Posts tagged as:

Irak

Netanyahu: Ayah Saya Telah Ramalkan Tragedi 9/11

by konspirasi on March 9, 2010





TEL AVIV (SuaraMedia News) – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bahwaa ayahnya pernah memprediksikan serangan 11 September terhadap menara kembar World Trade Center New York pada tahun 1990-an.

Haaretz melaporkan bahwa pernyataan tersebut dilontarkan pada peringatan 100 tahun hari lahir ayah sang perdana menteri, Benzion Netanyahu, yang merupakan seorang sejarawan dan aktivis Zionis.



Perdana Menteri Israel tersebut menambahkan bahwa orang-orang yang tidak mengetahui masa lalu mereka tidak akan mengerti dan tidak akan mampu memprediksi masa depan mereka.



Pada tanggal 17 April 2008, harian Israel Maariv melaporkan bahwa Benjamin Netanyahu, yang kala itu merupakan pemimpin Partai Likud, mengatakan kepada audiens di Universitas Bar Ilan bahwa Peristiwa 11 September 2001 menguntungkan Israel.



“Kami mendapat keuntungan dari satu hal, dan hal itu adalah serangan terhadap menara kembar dan juga Pentagon, serta perjuangan Amerika di Irak,” kata Netanyahu kepada Maariv. Ia juga menambahkan bahwa kejadian tersebut “menggiring opini publik Amerika untuk keuntungan kami.”






Tidak berapa lama kemudian, Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad mengungkapkan keraguan atas kebenaran peristiwa 11 September, ia menyebut 9/11 hanyalah dalih yang sengaja diciptakan untuk menginvasi Afghanistan dan Irak.



“Dengan dalih itu, mereka (AS) menyerang Afghanistan dan Irak. Dan sejak saat itu, ada jutaan orang yang tewas, itu baru di Irak.”



Menanggapi ancaman Iran, Netanyahu membandingkan Ahmadinejad dengan Adolf Hitler dan menyamakan program nuklir Teheran dengan ancaman Nazi terhadap Eropa pada akhir tahun 1030-an.



Netanyahu mengatakan bahwa ada satu hal yang membedakan Iran dengan Nazi. “Rezim Nazi memulai konflik global sebelum mengambangkan senjata nuklir,” kata Netanyahu. “Rezim ini (Iran) mengembangkan senjata nuklir sebelum terlibat dalam konflik global.”



Beberapa waktu lalu, Tim King dari situs Salem News menyebutkan: “Pemerintah AS memang ingin masyarakat percaya bahwa gedung-gedung tersebut ambruk karena lalapan api. Akan tetapi, dalam sejarah belum pernah ada api yang mampu meruntuhkan gedung pencakar langit. Jilatan api memang membakar hingga kerangka bangunan, tapi api tidak bisa meruntuhkan gedung.”



“Anggap saja hal itu mungkin terjadi, maka menara kembar WTC menjadi bangunan yang paling tidak mungkin runtuh. Kerangka baja menara kembar tersebut tidak akan sampai ambruk, bahkan jika gedungnya sendiri runtuh.”



“Ketika kami mulai menulis mengenai hal ini. Matt Lintz, desainer web kami, mengetahui adanya upaya-upaya Angkatan Udara AS untuk meretas situs Salem News.”



Salem News menyebutkan bahwa mungkin setengah penduduk AS masih belum menyadari bahwa ada gedung ketiga yang juga turut runtuh pada tanggal 11 September 2001. Dan gedung tersebut tidak dihantam pesawat. Namun, dalam gedung tersebut terdapat banyak catatan yang berharga bagi industri keuangan.



Richard Gage, seorang arsitek asal San Francisco yang merupakan pendiri organisasi nirlaba Architecs & Engineers for 9/11 Truth, mengatakan: “Bagaimana mungkin baja seberat 200.000 ton tercerai berai dan roboh dalam waktu hanya 11 detik? Ribuan orang arsitek dan insinyur mempertanyakan hal tersebut, mereka menyerukan kepada Kongres untuk memerintahkan investigasi baru terhadap peristiwa runtuhnya menara kembar dan Building 7 (7 World Trade Center).”



