Posts tagged as:

Iran

Netanyahu: Ayah Saya Telah Ramalkan Tragedi 9/11

by konspirasi on March 9, 2010





TEL AVIV (SuaraMedia News) – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bahwaa ayahnya pernah memprediksikan serangan 11 September terhadap menara kembar World Trade Center New York pada tahun 1990-an.

Haaretz melaporkan bahwa pernyataan tersebut dilontarkan pada peringatan 100 tahun hari lahir ayah sang perdana menteri, Benzion Netanyahu, yang merupakan seorang sejarawan dan aktivis Zionis.



Perdana Menteri Israel tersebut menambahkan bahwa orang-orang yang tidak mengetahui masa lalu mereka tidak akan mengerti dan tidak akan mampu memprediksi masa depan mereka.



Pada tanggal 17 April 2008, harian Israel Maariv melaporkan bahwa Benjamin Netanyahu, yang kala itu merupakan pemimpin Partai Likud, mengatakan kepada audiens di Universitas Bar Ilan bahwa Peristiwa 11 September 2001 menguntungkan Israel.



“Kami mendapat keuntungan dari satu hal, dan hal itu adalah serangan terhadap menara kembar dan juga Pentagon, serta perjuangan Amerika di Irak,” kata Netanyahu kepada Maariv. Ia juga menambahkan bahwa kejadian tersebut “menggiring opini publik Amerika untuk keuntungan kami.”






Tidak berapa lama kemudian, Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad mengungkapkan keraguan atas kebenaran peristiwa 11 September, ia menyebut 9/11 hanyalah dalih yang sengaja diciptakan untuk menginvasi Afghanistan dan Irak.



“Dengan dalih itu, mereka (AS) menyerang Afghanistan dan Irak. Dan sejak saat itu, ada jutaan orang yang tewas, itu baru di Irak.”



Menanggapi ancaman Iran, Netanyahu membandingkan Ahmadinejad dengan Adolf Hitler dan menyamakan program nuklir Teheran dengan ancaman Nazi terhadap Eropa pada akhir tahun 1030-an.



Netanyahu mengatakan bahwa ada satu hal yang membedakan Iran dengan Nazi. “Rezim Nazi memulai konflik global sebelum mengambangkan senjata nuklir,” kata Netanyahu. “Rezim ini (Iran) mengembangkan senjata nuklir sebelum terlibat dalam konflik global.”



Beberapa waktu lalu, Tim King dari situs Salem News menyebutkan: “Pemerintah AS memang ingin masyarakat percaya bahwa gedung-gedung tersebut ambruk karena lalapan api. Akan tetapi, dalam sejarah belum pernah ada api yang mampu meruntuhkan gedung pencakar langit. Jilatan api memang membakar hingga kerangka bangunan, tapi api tidak bisa meruntuhkan gedung.”



“Anggap saja hal itu mungkin terjadi, maka menara kembar WTC menjadi bangunan yang paling tidak mungkin runtuh. Kerangka baja menara kembar tersebut tidak akan sampai ambruk, bahkan jika gedungnya sendiri runtuh.”



“Ketika kami mulai menulis mengenai hal ini. Matt Lintz, desainer web kami, mengetahui adanya upaya-upaya Angkatan Udara AS untuk meretas situs Salem News.”



Salem News menyebutkan bahwa mungkin setengah penduduk AS masih belum menyadari bahwa ada gedung ketiga yang juga turut runtuh pada tanggal 11 September 2001. Dan gedung tersebut tidak dihantam pesawat. Namun, dalam gedung tersebut terdapat banyak catatan yang berharga bagi industri keuangan.



Richard Gage, seorang arsitek asal San Francisco yang merupakan pendiri organisasi nirlaba Architecs & Engineers for 9/11 Truth, mengatakan: “Bagaimana mungkin baja seberat 200.000 ton tercerai berai dan roboh dalam waktu hanya 11 detik? Ribuan orang arsitek dan insinyur mempertanyakan hal tersebut, mereka menyerukan kepada Kongres untuk memerintahkan investigasi baru terhadap peristiwa runtuhnya menara kembar dan Building 7 (7 World Trade Center).”



