Posts tagged as:

Israel

Netanyahu: Ayah Saya Telah Ramalkan Tragedi 9/11

by konspirasi on March 9, 2010





TEL AVIV (SuaraMedia News) – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bahwaa ayahnya pernah memprediksikan serangan 11 September terhadap menara kembar World Trade Center New York pada tahun 1990-an.

Haaretz melaporkan bahwa pernyataan tersebut dilontarkan pada peringatan 100 tahun hari lahir ayah sang perdana menteri, Benzion Netanyahu, yang merupakan seorang sejarawan dan aktivis Zionis.



Perdana Menteri Israel tersebut menambahkan bahwa orang-orang yang tidak mengetahui masa lalu mereka tidak akan mengerti dan tidak akan mampu memprediksi masa depan mereka.



Pada tanggal 17 April 2008, harian Israel Maariv melaporkan bahwa Benjamin Netanyahu, yang kala itu merupakan pemimpin Partai Likud, mengatakan kepada audiens di Universitas Bar Ilan bahwa Peristiwa 11 September 2001 menguntungkan Israel.



“Kami mendapat keuntungan dari satu hal, dan hal itu adalah serangan terhadap menara kembar dan juga Pentagon, serta perjuangan Amerika di Irak,” kata Netanyahu kepada Maariv. Ia juga menambahkan bahwa kejadian tersebut “menggiring opini publik Amerika untuk keuntungan kami.”






Tidak berapa lama kemudian, Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad mengungkapkan keraguan atas kebenaran peristiwa 11 September, ia menyebut 9/11 hanyalah dalih yang sengaja diciptakan untuk menginvasi Afghanistan dan Irak.



“Dengan dalih itu, mereka (AS) menyerang Afghanistan dan Irak. Dan sejak saat itu, ada jutaan orang yang tewas, itu baru di Irak.”



Menanggapi ancaman Iran, Netanyahu membandingkan Ahmadinejad dengan Adolf Hitler dan menyamakan program nuklir Teheran dengan ancaman Nazi terhadap Eropa pada akhir tahun 1030-an.



Netanyahu mengatakan bahwa ada satu hal yang membedakan Iran dengan Nazi. “Rezim Nazi memulai konflik global sebelum mengambangkan senjata nuklir,” kata Netanyahu. “Rezim ini (Iran) mengembangkan senjata nuklir sebelum terlibat dalam konflik global.”



Beberapa waktu lalu, Tim King dari situs Salem News menyebutkan: “Pemerintah AS memang ingin masyarakat percaya bahwa gedung-gedung tersebut ambruk karena lalapan api. Akan tetapi, dalam sejarah belum pernah ada api yang mampu meruntuhkan gedung pencakar langit. Jilatan api memang membakar hingga kerangka bangunan, tapi api tidak bisa meruntuhkan gedung.”



“Anggap saja hal itu mungkin terjadi, maka menara kembar WTC menjadi bangunan yang paling tidak mungkin runtuh. Kerangka baja menara kembar tersebut tidak akan sampai ambruk, bahkan jika gedungnya sendiri runtuh.”



“Ketika kami mulai menulis mengenai hal ini. Matt Lintz, desainer web kami, mengetahui adanya upaya-upaya Angkatan Udara AS untuk meretas situs Salem News.”



Salem News menyebutkan bahwa mungkin setengah penduduk AS masih belum menyadari bahwa ada gedung ketiga yang juga turut runtuh pada tanggal 11 September 2001. Dan gedung tersebut tidak dihantam pesawat. Namun, dalam gedung tersebut terdapat banyak catatan yang berharga bagi industri keuangan.



Richard Gage, seorang arsitek asal San Francisco yang merupakan pendiri organisasi nirlaba Architecs & Engineers for 9/11 Truth, mengatakan: “Bagaimana mungkin baja seberat 200.000 ton tercerai berai dan roboh dalam waktu hanya 11 detik? Ribuan orang arsitek dan insinyur mempertanyakan hal tersebut, mereka menyerukan kepada Kongres untuk memerintahkan investigasi baru terhadap peristiwa runtuhnya menara kembar dan Building 7 (7 World Trade Center).”



