Posts tagged as:

Maka

“Agama Biasa”…Mau?

by konspirasi on February 25, 2010


Ada tiga asumsi menyikapi agama, menerima atau menolaknya.

Asumsi pertama: Pembawa agama dan penyampai wahyu Tuhan itu manusia biasa, yang berbuat salah dan kadang lupa. Karena itu, sebagian ajarannya tidak bisa mutlak diterima dan diterapkan, bahkan perlu dikoreksi dan diganti dengan pandangan-pandangan lain yang dinilai lebih logis dan relevan.

Premis I : Penyampai wahyu Tuhan dan pengawal adalah manusia biasa (tidak pasti benar karena lupa dan salah)
Premis II : Nabi adalah penyampai wahyu Tuhan
Premis II: Wahyu Tuhan adalah biasa (tidak pasti benar)

Karena agama yang dianutnya “biasa”, ia merasa perlu menyempurnakan, bongkar pasang dan merevisinya. Ini sangat bisa dimaklumi bila dilihat dari konteks dasar penerimaannya.

Ini bisa diumpamakan dengan orang yang menerima martabak biasa bahkan sangat biasa. Sambila menggerundel menambahkan garam, telur dan beberapa bahan utk bisa menikamtinya.

Asumsi kedua: Penyampai wahyu Tuhan dan pengawal agama adalah manusia biasa. Karena biasa (salah dan lupa), maka ajarannya biasa (salah dan lupa). Karena ajarannya (biasa) bisa salah dan lupa, maka ajaran Tuhan yang benar tidak bisa disampaikan. Karena tidak bisa disampaikan ke manusia, maka tidak ada agama yang bisa diterima.

Premis I : Wahyu Tuhan adalah biasa (tidak pasti)
Premis II: Sesuatu yang tidak pasti benar mesti ditolak
Premis II: Wahyu Tuhan mesti ditolak

Karena agama yang dianutnya ternyata tidak benar, maka ia pun meninggalkannya. Ini juga bisa dimaklumi bila melihat konteks dasar penerimaannya.

Ini bisa diumpamakan dengan orang yang menolak makan martabak yang sama sekali tidak sesuai dengan ekspektasinya tentang martabak yang layak dimakan.

Asumsi ketiga: Pembawa dan penyampai wahyu bukanlah manusia biasa, karena manusia penyampai wahyu berbeda dengan manusia yang tidak menyampaikan wahyu. Apabila penyampai wahyu adalah manusia biasa (salah dan lupa), maka :

1) Manusia penyampai wahyu dan yang bukan penyampai wahyu adalah sama (lupa dan salah) (Ajaran Nabi tidak terjamin kebenarannya) (asumsi pertama).
2) Ajaran Tuhan tidak akan pernah sampai (asumsi kedua).

Padahal kita umat bergama dan umat Islam secara khusus telah menerima agama dan membenarkan wahyu yang disampaikan oleh manusia penyampai tersebut. Maka konsekuensinya adalah : penyampai wahyu pastilah manusia luar biasa (tidak lupa dan tidak salah) agar :

1) Ajaran Tuhan yang disampaikannya luar biasa (tidak salah dan tidak lupa)
2) Penyampain ajaran Tuhan adalah manusia luar biasa (tidak salah dan tidak lupa)
3) Ajarannya yang disampaikan mesti diterima dan diterapkan karena disampaikan oleh manusia yang tidak salah dan tidak lupa.

Ini bisa diumpamakan dengan orang yang menerima dan menikmati martabak luar biasa (spesial), dan tidak merasa perlu sibuk menambahkan bumbu atau lainnya apalagi minta dibuatkan martabak baru.

{ 0 comments }





LONDON (SuaraMedia News) – Masjid-Masjid di Inggris telah melangkah lebih jauh daripada sekedar menjadi tempat pelaksanaan ibadah. Masjid-Masjid tersebut menjalankan sebuah program screening guna menangani isu kesehatan. Maka, kini di Masjid-Masjid di Inggris, Anda dapat menjumpai barisan orang yang sedang antri untuk diambil sampel ludahnya.