“Untuk meruntuhkan bangunan semacam itu dalam waktu singkat, maka harus ada ledakan buatan di gedung tersebut. Dan ledakannya harus mengarah ke luar,” kata Richard Gage, seorang arsitek asal San Francisco yang merupakan pendiri organisasi nirlaba Architecs & Engineers for 9/11 Truth.



Jeff Gates, seorang penulis di Salem News, mengatakan bahwa satu-satunya negara yang akan diuntungkan dari peperangan (pasca persitiwa 9/11) adalah Israel. (dn/vn/hz/sm) www.suaramedia.com


{ 0 comments }





ANKARA (SuaraMedia News) – Israel mungkin akan merasa tidak senang, namun sebuah tayangan populer televisi dan film Turki yang dulu menceritakan mengenai seorang dokter Yahudi yang mencuri organ tubuh para tahanan Muslim di Irak, kini mengemukakan rencana untuk merilis sebuah film yang mengambil setting di Palestina.

“Valley of the Wolves: Palestine” diproyeksikan akan menelan dana lebih dari 10 juta euro. Dengan biaya produksi sebesar itu, film tersebut masuk dalam jajaran film termahal Turki.



Dijadwalkan rilis pada bulan November, film tersebut mencoba menyusul kesuksesan “Valley of the Wolves: Iraq” yang rilis pada tahun 2006.



“Valley of the Wolves: Iraq” yang menceritakan para prajurit AS yang membabi buta di Irak, mencatatkan penjualan tiket sebanyak 4,2 juta lembar di tengah tudingan anti-Amerika dan anti-Semit.



“Setelah Irak, kami memutuskan bahwa dalam film Polat berikutnya, kami akan kembali mengangkat kisah internasional,” kata Bahadir Ozdener, sang penulis naskah, yang duduk di sebuah ruangan penuh kamera antik di Nisantasi, sebuah kawasan elit di Istanbul.



Yang menjadi tokoh utama adalam Polat Alemdar, seorang agen yang selalu menenteng pistol, berpakaian rapi dan tidak terlalu banyak menunjukkan ekspresi wajah.






Diperankan oleh aktor Necati Sasmaz, yang belum pernah memiliki pengalaman akting sebelumnya, dan disulih suara oleh aktor lainnya, Polat terkadang disebut-sebut sebagai James Bond-nya Turki. Sosok Polat diidolakan oleh jutaan anak muda Turki, yang sampai meniru gerak-gerik dan pola bicaranya.



Dalam film baru tersebut, Ozdener mengatakan bahwa dirinya ingin membuka mata dunia dan menceritakan sejarah, mengenai apa yang sebenarnya terjadi di Palestina.



Dia menyebut konflik Palestina sebagai sebuah contoh sempurna dari target-target kaum penjajah. Turki telah sejak lama menjadi anggota NATO, sekutu tradisional Amerika Serikat, dan menjalin hubungan dengan Israel sejak pertengahan tahun 1990-an. Turki menganut paham sekuler, namun mayoritas penduduk negara tersebut adalah Muslim.



“Cerita yang diangkat dalam tayangan ini adalah kisah alternatif dari peristiwa yang sebenarnya terjadi,” tambah Orhan Tekelioglu, seorang cendekiawan yang menulis mengenai film tersebut dalam kolomnya di surat kabar Radikal.



“Sederhananya, (film) itu mengisahkan mengenai Turki yang mendapatkan serangan kekuatan asing, pertama dari AS, kemudian dari Israel.”



Valley of the Wolves: Palestine dibuat beberapa saat setelah seri Valley of the Wolves memicu kecaman di Israel.



Pada bulan Januari lalu, sehubungan dengan penayangan sebuah episode serial televisi populer tersebut, yang mengisahkan agen-agen Israel menculik seorang anak Turki, Deputi Menteri Luar Negeri Israel, Danny Ayalon, memanggil duta besar Turki.



