Posts tagged as:

Muhammad

Narasi Maulid

by konspirasi on March 1, 2010


Inilah puisi yang saya tulis dan baca 20 tahun silam di hadapan YM almarhum Ustadz Husin al-Habsyi. Semoga kita tergolong orang-orang yang beterimakasih kepada Baginda Muhammad SAW.

Di lorong Salam yang tenang, di sepetak bangunan yang remang
di bilik sempit yang temarang, di kampung Tihamah yang lengang
di jantung Bakkah yang gersang, di persada Jazirah yang kerontang…

sinar misterius menghunjam persada dan membedah malam pertengahan Rabi’ul awwal, sebuah jeritan bayi malakuti melambung dan mengoyak angkasa Ummul-Qura
gemerincing lampu-lampu kristal istana Khosro Parwiz mengisyaratkan sebuah peristiwa
…dentang-dentang lonceng raksasa gereja Roma mengumandangkan sebuah warta
…debam-debam gajah-gajah Abrahah yang berjatuhan beradu bagai genderang laga
…kelepak sayap merpati di atas Mekkah yang menari bersusulan laksana rebana pesta

lalu terdengar kumandang …
selamat menggigil, cukong-cukong tamak…
selamat berhamburan, tuhan-tuhan bertulang…
selamat berjatuhan, raja-raja jorok…
selamat ketakutan, seniman-seniman cabul di pasar ukaz,
selamat bangkrut, saudagar-saudagar budak
berpestalah, hai kuli-kuli gratis juragan-juragan Quraisy
bergembiralah, hai kaum buruh di ladang Umayyah
kumandangkan lagu kemerdekaan
gelarlah permadani merah demi menyambut MUHAMMAD!

Mentari menyingsing dan menyongsong,
purnama menyeruak dan menyapa,
gemintang berkilau dan menyambut,
pelangi berhias dan mendaulat
Ka’bah menyala san mengucapkan ’selamat datang’ ’selamat lahir’
kepada debur ombak rabbani yang bergulung menghempas buih syaitani
kepada desah nafas subuh yang berhembus lembut segarkan pori-pori fitrah
kepada rinai-rinai iman yang berguguran membilas sahara Hijaz
kepada sepoi-sepoi sejuk yang meniup pucuk dedaunan korma
kepada simponi tangkai zaitun yang bergesekan laksana biola
kepada mawa api tauhid yang menjilat gelap syirik
kepada untaian syair ilahi yang abadi
kepada rangkaian firman yang suci
kepada penguasa altar malakut yang menghadirkan gelegar dahsyat di lelangit
kepada kuasa Musa, kasih Yesus, damai Budha, hikmah Socrates, logika Aristo, ide Plato, aura Zoroaster dan wibawa Lao Tse
kepada pemuka para kohen, santo dan imam
kepada utusan Sang Khuda, duta Sang Theos, pewarta Sang Hyang dan Rasul Allah
kepada Sang Rahmat
kepada dia yang bernama MUHAMMAD!

Bertapa dalam gua gelap Tsur
bersemedi dalam lembah Hira
menggigil dalam kesendirian lereng Arafah
menggelinjang dalam asmara Lahut
menggigil dalam pelukan Sang Jalal
mengerang dalam kehangatan Sang Jamal
bergejolak dalam pesta malaikat
menanggalkan busana raga
hilang dalam Ada
kembali memasuki nasut
dilumuri kotoran onta di Haram
dilempar bebatuan bocah-bocah Thaif
bermandikan darah di Uhud
bersenda jenaka di hadapan yatim
menghibur para janda syuhada
berhariraya dengan gelandangan
bergaul dengan kaum cacat dan kusta
bersukacita didatangi tamu tuna netra
berjalan menunduk di keramaian
mencium tangan pekerja kasar
pemaaf kala berkuasa
membantu sebelum diminta
berbalik tubuh bila diseru
menegur tanpa menunggu
bermurah dengan senyum
menggali parit dan sumur
tidur dengan bantal batu
menawarkan jasa tenagakerja
keluar masuk pasar
dan berseru akulah Sang Utusan
akulah MUHAMMAD