Program kesehatan yang sedang berlangsung di Masjid-Masjid Inggris tersebut dijalankan oleh sebuah tim Royal London Hospital, sebuah rmah sakit di kawasan timur London. Tim tersebut dipimpin oleh  Graham Foster, seorang profesor hepatologi sekaligus petugs yang berwenang dalam menangani penyakit hati yang berkaitan dengan virus  (viral liver disease).



Program screening tersebut sebenarnya telah dimulai sejak lima tahun yang lalu. Lokasi scfeening adalah pusat-pusat komunitas dan Masjid-Masjid dengan jamaah dari Asia.



Screening berlangsung di London barat dan timur; di Walsall dan Sandwell, Midlands; dan di Bradford, West Yorkshire. Sejauh ini, hampir 5000 orang telah menjalani screening.






Sreening menunjukkan adanya insiden viral hepatitis di kalangan komunitas Muslim asal Pakistan sebesar 20 persen. Kecenderungan untuk mengalami insiden viral hepatitis tersebut berbeda di antara pria dan wanita. Secara keseluruhan di Inggris, insiden rata-rata viral hepatitis adalah kurang dari 1  persen. Infeksi virus tersebut dapat berakibat fatal. Tetapi, jika cepat ditangani, penderita yang terjangkit oleh  virus tersebut dapat sehat kembali.



Di Inggris, kebanyakan penderita viral hepatitis merupakan pengguna obat dengan suntikan. Menggunakan sebuah jarum suntik secara bergantian memang sebuah cara penularan yang umum bagi penyakit viral hepatitis.



Namun, orang-orang Pakistan di Inggris yang menderita penyakit hati bukanlah pengguna obat. Mereka – karena  merupakan Muslim – juga tidak menenggak alkohol.



Ditengarai bahwa orang-oang Pakistan tersebut menderita penyakit hati akibat paktek kesehatan yang tidak memadai. Praktek semacam itu biasanya menimpa mereka ketika sedang berkunjung ke Pakistan. Di sana, dokter bisa saja menggunakan sebuah jarum lebih dari sekali untuk menyuntikkan obat, memberi vaksinasi, dan memberi transfusi darah.



Bahkan, adakalanya pengusaha di bidang kesehatan mengumpulkan jarum bekas dari tempat sampah, membersihkannya, membungkus ulang layaknya jarum baru, dan lantas menjual kembali kepada para dokter. Banyak tenaga kesehatan tidak sadar atas resiko penggunaan jarum secara berulang. Pula, tingkat kesadaran terhadap viral hepatitis di Pakistan cukup rendah.



“Begitu kami memberi penjelasan kepada orang-orang yang menjalankan Masjid, mereka menyambut kami dengan tangan terbuka,” kata Foster. “Sebenarnya sangat tidak lazim bagi konsultan rumah sakit untuk terlibat dalam studi-studi komunitas. Namun, ini memberi kesempatan bagi kami untuk mengetahui masyarakat secara mendalam dalam setting ini dibandingkan dengan di rumah sakit. Melihat begitu lancarnya pendekatan screening kesehatan ini berjalan, ini merupakan saat yang menentukan bagi pendekatan kondisi kesehatan di masa mendatang.”



Shahid Mursaleen, juru bicara Minhaj-ul-Quran, sebuah Masjid sekaligus asosiasi komunitas Muslim di London timur, memuji tim Foster atas cara mereka merengkuh masyarakat setempat.



“Dalam khotbah Jumat ini, imam kami mengumumkan informasi tentang hepatitis dan mendorong orang-orang untuk menjalani tes,” kata Mursaleen. “Ia mengatakan bahwa jika orang-orang berada dalam kondisi yang sehat, maka mereka akan meraih keuntungan spiritual. Beberapa orang yang dinyatakan positif telah diobati dan telah sembuh sekarang. Adalah tugas kita untuk bekerjasama dengan NHS dalam hal ini. (es/ie) www.suaramedia.com


{ 0 comments }

Berlanjutnya Misteri Pengiriman Senjata Korea Utara

by konspirasi on February 4, 2010





BANGKOK (SuaraMedia News) – Pada hari Senin (01/02), Thailand mengungkapkan adanya pengiriman senjata yang misterius dari Korea Utara pada tanggal 12 Desember yang lalu.

