Posts tagged as:

London





OLDHAM (SuaraMedia News) – Sebuah organisasi Muslim Oldham telah mematahkan klaim yang dibuat dalam dokumenter Channel 4 tentang grup yang berbasis di London – Forum Islam Eropa (IFE) – yang dengan cara apapun yang ekstrim sedang berusaha ‘menyusupi’ Partai Buruh di ibukota East End.

Dalam program berita-berita yang telah disiarkan, wartawan Andrew Gilingham menyelidiki kelompok itu dan mengklaim bahwa mereka telah menempatkan ’saudara’ mereka dalam posisi kekuasaan politik.



Penyelidikan mengisyaratkan IFE mendukung ekstremisme; berusaha untuk mendirikan sebuah Negara Islam, berusaha untuk memaksakan hukum Syari’ah dan bahwa mereka telah “menyusupi” Partai Buruh Tower Hamlets dengan menempatkan orang-orang dalam cabang-cabang lokal mengontrol posisi partai kunci – yang semuanya telah ditolak IFE.



Oldham Muslim Centre (OMC), yang pada awalnya didirikan oleh Islamic Forum Trust, badan amal milik IFE, berkata program, ‘Britain’s Islamic Republic’ menjelek-jelekan kelompok itu dan kerja nyata mereka di masyarakat.






Juru bicara pusat, Nanu Miah mengatakan: “Program ini sangat bermotif politik.”



“Itu berlangsung hingga ke waktu pemilu dan saya merasa ada individu-individu tertentu mencoba menodai karya baik anggota IFE untuk keuntungan politik mereka sendiri.”



“Kami benar-benar tersinggung oleh program ini dan implikasinya.”



“IFE didirikan untuk menangani isu-isu sosial yang berhubungan dengan Tower Hamlets termasuk narkoba, kejahatan, perang geng, pendidikan dan di atas semua meningkatkan kesadaran tentang Islam dan mempersatukan masyarakat bersama-sama.



“Masalah yang sama dapat dilihat di Oldham dan melalui OMC kita keluar di jalan-jalan hampir setiap hari mencoba untuk menangani masalah yang sama.”



“Tapi di jantung agenda kita dan dari anggota IFE adalah satu hal dan itu adalah toleransi, toleransi terhadap satu sama lain, untuk masyarakat dan agama yang berbeda.”



“OMC, telah diakui untuk bekerja ke arah menjembatani komunitas Oldham dan memiliki kebijakan pintu terbuka untuk semua.”



Miah mengatakan program itu hanya memperdalam pandangan penuh kecurigaan terhadap umat Muslim dan organisasi-organisasi Muslim.



“Saya merasa di Oldham khususnya, masyarakat luas sangat berpikiran terbuka dan menerima budaya yang berbeda di kota kami dan ini juga merupakan refleksi dari kota-kota di Inggris, tetapi program ini akan hanya mencoba memecah belah orang, bukan menyatukan mereka , “katanya.



“Mengapa kita tidak pernah melihat film dokumenter tentang pekerjaan yang baik dari komunitas Muslim di Inggris? Hal ini akan membantu menghilangkan mitos-mitos dan memiliki dampak yang lebih baik untuk meningkatkan kohesi masyarakat.



“Muslim terus-menerus dijelek-jelekan oleh media dan hal ini perlu berhenti.”



Islam Komisi Hak Asasi Manusia (IHRC) juga “sangat prihatin” dengan “perburuan” pada organisasi-organisasi Muslim saat ini .



Hal ini juga menyangkut program-program tersebut akan mengarah ke kebencian terhadap Muslim  dan merasa setiap metode partisipasi politik yang tulus kini digambarkan sebagai “infiltrasi.”



Ketua IHRC, Massoud Shadjareh berkata: “Serangan terhadap IFE merupakan indikasi dari perburuan terhadap partisipasi masyarakat sipil Muslim. Muslim terus-menerus diminta untuk menjadi peserta aktif dalam masyarakat sipil dan ketika mereka melakukannya mereka dilihat dengan ketidakpercayaan dan kecurigaan.”



Seorang juru bicara untuk IFE berkata: “Perlu dicatat bahwa Dispatches tidak memberikan bukti untuk tuduhan yang dibuat terhadap kita, hanya mengandalkan teknik presentasi sensasional dan ‘pelaporan penyamaran’ yang mengungkapkan tanpa ada bukti sama sekali.