Muhammad Sang Nabi,
nabi pahlawan dan cendekiawan bagi Haidar
nabi kelana pencari kebenaran bagi Salman
nabi demonstran pemberani bagi Abu Zar
nabi gelandangan beriman bagi Ammar
nabi prajurit tanpa pamrih bagai Miqdad
nabi budak berhati salju bagai Bilal

Lumpang tempat putrinya menumbuk gandum teramat mahal bagi kami
Derit pintu rumahnya yang reot terlalu merdu di telinga kami
Atap pelepah korma biliknya sungguh teduh di atas kepala kami
Darah di dahi dan pelipismu saat di Uhud benar-benar menyesakkan dada kami
Tangisan kedua cucumu yang sakit menahan lapar betapa menusuk hati kami
Suaramu yang parau saat meminta secarik kertas dan pena sunggu menyedihkan kami
Kerja kerasnya yang dihancurkan
Kemakusmannya dilecehkan
Ajarannya dianggap rongsokan

Kini lihatlah ia sedang melihat kita dengan mata kecewa
kita yang sedang nongkrong di atas fosil-fosil kebodohan
kita yang asyik harakiri dengan pornografi atas nama seni
kita yang makin trampil menjadi bangsa yang latah
kita yang sakau dengan korupsi dari rt sampai pejabat
kita yang sudah kehilangan etika ketimuran
kita yang menjadi konsumeris dan pemuja raga
kita yang sibuk mempertontonkan lakon anarkisme
kita yang sudah menjadi kue ulangtahun dalam pesta para musuh
kita yang tak lagi bisa hidup rukun dan menghargai perbedaan
kita yang sebenarnya tak mengenal MUHAMMAD

Duhai MUHAMMAD,

Di tengah umatmu ada segerombolan orang yang mengusung jargon-jargon agama lalu melakukan privatisasi penafsiran teks sambil menyemburkan tuduhan sesat kepada kelompok lain

Di tengah kami ada yang mengkafirkan dan menghalalkan darah sesama muslim hanya karena berbeda pandangan dan mazhab

Di tengah kami ada yang merasa telah menjadi muslim sejati hanya dengan menggelindingkan butir-butir kaca

Di tengah kita ada segelintir orang yang bermain-main dengan nasib bangsa dengan memperkaya diri dan melakukan pengkhianatan

Di tengah kami ada segerombolan manusia rakus yang melakukan penebangan liar, pencemaran lingkungan, penggusuran demi keindahan kota, dan phk dengan dalih efesiensi atau ‘pailit yang direncanakan’.

Di tengah kita muncul sejumlah istilah-istilah aneh seperti ‘politik uang’, ‘dagang sapi’, ‘tebang pilih’, ‘jual beli perkara’, ‘calo senayan’, dan yang paling gres penjarahan dengan dalih “berdampak sistemik”.

Karena itu, doakanlah kami agar dapat menemukan jatidiri kami sebagai bangsa yang bermoral, terhormat, rukun dan bangsa yang tidak didikte oleh asing untuk melakukan transaksi yang tidak adil.

Maafkanlah kami, maafkanlah kami.

{ 0 comments }

“Agama Biasa… Mau?” (Bagian 3)

by konspirasi on February 27, 2010

Perhatian! Note ini akan lebih bisa dipahami bila dijahit dengan dua note sebelumnya, bagian 1 dan 2. Semoga bermanfaat.

Kelompok kedua yang sejak semula menganggap pewarna wahyu sebagai manusia biasa yang berbuat salah dan lupa, menerima Islam sebagai “agama biasa”.

Pandangan ini memberinya justifikasi untuk melakukan bongkar pasang bahkan sesekali mengkritik dan, kadang, menggugatnya dengan nada sinis dan megejek. Karena tidak memiliki literatur yang cukup tentang kelompok-kelompok lain di luar lingkungan sosio-religiusnya, kelompok ini secara serampangan bersikap under-esitimate seraya menganggap Islam yang dianutnya secara temurun sebagai representasi dari “agama biasa”.