“Untuk meruntuhkan bangunan semacam itu dalam waktu singkat, maka harus ada ledakan buatan di gedung tersebut. Dan ledakannya harus mengarah ke luar,” kata Richard Gage, seorang arsitek asal San Francisco yang merupakan pendiri organisasi nirlaba Architecs & Engineers for 9/11 Truth.



Jeff Gates, seorang penulis di Salem News, mengatakan bahwa satu-satunya negara yang akan diuntungkan dari peperangan (pasca persitiwa 9/11) adalah Israel. (dn/vn/hz/sm) www.suaramedia.com


{ 0 comments }





ANKARA (SuaraMedia News) – Israel mungkin akan merasa tidak senang, namun sebuah tayangan populer televisi dan film Turki yang dulu menceritakan mengenai seorang dokter Yahudi yang mencuri organ tubuh para tahanan Muslim di Irak, kini mengemukakan rencana untuk merilis sebuah film yang mengambil setting di Palestina.

“Valley of the Wolves: Palestine” diproyeksikan akan menelan dana lebih dari 10 juta euro. Dengan biaya produksi sebesar itu, film tersebut masuk dalam jajaran film termahal Turki.



Dijadwalkan rilis pada bulan November, film tersebut mencoba menyusul kesuksesan “Valley of the Wolves: Iraq” yang rilis pada tahun 2006.



“Valley of the Wolves: Iraq” yang menceritakan para prajurit AS yang membabi buta di Irak, mencatatkan penjualan tiket sebanyak 4,2 juta lembar di tengah tudingan anti-Amerika dan anti-Semit.



“Setelah Irak, kami memutuskan bahwa dalam film Polat berikutnya, kami akan kembali mengangkat kisah internasional,” kata Bahadir Ozdener, sang penulis naskah, yang duduk di sebuah ruangan penuh kamera antik di Nisantasi, sebuah kawasan elit di Istanbul.



Yang menjadi tokoh utama adalam Polat Alemdar, seorang agen yang selalu menenteng pistol, berpakaian rapi dan tidak terlalu banyak menunjukkan ekspresi wajah.






Diperankan oleh aktor Necati Sasmaz, yang belum pernah memiliki pengalaman akting sebelumnya, dan disulih suara oleh aktor lainnya, Polat terkadang disebut-sebut sebagai James Bond-nya Turki. Sosok Polat diidolakan oleh jutaan anak muda Turki, yang sampai meniru gerak-gerik dan pola bicaranya.



Dalam film baru tersebut, Ozdener mengatakan bahwa dirinya ingin membuka mata dunia dan menceritakan sejarah, mengenai apa yang sebenarnya terjadi di Palestina.



Dia menyebut konflik Palestina sebagai sebuah contoh sempurna dari target-target kaum penjajah. Turki telah sejak lama menjadi anggota NATO, sekutu tradisional Amerika Serikat, dan menjalin hubungan dengan Israel sejak pertengahan tahun 1990-an. Turki menganut paham sekuler, namun mayoritas penduduk negara tersebut adalah Muslim.



“Cerita yang diangkat dalam tayangan ini adalah kisah alternatif dari peristiwa yang sebenarnya terjadi,” tambah Orhan Tekelioglu, seorang cendekiawan yang menulis mengenai film tersebut dalam kolomnya di surat kabar Radikal.



“Sederhananya, (film) itu mengisahkan mengenai Turki yang mendapatkan serangan kekuatan asing, pertama dari AS, kemudian dari Israel.”



Valley of the Wolves: Palestine dibuat beberapa saat setelah seri Valley of the Wolves memicu kecaman di Israel.



