bukan pula ta’dhim pegawai-pegawai negeri. Tapi inspirasi-inspirasi yang berebutan menjubeli kepala dan dadaku dari penglihatanku atas langkah-langkah presidenku.

Sungguh, langkah-langkah Presiden Gus Dur waktu itu mengingatkanku kembali pada kitab DBR (Di Bawah Bendera Revolusi) yang kukhatamkan sewaktu kelas satu SMP dulu. Mengingatkanku pada “Nawaksara”, mengingatkanku pada “Revolusi belum selesai!”

Orang-orang mengecam kegemarannya berkeliling dunia, mengunjungi negara-negara yang dalam pandangan umum dianggap kurang relevan dengan kepentingan Indonesia. Namun aku justru melihat daftar negara-negara yang beliau kunjungi itu identik dengan daftar undangan Konferensi Asia-Afrika. Brasil mengekspor sekian ratus ribu ton kedelai ke Amerika setiap tahunnya, sedangkan kita mengimpor lebih separuh jumlah itu, dari Amerika pula. Maka presidenku datang ke Rio De Janeiro ingin membeli langsung kedelai dari sumbernya tanpa makelar Amerika.

Venezuela mengimpor seratus persen belanja rempah-rempahnya dari Rotterdam, sedangkan kita mengekspor seratus persen rempah-rempah ke sana. Maka presidenku menawari Hugo Chavez membeli rempah-rempah langsung dari kita. Gus Dur mengusulkan kepada Sultan Hasanal Bolkiah untuk membangun Islamic Financial Center di Brunei Darussalam, lalu melobi negara-negara Timur Tengah untuk mengalihkan duit mereka dari bank-bank di Singapura ke sana…

Barangkali pikiranku melompat serampangan. Tapi sungguh yang terbetik di benakku waktu itu adalah bahwa Gus Dur, presidenku, sedang menempuh jalan menuju cakrawala yang dicita-citakan pendahulunya, Pemimpin Besarku, Bung Karno. Yaitu mengejar kemerdekaan yang bukan hanya label, tapi kemerdekaan hakiki bagi manusia-manusia Indonesia. Yaitu bahwa masalah-masalah bangsa ini hanya bisa dituntaskan apabila berbagai ketidakadilan dalam tata dunia yang mapan pun dapat diatasi. Yaitu bahwa dalam perjuangan semesta itu harus tergalang kerjasama diantara bangsa-bangsa tertindas menghadapi bangsa-bangsa penindas.

Hanya saja, Gus Dur mengikhtiarkan perjuangan itu dengan caranya sendiri. Bukan dengan agitasi politik, bukan dengan machtsforming, tapi dengan langkah-langkah taktis yang substansial, cara-cara yang selama karir politiknya sendiri memang menjadi andalannya. Yang bagi banyak orang terlihat sebagai kontroversi, bagiku adalah cara cerdik beliau menyiasati pertarungan melawan kekuatan-kekuatan besar, baik di dalam negeri maupun di luar negeri, yang terlampau berat untuk ditabrak secara langsung dan terang-terangan. Gus Dur terhadap Bung Karno, bagiku layaknya Deng Xiao Ping terhadap Mao Tse Tung.

Tapi pahlawanku bertempur di tengah sakit, seperti Panglima Besar Soedirman di hutan-hutan gerilyanya. Maka nasib Diponegoro pun dicicipinya pula…

Banyak orang belakangan bertanya-tanya, mengapa orang tua yang sakit-sakitan itu tak mau berhenti saja, beristirahat menghemat umurnya, ketimbang ngotot seolah terus-menerus mencari-cari posisi di tengah silang-sengkarut dunia yang kian semrawut saja. Saksikanlah, wahai bangsaku, inilah orang yang terlalu mencintaimu, sehingga tak tahan walau sedetik pun meninggalkanmu. Inilah orang yang begitu yakin dan determined akan cita-citanya, sehingga rasa sakit macam apa pun tak akan bisa menghentikannya. Selama napas masih hilir-mudik di paru-parunya, selama detak masih berdenyut di jantungnya, selama hayat masih dikandung badannya.

Kini Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menyelimutkan kasih sayang paripurnanya untuk hambaNya yang mulia itu. Memperbolehkannya beristirahat dari dunia tempat ia mengais bekal akhiratnya. Semoga sesudah ini segera tercurah pula kasih sayang Allah untuk bangsa yang amat dicintainya ini, agar dapat beristirahat dari silang-sengkarut nestapa rakyatnya. Gus Durku, Bung Karnoku… Selamat jalan…(Kompas, Kamis, 31 Desember 2009 | 07:58 WIB)

{ 0 comments }

</