Pertemuan Ayalon dan duta besar Turki berbuntut panjang karena Ayalon menolak menjabat tangan Ahmet Oguz Cellikol, sang duta besar Turki, dan mendudukkan Cellikol di kursi yang lebih rendah di hadapan kamera televisi.



Turki marah besar dengan tindakan tersebut, dan kini, hubungan Israel dan Turki bertambah tegang dengan film tersebut, yang akan menceritakan sepak terjang Polat Alemdar di Gaza, Tepi Barat dan Yerusalem.



“Kami tidak bisa menanggapi sesuatu yang belum kami saksikan,” kata Tal Gat, deputi konsulat jenderal Israel di Istanbul.



Liga Anti Penistaan (Anti-Defamation League – ADL), sebuah kelompok Yahudi yang berbasis di AS dan menentang anti-Semitisme, mengatakan bahwa film tersebut berseberangan dengan tradisi Ottoman (Turki) yang menjunjung toleransi beragama.



“Dalam sejarahnya, Turki tidak “tercemar” dengan anti-Semitisme,” kata Abraham Foxman, direktur nasional ADL. “Tapi ironisnya, saat ini Turki menyebarkan anti-Semitisme melalui media massa.”



Tayangan Valley of the Wolves, yang dibuat oleh perusahaan produksi Pana Film, meraup sukses luar biasa di Turki.



Valley of the Wolves berisi cerita mitologi yang disukai kalangan nasionalis. Mengisahkan mengenai pahlawan tunggal yang memandu orang-orang Turki keluar dari lembah Asia Tengah, melewati jebakan musuh.



Serial televisi yang dikenal dengan nama “Kurtlar Vadisi” di Turki tersebut pertama kali ditayangkan pada tahun 2003. Dalam tayangan awal tersebut, Polat Alemdar ditugasi untuk menembus tembok kejahatan terorganisir di Turki.



Dengan dibumbui adegan baku tembak dan kekerasan, tayangan tersebut dengan cepat mampu mencuri perhatian para pemirsa. Menurut klaim Pena, saat ini tayangan tersebut ditonton oleh 20 hingga 40 juta warga Turki.



Kemudian, muncullah Valley of the Wolves: Iraq, film yang ditayangkan pada tahun 2006. Dalam film tersebut, Polat Alemdar berjibaku dalam kejadian pada bulan Juli 2003, ketika pasukan AS menangkap dan menyekap pasukan khusus Turki di sebelah utara Irak.



Dengan gaya pengambilan gambar layaknya film Hollywood, film tersebut menceritakan mengenai penyiksaan yang terjadi di penjara Abu Ghraib.



Setelah Irak, Pana Film membuat seri yang mengisahkan konflik melawan gerakan separatis Kurdi. Namun pemerintah mendesak agar tayangan “Valley of the Wolves: Terror” dihentikan setelah tayang satu episode, karena tema yang diangkat dianggap terlalu sensitif.



Kritikus film Turki, Alin Tasciyan, yakin bahwa Valley of the Wolves, yang mengusung gaya Hollywood, dapat menyampaikan pesan yang amat berbeda. Dia menybut film tahun 2006 tentang Irak tersebut sebagai film yang “anti-Amerika, namun dengan gaya yang sangat Amerika.” (dn/hz) www.suaramedia.com


{ 0 comments }





WASHINGTON (SuaraMedia News) – Seorang pejabat di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Irak telah mengatakan kepada para jaksa federal bahwa ia percaya bahwa para pejabat Departemen Luar Negeri berusaha untuk memblokir setiap penyelidikan serius episode penembakan tahun 2007 di mana para penjaga keamanan Blackwater Worldwide dituduh membunuh 17 warga sipil Irak, menurut kesaksian pengadilan kepada publik pada hari Selasa.

