List/Grid

Tag Archives: Madinah

Peramal Nasib Libanon Tidak Jadi Dipengga

Peramal Nasib Libanon Tidak Jadi Dipengga

Keluarga bersikukuh terdakwa tidak bersalah, dan hukuman dibatalkan setelah lobi antarpejabat tinggi Pria Libanon yang didakwa melakukan praktik ilmu sihir di Arab Saudi, sepertinya tidak akan dipenggal kepalanya. Kabar itu… Read more »

YAHUDI MENGGENGGAM DUNIA

YAHUDI MENGGENGGAM DUNIA

Permusuhan oleh Yahudi dan Nasrani Jangan lengah hanya karena kemanisan mulut mereka! “Dan tidak akan rela orang-orang Yahudi dan Nasrani kepada kamu sehingga kamu mengikuti agama mereka.” (QS al-Baqarah: 120)… Read more »

Organisasi Islam Dunia Kutuk Tindakan Israel Di Masjid Al-Aqsa

Organisasi Islam Dunia Kutuk Tindakan Israel Di Masjid Al-Aqsa





RIYADH (Suara Media News)  – Organisasi Konferensi Islam (OKI) dengan keras mengutuk penyerbuan Masjid Al Aqsa oleh ratusas polisi Zionis Israel dan memperingatkan mengenai konsekuensi berbahaya atas tindakan tersebut.

”Pelanggaran semacam itu, yang terjadi beberapa hari setelah keputusan oleh Pemerintah Zionis Israel untuk secara tidak sah

Setiap kerusakan atas Masjid Al Aqsa dan tempat suci lain akan menghasilkan konsekuensi serius dengan bahaya yang tak dapat diramalkan terhadap keamanan dan perdamaian dunia.

memasukkan Masjid Al Ibrahimi dan Masjid Bilal bin Rabag (Makam Rachel) ke dalam daftar tempat warisan Israel adalah perkembangan berbahaya dalam rancangan Israel guna mencaplok tempat suci Islam,” kata Sekretaris Jenderal Badan Pan-Islam tersebut Ekemeleddina Ihsanoglu di dalam satu pernyataan.

Polisi Israel memasuki kompleks Masjid Al Aqsa untuk menangkap orang Palestina yang mereka katakan melemparkan batu ke pengunjung di sana.
Belasan personel polisi antihuru-hara dikerahkan ke jalan sempit di Kota Tua, sementara pengumuman disiarkan melalui pengeras suara dan menara masjid untuk menyeru umat Muslim ”meyelamatkan Jerusalem”, kata seorang koresponden asing.


Seorang pejabat Komite Tertinggi Islam Jerusalem mengatakan, warga Palestina melemparkan batu ke arah orang yang mereka katakan sebagai anggota kelompok ekstrem Yahudi yang bermaksud berdoa di lokasi itu dan merusak status quo.

Beberapa orang Palestina cedera dalam bentrokan dengan tentara Israel yang menyerbu kompleks itu dan seorang prajurit Israel mengalami luka ringan.
Ihsanoglu mengecam apa yang dia katakan berlanjutnya pelanggaran Israel atas hukum internasional yang melindungi tempat ibadah dan orang yang beribadah di dalamnya.

”Setiap kerusakan atas Masjid Al Aqsa dan tempat suci lain akan menghasilkan konsekuensi serius dengan bahaya yang tak dapat diramalkan terhadap keamanan dan perdamaian dunia,” ujarnya memperingatkan.

Dia juga menyeru masyarakat internasional, Dewan Keamanan PBB, dan Kuartet Internasional agar membuat Israel menghentikan pelanggaran provokatif semacam itu, yang dilakukan negara Yahudi tersebut di Jerusalem dan Masjid Al Aqsa, tempat suci ketiga umat Muslim.

Menurut Polisi Israel meningkatkan keamanan sebanyak dua kali lipat di sekitar Masjid Al Aqsa di Yerusalem, setelah sebelumnya kerusuhan pecah di wilayah tersebut.

“Kami telah menurunkan pasukan tambahan di sekitar kota tua Yerusalam. Polisi hanya akan memberi akses menuju Al Aqsa bagi pria dan perempuan muslim yang berusia di atas 50 tahun,” ucap juru bicara polisi Yerusalem Shmulik Ben Rubi, seperti dikutip AFP, Senin (1/3/2010).

Ben Rubi juga menambahkan, jika kompleks masjid tersebut akan dibuka untuk wisatawan seperti di hari biasa.