“Untuk meruntuhkan bangunan semacam itu dalam waktu singkat, maka harus ada ledakan buatan di gedung tersebut. Dan ledakannya harus mengarah ke luar,” kata Richard Gage, seorang arsitek asal San Francisco yang merupakan pendiri organisasi nirlaba Architecs & Engineers for 9/11 Truth.



Jeff Gates, seorang penulis di Salem News, mengatakan bahwa satu-satunya negara yang akan diuntungkan dari peperangan (pasca persitiwa 9/11) adalah Israel. (dn/vn/hz/sm) www.suaramedia.com


{ 0 comments }



KABUL (SuaraMedia News) – Badan-badan bantuan PBB memperingatkan peningkatan tajam anak-anak Afghanistan yang tidak ditemani dalam melamar suaka di Eropa.

Angka-angka terbaru dari badan pengungsi PBB menunjukkan peningkatan sebesar 60% tahun lalu, dengan lebih dari 6.000 di bawah 18 tahun mencari suaka.

Unicef mengatakan ada kebutuhan mendesak untuk melindungi anak-anak dari bermigrasi sendirian.

Konvensi PBB tentang Hak Anak mewajibkan negara untuk melindungi anak-anak dari semua kebangsaan.

Pada tahun 2008, badan pengungsi PBB menunjukkan angka, 3.800 Afghan di bawah 18 diterapkan untuk suaka di Eropa.

PBB percaya angka-angka terbaru migrasi tersebut adalah puncak gunung es; banyak anak di bawah umur yang tidak ditemani melamar untuk suaka karena mereka takut akan penahanan dan deportasi.

Sebuah studi baru dari Unicef, badan anak-anak PBB, mengungkapkan kurangnya kebijakan yang koheren di Eropa terhadap migran anak dan sering gagal untuk melindungi mereka.


Pekerja bantuan menunjuk pada sebuah kasus baru-baru ini di mana dua anak laki-laki Afghanistan, satu baru berusia 13 tahun, meninggal karena berusaha bersembunyi dalam truk-truk perjalanan dari Yunani ke Italia.

Unicef mengatakan sebuah studi perawatan Inggris yang ditawarkan oleh pihak berwenang setempat menunjukkan bahwa anak-anak tanpa pendamping sering mengalami rasisme, tidak dipercaya ketika mereka mencoba untuk memberitahu orang dewasa tentang kisah mereka, dan berjuang dengan mengalami trauma mental pada perjalanan mereka ke Inggris.

PBB mengatakan lebih banyak penelitian mengenai fenomena tumbuhnya migran anak yang dibutuhkan, tetapi bahwa temuan awal ini menunjukkan bahwa kebutuhan untuk menawarkan perlindungan yang lebih baik adalah sangat mendesak.

Sebuah laporan dari Child Right Information Network pada 2008 mencatat bahwa sebagian besar anak-anak mengatakan orangtua mereka di Afghanistan telah membayar penyelundup untuk mengawal mereka ke tempat yang aman. Banyak mampir selama berbulan-bulan di Iran sebelum melarikan diri ke barat untuk menghindari deportasi ke tanah air yang dilanda perang. Bagi sebagian besar, Patras adalah perhentian penultima perjalanan panjang mereka ke Eropa Barat. Tetapi mereka jauh dari tempat kudus yang mereka cari.
Kelompok bantuan mengatakan anak-anak harus dianggap sebagai anak di bawah umur bukan migran. Giorgos Karapiperis, seorang dokter dengan tim Palang Merah setempat yang menawarkan tempat penampungan dan nasihat kepada para migran, mengatakan: “Kami menutup mata terhadap masalah nyata. Ada undang-undang yang menentukan bahwa kita membantu anak-anak seperti itu.”

