TRIPOLI (SuaraMedia News) – Moammar Gadhafi dan keluarganya ada di antara 188 tokoh Libya yang dilarang mengunjungi Swiss, menurut keputusan yang dibuat di Bern di tengah pertikaian diplomatik, kata sebuah surat kabar Libya pada hari Minggu.
OEA, harian swasta yang dekat dengan anak terkemuka pemimpin Libya itu, Seif al-Islam, mengeluarkan laporan dengan mengutip seorang pejabat “tingkat tinggi” dengan identitas yang tidak dicantumkan.

“Pihak berwenang Swiss telah mengambil keputusan yang melarang 188 tokoh Libya dari memasuki Swiss,” kata pejabat itu seperti dikutip di situs OEA.

Laporan itu mengatakan di antara mereka yang masuk daftar hitam itu adalah anggota parlemen, orang-orang dari kantor perdana menteri dan “pejabat militer, keamanan dan ekonomi.”




Ada reaksi langsung dari Swiss.

Tetapi pejabat Libya di OEA memperingatkan bahwa keputusan itu akan “merusak kepentingan Swiss” dan bahwa “jika tidak dihapuskan, (Tripoli) akan menjawab dengan langkah-langkah timbal balik.”

Namun surat kabar itu tidak mengatakan kapan keputusan itu diambil atau mulai akan diberlakukan.

Hakim berwenang di Libya kemudian menghalangi dua pengusaha Swiss meninggalkan negeri dan menempatkan mereka pada sidang dua kasus terpisah; visa tinggal mereka dan kegiatan bisnis ilegal.

Keduanya, Max Goeldi dan Hamdani Rasyid, telah bersembunyi di kedutaan Swiss sejak Juli 2008.

Awal bulan ini sebuah pengadilan banding Libya mengurangi hukuman penjara 16 bulan Goeldi karena visa tinggalnya sampai empat bulan, sementara hukuman Hamdani atas tuduhan yang sama dijatuhkan pada bulan Januari.

Mereka juga sama-sama diajukan ke pengadilan atas tuduhan kegiatan bisnis ilegal. Kasus terhadap Hamdani diberhentikan sementara Goeldi diperintahkan untuk membayar denda 800-dolar.

Oleh karena hal tersebut, Swiss memperingatkan para penduduknya agar tidak bepergian ke Libya. Hal tersebut diungkapkan setelah negara yang terletak di Afrika Utara tersebut masih belum membebaskan dua orang pebisnis Swiss yang ditahan di negara tersebut sejak tahun lalu.

Kementerian luar negeri Swiss, lewat sebuah peringatan perjalanan di situs internetnya, mengatakan bahwa ketegangan politik tersebut bermula pasca penangkapan putra dari pemimpin Libya, Muammar Gaddafi di Jenewa tahun lalu, dan hal tersebut tampaknya berlarut-larut.

“Pemerintah Libya melakukan balas dendam terhadap warga negara dan perusahaan Swiss yang ada di Libya, misalnya, kasus penangkapan warga negara Swiss dan upaya menghalang-halangi bisnis perusahaan Swiss.”

Kementerian luar negeri menentang segenap perjalanan menuju Libya, ditambahkan pula bahwa resiko penculikan amat tinggi karena operasi kelompok-kelompok bersenjata di sebagian besar kawasan gurun sahara.

Libya telah terlibat dalam pertikaian diplomatik dengan Swiss sejak Juli 2008 setelah penangkapan singkat di Jenewa putra Gadhafi lainnya, Hannibal, dan istrinya ketika dua pelayan hotel mengeluh cara ia memperlakukan mereka.

Presiden Libya, Kolonel Moammar Gadhafi mengajukan sebuah proposal kepada PBB selama kunjungannya ke New York bulan ini untuk menghapuskan keberadaan negara Swiss dari peta internasional setelah sengketa mengenai penahanan dari salah satu anak Presiden tersebut.

Menurut proposal yang tidak biasa itu, negara yang dikenal dengan pegunungan Alpen tersebut seharusnya digabungkan dengan Perancis, Jerman dan Italia.

Namun, tindakan tersebut tampaknya tidak akan pernah disetujui oleh dewan karena itu dianggap melanggar prinsip dari charta PBB, seorang juru bicara dari badan multi nasional tersebut berkata.

Menurut charta tersebut, tidak ada anggota dari negara tersebut yang dapat mengancam keberadaan atau kedaulatan dari negara lain dalam keanggotaan. (iw/meol) www.suaramedia.com