Saat itu, pemerintah Thailand menangkap sebuah pesawat Korea Utara yang sedang mendarat untuk mengisi bahan bakar. Pesawat itu adalah pesawat kargo Ilyushin II-76 yang terbang dari Pyongyang dengan lima orang awak. Pemerintah Thailand menemukan adanya senjata seberat 35 ton di dalam pesawat.



Korea Utara adalah negara yang miskin dan mengandalkan ekspor senjata demi pendapatannya. Korea Utara diperkirakan memperoleh ratusan juta dollar setiap tahun dari penjualan misil, onderdil misil, dan senjata-senjata lain ke negara-negara seperti Iran, Suriah, dan Myanmar. Pada bulan Juni lalu, PBB memberlakukan sanksi kepada Korea Utara setelah negara tersebut mengadakan uji coba nuklir dan misil. Negara tersebut dilarang mengekspor senjata apa pun. Dengan demikian, penerbangan pesawat dari Korea Utara dengan kargo berisi senjata yang akan diirimkan ke suatu negara merupakan sebuah tindak pelanggaran terhadap sanksi PBB.






Maka, pemerintah Thailand segera menindaklanjuti penemuannya dengan memberi laporan kepada Dewan Keamanan PBB. Laporan tersebut bocor, sampai ke telinga para wartawan di New York pada akhir minggu lalu.



Gosip pun berkembang. Tersiar kabar bahwa pesawat Korea Utara tersebut bermaksud untuk terbang ke bandara Mahrabad, Teheran. Namun, menurut juru bicara pemerintah Thailand, Panitan Wattanayarkorn, “Mengatakan bahwa senjata itu akan diterbangkan ke Iran mungkin adalah hal yang tidak tepat.” “Laporan itu hanya mengatakan ke mana pesawat itu akan pergi sesuai dengan rencana terbangnya, namun tidak dijelaskan kemana senjata itu akan diantar,” kata Wattanayarkorn pada hari Senin. “Hal itu masih dalam penyelidikan, dan para tersangka berada dalam sistem hukum kami,” lanjutnya.



Saat ini, pemerintah Thailand masih menahan lima awak pesawat Ilyushin II-76. Empat orang awak tersebut berasal dari Kazakhstan dan satu orang awak berasal dari Belarus. Mereka dikenai tuduhan memiliki senjata ilegal. Namun, tuduhan itu dapat dicabut setelah penyelidikan membuahkan hasil, kata pihak kepolisian.



Menurut laporan, senjata yang diangkut oleh pesawat Korea Utara tersebut hanyalah senjata ringan, misalnya granat. Jelas, itu bukan jenis senjata cangih yang diidamkan oleh negara seperti Iran. Sejak awal, terdapat spekulasi bahwa senjata itu akan dikirimkan kepada kelompok Timur-Tengah yang didukung oleh Teheran.



Terkait dengan penangkapan pesawat Ilyushin II-76 oleh pemerintah Thailand pada 12 Desember yang lalu, Associated Press mengadakan penyelidikan di sejumlah negara. Hasil penyelidikan menunjukkan bahwa penerbangan pesawat tersebut difasilitasi oleh sebuah web perusahaan persekutuan (holding companies) dan sejumlah alamat palsu, mulai dari Selandia baru hinga Barcelona. Semua itu ditujukan untuk mengaburkan kemana sebenarnya tujuan pesawat tersebut. Pilot utama pesawat Ilyushin II-76 bersikeras bahwa tujuan utama pesawat adalah Kiev, Ukraina.



“Saya tak pernah mengatakan atau memberi konfirmasi bahwa pesawat itu akan terbang ke Iran. Saya hanya tahu bahwa pesawat itu akan terbang menuju Ukraina dan kargo akan diturunkan di situ. Itulah informasi yang saya miliki,” kata pengacara yang ditunjuk untuk mewakili awak pesawat, Somsak Saithong, kepada Associated Press pada hari Senin.