Anggota dari organisasi-organisasi bantuan mengatakan sebagian besar anak-anak menolak untuk mengajukan permohonan suaka di sini karena mereka ingin untuk melanjutkan perjalanan. “Mereka ingin mencapai tujuan akhir mereka sehingga mereka dapat mulai bekerja dan membayar utang mereka kepada trafficker,” kata Palang Merah Karapiperis. Dia mengatakan mereka mengambil “pinjaman” sebesar € 1,000 hingga € 7,000 – di atas pembayaran orangtua mereka – untuk melanjutkan perjalanan dari Iran, melalui Turki, ke Yunani.

Direktur pengungsi PBB di Teheran, Sten Bronee, mengatakan sebagian besar orang dewasa Afghan memasuki Iran “diserap” diantara dua juta orang pengungsi. Namun dia menambahkan: “Fakta bahwa tidak ada anak migran mencari bantuan kami menunjukkan mereka sedang dikawal oleh cincin penyelundupan.”

Kadang-kadang pinjaman disepakati di Patras. Satu Afghanistan, 9, mengatakan ia membayar trafficker € 800 untuk membawanya ke Italia. Dia dibawa keluar dari pelabuhan tetapi kemudian kembali ke Patras. Dia mengatakan orang tuanya telah memberinya uang, yang dibawa oleh seorang dewasa di dalam kelompoknya. (iw/bbc/crin) www.suaramedia.com


{ 0 comments }

“Agama Biasa… Mau?” (Bagian 3)

by konspirasi on February 27, 2010

Perhatian! Note ini akan lebih bisa dipahami bila dijahit dengan dua note sebelumnya, bagian 1 dan 2. Semoga bermanfaat.

Kelompok kedua yang sejak semula menganggap pewarna wahyu sebagai manusia biasa yang berbuat salah dan lupa, menerima Islam sebagai “agama biasa”.

Pandangan ini memberinya justifikasi untuk melakukan bongkar pasang bahkan sesekali mengkritik dan, kadang, menggugatnya dengan nada sinis dan megejek. Karena tidak memiliki literatur yang cukup tentang kelompok-kelompok lain di luar lingkungan sosio-religiusnya, kelompok ini secara serampangan bersikap under-esitimate seraya menganggap Islam yang dianutnya secara temurun sebagai representasi dari “agama biasa”.

Dan karena itu, kelompok ini tidak pernah mengutip pandangan-pandangan kelompok lain. Paling-paling, yang sesekali dikutip adalah teologi Mu’tazilah dan para cendekiawan pembaharu di Mesir. Filosof yang selalu dikutip tanpa kedalaman adalah Farabi dan Ibnu Rusyd (meski keduanya bukanlah filosof secara definitif). Mereka benar-benar “kuper” soal sejarah dan dinamika filsafat di Iran dan benua Syiah. Tapi, karena dilontarkan di tengah masyarakat tradisional yang fakir informasi tentang filsafat dan rasionalisme Islam, tetap saja pandangan dan artikel-artikel mereka dianggap “baru” dan kontroversial.

Kelompok ini secara terbuka mengusung jargon “Islam Liberal”. Liberalisme semula adalah sebuah ideologi, pandangan filsafat, dan tradisi politik yang didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan adalah nilai politik yang utama. Digunakanlah kata ini demi menegaskan pandangan yang menolak apa yang disebutnya dengan “sakralitas” atau “sakralisasi”, “kultus”, “otoritas teks” seraya mengumandangkan dekonstruksi, lokalisasi, dan kontekstualisasi sesuai dengan mainset pandangannya.

Gagasan-gagasan kritis kelompok ini hampir tidak pernah mengalami kemajuan. Setiap tokohnya hampir mengulang-ulang lontaran tentang isu-isu langganan, semacam kritik terhadap apa yang disebutnya “bias gender” dalam hukum waris, poligami dan semacamnya dalam teks-teks suci, al-Qur’an dan Hadis. Menurut Haidar Bagir, tak sulit untuk mencari dasar bagi prinsip-prinsip pemikiran tokoh-tokoh JIL, termasuk di dalamnya soal nilai penting prinsip-prinsip (moral) universal atau maqashid al-Syari’ah versus hukum-hukum yang bersifat partikular, sifat progresif pemikiran dan penafsiran Islam serta keharusan ijtihad tanpa henti, pemberian perhatian pada konteks hermeneutik selain teks tradisi suci, sifat abadi dan temporal doktrin-doktrin keislaman, inklusivisme Islam, sekularisasi, dan sebagainya. Ringkasnya, tidak ada yang benar-benar fresh sebagai gagasan yang layak untuk menyita perhatian dunia.