David Farrington, seorang agen keamanan Departemen Luar Negeri di Kedutaan Besar Amerika pada saat penembakan di Nisour Square Baghdad, mengatakan kepada jaksa bahwa beberapa koleganya memberikan bukti dengan cara yang mereka harapkan akan membantu para pengawal Blackwater dapat menghindari hukuman untuk kejahatan yang diangkat di banyak headline dan mengangkat ketegangan antara pejabat Amerika dan Irak.



Deskripsi tentang kesaksian Farrington datang dalam pintu tertutup Oktober lalu dari Kenneth Kohl, kepala penuntut dalam kasus melawan pengawal Blackwater.






“Saya berbicara kepada David Farrington, yang bersangkutan, yang menyatakan keprihatinan tentang integritas dari pekerjaan yang dilakukan oleh sesama perwira,” Kohl mengenang. Dia mengatakan bahwa Farrington telah mengatakan padanya dalam pertemuan-pertemuan di mana agen-agen keamanan diplomatik mengatakan bahwa setelah mereka pergi ke tempat kejadian dan mengambil selongsong dan bukti lain, “Mereka bilang kami sudah punya cukup untuk membebaskan orang-orang ini sekarang.”



Farrington, yang juga bersaksi di sidang pra-peradilan pintu tertutup dalam kasus penembakan Nisour Square, menolak memberikan komentar. Kesaksian sendiri belum dibukanya oleh pengadilan.



Blackwater menjadi kontraktor jutaan dolar sementara Amerika Serikat meningkatkan perang di Irak dan Afghanistan, memberikan perlindungan bagi pejabat Departemen Luar Negeri dan pekerjaan rahasia untuk Central Intelligence Agency.



Perusahaan, yang didominasi oleh mantan pejabat Amerika, telah digambarkan oleh para kritikus sebagai terlalu dekat dengan badan-badan intelijen dan diplomatik di mana mereka bekerja.



The New York Times melaporkan bahwa Departemen Kehakiman sedang menyelidiki tuduhan bahwa Blackwater telah berusaha untuk menyogok pejabat pemerintah Irak dalam mempertahankan harapan bisnis keamanan mereka setelah penembakan yang mematikan.



Pada bulan Desember, seorang hakim federal menolak tuntutan pidana terhadap lima mantan Blackwater penjaga di Square Nisour, dan mengkritik Departemen Kehakiman yang menangani kasus ini, menegur jaksa untuk mencoba menggunakan pernyataan dari terdakwa yang telah ditawarkan kekebalan dan kesaksian dari para saksi yang tercemar oleh kebocoran media berita.



Dokumen-dokumen yang dipublikasikan pada Selasa menunjukkan bahwa sebelum penolakan pada bulan Desember, jaksa dan agen Federal Bureau of Investigation yang bekerja pada kasus Nisour Square membela diri pada bulan Oktober untuk menyatakan bahwa mereka punya banyak bukti murni. Dalam sidang tertutup, mereka juga berpendapat bahwa mereka memiliki bukti bahwa, dalam segera setelah penembakan, telah terjadi upaya untuk membuat kasus itu lolos, baik oleh Blackwater dan oleh sekurang-kurangnya beberapa pejabat kedutaan.



Bahkan, jaksa diberitahu bahwa kedutaan belum pernah melakukan penyelidikan yang signifikan dari setiap episode banyak penembakan di Irak yang melibatkan Blackwater sebelum kasus Square Nisour, menurut dokumen itu.



Dalam kesaksian Oktober, Kohl menggambarkan bagaimana Departemen Kehakiman memiliki “keprihatinan serius” tentang gangguan keadilan dalam kasus ini. Dia juga mengatakan jaksa memberi penjelasan kepada Kenneth Wainstein, kemudian seorang asisten jaksa agung, pada bukti obstruksi oleh manajemen Blackwater.