Sebelumnya pada hari Minggu 28 Februari, kompleks masjid tersebut dilanda kerusuhan antara warga muslim yang menolak pencaplokan Masjid Al Aqsa oleh pihak Israel. Mereka melempar batu ke arah sekelompok pengunjung masjid yang mereka percaya sebagai kelompok esktrimis Yahudi.

Polisi terpaksa melapaskan tembakan gas air mata ke arah pelaku pelemparan batu di dekat tembok tua yang berusia 400 tahun di kota tua Yerusalem. Dalam insiden ini, polisi menangkap sekitar tujuh orang, dua diantaranya menderita luka-luka.

Kompleks masjid Al Aqsa merupakan situs yang dianggap suci oleh Yahudi. Tempat ini juga dianggap tempat suci ketiga bagi umat muslim setelah Mekkah dan Madinah. Wilayah ini pula seringkali menjadi sumber kekerasan yang terjadi antara Israel dan Palestina.

Kini dengan klaim yang dilakukan oleh Israel atas masjid tersebut makin membuat ketegangan antara umat Muslim dan Yahudi di Timur Tengah terus meruncing. Israel sendiri bermaksud untuk mencaplok wilayah tersebut sebagai warisan nasional mereka.

Langkah ini menuai kecaman dari pihak Palestina dan Amerika Serikat mengkritik langkah Israel tersebut sebagai sebuah bentuk provokasi. (afp/sm) www.suaramedia.com


“Agama Biasa… Mau?” (Bagian 3)

“Agama Biasa… Mau?” (Bagian 3)

Perhatian! Note ini akan lebih bisa dipahami bila dijahit dengan dua note sebelumnya, bagian 1 dan 2. Semoga bermanfaat.

Kelompok kedua yang sejak semula menganggap pewarna wahyu sebagai manusia biasa yang berbuat salah dan lupa, menerima Islam sebagai “agama biasa”.

Pandangan ini memberinya justifikasi untuk melakukan bongkar pasang bahkan sesekali mengkritik dan, kadang, menggugatnya dengan nada sinis dan megejek. Karena tidak memiliki literatur yang cukup tentang kelompok-kelompok lain di luar lingkungan sosio-religiusnya, kelompok ini secara serampangan bersikap under-esitimate seraya menganggap Islam yang dianutnya secara temurun sebagai representasi dari “agama biasa”.

Dan karena itu, kelompok ini tidak pernah mengutip pandangan-pandangan kelompok lain. Paling-paling, yang sesekali dikutip adalah teologi Mu’tazilah dan para cendekiawan pembaharu di Mesir. Filosof yang selalu dikutip tanpa kedalaman adalah Farabi dan Ibnu Rusyd (meski keduanya bukanlah filosof secara definitif). Mereka benar-benar “kuper” soal sejarah dan dinamika filsafat di Iran dan benua Syiah. Tapi, karena dilontarkan di tengah masyarakat tradisional yang fakir informasi tentang filsafat dan rasionalisme Islam, tetap saja pandangan dan artikel-artikel mereka dianggap “baru” dan kontroversial.

Kelompok ini secara terbuka mengusung jargon “Islam Liberal”. Liberalisme semula adalah sebuah ideologi, pandangan filsafat, dan tradisi politik yang didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan adalah nilai politik yang utama. Digunakanlah kata ini demi menegaskan pandangan yang menolak apa yang disebutnya dengan “sakralitas” atau “sakralisasi”, “kultus”, “otoritas teks” seraya mengumandangkan dekonstruksi, lokalisasi, dan kontekstualisasi sesuai dengan mainset pandangannya.

Gagasan-gagasan kritis kelompok ini hampir tidak pernah mengalami kemajuan. Setiap tokohnya hampir mengulang-ulang lontaran tentang isu-isu langganan, semacam kritik terhadap apa yang disebutnya “bias gender” dalam hukum waris, poligami dan semacamnya dalam teks-teks suci, al-Qur’an dan Hadis. Menurut Haidar Bagir, tak sulit untuk mencari dasar bagi prinsip-prinsip pemikiran tokoh-tokoh JIL, termasuk di dalamnya soal nilai penting prinsip-prinsip (moral) universal atau maqashid al-Syari’ah versus hukum-hukum yang bersifat partikular, sifat progresif pemikiran dan penafsiran Islam serta keharusan ijtihad tanpa henti, pemberian perhatian pada konteks hermeneutik selain teks tradisi suci, sifat abadi dan temporal doktrin-doktrin keislaman, inklusivisme Islam, sekularisasi, dan sebagainya. Ringkasnya, tidak ada yang benar-benar fresh sebagai gagasan yang layak untuk menyita perhatian dunia.