Sebagian besar pengkritik kelompok ini mempersoalkan metdologi dan landasan epiostemologis yang digunakannya. Haidar Bagir adalah salah satu cendekiawan yang mempertanyakan metodologi dan epistemologi kelompok ini Tapi, yang menjadi landasan utama pemikiran kelompok sebenarnya adalah pandangannya tentang kenabian dan Nabi yang dianggapnya sebagai “manusia biasa”. Ulil dalam artikelnya, mengatakan, “Muhammad SAW adalah tokoh historis yang harus dikaji dengan kritis, (sehingga tidak hanya menjadi mitos yang dikagumi, tanpa memandang aspek beliau sebagai manusia yang banyak kekurangannya), sekaligus panutan yang harus diikuti (qudwah hasanah). Karena itu, menurutnya, Muhammad saw sebagai seorang politikus tidak harus ditiru kebijaksanaannya. Pandangan ini menjadi biang bagi seluruh gagasan-gagasan kritis yang menuai kontroversi.

Karena Muhammad dipandang sebagai manusia biasa, maka ia tidak imun dari pengaruh di luar wahyu, dan karena itu, kebijaksanaannya selama di Madinah sangat dikondisikan oleh konteks sosial dan sejarah yang spesifik pada saat itu.”

Bila dikaji lebih runut, sumber persoalannya adalah irasionalitas pandangannya tentang prinsip ketuhanan (teologi) dan keberadaan (ontologi). Harus diakui, meski umat Islam sama-sama meyakini Muhammad sebagai Nabi, namun landasan sikap dan keyakinan tentang prinsip ini tidaklah melulu sama, terutama dalam detail penjabarannya.

Dalam ranah teologi Islam, kita mungkin hanya mengenal “iman kepaada Nabi”, sebagaimana dalam Rukun Iman dalam teologi Asy’ariyah. Padahal dalam literatur Islam yang di luar poros Mesir Sunni dan Saudi Wahabi (yang juga bisa disebut poros Islam Arab, bagi yang hendak mencari-cari latarbelakang demografisnya), ada yang memasukkan “iman kepada Nabi” sebagai bagian dari prinsip filosofis rasional “iman kepada kenabian”. Ini mungkin bisa disebut sebagai pandangan Islam poros Syiah plus representasi Islam non Arab. (Penyebutan aspek etnis “Arab” dan “non Arab” kadang menjadi penting bagi kelompok ini karena isu “Islam lokal” yang selalu digemborkannya).

Kelompok ini, secara filosofis, menjelaskan “nabi” dan “kenabian” (an-nubuwah) sebagai dua entitas konseptual yang berbeda, meski menjurus kepada figur yang sama. “Iman kepada Nabi” tanpa didahului dengan “iman kepada kenabian” hanya akan mengarahkan pengiman kepada keterikatan personal. Inilah yang bisa dianggap sebagai celah kritik pemujaan personal yang disebut dengan “kultus individu”. Menerima dan meyakini sebuah person dan figur sebagai Nabi, tanpa dilandasi dengan pandangan dunia Ketuhanan berikut sistem dan tujuan penciptaan, sangat rentan bagi munculnya kebingungan dalam menyikapi keputusannya baik sebagai pewarta wahyu maupun sebagai pemimpin. (bersambung)

{ 0 comments }







THE HAGUE (SuaraMedia News) – Sebuah pengadilan Belanda pada hari Rabu (03/02) mengatakan bahwa keputusan pemerintah untuk melarang orang-orang keturunan Iran mempelajari teknologi nuklir di Belanda adalah diskriminasi.

Pengadilan distrik di The Hague memutuskan bahwa larangan yang diadopsi pada tahun 2008 dan berakar dari resolusi Dewan Keamanan PBB bulan Desember 2006 itu berbenturan dengan larangan domestik diskriminasi.