Pada bulan Januari lalu, sehubungan dengan penayangan sebuah episode serial televisi populer tersebut, yang mengisahkan agen-agen Israel menculik seorang anak Turki, Deputi Menteri Luar Negeri Israel, Danny Ayalon, memanggil duta besar Turki.



Pertemuan Ayalon dan duta besar Turki berbuntut panjang karena Ayalon menolak menjabat tangan Ahmet Oguz Cellikol, sang duta besar Turki, dan mendudukkan Cellikol di kursi yang lebih rendah di hadapan kamera televisi.



Turki marah besar dengan tindakan tersebut, dan kini, hubungan Israel dan Turki bertambah tegang dengan film tersebut, yang akan menceritakan sepak terjang Polat Alemdar di Gaza, Tepi Barat dan Yerusalem.



“Kami tidak bisa menanggapi sesuatu yang belum kami saksikan,” kata Tal Gat, deputi konsulat jenderal Israel di Istanbul.



Liga Anti Penistaan (Anti-Defamation League – ADL), sebuah kelompok Yahudi yang berbasis di AS dan menentang anti-Semitisme, mengatakan bahwa film tersebut berseberangan dengan tradisi Ottoman (Turki) yang menjunjung toleransi beragama.



“Dalam sejarahnya, Turki tidak “tercemar” dengan anti-Semitisme,” kata Abraham Foxman, direktur nasional ADL. “Tapi ironisnya, saat ini Turki menyebarkan anti-Semitisme melalui media massa.”



Tayangan Valley of the Wolves, yang dibuat oleh perusahaan produksi Pana Film, meraup sukses luar biasa di Turki.



Valley of the Wolves berisi cerita mitologi yang disukai kalangan nasionalis. Mengisahkan mengenai pahlawan tunggal yang memandu orang-orang Turki keluar dari lembah Asia Tengah, melewati jebakan musuh.



Serial televisi yang dikenal dengan nama “Kurtlar Vadisi” di Turki tersebut pertama kali ditayangkan pada tahun 2003. Dalam tayangan awal tersebut, Polat Alemdar ditugasi untuk menembus tembok kejahatan terorganisir di Turki.



Dengan dibumbui adegan baku tembak dan kekerasan, tayangan tersebut dengan cepat mampu mencuri perhatian para pemirsa. Menurut klaim Pena, saat ini tayangan tersebut ditonton oleh 20 hingga 40 juta warga Turki.



Kemudian, muncullah Valley of the Wolves: Iraq, film yang ditayangkan pada tahun 2006. Dalam film tersebut, Polat Alemdar berjibaku dalam kejadian pada bulan Juli 2003, ketika pasukan AS menangkap dan menyekap pasukan khusus Turki di sebelah utara Irak.



Dengan gaya pengambilan gambar layaknya film Hollywood, film tersebut menceritakan mengenai penyiksaan yang terjadi di penjara Abu Ghraib.



Setelah Irak, Pana Film membuat seri yang mengisahkan konflik melawan gerakan separatis Kurdi. Namun pemerintah mendesak agar tayangan “Valley of the Wolves: Terror” dihentikan setelah tayang satu episode, karena tema yang diangkat dianggap terlalu sensitif.



Kritikus film Turki, Alin Tasciyan, yakin bahwa Valley of the Wolves, yang mengusung gaya Hollywood, dapat menyampaikan pesan yang amat berbeda. Dia menybut film tahun 2006 tentang Irak tersebut sebagai film yang “anti-Amerika, namun dengan gaya yang sangat Amerika.” (dn/hz) www.suaramedia.com


{ 0 comments }





GAZA (SuaraMedia News) – Walid Sayel, ketua dewan stasiun pembangkit listrik Gaza, meminta komite kuartet internasional  yang dipimpin oleh Tony Blair untuk menemukan solusi drastis bagi krisis listrik di Gaza.