Sebagian besar pengkritik kelompok ini mempersoalkan metdologi dan landasan epiostemologis yang digunakannya. Haidar Bagir adalah salah satu cendekiawan yang mempertanyakan metodologi dan epistemologi kelompok ini Tapi, yang menjadi landasan utama pemikiran kelompok sebenarnya adalah pandangannya tentang kenabian dan Nabi yang dianggapnya sebagai “manusia biasa”. Ulil dalam artikelnya, mengatakan, “Muhammad SAW adalah tokoh historis yang harus dikaji dengan kritis, (sehingga tidak hanya menjadi mitos yang dikagumi, tanpa memandang aspek beliau sebagai manusia yang banyak kekurangannya), sekaligus panutan yang harus diikuti (qudwah hasanah). Karena itu, menurutnya, Muhammad saw sebagai seorang politikus tidak harus ditiru kebijaksanaannya. Pandangan ini menjadi biang bagi seluruh gagasan-gagasan kritis yang menuai kontroversi.

Karena Muhammad dipandang sebagai manusia biasa, maka ia tidak imun dari pengaruh di luar wahyu, dan karena itu, kebijaksanaannya selama di Madinah sangat dikondisikan oleh konteks sosial dan sejarah yang spesifik pada saat itu.”

Bila dikaji lebih runut, sumber persoalannya adalah irasionalitas pandangannya tentang prinsip ketuhanan (teologi) dan keberadaan (ontologi). Harus diakui, meski umat Islam sama-sama meyakini Muhammad sebagai Nabi, namun landasan sikap dan keyakinan tentang prinsip ini tidaklah melulu sama, terutama dalam detail penjabarannya.

Dalam ranah teologi Islam, kita mungkin hanya mengenal “iman kepaada Nabi”, sebagaimana dalam Rukun Iman dalam teologi Asy’ariyah. Padahal dalam literatur Islam yang di luar poros Mesir Sunni dan Saudi Wahabi (yang juga bisa disebut poros Islam Arab, bagi yang hendak mencari-cari latarbelakang demografisnya), ada yang memasukkan “iman kepada Nabi” sebagai bagian dari prinsip filosofis rasional “iman kepada kenabian”. Ini mungkin bisa disebut sebagai pandangan Islam poros Syiah plus representasi Islam non Arab. (Penyebutan aspek etnis “Arab” dan “non Arab” kadang menjadi penting bagi kelompok ini karena isu “Islam lokal” yang selalu digemborkannya).

Kelompok ini, secara filosofis, menjelaskan “nabi” dan “kenabian” (an-nubuwah) sebagai dua entitas konseptual yang berbeda, meski menjurus kepada figur yang sama. “Iman kepada Nabi” tanpa didahului dengan “iman kepada kenabian” hanya akan mengarahkan pengiman kepada keterikatan personal. Inilah yang bisa dianggap sebagai celah kritik pemujaan personal yang disebut dengan “kultus individu”. Menerima dan meyakini sebuah person dan figur sebagai Nabi, tanpa dilandasi dengan pandangan dunia Ketuhanan berikut sistem dan tujuan penciptaan, sangat rentan bagi munculnya kebingungan dalam menyikapi keputusannya baik sebagai pewarta wahyu maupun sebagai pemimpin. (bersambung)

Mengenal lebih dekat Musik Gothic

Mengenal lebih dekat Musik Gothic

Gothic-ism, Pandangan? Art? Culture? Atau Sekedar Style? “Free our minds and find a way. The world is in our hands, This is not the end” (Within Temptation) “[Goth] is the… Read more »

Kado Asyura—Tinjauan terhadap Pilihan Waktu

Kado Asyura—Tinjauan terhadap Pilihan Waktu


Sebuah artikel bernas yang mengeksplorasi sisi lain yang tak terlihat dalam Asyura, ditulis oleh Musa Kazhim, adik saya.

Salah satu aspek penting dalam strategi Imam Husein adalah waktu gerakan yang beliau pilih untuk pergi dari Madinah menuju kesyahidannya di Karbala. Di sini saya hanya akan memberikan gambaran umum tentang rahasia pilihan waktu itu, agar kita benar-benar menyadari bahwa Imam Husein memang memilih tiap langkahnya dengan kehendak bebas, cerdas dan jitu. Tiap langkah beliau berperan penting bagi kesuksesan misi beliau mengelektrifisir semangat perlawanan umat terhadap kezaliman.