Pengadilan itu sependapat bahwa mencegah Iran memperoleh beberapa jenis teknologi adalah tindakan yang sah, namun mengatakan bahwa menarget semua warga negara Iran, dan hanya warga negara Iran, adalah tindakan yang tidak memiliki pembenaran yang obyektif dan beralasan. Melakukannya merupakan pelanggaran terhadap Perjanjian Hak-hak Politik dan Sipil ayat 26, sebuah perjanjian PBB yang telah diterapkan sejak tahun 1976.






Pengadilan itu memihak tantangan oleh sebuah kelompok termasuk mahasiswa dan profesor ilmu nuklir terhadap larangan tersebut. Banyak di antara mereka yang memiliki kewarganegaraan ganda, Iran dan Belanda.



Pemerintah Belanda di tahun 2008 melarang siapapun dengan kewarganegaraan Iran untuk mengakses fasilitas nuklir dan mengkhususkan pendidikannya pada studi nuklir.



Langkah itu diadopsi setelah Resolusi 1737 Dewan Keamanan PBB tahun 2006 menyerukan pada semua negara untuk bersikap tegas dan mencegah pengajaran serta pelatihan khusus terhadap warga negara Iran, di dalam wilayah negara mereka atau oleh warga negara mereka, dari disiplin-disiplin ilmu yang dapat berkontribusi pada proliferasi kegiatan nuklir dan perkembangan sistem pengiriman senjata nuklir Iran.



Ada sembilan bidang ilmu yang dilarang, termasuk sains nuklir dan beberapa jenis teknologi roket, dan sebuah reaktor nuklir eksperimental di Kelompok Konsultasi dan Penelitian Nuklir (NRG) di Petten, serta tiga fasilitas lainnya.



Belanda sangat sensitif terhadap isu ini karena Abdul Qadeer Khan, yang membantu membangun bom nuklir Pakistan, diam-diam mengumpulkan informasi berharga ketika bekerja di URENCO, pabrik pengayaan uranium Belanda, di tahun 1970an.



Menurut pengadilan, dewan menyerahkannya pada negara-negara anggota untuk mengadopsi langkah-langkah yang tidak berbenturan dengan hukum nasional masing-masing.



“Setiap negara diberi ruang untuk bermanuver,” bunyi keputusan itu. “Mereka tidak berkewajiban untuk membuat perbedaan berdasarkan kewarganegaraan yang tidak perlu dan tidak adil.”



“Kami sangat gembira. Ini adalah kemenangan besar, bukan hanya bagi kami, tapi juga bagi ilmu pengetahuan,” ujar Behnam Taebi, seorang mahasiswa doktoral bidang filsafat teknologi di Universitas Teknologi Delft dan salah satu orang yang mengajukan kasus ini. Taebi memiliki kewarganegaraan Iran dan Belanda, seperti halnya dua penggugat lain, profesor fisika nuklir Nasser Kalantar dari Universitas Groningen dan mahasiswa kimia Kawe Bitaraf dari Universitas Delft.



Para ilmuwan keturunan Iran mengatakan tidak ada negara lain yang mengeluarkan larangan semacam itu. Akademi Seni dan Sains Royal Netherlands (KNAW) telah bergabung dengan mereka, menyebut kebijakan itu tidak dapat dipertahankan dan melukai reputasi sains Belanda.



“Belanda harus tetap menjadi sebuah negara yang menerima semua peneliti saintifik dan sains,” ujar presiden KNAW, Robbert Dijkgraaf, dalam suratnya kepada Menteri Sains Ronald Plasterk – seorang biolog molekular terkenal dan anggota KNAW sendiri – setahun lalu.



Beberapa negara, termasuk AS, mencurigai Iran mengembangkan sebuah bom nuklir. Iran bersikukuh bahwa program nuklirnya ditujukan untuk memproduksi energi demi melayani kebutuhan populasi yang semakin tumbuh. (rin/dn/sm) www.suaramedia.com




{ 0 comments }





DUBAI (SuaraMedia News) – Israel merasa khawatir dengan ancaman yang dikeluarkan oleh kepolisian Dubai. Dubai mengatakan bahwa mereka akan mengeluarkan perintah penangkapan terhadap Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel, jika Mossad terbukti terlibat dalam pembunuhan Mahmoud al Mabhouh, seorang pemimpin Hamas.