Ia meminta kuartet memperoleh pembiayaan yang dibutuhkan guna menyediakan jumlah bahan bakar yang diperlukan untuk mengoperasikan kapasitas penuh stasiun Gaza.



Sayel, yang juga merupakan direktur eksekutif perusahaan listrik Palestina, mengusulkan pembelian gas Mesir untuk menggantikan bahan bakar industri Israel, menegaskan bahwa itu akan mengurangi biaya operasi selain juga ramah terhadap lingkungan.



Ia mendesak PBB, sejumlah kelompok HAM dan komunitas dunia untuk segera mengintervensi guna menekan Uni Eropa agar membiayai kembali suplai bahan bakar dan menekan Israel agar mengijinkan masuknya material dasar ke Gaza.



Sayel menunjukkan bahwa stasiun listrik Gaza kini hanya memproduksi 30 megawatt, yang berarti pengurangan 50% dari kapasitas listriknya.






Kantor PBB untuk koordinasi urusan kemanusiaan (OCHA) menyebut Otoritas Palestina (PA) di Ramallah bertanggung jawab atas krisis listrik Gaza, mengatakan bahwa PA tidak membayar bahan bakar industrial yang digunakan untuk mengoperasikan satu-satunya pembangkit listrik di Jalur Gaza.



Dalam laporan mingguannya, OCHA mengatakan bahwa sejak komitmen Uni Eropa untuk mendanai bahan bakar pembangkit listrik Gaza jatuh tempo di bulan November 2009, PA telah mengambil  tanggung jawab untuk pendanaan.



Dikatakan bahwa terdapat 40,000 warga, yang hidup tanpa listik samasekali akibat rusaknya jaringan listrik selama agresi militer di Gaza.



Menurut laporan tersebut, otoritas listrik Gaza memperingatkan bahwa cadangan bahan bakar tersedia untuk beberapa hari ke depan dan jika tidak ada lagi bahan bakar yang dikirimkan dalam beberapa hari mendatang, pembangkit listrik itu akan sepenuhnya ditutup.



Terkait dengan banjir di lembah Gaza, laporan itu menyebutkan bahwa jumlah keseluruhan warga yang terkena dampak banjir diperkirakan mendekati 140 rumah tangga atau 800 jiwa, yang hanya menerima bantuan darurat dasar seperti makanan dan barang-barang non-makanan dari berbagai agensi, termasuk Palang Merah Palestina, kementerian urusan sosial di Gaza, dan sejumlah organisasi non-pemerintah dan asosiasi lokal.



Laporan itu menyoroti pelanggaran Israel di Tepi Barat, mengatakan bahwa dalam minggu ini, pasukan pendudukan Israel (IOF) melukai 12 warga Palestina di seluruh Tepi Barat, yang menjadikan jumlah total warga Palestina yang terluka sejak awal tahun 2010 sebanyak 53 orang.



Di lingkungan Sheikh Jarrah, Yerusalem timur, pemukim Israel mengusir 53 penduduk Palestina dan menempati rumah-rumah mereka selama satu minggu dan secara fisik menyerang lima warga Palestina, melukai dua dari mereka.



Dalam beberapa minggu terakhir, para pemukim dari pemukiman Hallamish menebang 20 pohon zaitun milik petani Palestina dari desa Deir Nidham di Ramallah. Terjadi pula demonstrasi rutin yang memprotes ekspansi pemukiman Hallamish di tanah Deir Nidham yang berujung pada bentrokan antara warga Palestina dengan pemukim Israel dan IOF.