Pertama, sejarah merekam bahwa Imam Husein pergi meninggalkan Madinah menuju Mekkah pada hari ketiga bulan Sya’ban tahun 60 Hijriah. Mulai hari itu sampai tanggal 8 Dzul Hijjah tahun 60 Hijriah beliau menetap di Mekkah. Di kota suci ini, Imam Husein bertemu dengan ribuan kaum Muslim dari berbagai penjuru dunia. Beliau juga memberikan berbagai wejangan, sekaligus menjelaskan falsafah gerakan perlawanannya. Jelas bahwa keberadaan beliau di Mekkah pada bulan-bulan suci itu merupakan bagian dari rencana matang yang telah beliau persiapkan sejak semula.

Seperti sudah kita ketahui bersama, Sya’ban dan Ramadhan adalah dua bulan yang banyak mengandung nilai kesucian dalam Islam. Pilihan beliau untuk berangkat dari Madinah pada awal Sya’ban itu sama sekali tidak boleh dipandang sebagai kebetulan belaka. Pilihan itu jelas sekali untuk mendukung dan memperjelas posisi kesucian gerakan beliau.

Rajab, Sya’ban dan Ramadhan adalah tiga di antara 12 bulan Islam yang dianggap sebagai bulan-bulan ibadah. Tapi, di antara ketiganya, bulan Ramadhan jelaslah yang paling bernilai. Di bulan inilah Allah memerintahkan manusia untuk berpuasa; berpuasa dari kelalaian, kebodohan, kesombongan, pencarian dunia. Dalam banyak hadis, Nabi menyatakan bahwa ibadah yang terbaik adalah bertafakur dan mengekang diri dari segenap larangan-Nya, agar kemudian kita dapat berbuka dengan pencerahan dan kesadaran baru.

Sudah barang tentu tidak ada waktu yang lebih tepat untuk mengingatkan kaum Muslim akan kerusakan yang ditimpakan oleh kekuasaan Yazid atas Islam selain bulan Ramadhan. Selain akan mendukung pesan-pesan suci beliau, di bulan ini kebanyakan kaum Muslim berada pada tingkat kesucian yang lebih dari biasanya. Di bulan suci ini, Imam Husein ingin mengingatkan umat akan kewajiban tertinggi Islam yang merupakan konsekuensi langsung dari tauhid, yaitu menegakkan keadilan dan melawan penindasan.

Kedua, Imam Husein juga memilih pekan pertama bulan Dzul Hijjah, tepatnya tanggal 8, untuk memulai perjalanannya menuju Kufah. Kita tahu bahwa ibadah haji mempunyai dimensi sosial, politik dan ekonomi yang sangat kental. Pada momen ini, Imam Husein mulai mengumandangkan manifesto gerakannya. Lebih lagi, kita tahu bahwa dalam ibadah haji ini Allah memerintahkan kita untuk menyatakan bara’ah (lepas tangan) dari kaum Musyrik dan segala kejahatan. Nah, memilih bulan ini untuk menyerukan perintah bara’ah sangatlah strategis dan tepat sasaran.

Manakala banyak Muslim berihram untuk melaksanakan ibadah haji, cucu Nabi ini justru meninggalkan Mekkah. Beliau hanya melakukan umrah dan tidak melanjutkan haji. Setelah bertawaf mengelilingi Ka’bah dan melakukan sai antara Shafa dan Marwa, beliau melepas ihram. Kejutan seperti ini beliau pakai untuk menambah bobot dalam gerakannya. Beliau berharap masyarakat Muslim bertanya-tanya dan mencari alasan di balik pilihan ini.

Di hadapan para jamaah haji yang datang menemuinya waktu itu, Imam Husein mengatakan bahwa tidak ada yang dapat beliau lakukan kecuali beranjak menyambut kesyahidan. Di hari terakhir keberadaannya di Mekkah, Imam Husein berkata: “Aku bisa melihat serigala-serigala padang pasir Irak menyerangku di antara Nawawis dan Karbala dan merobek-robek tubuhku. Mereka melakukannya demi memenuhi kantong-kantong harta mereka. Urusan mereka adalah memuaskan kerakusan, sedangkan urusanku adalah melawan kerusakan dalam masyarakat dan agama ini. Allah telah memilih kesyahidanku sebagai penyembuh dan jalan perbaikan keadaan… Hanya orang yang siap mengorbankan nyawanya di jalan Allah yang akan menemaniku.”