Pada hari Senin itu pula, ketika Thailand masih dibingungkan oleh misteri senjata dari Korea Utara, Korea Utara malah dalam keadaan adem-ayem. Korea Utara sedang menerima tamu dari Korea Selatan.



Para pejabat dari Korea Utara dan Korea Selatan mengadakan pertemuan guna membahas pengembangan kompleks industri. Ini tentu saja merupakan sebuah perkembangan yang menggembirakan, mengingat. Korea Utara dan Korea Selatan memiliki sejarah konflik yang panjang. Sehubungan dengan perbedaan ideologi, kedua negara pernah berperang pada 1950-1953. Peperangan berakhir pada 1953 bukan karena keduanya mencapai kesepakatan damai, namun semata-mata karena kedua negara sepakat menurunkan senjata saja. Sejak saat itu, kedua Korea tetap berada dalam posisi seteru. Minggu lalu, sempat terjadi konflik di perbatasan perairan kedua negara. Untungnya, tak ada korban jiwa atau kerusakan dalam insiden tersebut.



Pertemuan antara delegasi Korea Selatan dan Korea Utara pada hari Senin (01/02) berlangsung di Kaesong, sebuah kota di perbatasan kedua negara. Kompleks industri Kaesong adalah sebuah proyek rekonsiliasi antara kedua Korea yang telah berjalan cukup lancar, meskipun sekali-kali ketegangan politik mencuat di antara kedua negara. Kompleks tersebut berisi sekitar 110 pabrik Korea Selatan dan mempekerjakan sekitar 40.000 warga Korea Utara. Kompleks industri Kaesong merupakan perpaduan asset kedua negara: tenaga kerja murah dari Korea Utara dan modal beserta ketrampilan dari Korea Selatan. Tidak seperti industri Korea Utara yang melulu mengandalkan produksi senjata, Kaesong menghasilkan peralatan dapur, tekstil, elektronika, dan barang-barang industri ringan lainnya.



Dalam pertemuan pada hari Senin, delegasi Korea Utara mencetuskan perihal peningkatan upah. Tahun lalu, Korea Utara meminta Korea Selatan untuk meningkatkan upah bagi pekerja dari Korea Utara, dari 75 dolar per bulan menjadi 300 dollar per bulan. Namun, kali ini, pihak Korea Utara tidak menyebut besar peningkatan upah secara spesifik. Sementara, pihak Korea Selatan menginginkan agar pembicaraan lebih terfokus pada masalah akses lintas batas antar kedua negara. Koera Selatan juga menginginkan fokus pada perihal perumahan bagi pekerja Korea Selatan di kompleks industri Kaesong. (es/yh) www.suaramedia.com


{ 0 comments }

Warga Haiti Harapkan AS Ambil-Alih Negaranya

by konspirasi on February 3, 2010





PORT-AU-PRINCE (SuaraMedia News) – AS tampaknya telah menjadi pahlawan di mata rakyat Haiti. Mereka mengharapkan agar AS tetap tinggal di Haiti dan bahkan “mengambil alih” Haiti.

Sejak Haiti diguncang gempa pada tangal 12 Januari lalu, bantuan kemanusiaan mengalir ke negara tersebut. AS mengirimkan 6.500 tentara ke Haiti. Pasukan ini mendukung kelancaran pembagian bantuan pangan dengan cara mengatasi gangguan keamanan. Organisasi internasional, sepeti Program Pangan Dunia PBB, mengakui bahwa pembagian makanan bisa saja menjadi terlalu riskan untuk dilakukan ketika terdapat konflik antar gang di daerah kumuh.



Pada hari Minggu, pasukan AS bersama organisasi-organisasi berhasil membagikan 400 metrik ton beras di sembilan situs. Di Place du Canape Vert, beberapa ratus keluarga menerima bantuan beras dalam karung-karung besar. Pada karung-karung tersebut, terdapat tulisan “Produk dari AS” atau “Beras Terbaik AS”. Program Pangan Dunia berencana untuk membantu 2 juta orang pada dua minggu mendatang.