Selain itu, terdapat empat insiden pelemparan batu oleh pemukim Israel ke arah kendaraan warga Palestina  di jalan-jalan dekat pemukiman di Ramallah, Nablus, dan Al Khalil, meski tidak jatuh korban luka atau kerusakan pada kendaraan. Kuburan-kuburan warga Palestina juga dirusak oleh pemukim Israel di desa Awarta, Nablus, dan grafiti ofensif disemprotkan dalam bahasa Ibrani, Inggris, dan Rusia di dalam desa. (rin/pic/up) www.suaramedia.com


{ 0 comments }





RIYADH (Suara Media News)  – Organisasi Konferensi Islam (OKI) dengan keras mengutuk penyerbuan Masjid Al Aqsa oleh ratusas polisi Zionis Israel dan memperingatkan mengenai konsekuensi berbahaya atas tindakan tersebut.

”Pelanggaran semacam itu, yang terjadi beberapa hari setelah keputusan oleh Pemerintah Zionis Israel untuk secara tidak sah

Setiap kerusakan atas Masjid Al Aqsa dan tempat suci lain akan menghasilkan konsekuensi serius dengan bahaya yang tak dapat diramalkan terhadap keamanan dan perdamaian dunia.

memasukkan Masjid Al Ibrahimi dan Masjid Bilal bin Rabag (Makam Rachel) ke dalam daftar tempat warisan Israel adalah perkembangan berbahaya dalam rancangan Israel guna mencaplok tempat suci Islam,” kata Sekretaris Jenderal Badan Pan-Islam tersebut Ekemeleddina Ihsanoglu di dalam satu pernyataan.

Polisi Israel memasuki kompleks Masjid Al Aqsa untuk menangkap orang Palestina yang mereka katakan melemparkan batu ke pengunjung di sana.
Belasan personel polisi antihuru-hara dikerahkan ke jalan sempit di Kota Tua, sementara pengumuman disiarkan melalui pengeras suara dan menara masjid untuk menyeru umat Muslim ”meyelamatkan Jerusalem”, kata seorang koresponden asing.


Seorang pejabat Komite Tertinggi Islam Jerusalem mengatakan, warga Palestina melemparkan batu ke arah orang yang mereka katakan sebagai anggota kelompok ekstrem Yahudi yang bermaksud berdoa di lokasi itu dan merusak status quo.

Beberapa orang Palestina cedera dalam bentrokan dengan tentara Israel yang menyerbu kompleks itu dan seorang prajurit Israel mengalami luka ringan.
Ihsanoglu mengecam apa yang dia katakan berlanjutnya pelanggaran Israel atas hukum internasional yang melindungi tempat ibadah dan orang yang beribadah di dalamnya.

”Setiap kerusakan atas Masjid Al Aqsa dan tempat suci lain akan menghasilkan konsekuensi serius dengan bahaya yang tak dapat diramalkan terhadap keamanan dan perdamaian dunia,” ujarnya memperingatkan.

Dia juga menyeru masyarakat internasional, Dewan Keamanan PBB, dan Kuartet Internasional agar membuat Israel menghentikan pelanggaran provokatif semacam itu, yang dilakukan negara Yahudi tersebut di Jerusalem dan Masjid Al Aqsa, tempat suci ketiga umat Muslim.

Menurut Polisi Israel meningkatkan keamanan sebanyak dua kali lipat di sekitar Masjid Al Aqsa di Yerusalem, setelah sebelumnya kerusuhan pecah di wilayah tersebut.

“Kami telah menurunkan pasukan tambahan di sekitar kota tua Yerusalam. Polisi hanya akan memberi akses menuju Al Aqsa bagi pria dan perempuan muslim yang berusia di atas 50 tahun,” ucap juru bicara polisi Yerusalem Shmulik Ben Rubi, seperti dikutip AFP, Senin (1/3/2010).

Ben Rubi juga menambahkan, jika kompleks masjid tersebut akan dibuka untuk wisatawan seperti di hari biasa.

Sebelumnya pada hari Minggu 28 Februari, kompleks masjid tersebut dilanda kerusuhan antara warga muslim yang menolak pencaplokan Masjid Al Aqsa oleh pihak Israel. Mereka melempar batu ke arah sekelompok pengunjung masjid yang mereka percaya sebagai kelompok esktrimis Yahudi.