Sebagian pengamat menyatakan bahwa beliau tidak ingin para kolaborator Yazid merusak kesucian Mekkah dan membunuhnya di sana. Beliau khawatir tindakan itu akan menjadi preseden buruk bagi Islam di kemudian hari. Tapi, agaknya, upaya beliau meninggalkan ihram dan berangkat menuju Kufah pada tanggal 8 itu juga untuk menunjukkan sikap yang lebih fundamental: bahwa apa yang beliau lakukan lebih penting ketimbang semua ibadah ritual apapun. Beliau sedang melakukan penyelamatan Islam dari tangan-tangah para durja. Dan ini memang tampak jelas bagi siapa saja yang pada waktu itu berkumpul mendengarkan ceramah-ceramah Imam di Mekkah.

Saat Muhammad bin Hanafiyah memberitahukan bahwa orang-orang Mekkah dan jamaah haji bertanya-tanya mengapa dia pergi sehari sebelum hari raya Haji, Imam meninggalkan surat kepada saudaranya yang menerangkan maksudnya dengan jelas. Surat itu antara lain berisi: “Aku tidak keluar untuk melakukan huru-hara atau penindasan. Aku ingin membawa umat ini kembali ke jalan amar makruf nahi munkar. Aku ingin mengajak mereka ke jalan kakekku Rasulullah dan ayahku Ali bin Abi Thalib.”

Ketiga, Imam Husein tiba di Karbala pada tanggal 2 Muharam. Dan Muharam adalah bulan hijrah Nabi yang kemudian dijadikan tahun baru Islam. Imam Husein memilih tiba di sana pada awal Muharam untuk tujuan yang juga sangat penting. Salah satu tujuannya ialah mengaitkan hijrahnya dengan hijrah Nabi. Imam Husein ingin mengingatkan kita pada tujuan hijrah Nabi ke Madinah yang tak lain adalah membangun masyarakat Islam yang berkeadilan. Nabi tidak berhijrah untuk kekuasaan atau sejenisnya, demikian pula Imam Husein.

Tahun baru Islam ini juga beliau jadikan momentum untuk menyegarkan kembali kesadaran umat akan Islam yang dibawa Nabi Muhammad. Setidaknya ada dua esensi Islam yang didengung-dengungkan oleh Imam Husein sepanjang perjalanannya, (a) tauhid, yakni tiada tuhan dan penguasa selain Allah dan bahwa semua kekuasaan yang tidak tegak di atas perintah Allah adalah kekuasaan yang zalim; dan (b) tidak ada keunggulan satu manusia atas manusia lain kecuali dengan ketakwaan. Dan seperti kita tahu, ketakwaan dalam Islam merupakan istilah generik untuk semua kebajikan.

Kita tahu bahwa di zaman itu umat Islam diterpa oleh fitnah Jahiliah yang mempermainkan sentimen kesukuan, fanatisme kelompok dan semangat regional. Banyak kalangan masyarakat Arab yang kembali menjalin afinitas berdasarkan hubungan-hubungan seperti ini, sehingga Imam Husein mendesak semua orang untuk tidak berpikir dengan landasan konyol seperti itu.

Sejak Nabi wafat sampai kebangkitan Imam Husein, masyarakat Islam sering terpecah berdasarkan suku (tribalisme), mujahir versus non muhajir (partisanisme), Kufah versus Syam (regionalisme), dan sebagainya. Seperti juga kakeknya, Imam Husein hendak menyatakan bahwa kelebihan atau kekurangan orang adalah konsekuensi pilihan bebasnya sendiri, bukan berpijak pada hal-ihwal yang tidak bisa dipilih seperti garis keturunan, tempat kelahiran dan semacamnya. Selain itu, baik Nabi maupun Imam Husein sebenarnya sama-sama bergerak untuk menyambut permintaan warga setempat. Mereka sama-sama bergerak dengan niat melayani, bukan memerintah atau menguasai.

Pada kali pertama perjumpaannya dengan pasukan Ibn Ziyad di Karbala, Imam Husein berseru sebagai berikut, “Ingatlah, bila kalian melihat penguasa melanggar larangan Allah dan Rasul-Nya, bergelimang dosa dan menindas rakyat yang dipimpinnya, tapi kalian tidak berbuat apa-apa untuk menghentikan penguasa macam itu, maka di hadapan Allah kalian dan dia sama-sama berdosa.” Lalu beliau menambahkan: “Orangtuaku tidak membesarkanku untuk tunduk pada penindas yang keji. Aku adalah Imam kalian dan sudah menjadi kewajibanku untuk memberitahu kalian bahwa kalian telah menyerahkan kemerdekaan pikiran kalian pada cara-cara jahat Yazid. Jika kalian tidak peduli pada Islam, dan tidak takut hari perhitungan, maka setidaknya pedulilah pada karunia Allah yang berharga bagi kalian, yakni kemerdekaan jiwa kalian!”