Pembagian makanan tidak selalu merata. Penduduk pun tidak selalu merasa puas dengan batuan yang telah diberikan. Ada penduduk yang langsung bisa memasak nasi, berselang satu jam setelah pembagian bantuan. Sejumlah warga beruntung memiliki kacang-kacangan, sayuran, atau daging sebagai pelengkap untuk menikmati nasi. Namun, ada pula penduduk yang tidak memiliki apa-apa selain nasi. Mereka bertanya kapan mereka  akan memperoleh sesuatu di samping beras. Beras saja tidak cukup, keluh mereka. Sebagian penduduk bahkan tidak kebagian beras.



“Memang ada, tapi kami tak dapat melakukan apa-apa. Kami cuma punya beras. Tidak ada minyak. Tidak ada apa-apa. Dan tidak gampang mencari air,” kata Flore Laurent yang sedang hamil delapan bulan. Laurent mengharapkan peran tentara AS. “Saya memberikan suara bagi bantuan AS, 100 persen,” katanya.



Ketika warga Haiti berada dalam keadaan sangat membutuhkan bantuan, pemerintah Haiti tidak dapat menjalankan peran sebagaimana yang diharapkan oleh warganya. Maka, warga Haiti pun menambatkan harapannya kepada AS.



“Saya ingin agar Amerika mengambil-alih negara. Pemerintah Haiti tidak mampu berbuat apa-apa bagi kami,” kata Jean-Louis Geffrard, seorang buruh yang kini bertahan hidup di bawah tenda di sebuah tanah lapang.



“Ketika kami berkata pada pemerintah bahwa kami kelaparan, pemerintah menjawab ‘Kami juga kelaparan’”, imbuh Canga Matthieu, seorang mahasiswa kedokteran yang kuliahnya berantakan akibat gempa.



Terdapat sejumlah komentar yang senada, seperti “Pemerintah AS semestinya mengurus kami” atau “Mereka terorganiasi dengan baik. Amerika Serikat adalah negara terkaya di dunia, dan mereka dapat membantu.”



Pemerintah Haiti sempat ada bagi kami, dan mereka tidak memberi apa-apa. AS semestinya mengambil-alih negara, ” kata Andrelita Laguerre yang sedang menjaga empat orang anak dan seorang cucu di kamp. “Kebanyakan kawan saya berharap agar AS mengambil-alih. Semoga saja!”



Warga Haiti tampaknya mengharapkan agar pasukan AS berperan dalam bidang yang lebih luas daripada penjagaan keamanan atau pembagian makanan. Pengalaman Sersan Satu Jason Jacot, seorang insinyur angakatan bersenjata, menunjukkan hal itu. Jacot pergi ke sebuah gardu listrik di kawasan Delmas pada hari Minggu untuk mengawasi perbaikan oleh para pekerja Haiti dan Dominika. Markestre Theolien, seorang penyelia dari perusahaan listrik Haiti, menunjukkan kondisi transformer di gardu listrik tersebut: transformer itu sudah usang, usianya sudah 27 tahun. Ia meminta sebuah transformer baru. Ketika ditanya, dari mana bantuan itu semestinya datang, ia tersenyum dan berkata, “AS”.



Jacot berbicara lewat penterjemah, ”Jadi, mereka mengharap kami untuk mengambil-alih? Tidak, tidak, tidak. Bagaimana kami dapat membantu tanpa sepenuhnya membangun kembali? Kami tidak datang untuk membangun kembali.” Jacot mengatakan bahwa ia akan berbincang dengan direktur utilitas guna mempelajari apa yang diperlukan. Theolien menegaskan, “Apa yang kami inginkan adalah agar AS membangun kembali, memodernisasi”.



Menanggapi harapan warga Haiti agar AS bersedia membangun kembali Haiti, para pejabat AS menekankan – baik lewat pernyataan publik maupun lewat interaksi dengan warga Haiti – bahwa AS hanya akan bertindak secara terbatas di Haiti. Pemerintah AS tidak akan bertangung-jawab dalam pembangunan kembali Haiti.



“Angkatan bersenjata…. tidak datang untuk melakukan rekosntruksi apa pun. Itu bukan misi kami,” kata Kolonel Rick Kaiser. Kaiser adalah insinyur dari angkatan bersenjata AS yang bertugas untuk mengawasi perbaikan darurat pelabuhan-pelabuhan Port-au-Prince, sistem perairan dan listrik, serta berbagai infrastruktur lain di Haiti.