“Kami yakin bahwa anggota kami dan masyarakat luas akan menolak cara menyimpang dan menakutkan di mana Dispatches telah melihat bahwa cocok untuk menggambarkan organisasi sukarela kami.”



Sebelumnya, seorang menteri dari Partai Buruh juga mengatakan bahwa partainya telah disusupi oleh IFE yang digambarkannya sebagai sebuah kelompok Muslim yang ingin menciptakan tatanan sosial dan politik Islam di Inggris.



IFE telah menempatkan simpatisannya di kantor terpilih dan mengklaim dapat meraih mobilisasi massa pemilih, tuding Jim Fitzpatrick, Menteri Lingkungan Inggris.



Berbicara kepada The Sunday Telegraph, Fitzpatrick menambahkan bahwa IFE telah menjadi sebuah kelompok rahasia di dalam partai Buruh dan partai politik lainnya



Jim Fitzpatrick, anggota dewan untuk kota Poplar dan Canning, mengatakan bahwa IFE telah menyusup dan mencemari partainya dalam cara yang sama dengan apa yang dilakukan oleh Militant Tendency tahun 1980an. Daftar milik Partai Buruh yang bocor menunjukkan kenaikan anggota 110% di satu konstituensi dalam waktu dua tahun. (iw/an) www.suaramedia.com


{ 0 comments }





LONDON (SuaraMedia News) – Masjid-Masjid di Inggris telah melangkah lebih jauh daripada sekedar menjadi tempat pelaksanaan ibadah. Masjid-Masjid tersebut menjalankan sebuah program screening guna menangani isu kesehatan. Maka, kini di Masjid-Masjid di Inggris, Anda dapat menjumpai barisan orang yang sedang antri untuk diambil sampel ludahnya.

Program kesehatan yang sedang berlangsung di Masjid-Masjid Inggris tersebut dijalankan oleh sebuah tim Royal London Hospital, sebuah rmah sakit di kawasan timur London. Tim tersebut dipimpin oleh  Graham Foster, seorang profesor hepatologi sekaligus petugs yang berwenang dalam menangani penyakit hati yang berkaitan dengan virus  (viral liver disease).



Program screening tersebut sebenarnya telah dimulai sejak lima tahun yang lalu. Lokasi scfeening adalah pusat-pusat komunitas dan Masjid-Masjid dengan jamaah dari Asia.



Screening berlangsung di London barat dan timur; di Walsall dan Sandwell, Midlands; dan di Bradford, West Yorkshire. Sejauh ini, hampir 5000 orang telah menjalani screening.






Sreening menunjukkan adanya insiden viral hepatitis di kalangan komunitas Muslim asal Pakistan sebesar 20 persen. Kecenderungan untuk mengalami insiden viral hepatitis tersebut berbeda di antara pria dan wanita. Secara keseluruhan di Inggris, insiden rata-rata viral hepatitis adalah kurang dari 1  persen. Infeksi virus tersebut dapat berakibat fatal. Tetapi, jika cepat ditangani, penderita yang terjangkit oleh  virus tersebut dapat sehat kembali.



Di Inggris, kebanyakan penderita viral hepatitis merupakan pengguna obat dengan suntikan. Menggunakan sebuah jarum suntik secara bergantian memang sebuah cara penularan yang umum bagi penyakit viral hepatitis.



Namun, orang-orang Pakistan di Inggris yang menderita penyakit hati bukanlah pengguna obat. Mereka – karena  merupakan Muslim – juga tidak menenggak alkohol.



Ditengarai bahwa orang-oang Pakistan tersebut menderita penyakit hati akibat paktek kesehatan yang tidak memadai. Praktek semacam itu biasanya menimpa mereka ketika sedang berkunjung ke Pakistan. Di sana, dokter bisa saja menggunakan sebuah jarum lebih dari sekali untuk menyuntikkan obat, memberi vaksinasi, dan memberi transfusi darah.



Bahkan, adakalanya pengusaha di bidang kesehatan mengumpulkan jarum bekas dari tempat sampah, membersihkannya, membungkus ulang layaknya jarum baru, dan lantas menjual kembali kepada para dokter. Banyak tenaga kesehatan tidak sadar atas resiko penggunaan jarum secara berulang. Pula, tingkat kesadaran terhadap viral hepatitis di Pakistan cukup rendah.