Kohl mengungkapkan bahwa jaksa telah menemukan bahwa lima penjaga Blackwater yang berada di konvoi yang terlibat dalam penembakan Square Nisour melapor kepada manajemen Blackwater apa yang mereka lihat. Satu penjaga, katanya, menggambarkannya sebagai “pembunuhan berdarah dingin.” Kohl mengatakan bahwa manajemen Blackwater pernah melaporkan pernyataan-pernyataan oleh para penjaga ke Departemen Luar Negeri.



Dia mengatakan bahwa jaksa menginformasikan pejabat senior Departemen Kehakiman pada tahun 2007 bahwa mereka sedang menyelidiki apakah manajer Blackwater  “memanipulasi” pernyataan resmi yang dibuat oleh para penjaga ke Departemen Luar Negeri.



Tapi dia bersaksi bahwa jaksa juga memiliki bukti bahwa para pejabat kedutaan menggagalkan penyelidikan. Selain kesaksian Farrington, Kohl mengatakan bahwa para pejabat militer Amerika Serikat telah mengatakan kepada jaksa bahwa mereka menyaksikan penyidik Departemen Luar Negeri “mendesak” saksi Irak.

Dia juga bersaksi bahwa agen keamanan diplomatik, yang melakukan penyelidikan awal kedutaan sebelum FBI dan Departemen Kehakiman memulai penyelidikan kriminal, meninggalkan fakta-fakta yang penting dari laporan mereka yang berkaitan dengan cerita saksi.

Philip J. Crowley, asisten menteri luar negeri untuk urusan publik, membela penanganan kasus Nisour Square oleh departemen. Dia berkata: “Tujuh belas orang tewas di siang bolong. Kami menganggap kasus ini serius dari awal. Kami mengundang F.B.I. untuk bergabung dengan penyelidikan, dan lebih dari dua tahun kemudian, kami terus mengejar kasus ini dan mencari keadilan. ”

Pejabat dari Blackwater, yang sekarang dikenal sebagai  Xe Service, tidak menanggapi permintaan itu untuk memberikan komentar.

Kohl menggambarkan apa yang dia yakini adalah “obstruksi terpendam dalam kasus ini.”

Dia mengatakan bahwa seorang pejabat Blackwater telah mengatakan kepadanya bahwa seluruh penyelidikan kriminal seharusnya dapat dihindari jika Departemen Luar Negeri memberikan pejabat Blackwater lebih banyak waktu untuk menyiapkan pernyataan resmi oleh para penjaga yang terlibat dalam penembakan.

“Dia berkata, Anda tahu mengapa ini semua terjadi, mengapa kita di sini?”  Kohl mengenang. “Karena Departemen Luar Negeri tidak memberikan kita cukup waktu untuk bekerja pada pernyataan-pernyataan ini dengan orang-orang ini. Kami hanya punya beberapa jam, dan kami harus membawakan ini ke kedutaan.”

Pemberhentian perkara pidana terhadap para penjaga Blackwater dalam penembakan  Nisour Square menyebabkan protes sengit oleh warga Irak terhadap Amerika Serikat, dan memimpin pemerintah Irak mengancam akan membawa perkara ini dalam kasusnya sendiri.

Departemen Kehakiman kini melakukan banding atas penolakan tersebut. Blackwater telah meyelesaikan satu serangkaian tuntutan hukum sipil yang dibawa oleh korban penembakan Nisour Square, tapi gugatan lain yang dibawa oleh kelompok korban lain masih tertunda. (iw/nyt) www.suaramedia.com


{ 1 comment }





WASHINGTON (SuaraMedia News) – Ada peningkatan besar dalam upaya-upaya untuk mendanai perang AS di Irak maupun Afghanistan, dan seiring peningkatan tersebut, jumlah kontraktor militer yang dioperasikan juga tumbuh subur, meski reputasi para kontraktor tersebut justru menunjukkan hal yang sebaliknya.

Anggota Kongres Jan Schakowsky mengatakan kepada kantor berita Russian Today bahwa setidaknya jumlah kontraktor yang ditempatkan di Irak dan Afghanistan sama banyaknya dengan jumlah pasukan militer.