Polisi terpaksa melapaskan tembakan gas air mata ke arah pelaku pelemparan batu di dekat tembok tua yang berusia 400 tahun di kota tua Yerusalem. Dalam insiden ini, polisi menangkap sekitar tujuh orang, dua diantaranya menderita luka-luka.

Kompleks masjid Al Aqsa merupakan situs yang dianggap suci oleh Yahudi. Tempat ini juga dianggap tempat suci ketiga bagi umat muslim setelah Mekkah dan Madinah. Wilayah ini pula seringkali menjadi sumber kekerasan yang terjadi antara Israel dan Palestina.

Kini dengan klaim yang dilakukan oleh Israel atas masjid tersebut makin membuat ketegangan antara umat Muslim dan Yahudi di Timur Tengah terus meruncing. Israel sendiri bermaksud untuk mencaplok wilayah tersebut sebagai warisan nasional mereka.

Langkah ini menuai kecaman dari pihak Palestina dan Amerika Serikat mengkritik langkah Israel tersebut sebagai sebuah bentuk provokasi. (afp/sm) www.suaramedia.com


{ 0 comments }





GAZA (SuaraMedia News) – Gerakan Hamas pada hari Minggu menyerukan kepada negara-negara Arab dan Muslim untuk menghentikan semakin meningkatnya upaya-upaya Israel untuk menghancurkan Masjid Al-Aqsa. Hamas juga menyerukan kepada dunia internasional untuk memaksa Israel menghentikan penjajahan terhadap tanah Palestina serta tempat-tempat suci.

Juru bicara Hamas, Fawzi Barhoum, memperingatkan bahwa meningkatnya upaya Israel tersebut ada hubungannya dengan skema berbahaya Zionis untuk meYahudikan kota Yerusalem terjajah dan menghancurkan Masjid Al-Aqsa.

Barhoum menambahkan bahwa Israel sudah sejak lama memulai skema busuk tersebut, ketika negeri Zionis tersebut semakin meningkatkan aktivitas pemukiman Yahudi ilegal, mengusir rakyat Palestia dan menghancurkan rumah-rumah mereka, mencabut kartu identitas mereka, masuk dan menodai Masjid Al-Aqsa dan melakukan Yahudisasi terhadap nama-nama jalan di kota suci tersebut.

Barhoum menegaskan, serangan-serangan terbaru Israel terhadap Al-Aqsa, Yerusalem dan para penduduknya dilakukan untuk mewujudkan yang pernah dideklarasikan perdana menteri Israel, untuk mewujudkan terciptanya “negara Yahudi”.


Juru bicara Hamas tersebut mengatakan, sikap acuh dunia Arab dan Muslim terhadap kebiadaban di kota suci tersebut, ditambah dengan persekongkolan pemerintah Palestina, semakin membuat Israel berani melakukan penistaan terhadap Masjid Al-Aqsa.

Dalam sebuah pernyataan pers, sekretaris jenderal dewan legislatif Palestina (PLC), Mahmoud Al-Ramahi, pada hari Minggu memperingatkan bahwa serangan-serangan Israel terhadap situs-situs suci Islam di Yerusalem da Tepi Barat akan membangkitkan Intifada ketiga untuk melawan Israel.

Ramahi menambahkan, pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan Israel semakin menyeret kawasan Timur Tengah ke dalam kemerosotan dan ketidakstabilan. Ia mendesak rakyat Palestina di Yerusalem untuk mempertahankan Al-Aqsa dari serangan pemukim Yahudi dan pasukan Israel.

Dalam sebuah pernyataan terpisah, PLC mengatakan bahwa kerjasama pemerintah Palestina dan Israel terhadap rakyat Palestina dan gerakan perlawanan di Tepi Barat semakin mendorong para pemukim Israel untuk meningkatkan serangan terhadap Masjid Al-Aqsa.