“Begitu kami memberi penjelasan kepada orang-orang yang menjalankan Masjid, mereka menyambut kami dengan tangan terbuka,” kata Foster. “Sebenarnya sangat tidak lazim bagi konsultan rumah sakit untuk terlibat dalam studi-studi komunitas. Namun, ini memberi kesempatan bagi kami untuk mengetahui masyarakat secara mendalam dalam setting ini dibandingkan dengan di rumah sakit. Melihat begitu lancarnya pendekatan screening kesehatan ini berjalan, ini merupakan saat yang menentukan bagi pendekatan kondisi kesehatan di masa mendatang.”



Shahid Mursaleen, juru bicara Minhaj-ul-Quran, sebuah Masjid sekaligus asosiasi komunitas Muslim di London timur, memuji tim Foster atas cara mereka merengkuh masyarakat setempat.



“Dalam khotbah Jumat ini, imam kami mengumumkan informasi tentang hepatitis dan mendorong orang-orang untuk menjalani tes,” kata Mursaleen. “Ia mengatakan bahwa jika orang-orang berada dalam kondisi yang sehat, maka mereka akan meraih keuntungan spiritual. Beberapa orang yang dinyatakan positif telah diobati dan telah sembuh sekarang. Adalah tugas kita untuk bekerjasama dengan NHS dalam hal ini. (es/ie) www.suaramedia.com


{ 0 comments }





ABU DHABI (SuaraMedia News) – Salah satu penerbit permainan video terbesar di dunia memilih untuk menunda judul terbarunya dari kawasan Timur Tengah untuk menghindari menyinggung penduduk lokal, terutama kaum Muslim.

Keputusan Electronic Arts (EA) minggu ini untuk membatalkan penjualan Dante’s Inferno di Timur Tengah menyusul serentetan pencekalan dari badan sensor pemerintah kawasan baru-baru ini yang menarget rilisan-rilisan yang dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai relijius dan budaya negara tersebut.



Permainan kontroversial yang terinspirasi oleh Komedi Ketuhanan Dante Alighieri itu menampilkan pertempuran para iblis atas sebuah jiwa melalui sembilan “lingkaran neraka”. Permainan ini dirilis minggu lalu di Eropa dan hari Selasa lalu di AS.



Kemarin perusahaan tersebut mengkonfirmasi bahwa keputusan untuk tidak menjual Dante’s Inferno di Timur Tengah adalah didasarkan pada riset pasar terhadap selera konsumen setempat.



Bagaimanapun, langkah EA tersebut menimbulkan momok bagi penerbit lain untuk juga menghindari rilis permainan video di kawasan ini, terlepas dari estimasi bahwa industri permainan di Timur Tengah melebihi satu miliar dolar AS, terdiri atas sebagian besar generasi muda di Emirat.






Distributor permainan setempat ingin tahu apakah perusahaan lain akan mengikuti jejak EA, melarang sendiri permainan mereka daripada mengambil risiko judul produksi mereka dicekal oleh sensor pemerintah.



“Ini belum pernah terjadi. Ini adalah yang pertama kalinya,” ujar Rabeeh Zakaria, manajer unit untuk distributor permainan Pluto di Dubai, merujuk pada keputusan EA untuk menyensor permainannya sendiri.



“Saya pikir pihak penerbit memutuskan untuk menghindari kerumitan. Melempar permainan ke pasar dan kemudian harus menariknya membutuhkan usaha, karena itu mereka hanya menghemat tenaga dan uang.”



Bahkan jika permainan itu dirilis, ujarnya, “skenarionya akan tetap sama. Temanya tidak pantas dan permainan itu akan tetap dicekal.”



Distributor Dante’s Inferno di Uni Emirat Arab, Red Entertainment, mengatakan perusahaannya mengingatkan EA mengenai keterlambatan pengembangan permainan itu bahwa kontennya mungkin akan mendatangkan pencekalan.



“Kami menemukan bahwa beberapa konten dalam permainan ini sebelum dirilis akan menyinggung kaum Muslim,” ujar Nitin Mathew, manajer pemasaran untuk Red Entertainment.