“Jadi ketika Presiden Obama meminta penambahan 30.000 orang pasukan di Afghanistan, sebenarnya kita juga membicarakan mengenai kontraktor keamanan, setidaknya dalam jumlah yang setara. Hal itu membuat misi menjadi lebih besar. Kami bahkan tidak menghitung mereka ketika terbunuh,” kata Schakowsky.



Jan Schakowsky juga menambahkan bahwa para kontraktor swasta di Irak bisa terbebas dari kejahatan pembunuhan.



“Kita sudah melihat pasukan keamanan swasta – atau tentara bayaran – ini sebenarnya berada dalam situasi yang telah membahayakan misi AS, membahayakan pasukan AS dan menghabisi warga sipil,” katanya.






“Sejauh ini, kasus-kasus tersebut selalu digugurkan. Untungnya, Departemen Kehakiman telah memutuskan untuk melakukan banding dalam kasus-kasus tersebut dan terus melangkah maju, namun mereka tengah berada dalam situasi sulit.”



Jan Schakowsky yakin bahwa keadan menjadi mengkhawatirkan karena perusahaan kontraktor seperti Blackwater – yang kini telah mengganti namanya menjadi Xe Services – bahkan memiliki kemampuan yang lebih besar untuk melancarkan perang jika dibandingkan dengan pasukan Amerika Serikat sekalipun.



“Percaya atau tidak, Blackwater mempergunakan helikopter-helikopter jenis tertentu yang bahkan tidak dimiliki oleh pemerintah AS. Perusahaan-perusahaan (swasta) ini bahkan memiliki kemampuan yang juga tidak dimiliki oleh pemerintah AS. Saya rasa, hal ini menjadi sebuah tren yang amat berbahaya,” pungkasnya.



Berbagai skandal yang melibatkan Blackwater terus bermunculan hampir setiap hari, oleh karena itu Jane Schakowsky dari Komite Intelijen Dewan AS beberapa waktu yang lalu menyiapkan undang-undang yang bertujuan untuk mengakhiri hubungan pemerintah AS dengan Blackwater dan perusahaan kontraktor keamanan bersenjata lainnya.



“Pada tahun 2009, pemerintah AS mempekerjakan lebih dari 20.000 orang personel kontraktor keamanan di Irak dan Afghanistan, dan ada indikasi bahwa angka tersebut akan terus mengalami peningkatan dalam tahun 2010,” tulis Schakowsky dalam sebuah surat “Dear Colleage” yang bertujuan untuk meminta dukungan terhadap undang-undang Stop Outsourcing Security (SOS).



“Para pria dan wanita ini bukanlah bagian dari militer atau pemerintahan AS. Mereka tidak mengenakan seragam AS. Tindak tanduk mereka, dalam sejumlah kesempatan, telah merusak kredibilitas dan keamanan militer kita, serta merusak hubungan kita dengan pemerintah negara lain.”



Schakowsky pertama kali mengajukan rancangan undang-undang tersebut pada tahun 2007 lalu, namun ia hanya mampu mendapatkan dukungan dari dua orang sponsor dalam Senat, yaitu Vermont Bernie Sanders dan Hillary Cliton. Ironisnya, Clinton – yang kini menduduki jabatan Menteri Luar Negeri AS – merupakan pejabat yang paling bertanggung jawab atas sebagian besar kontrak yang diberikan kepada Blackwater.



“Undang-undang ini akan melarang penggunaan kontraktor swasta dalam bidang militer, keamanan, penegakan hukum, intelijen, dan fungsi-fungsi pengamanan militer, kecuali jika presiden memberikan alasan yang kuat kepada Kongres mengapa fungsi-fungsi tersebut tidak dapat dijalankan oleh militer.”



“Undang-undang itu juga akan meningkatkan transparansi terhadap kontrak keamanan yang masih berlaku dengan cara meningkatkan perlengkapan yang dilaporkan dan memberikan akses kepada Kongres AS mengenai detail kontrak dalam jumlah besar.”