Harian berbahasa Ibrani, Maariv, mengutip ucapan seorang polisi senior yang mengumumkan bahwa Dubai telah mengeluarkan perintah penangkapan terhadap Netanyahu jika terbukti terlibat dalam pembunuhan yang dilakukan Mossad terhadap al Mabhouh di sebuah hotel di Uni Emirat Arab.



Netanyahu diduga telah menandatangani surat perintah pembunuhan Mabhouh. Pihak kepolisian Dubai mengatakan bahwa ancaman tersebut harus dipertimbangkan secara serius dan tidak diremehkan.



Di balik pembunuhan Mabhouh, ada indikasi keterlibatan Mossad, demikian kata komisaris kepolisian Dubai, Dahi Khalfan.



Dia menambahkan bahwa ancaman tersebut juga berlaku bagi seluruh badan intelijen di dunia, Mossad, Hamas, atau badan intelijen lainnya.






Kepala polisi tersebut juga menampik tudingan Israel yang mengatakan bahwa al Mabhouh terlibat dalam pengiriman senjata dari Iran ke Gaza, dan hendak bertemu dengan para pejabat Iran di Dubai. “Jika benar Mabhouh berkeinginan melakukan pertemuan dengan pejabat Iran, seperti yang diberitakan media Israel, maka Mabhouh bisa melakukannya di Syria atau di Iran, tidak perlu di Dubai.”



“Benjamin Netanyahu, perdana menteri Israel, akan menjadi orang pertama yang masuk daftar buronan karena dia pasti menjadi orang yang menandatangani keputusan pembunuhan al Mabhouh di Dubai. Kami akan mengeluarkan perintah penangkapan terhadap dirinya,” kata Khalfan di situs Uni Emirat Arab, The National.



Kepala polisi Dubai tersebut juga mengatakan bahwa cara-cara yang dipergunakan untuk menghabisi al Mabhouh adalah cara-cara Mossad, namun ia tidak memberikan keterangan lebih lanjut mengenai hal tersebut.



Khalfan menolak mengidentifikasi nama tersangka yang diduga kuat terlibat dalam pembunuhan tersebut. Ia juga menyanggah pendapat Hamas yang mengatakan bahwa para pembunuh memasuki wilayah Dubai beserta rombongan menteri Israel, Uzi Landau, pada saat melakukan kunjungan ke Dubai baru-baru ini.



Pada hari Rabu, Khalfan menyampaikan peringatan, “ada badan intelijen luar negeri yang beroperasi di belakang punggung kami.” Ia kemudian menambahkan, “siapapun yang melakukan itu harus waspada terhadap bagian belakangnya sendiri.”



Mahmoud Abdul Raouf al-Mabhouh tewas pada tanggal 20 Januari 2010 di Uni Emirat Arab.



Mabhouh, yang dilahirkan 50 tahun yang lalu di Jalur Gaza namun tinggal di Syria sejak tahun 1989, dibunuh satu hari setelah tiba di Dubai, kata seorang tokoh Hamas Izzat al-Rishq.



Rishq tinggal di Damaskus, bersama dengan sejumlah pemimpin utama Hamas, termasuk pemimpin gerakan tersebut, Khalid Meshaal.



Amerika Serikat, yang memulai perbaikan hubungan dengan Damaskus, meminta aparat Syiria untuk membantu “menetralkan” Hamas agar tidak menjadi “kekuatan bersenjata” Timur Tengah.



Syria melawan tekanan AS beberapa tahun lalu untuk mengusir pemimpin Hamas. Presiden Syria, Bahsar al-Assad telah berulangkali menekankan bahwa gerakan perlawanan adalah hak yang sah dari rakyat Palestina. (dn/im/hz/sm) www.suaramedia.com


{ 0 comments }

</