“Kebijakan kami adalah jika ini akan menyinggung orang-orang di kawasan, kami akan mempertimbangkan dengan serius untuk tidak merilisnya di sini. Kami telah memperingatkan EA.”



Kishan Palija, direktur pengelolaan jaringan toko Geekay Games di Dubai, mengatakan bahwa para penerbit mungkin sebenarnya sedang menolong diri sendiri dengan memilih untuk tidak merilis judul berisiko itu di kawasan-kawasan tertentu.



“Mereka juga harus memelihara citra perusahaan, karena mereka tidak ingin terlihat buruk di depan Dewan Media Nasional,” ujar Palija.



Meskipun ia lebih suka jika tidak ada permainan video yang dicekal, ia memuji langkah EA untuk tidak merilis Dante’s Inferno di kawasan tersebut demi kepentingan komersial dan persaingan.



“Itu adalah keputusan yang berani,” ujarnya.



“Jika permainan itu datang namun dicekal oleh Dewan Media Nasional, Anda mungkin masih dapat menemukannya di toko-toko bebas cukai dan penjualan masih akan terjadi. Dengan begini, tidak akan ada yang dapat menjualnya, namun saya tidak senang karena jika dicekal saya akan kehilangan usaha.”



Palija menambahkan bahwa para pelanggan telah beberapa hari menanyakan Dante’s Inferno.



“Orang-orang mencari permainan itu. Saya terus mendapat pertanyaan dari toko-toko mengenai kemungkinannya dirilis,” ujar Palija. “Permainan itu cukup populer dan akan memperoleh penjualan yang cukup baik jika dirilis, namun tidak ada peluang baginya untuk lolos sensor.”



Abbas Ali, penggemar permainan video dari Emirat yang mengelola situs teknologi konsumen Tbreak.com, sependapat bahwa itu merupakan langkah cerdas bagi EA untuk tidak menjualnya di kawasan tersebut.



“Saya melihat permainan itu delapan bulan lalu di sebuah even EA di London dan segera tahu bahwa permainan ini tidak akan bisa masuk ke Timur Tengah,” ujar Ali, 37.



Ia ragu bahwa hal ini akan banyak berdampak pada industri, namun, mengatakan bahwa “impor abu-abu untuk setiap permainan video yang telah dicekal tersedia di pasaran.”



 



Impor abu-abu adalah kopian sah dari permainan video yang diimpor secara ilegal.



Zakaria, bersama dengan perusahaan distribusi Pluto, mengatakan bahwa perusahaannya juga bertanggung jawab untuk THQ’s Darksiders, yang impornya dibatalkan bulan lalu setelah Dewan Media Nasional mempelajari kontennya.



Judul terkenal God of War yang dirilis Sony tahun 2005 juga dicekal di Uni Emirat Arab karena kontennya yang menyinggung. Namun, permainan itu dan sekuelnya, God of War II, dijual di jalan-jalan. Diyakini secara luas bahwa God of War III mendatang juga akan dicekal di negara tersebut.



Juru bicara Sony Gulf mengatakan bahwa Sony Computer Entertainment Europe tidak menunda peluncuran sebuah judul, “Namun tentu kami akan mematuhi keputusan Dewan Media Nasional untuk tidak merilis sebuah judul di Emirat.” (rin/tn) www.suaramedia.com


{ 0 comments }





LONDON (SuaraMedia News) – Menteri Luar Negeri Inggris, David Miliband, dituding sebagai orang yang munafik. Tuduhan tersebut dilontarkan setelah Miliband memutuskan untuk mengirimkan putranya ke sebuah sekolah Church of England (Gereja Inggris), meski sejatinya Miliband sendiri merupakan orang atheis.

Menteri Inggris tersebut, bersama dengan Louise, Istrinya, telah mengirimkan putra tertua dari dua orang anak yang mereka adopsi ke sekolah keagamaan yang terletak satu mil lebih dari kediaman mereka di London utara, meski keduanya tinggal berdekatan dengan sebuah sekolah sekuler.



Kepala sekolah dari sekolah yang dipilih Miliband adalah seorang kritikus yang secara terang-terangan mengkritik kebijakan pendidikan pemerintah dan tidak mendukung ujian kontroversial untuk anak usia 10 dan 11 tahun.