Beberapa waktu lalu, Irak mengkritik keputusan seorang hakim AS yang  menggugurkan tuntutan hukum terhadap para pengawal dari perusahaan keamanan AS, Blackwater, yang kini telah mengganti nama menjadi Xe Services, mengenai pembantaian terhadap 17 orang warga Irak pada tahun 2007 lalu.



Juru bicara pemerintahan Irak, Ali al-Dabbagh, mengatakan bahwa dalam sebuah proses investigasi Irak, ditemukan bahwa para pengawal tersebut telah melakukan sebuah kejahatan serius, dan pemerintah Irak berupaya untuk memproses mereka, sesuai dengan hukum yang berlaku. (dn/rt/rr) www.suaramedia.com


{ 0 comments }

Militer AS Datangkan Pesawat Tanpa Awak Ke Irak

by konspirasi on January 29, 2010







BAGHDAD (SuaraMedia News) – Sistem pesawat tak berawak telah menjadi andalan dalam operasi militer AS selama Operasi Kebebasan Irak; menyuntikkan konsep dan teknologi baru hanya akan mendorong lebih lanjut penggunaan pesawat ini.

Pusat Kemampuan Reaksi Cepat 1, berhubungan dengan Brigade Kalvari Udara I, Divisi Kalvari I, Divisi AS  adalah unit kecil dengan beberapa Tentara yang dikerahkan dari Pelatihan Batalyon Unmanned Aircraft Systems keluar dari Fort Huachuca, Arizona, yang telah menghabiskan masa lalu bulan menempatkan MQ-1C Sky Warrior UAS  baru melalui berbagai tes untuk membantu pejabat Departemen Angkatan Darat menentukan jalur sistem pesawat tak berawak.



The Sky Warrior, sebuah sistem yang lebih besar daripada Predator, yang dioperasikan oleh tentara di Irak karena mereka diterbangkan dari jauh oleh Amerika Serikat. Pesawat ini memiliki rentang sayap 56 meter dan mampu membawa rudal Hellfire.






Departemen Angkatan Darat ingin QRC1 untuk ditugaskan ke daerah operasi Baghdad dan sejak Divisi Kavaleri-1 bertanggung jawab atas operasi di Baghdad pada saat itu, unit itu berada di bawah Brigade Kavaleri 1 Air, kata Kapten Travis Blaschke, dari Spokane, Washington, komandan QRC1.



“Pesawat ini adalah pada tahap awalnya. Pesawat yang sekarang kita miliki di jalur penerbangan adalah pesawat yang pertama diproduksi oleh General Atomics Aeronautical Systems dan digunakan oleh Angkatan Darat,” kata Blaschke. “Semua pesawat dibangun selama Pengembangan dan Pengujian tahap proses akuisisi, yang berarti semua pesawat ini adalah prototipe.”



Meskipun Sky Warrior masih dalam tahap pengujian, itu sedang digunakan dalam misi untuk mendukung unit di tanah. Melalui misi ini, maka unit QRC1 mengumpulkan data untuk menentukan arah kemana program ini akan pergi.



“Misi kami adalah untuk mendukung (Divisi AS – Pusat) pada semua mereka (pengintaian pengawasan dan akuisisi target) misi dengan menyediakan kemampuan aero-scout kepada komandan manuver,” kata Blaschke. “Misi sekunder kami adalah untuk memvalidasi RQ-1C untuk program catatan.”



Program catatan, atau POR, adalah tonggak terakhir untuk aset Angkatan Darat baru. Ini akan memindahkan RQ-1C dari pengembangan dan pengujian ke tingkat produksi penuh dan diadopsi ke inventaris umum Angkatan Darat.



Angkatan Darat melihat adanya kebutuhan untuk memiliki aset UAS tingkat divisi mirip dengan Predator Angkatan Udara. Sky Warrior RQ-1C akan menjawab kebutuhan ini, kata Blaschke.