Para pejabat pemerintahan AS, termasuk Sekertaris Negara Hillary Rodham Clinton, mengatakan bahwa setiap aktivitas di Haiti berada di bawah “kepemimpinan Haiti”. Padahal, pemerintahan Haiti nyaris tidak berfungsi. Louis Lucke, seorang pejabat senior dari kantor U.S. Agency for International Development di Haiti, berdiri di depan kompleks medis yang dijalankan oleh AS pada hari Sabtu (30/01) bersama Presiden Haiti René Préval. Dalam situasi seperti itu, Lucke menyatakan kepada para wartawan bahwa “orang-orang Haiti sedang memimpin proses di semua area yang membutuhkan.”  (es/nbc) /www.suaramedia.com


{ 0 comments }

Andai Gus Dur Menjadi Presiden Sebelum Sakit

by konspirasi on December 31, 2009

Sebuah catatan memoar yang ditulis oleh oleh Yahya Cholil Staqup, mantan Juru Bicara Presiden Gus Dur. Cukup menggugah.

Ini kehilangan tak terperi. Tapi diam-diam aku merasakannya seperti formalitas saja. Ketuk palu atas sesuatu yang telah ditetapkan sebelumnya.

Kehilangan yang sesungguhnya telah terjadi dua belas tahun yang lalu, ketika suatu hari kamar mandi kantor PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama), di Kramat Raya Jakarta, tak kunjung terbuka. Kamar mandi itu terkunci dari dalam dan Gus Dur ada di dalamnya. Orang-orang menggedor-gedor pintu, tak ada sahutan. Ketika akhirnya pintu itu dijebol, orang mendapati Gus Dur tergeletak bersimbah darah muntahannya sendiri. Itulah stroke-nya yang pertama dan paling dahsyat, yang sungguh-sungguh merenggut kedigdayaan fisiknya.

Sebelum malapetaka itu, Gus Dur adalah sosok “pendekar” yang nyaris tak terkalahkan. Pada waktu itu, tak ada yang tak sepakat bahwa beliau adalah salah satu tumpuan harapan untuk masa depan Indonesia yang lebih baik. Tapi ketika akhirnya memperoleh kesempatan menakhodai bangsa ini, keruntuhan fisik telah membelenggu beliau sedemikian rupa sehingga gelombang pertempuran yang terlampau berat pun menggerusnya. Aku tak pernah berhenti percaya bahwa seandainya yang menjadi presiden waktu itu adalah Gus Dur sebelum sakit, pastilah hari ini Indonesia sudah punya wajah yang berbeda, wajah yang lebih cerah dan lebih bersinar harapannya.

Aku telah menjadi pengagum berat Gus Dur dan mendaulat diriku sendiri sebagai murid beliau sejak aku masih remaja. Tapi memang Gus Dur telampau besar untukku, sehingga aku tak pernah mampu menangkap secuil pemahaman yang berarti dari ilmunya, kecuali senantiasa terlongong-longong takjub oleh gagasan-gagasan dan tindakan-tindakannya.

Ketika datang kesempatan bagiku untuk benar-benar mendekat secara fisik dengan tokoh idolaku, yaitu saat aku ditunjuk sebagai salah seorang juru bicara presiden, saat itulah pengalaman-pengalaman besar kualami. Bukan karena aku melompat dari santri kendil menjadi pejabat negara. Bukan sorot kamera para wartawan, bukan pula ta’dhim pegawai-pegawai negeri. Tapi inspirasi-inspirasi yang berebutan menjubeli kepala dan dadaku dari penglihatanku atas langkah-langkah presidenku.

Sungguh, langkah-langkah Presiden Gus Dur waktu itu mengingatkanku kembali pada kitab DBR (Di Bawah Bendera Revolusi) yang kukhatamkan sewaktu kelas satu SMP dulu. Mengingatkanku pada “Nawaksara”, mengingatkanku pada “Revolusi belum selesai!”