Bocah berusia lima tahun tersebut mulai masuk di sekolah tersebut pada bulan September tahun lalu meski Miliband sebelumnya pernah menyatakan bahwa dirinya adalah seorang atheis. Sekolah tersebut dibangun dengan bantuan kelompok-kelompok religius, yang berarti bahwa pihak sekolah dapat membeda-bedakan perlakuan terhadap siswanya, didasarkan pada kehadiran orang tua murid di gereja.



Istri Miliband, seorang pemain biola, mulai mendatangi gereja yang memiliki kaitan dengan sekolah tersebut dua tahun sebelum sang putra dimasukkan.






 



Sebaliknya, sekolah yang terletak paling dekat dengan kediaman Miliband, Primrose Hill Primary, terikat dengan kebijakan dewan distrik Camden dan harus bersedia menerima seluruh murid dengan latar belakang keyakinan apapun.



Ada banyak orang tua yang menjatuhkan pilihan kepada sekolah keagamaan karena hasil yang ditunjukkan lebih baik, sekolah keagamaan juga tampaknya mampu memberikan peningkatan yang lebih jauh.



Dalam sebuah tabel peringkat sekolah yang baru-baru ini diumumkan, hampir dua pertiga dari 329 sekolah dasar yang memiliki hasil “sempurna” adalah sekolah Anglikan, Katolik Roma, atau Yahudi. Pada tahun 2007, hanya empat dari sepuluh sekolah keagamaan yang memiliki hasil “sempurna”.



Terry Sanderson, presiden dari Masyarakat Sekuler Nasional, yang menginginkan pembubaran sekolah-sekolah keagamaan, mengatakan: “Miliband turut bergabung dengan ribuan orang tua yang dipaksa menelan kemunafikan kebijakan pendidikan dari pemerintahannya sendiri.”



“Hal itu berbahaya karena, pada saat sekolah keagamaan mendapatkan reputasi karena hasil-hasil yang lebih baik, para orang tua yang paling mementingkan diri sendiri – dan, saya rasa orang-orang kelas menengah – memilih sekolah keagamaan, hal itu menaikkan hasilnya dengan lebih jauh.”



Asosiasi Masyarakat Humanis Inggris, yang ingin menghilangkan hak sekolah keagamaan untuk melakukan diskriminasi atas dasar agama, mengatakan bahwa pilihan yang dijatuhkan Miliband terhadap sekolah tersebut adalah urusan pribadi.



Kubu oposisi juga menolak untuk membeikan komentar, meski partai tersebut sebelumnya menerima rencana radikal pendanaan sekolah independen oleh pemerintah, yang dapat mengarah pada peningkatan jumlah sekolah yang memilih murid berdasarkan keyakinan yang dianut.



Pada bulan Desember 2009, kepala sekolah tersebut mengkritik kebijakan yang diambil Partai Buruh mengenai ujian sekolah. Kepada Camden Gazzette, ia mengatakan: “Pemerintah terlalu banyak mencurahkan fokus kepada pencapaian, bukannya perkembangan anak-anak.”



“Anda tidak bisa meraih pencapaian yang baik di semua sekolah. Sekolah-sekolah yang menjejalkan teori kepada murid-muridnya hanya demi nilai yang baik seharusnya tidak disertakan, karena sekolah-sekolah itu memiliki jangkauan kurikulum yang sempit.”



“Kami sama sekali tidak mengandalkan buku diktat. Kami melakukan sebagian besar aktivitas belajar mengajar melalui seni, drama dan musik. Kami memiliki kurikulum yang kreatif. Sekolah ini menyenangkan bagi para staf pengajar dan juga murid-murid. Dan sebuah sekolah memang seharusnya seperti ini.”



Pada hari Minggu, sekolah tersebut mengeluarkan penyataan yang berbunyi: Sebagai sekolah yang dibangun dengan sumbangan kelompok keagamaan, maka prioritas utama diberikan kepada anak-anak yang, bersama dengan kedua orangtuanya, bekomitmen penuh terhadap gereja dan rajin beribadah.



“Nyonya Miliband adalah seorang jemaat dalam parokinya, lebih dari satu tahun sebelum memasukkan putranya ke sekolah, dan ia masih sering datang ke gereja.”