PLC juga menuding pemerintahan AS dan negara-negara Eropa sebagai pihak yang bertanggung jawab atas serangan-serangan tersebut, karena dukungan tiada henti yang mereka berikan kepada Israel dan sikap mereka yang membisu terhadap aktivitas pemukiman ilegal dan Yahudisasi kota suci tersebut.

Kepala institusi internasional Al-Quds, Ahmed Abu Halabiya, pada hari yang sama mengatakan, keberhasilan para pemukim Israel merangsek masuk halaman Masjid Al-Aqsa untuk melakukan ritual Yahudi semakin menunjukkan ketidakmampuan dunia Arab dan Muslim.

Abu Halabiya mendesak para peziarah Palestina yang beribadah di dalam Masjid Al-Aqsa untuk melanjutkan ketabahan mereka dan tidak menyerah. Ia juga menyerukan kepada rakyat Yerusalem dan tanah 1948 untuk berbondong-bondong mendatangi Masjid Al-Aqsa dan memberikan dukungan kepada saudara-saudara mereka.

Anggota Parlemen Jamal Al-Khudari, kepala komite penentang pengurungan Israel, mengatakan bahwa Yerusalem dan Masjid Al-Aqsa berada dalam keadaan kritis dan menghadapi saat-saat yang sulit.

Mengenai semakin meningkatnya serangan Israel terhadap Masjid Al-Aqsa, Khudari menyerukan kepada KTT Arab yang akan dihelat di Libya pada akhir bulan ini untuk menempatkan isu Yerusalem dan Masjid Al-Aqsa di daftar teratas agenda konferensi.

Menurut Khudari, para pemimpin dunia Arab harus mengambil tindakan nyata untuk melindungi Masjid Al-Aqsa dari pelanggaran yang dilakukan Israel.

Komisi Islam-Kristen pendukung Yerusalem dan situs-situs suci mengecam pasukan penjajah Israel (IOF) karena telah menyerbu Masjid Al-Aqsa untuk memuluskan langkah para pemukim ilegal guna menjalankan ritual Yahudi di halaman masjid.

Dalam sebuah penyataan, komisi tersebut mengatakan bahwa IOF mengurung gerbang Masjid Al-Aqsa dan Kota Tua Yerusalem serta menguba kota suci tersebut menjadi area tertutup.

Komisi tersebut memperingatkan bahwa rencana Israel untuk menghubung-hubungkan situs suci Islam dengan festival religius Yahudi, seperti yang terjadi terhadap dua masjid di Tepi Barat, merupakan bagian dari upaya persiapan pengendalian penuh situs-situs suci tersebut.

Dalam sebuah insiden terkait, sejumlah saksi mata Palestina pada hari Minggu melaporkan bahwa otoritas penjajah Israel (IOA) melanjutkan penggalian di wilayah Ras Al-Amud da di dekat wilayah Gua Solomon dengan tujuan untuk membuka jalan yang hanya dipergunakan oleh pada pemukim, mereka mengatakan bahwa keberadaan jalan tersebut semakin membatasi pergerakan warga Palestina di Kota Tua.

Warga Yerusalem memperingatkan bahwa kediaman mereka dapat dihancurkan atau dirampas kapan saja akibat penggalian yang terus dilakukan Israel.

Sementara itu, Dewan Persatuan Dagang di Yordania merasa cemas karena Dewan Keamanan PBB dan Liga Arab karena tidak menggelar pertemuan darurat untuk membahas tindakan Israel di kota suci.

Dewan tersebut menyerukan kepada para pemimpin negara-negara Arab untuk menggelar pertemuan darurat dan membahas langkah antisipasi terhadap kemungkinan perang baru Israel. Dewan tersebut juga mendesak negara-negara anggota Organisasi Konferensi Islam untuk menjauhi hubungan dengan Israel. (dn/pic) www.suaramedia.com


{ 0 comments }

</