Di samping kerupaan tujuan, hijrah Nabi dan hijrah Imam Husein juga memiliki keserupaan dalam pola dan metode. Misalnya, keduanya sama-sama mengutus delegasi untuk memastikan kesiapan warga setempat, melakukan inspeksi lapangan dan menemui pimpinan suku-suku setempat. Kesimpulannya, yang jelas, siapa saja yang membaca sejarah hijrah Nabi dan gerakan Asyura akan menemukan sekian banyak keserupaan, baik dalam tujuan maupun pola gerakan. Pemimpin Hizbullah, Sayyid Hasan Nahsrullah, dalam seri ceramah Asyura 1429 H. telah mengupas berbagai titik persamaan antara kedua hijrah tersebut.

Aspek penting lain dalam gerakan Imam Husein adalah tempat-tempat yang beliau lalui menuju Karbala. Belum ada riset luas mengenai signifikansi khas masing-masing tempat tersebut, tapi jelas bahwa posisi geografis Karbala memiliki arti penting bagi strategi dan keberhasilan gerakan Imam Husein.

Marilah kita mulai dengan kota yang paling penting, Mekkah. Sebagai Muslim, kita percaya bahwa inilah tempat paling suci di muka bumi. Inilah tempat pertama yang Allah bangun sebagai rumah ibadah. Di sini Nabi Ibrahim melakukan ibadahnya yang mencerminkan tauhid dan melakukan pengorbanan terbesarnya, berupa penyembelihan Ismail. Inilah kiblat, tempat ibadah haji dan berkumpulnya manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dan dari sini pula Nabi mengawali perjuangannya menyebarkan ajaran tauhid.

Keberangkatan Imam Husein dari Mekkah semakin mempertegas keserupaan kedua hijrah ini. Imam ingin menjaga keserupaan ini dalam semua dimensinya, termasuk secara lahiriah, sedemikian hingga ingatan tentang hijrah akan membawa orang pada ingatan tentang Asyura. Pilihan Mekkah sebagai titik tolak ialah untuk meletakkan hijrah Nabi dan Asyura dalam satu lingkaran misi yang utuh. Barangkali dalam koteks inilah seharusnya kita memahami hadis Nabi yang berbunyi, “Husein dariku dan aku dari Husein. Allah mencintai siapa saja yang mencintai Husein.”

Setelah beranjak dari Mekkah, ada 13 persinggahan lain yang Imam Husein lalui sebelum tiba di Karbala. Saya akan mengutip beberapa di antaranya dari Route of Imam Hussain (A.S) from Makkah to Karbala karya Syed MR Shabbar. Persinggahan pertama Imam Husein adalah Saffah. Di sini Imam bertemu dengan Farazdaq, penyair Arab yang ditanyai oleh Imam tentang keadaan penduduk Kufah. Mendengar kata-kata Farazdaq yang sudah kita kutip di atas, Imam menjawab, “Allah telah mengambil keputusan. Aku serahkan nasibku kepada-Nya yang telah memberiku alasan yang benar untuk bergerak.”

Selanjutnya Imam singgah di Dzat Al-Irq. Di tempat ini beliau bertemu dengan Abdullah bin Jafar yang menyerahkan dua anak lelakinya, Auwn dan Muhammad, kepada ibunya, Sayidah Zainab, untuk membantu Imam. Abdullah membujuk Imam untuk kembali ke Madinah tetapi Imam menjawab, ”Nasibku di tangan Allah.” Di Zurud, kota atau desa berikutnya, Imam bertemu dengan Zuhair bin Qain. Zuhair bukan termasuk pengikut Ahlulbait. Tapi, ketika Imam memberitahukan tujuan perjalanannya, Zuhair menitipkan semua hartanya kepada istrinya dan menyuruhnya pulang sendirian, karen dia berniat menjadi syahid bersama Husein.