Miliband mengadopsi dua orang putra, satu pada tahun 2004, dan satu orang lagi tiga tahun kemudian. Keduanya diadopsi di AS. Istri Miliband memiliki paspor ganda, Inggris dan AS.



Sementara itu, pihak sekolah Primrose Hill menolak memberikan tanggapan. (dn/tg) www.suaramedia.com


{ 0 comments }

Museum London Pamerkan Warisan Pengetahuan Islam

by konspirasi on January 20, 2010





LONDON (SuaraMedia News) – Museum Sains mengumumkan akan menyelenggarakan sebuah pameran baru, “1001 penemuan: Temukan Warisan Muslim di Dunia Kita,” yang melacak seribu tahun ilmu pengetahuan dari dunia Muslim, mulai abad ketujuh hingga sekarang.

Pameran gratis yang diselenggarakan mulai tanggal 21 Januari hingga 25 April 2010 ini akan melihat pencapaian sosial, ilmiah, dan teknis dari dunia Muslim, sambil merayakan warisan ilmu pengetahuan dari kebudayaan lain.



Pameran tersebut merupakan proyek Inggris yang diproduksi bersama Jameel Foundation.



Menampilkan beragam pameran, pajangan interaktif, dan dramatisasi, pameran ini menunjukkan berapa banyak penemuan modern, meliputi bidang-bidang seperti teknik, kedokteran, dan desain yang dapat ditelusuri asal-usulnya hingga ke peradaban Muslim.



“Periode seribu tahun mulai abad ketujuh hingga seterusnya adalah masa kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan yang luar biasa di China, India, Persia, Afrika, dan dunia Arab. Ini adalah periode sejarah yang memberi kita kemajuan besar dalam bidang teknik, perkembangan robotika dan dasar-dasar matematika, kimia, dan fisika modern,” ujar Profesor Chris Rapley, direktur Museum Sains.






“Dengan lebih dari 15.000 obyek dalam koleksi kami yang mencakup berbagai macam budaya, Museum Sains menyediakan konteks yang sempurna untuk pameran ini, sebagai sebuah tempat yang mendorong inovasi dan pembelajaran di antara para pengunjung dari berbagai usia.”



Salah satu poin utama dari pameran itu adalah replika “Jam Gajah” setinggi enam meter, sebuah jam dari awal abad ke-13 yang desainnya menggabungkan elemen-elemen dari banyak budaya dan ditampilkan bersama dengan  sebuah film pendek yang dibintangi oleh aktor pemenang Oscar, Sir Ben Kingsley, sebagai Al Jazari, penemu jam dongeng tersebut.



“Jam Gajah ini adalah sebuah mesin dari awal abad ke-13 yang memiliki bentuk fisik dari konsep multibudaya. Benda menakjubkan ini mengandung bentuk-bentuk gajah India, naga China, mekanisme air Yunani, burung Phoenix Mesir, dan robot kayu dalam pakaian tradisional Arab. Mengejawantahkan konvergensi budaya dan ilmiah dari peradaban dan merupakan sebuah karya utama yang layak untuk sebuah pameran tentang akar ilmu pengetahuan dan teknologi,” ujar Profesor Salim T.S. Al Hassani, pimpinan 1001 Penemuan.



Pameran lain meliputi: model rumah Baghdad yang ramah lingkungan dan hemat energi, reproduksi dari peta dunia milik Al Idrisi dari abad ke-12 sepanjang tiga meter, model bangkai kapal China milik Zheng He yang aslinya berupa struktur kayu sepanjang 15 meter dari abad ke-15, peralatan medis yang berasal dari ribuan tahun lalu, model kamar gelap dari abad kesembilan yang digunakan Ibn Al Haytham untuk merevolusi pemahaman kita akan optik.



Para pengunjung juga dapat belajar tentang cerita paralel penemuan dari budaya dan peradaban lain, diilustrasikan melalui sebuah pajangan benda-benda cantik dan langka dari koleksi Museum Sains, banyak di antaranya belum pernah dipamerkan sebelumnya.



Semua itu termasuk peralatan yang digunakan untuk menimbang, mengukur, peralatan bedah, peralatan astronomi, pot-pot keramik rumit dan tekstil. (rin/me) www.suaramedia.com


{ 0 comments }

</