Orang-orang mengecam kegemarannya berkeliling dunia, mengunjungi negara-negara yang dalam pandangan umum dianggap kurang relevan dengan kepentingan Indonesia. Namun aku justru melihat daftar negara-negara yang beliau kunjungi itu identik dengan daftar undangan Konferensi Asia-Afrika. Brasil mengekspor sekian ratus ribu ton kedelai ke Amerika setiap tahunnya, sedangkan kita mengimpor lebih separuh jumlah itu, dari Amerika pula. Maka presidenku datang ke Rio De Janeiro ingin membeli langsung kedelai dari sumbernya tanpa makelar Amerika.

Venezuela mengimpor seratus persen belanja rempah-rempahnya dari Rotterdam, sedangkan kita mengekspor seratus persen rempah-rempah ke sana. Maka presidenku menawari Hugo Chavez membeli rempah-rempah langsung dari kita. Gus Dur mengusulkan kepada Sultan Hasanal Bolkiah untuk membangun Islamic Financial Center di Brunei Darussalam, lalu melobi negara-negara Timur Tengah untuk mengalihkan duit mereka dari bank-bank di Singapura ke sana…

Barangkali pikiranku melompat serampangan. Tapi sungguh yang terbetik di benakku waktu itu adalah bahwa Gus Dur, presidenku, sedang menempuh jalan menuju cakrawala yang dicita-citakan pendahulunya, Pemimpin Besarku, Bung Karno. Yaitu mengejar kemerdekaan yang bukan hanya label, tapi kemerdekaan hakiki bagi manusia-manusia Indonesia. Yaitu bahwa masalah-masalah bangsa ini hanya bisa dituntaskan apabila berbagai ketidakadilan dalam tata dunia yang mapan pun dapat diatasi. Yaitu bahwa dalam perjuangan semesta itu harus tergalang kerjasama diantara bangsa-bangsa tertindas menghadapi bangsa-bangsa penindas.

Hanya saja, Gus Dur mengikhtiarkan perjuangan itu dengan caranya sendiri. Bukan dengan agitasi politik, bukan dengan machtsforming, tapi dengan langkah-langkah taktis yang substansial, cara-cara yang selama karir politiknya sendiri memang menjadi andalannya. Yang bagi banyak orang terlihat sebagai kontroversi, bagiku adalah cara cerdik beliau menyiasati pertarungan melawan kekuatan-kekuatan besar, baik di dalam negeri maupun di luar negeri, yang terlampau berat untuk ditabrak secara langsung dan terang-terangan. Gus Dur terhadap Bung Karno, bagiku layaknya Deng Xiao Ping terhadap Mao Tse Tung.

Tapi pahlawanku bertempur di tengah sakit, seperti Panglima Besar Soedirman di hutan-hutan gerilyanya. Maka nasib Diponegoro pun dicicipinya pula…

Banyak orang belakangan bertanya-tanya, mengapa orang tua yang sakit-sakitan itu tak mau berhenti saja, beristirahat menghemat umurnya, ketimbang ngotot seolah terus-menerus mencari-cari posisi di tengah silang-sengkarut dunia yang kian semrawut saja. Saksikanlah, wahai bangsaku, inilah orang yang terlalu mencintaimu, sehingga tak tahan walau sedetik pun meninggalkanmu. Inilah orang yang begitu yakin dan determined akan cita-citanya, sehingga rasa sakit macam apa pun tak akan bisa menghentikannya. Selama napas masih hilir-mudik di paru-parunya, selama detak masih berdenyut di jantungnya, selama hayat masih dikandung badannya.

Kini Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menyelimutkan kasih sayang paripurnanya untuk hambaNya yang mulia itu. Memperbolehkannya beristirahat dari dunia tempat ia mengais bekal akhiratnya. Semoga sesudah ini segera tercurah pula kasih sayang Allah untuk bangsa yang amat dicintainya ini, agar dapat beristirahat dari silang-sengkarut nestapa rakyatnya. Gus Durku, Bung Karnoku… Selamat jalan…(Kompas, Kamis, 31 Desember 2009 | 07:58 WIB)

{ 0 comments }

</