“Kami benar-benar menguji konsep operasi, keterbatasan sistem, hardware dan software,” katanya. “Kami bekerja melalui banyak tantangan oleh penempaan sebuah jalan baru, tetapi sudah layak untuk melihat kemajuan yang luar biasa.”



“Mengingat bahwa perusahaan telah dibuat 14 bulan yang lalu, kualifikasi pelatihan selesai delapan bulan yang lalu dan kita sekarang melakukan spektrum penuh … misi dalam teater ini cukup mengagumkan,” katanya.



QRC1 adalah sebuah program yang telah dikembangkan untuk berasumsi dan mengurangi banyak resiko untuk POR, yang seharusnya dikembangkan dalam waktu sekitar tiga tahun, kata Blaschke.



Jika program QRC1  ini berhasil, Angkatan Darat mempunyai rencana di tempat untuk memberikan setiap brigade penerbangan beberapa Sky Warriors mulai tahun 2011, kata Blaschke. Pesawat akan menjadi aset tingkat divisi dan akan lebih banyak disebar ke unit-unit tempur untuk mendukung komandan manuver.



“Sampai saat ini, sebagian besar misi ini yang sedang kami lakukan melibatkan penyebaran full-motion video, yang memberikan kesadaran situasional bagi para komandan di batalion, brigade dan bahkan divisi,” kata Blaschke. “Kami telah menonton serangan udara, barisan dan pencarian; melakukan pengintaian dan pengawasan.”



Seiring dengan kemampuan untuk melakukan pengawasan dan terbang jauh melampaui belasan jam, setelah pengujian selesai, Sky Warrior akan dipersenjatai dengan rudal Hellfire, yang akan menambah dimensi lain dalam perannya dalam pertempuran.



“Ini adalah sebuah pesawat yang dapat memiliki muatan yang berbeda,” kata Blaschke. “Ini memiliki kemampuan untuk benar-benar melihat jauh keluar untuk menemukan musuh dengan cara yang berbeda. Apakah itu adalah menggunakan intelijen gambar, menggunakan intelijen sinyal, dengan menggunakan kecerdasan pengukuran, platform ini tidak hanya dapat menemukan musuh tetapi pada akhirnya akan mampu untuk terlibat dan menetralisir musuh. “



Sky Warrior juga memiliki kemampuan untuk menunjukkan target untuk pesawat lain – memungkinkan mereka untuk mencapai target mereka sementara Sky Warrior membidik, kata Blaschke. Hal ini dapat membimbing Hellfire dari helikopter penyerang AH-64D Apache atau bahkan Serangan Munisi Langsung Gabungan dari F/A-18 Super Hornet, F-16 Fighting Falcon atau F-22 Raptor, membentuk sebuah tim pemburu-pembunuh.



“Pesawat ini akan sejajar dengan aset manuver Tentara, tim sayap rotari pada misi serangan udara, atau bekerja sama dengan komandan manuver tanah penggerebekan,” kata Blaschke.



Namun, Sky Warrior dengan segala teknologi yang tidak lebih dari model tampilan tanpa laki-laki dan perempuan yang mengoperasikan pesawat dan mengetahui kemampuan penuhnya.



“Para operator sistem perlu berada di tingkat kemahiran tertinggi dan juga mempertahankan kesadaran situasional yang tepat untuk memastikan mereka mendukung komandan tanah hingga kemampuan yang terbaik dari mereka,” kata Blaschke.



Tidak seperti Angkatan Udara, yang hanya memungkinkan petugas untuk mengoperasikan UAS, operator Sky Warrior QRC1 terdiri dari petugas, surat perintah personel petugas dan didaftar.



“Kami sedang dalam proses mengasah kemahiran operator ‘untuk tingkat tertinggi dan juga mengembangkan pesawat ini ke puncak reliabilitas dan mematikan,” kata Blaschke. “Masa depan operasi RQ-1C hanya dibatasi oleh luasnya imajinasi kita.” (iw/sp) www.suaramedia.com




{ 0 comments }

</