Sesampainya di Zabala, tidak jauh dari Zurud, Imam mendengar berita syahadah Muslim bin Aqil, utusannya untuk menengok warga Kufah. Imam berkata, “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. ‘Indallahi nahtasib anfusana.” (Kita berasal dari Allah dan pasti kembali kepada-Nya. Kepada-Nyalah kita pasrahkan diri kita). Seorang dari suku Asadi mencoba membujuk Imam untuk balik, tapi beliau tak bergeming. Di sini Imam memberitahukan sahabatnya itu tentang kematian Muslim bin Aqil dan Hani dan bahwa orang Kufah telah berkhianat. Imam berkata,”Siapa yang ingin pergi, silahkan.” Kumpulan orang dari berbagai suku yang ikut dalam perjalanan dengan harapan mendapatkan pampasan perang menyadari harapan mereka menemui jalan buntu. Mereka pun akhirnya berpencar pulang. Hanya 50 orang yang tetap tinggal bersama Imam Husein.
Lalu Imam bermalam di Sorat dan pagi harinya beliau memerintahkan para sahabatnya untuk membawa air sebanyak mungkin. Tak jauh dari Sorat, tepatnya di desa Zuhasm, Imam bertemu dengan al-Hurr yang membawa pasukan 1000 orang. Mereka kehausan lalu Imam memerintahkan para sahabat untuk memberi air pada mereka. Imam sendiri menolong beberapa tentara yang kehausaan untuk minum. Bahkan binatang mereka pun diberi minum. Selepas shalat Zuhur berjamaah, Imam mengabarkan pada al-Hurr tentang surat-surat yang dia terima dari Kufah.

Beliau berseru,”Wahai warga Kufah, kalian kirim delegasi dan ratusan surat untuk menyatakan bahwa kalian tidak punya pemimpin dan memintaku datang untuk memimpin kalian di jalan Allah. Kalian menulis bahwa kami Ahlulbait lebih pantas mengendalikan urusan kalian daripada para pelaku kezaliman dan kebatilan. Tapi, jika kalian mengubah putusan, mengabaikan hak kami dan melupakan janji kalian, maka aku akan kembali.”

Keesokan harinya, Imam Husein sampai di Baiza dan memberikan khutbahnya yang terkenal. ”Wahai manusia, Nabi telah berkata bahwa jika seseorang menjumpai pemimpin tiran, menyeleweng dari jalan Allah dan Nabi dan menindas orang, tapi kalian tidak melakukan apa-apa lewat perkataan atau tindakan untuk mengubahnya, maka keadilan Allah yang akan menghukumnya. Tidakkah kalian melihat nistanya keadaan kalian… Tidakkah kalian perhatikan bahwa kebenaran tidak diikuti dan kebatilan berlaku tanpa batas. Aku akan mencari syahada, karena hidup di tengah kesesatan tidaklah berarti apa-apa kecuali kesedihan dan penderitaan.”

Di Uzaibul Hajanat, Imam bertemu dengan Tsimmah bin Adi. Setelah mengetahui Kufah telah menelantarkan utusannya, Muslim bin Aqil, Imam tidak lantas kecil hati. Saat Trimmah menawarkan bantuan 20.000 tentara terlatih dari sukunya untuk mengiringi Imam ke Kufah atau berlindung di pegunungan, Imam menjawab, “Semoga Allah memberkahimu dan orang-orangmu. Aku tidak bisa menarik kata-kataku.” Dari jawaban ini jelas bahwa Imam mengerti sepenuhnya situasi yang bakal dia hadapi. Dia juga telah mempersiapkan strategi jitu untuk mengadakan revolusi demi penyadaran kaum Muslim. Dia tidak mencoba memobilisasi pasukan militer yang dapat dengan mudah dia lakukan sejak di Hijaz, sebagaimana dia juga tidak mengambil kesempatan mendapatkan kekuatan militer baru.

Pada hari pertama Muharam, Imam dan rombongan tiba di wilayah Nainawa. Rombongan melanjutkan prosesi melewati Ghadiriyah menuju lokasi yang disebut dengan Karbala. Sebelum berhenti, Imam menanyakan nama lokasi itu. Seseorang memberitahunya bahwa tempat itu bernama Karbala. Imam lalu menjawab, “Memang, inilah tempat karb wa bala (kegelisahan dan prahara). Mari kita berhenti di sini karena kita telah tiba di tujuan. Ini adalah tempat kesyahidan. Inilah Karbala.”

Karbala adalah sebuah tempat yang unik dalam sejarah manusia. Nama-nama lain wilayah ini adalah Nainawa, al-Ghadiriyah dan Tepian Furat (syathi’ul-furât). Masing-masing nama itu sepertinya merujuk pada salah satu karakteristik wilayah tersebut. Sebagai pembukaan, saya akan mengutip pasase dari tulisan Abdullah Yusuf Ali, penerjemah al-Qur’an yang sangat terkenal itu.

“Dalam rangka memberikan gambaran geografis seputar tempat tragedi besar ini terjadi, saya merasa beruntung punya ingatan pribadi tentangnya. Semua ingatan itu mempertegas gambaran di benak saya, dan mungkin bisa juga membantu Anda.

Ketika saya mengunjungi tempat-tempat itu pada tahun 1928, saya ingat datang dari Baghdad melalui seluruh titik yang dilewati oleh sungai Eufrat. Saat saya menyeberang sungai dengan perahu di Al-Musaiyib pada pagi cerah bulan April, benak saya meloncat ke abad-abad silam. Di sisi kiri aliran sungai itu ada tanah tua dari sejarah Babilonia, stasiun kereta Hilla dan reruntuhan kota Babilon. Di situ Anda menyaksikan salah satu peradaban kuno terbesar. Lantaran mungkin bercampur debu, baru beberapa tahun terakhir ini kita menyadari kebesaran dan keagungan tempat itu.

Lalu di situ Anda menemukan arus besar sungai Eufrat, yang dinamai dengan Furat, sebuah sungai yang tiada bandingnya. Sumber air yang berhulu dari berbagai tempat di pegunungan Armenia Timur, mengalir meliuk-liuk melewati daerah perbukitan, dan akhirnya menyusuri gurun pasir, seperti yang kita ketahui sekarang. Di tiap cabang atau anak sungainya, ia mengubah gurun menjadi daerah perkebunan buah-buahan. Dalam ungkapan indahnya, Eufrat telah membuat gurun pasir mekar seperti mawar. Sungai ini menyusur sampai ujung Timur gurun Suriah lalu mengalir ke rawa-rawa.

Di bagian yang tidak jauh dari Karbala sendiri terdapat danau-danau yang menampung air dan menjadi sumber air untuk keperluan hidup. Ke bawah lagi sungai ini bersatu dengan sungai lainnya, yaitu Tigris, dan gabungan aliran sungai ini dikenal sebagai Shatt al-Arab yang mengalir sampai ke Teluk Persia.”

Tapi gambaran geografis Abdullah Yusuf Ali itu belum menjelaskan rahasia tempat ini, dan mengapa sebenarnya Imam memilih Karbala sebagai tanah kesyahidannya? Ada banyak teori yang dikemukakan untuk menjawab soal ini. Secara umum, ada dua teori saling berhubungan yang mencoba menyingkap rahasia tempat itu. Pertama, tempat ini dipilih berdasarkan isyarat Ilahi yang diterima oleh Nabi tentang kesyahidan Imam Husein. Karena itu, saat mendengar nama Karbala, Imam yang pernah mendengar isyarat Ilahi itu dari Nabi langsung meminta para sahabatnya untuk mendirikan tenda dan menetap di situ. Menurut teori ini, ada misteri Ilahi yang agung dalam pemilihan tempat tersebut.

Kedua, sejalan dengan teori pertama, Imam memilih tempat ini karena ia berada di wilayah paling tua dalam sejarah manusia, yakni Mesopotamia. Seperti sudah kita tahu, di Mesopotami itulah manusia mulai pertama kali mencatat sejarahnya sekitar 3500 tahun sebelum Masehi. Sejak ribuan tahun itu pula, manusia telah membangun ratusan peradaban di sungai Eufrat dan Tigris. Para ahli sejarah menyebut Mesopotamia (secara harfiah berarti, ‘di antara dua sungai’) sebagai cradle of civilization (buaian peradaban). Jadi, Karbala dipilih dengan kesadaran penuh Imam akan sebuah konteks trans-historis dari misi yang diembannya. Imam sadar betul bahwa Karbala dapat menjadi lambang keabadian misinya. Semua manusia tertindas di muka bumi ini dapat mengaitkan dirinya dengan tanah persaksian itu. Dan karena itu, setelah peristiwa Asyura, di mana-mana kita mendengar slogan, “Kullu yaumin ‘Asyura wa kullu ardhin Karbala.” (Setiap hari adalah Asyura, dan setiap tempat adalah Karbala).

Edward G. Brown, seorang profesor di University of Cambridge pernah menulis: “…ingatan akan padang Karbala yang bersimbah darah, tempat cucu Rasul gugur, tak berdaya, disiksa oleh dahaga, dan dikerubungi oleh para pembunuh keluarganya, sejak waktu itu hingga sekarang ini, tetap memadai untuk menimbulkan, sekalipun di hati orang yang paling suam dan tak peduli, sebuah emosi yang terdalam, kesedihan yang meluap-luap, dan kebangkitan semangat yang di hadapannya semua rasa sakit, bahaya, dan kematian menjadi demikian remeh.”