Dan karena itu, kelompok ini tidak pernah mengutip pandangan-pandangan kelompok lain. Paling-paling, yang sesekali dikutip adalah teologi Mu’tazilah dan para cendekiawan pembaharu di Mesir. Filosof yang selalu dikutip tanpa kedalaman adalah Farabi dan Ibnu Rusyd (meski keduanya bukanlah filosof secara definitif). Mereka benar-benar “kuper” soal sejarah dan dinamika filsafat di Iran dan benua Syiah. Tapi, karena dilontarkan di tengah masyarakat tradisional yang fakir informasi tentang filsafat dan rasionalisme Islam, tetap saja pandangan dan artikel-artikel mereka dianggap “baru” dan kontroversial.

Kelompok ini secara terbuka mengusung jargon “Islam Liberal”. Liberalisme semula adalah sebuah ideologi, pandangan filsafat, dan tradisi politik yang didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan adalah nilai politik yang utama. Digunakanlah kata ini demi menegaskan pandangan yang menolak apa yang disebutnya dengan “sakralitas” atau “sakralisasi”, “kultus”, “otoritas teks” seraya mengumandangkan dekonstruksi, lokalisasi, dan kontekstualisasi sesuai dengan mainset pandangannya.

Gagasan-gagasan kritis kelompok ini hampir tidak pernah mengalami kemajuan. Setiap tokohnya hampir mengulang-ulang lontaran tentang isu-isu langganan, semacam kritik terhadap apa yang disebutnya “bias gender” dalam hukum waris, poligami dan semacamnya dalam teks-teks suci, al-Qur’an dan Hadis. Menurut Haidar Bagir, tak sulit untuk mencari dasar bagi prinsip-prinsip pemikiran tokoh-tokoh JIL, termasuk di dalamnya soal nilai penting prinsip-prinsip (moral) universal atau maqashid al-Syari’ah versus hukum-hukum yang bersifat partikular, sifat progresif pemikiran dan penafsiran Islam serta keharusan ijtihad tanpa henti, pemberian perhatian pada konteks hermeneutik selain teks tradisi suci, sifat abadi dan temporal doktrin-doktrin keislaman, inklusivisme Islam, sekularisasi, dan sebagainya. Ringkasnya, tidak ada yang benar-benar fresh sebagai gagasan yang layak untuk menyita perhatian dunia.

Sebagian besar pengkritik kelompok ini mempersoalkan metdologi dan landasan epiostemologis yang digunakannya. Haidar Bagir adalah salah satu cendekiawan yang mempertanyakan metodologi dan epistemologi kelompok ini Tapi, yang menjadi landasan utama pemikiran kelompok sebenarnya adalah pandangannya tentang kenabian dan Nabi yang dianggapnya sebagai “manusia biasa”. Ulil dalam artikelnya, mengatakan, “Muhammad SAW adalah tokoh historis yang harus dikaji dengan kritis, (sehingga tidak hanya menjadi mitos yang dikagumi, tanpa memandang aspek beliau sebagai manusia yang banyak kekurangannya), sekaligus panutan yang harus diikuti (qudwah hasanah). Karena itu, menurutnya, Muhammad saw sebagai seorang politikus tidak harus ditiru kebijaksanaannya. Pandangan ini menjadi biang bagi seluruh gagasan-gagasan kritis yang menuai kontroversi.

Karena Muhammad dipandang sebagai manusia biasa, maka ia tidak imun dari pengaruh di luar wahyu, dan karena itu, kebijaksanaannya selama di Madinah sangat dikondisikan oleh konteks sosial dan sejarah yang spesifik pada saat itu.”

Bila dikaji lebih runut, sumber persoalannya adalah irasionalitas pandangannya tentang prinsip ketuhanan (teologi) dan keberadaan (ontologi). Harus diakui, meski umat Islam sama-sama meyakini Muhammad sebagai Nabi, namun landasan sikap dan keyakinan tentang prinsip ini tidaklah melulu sama, terutama dalam detail penjabarannya.

Dalam ranah teologi Islam, kita mungkin hanya mengenal “iman kepaada Nabi”, sebagaimana dalam Rukun Iman dalam teologi Asy’ariyah. Padahal dalam literatur Islam yang di luar poros Mesir Sunni dan Saudi Wahabi (yang juga bisa disebut poros Islam Arab, bagi yang hendak mencari-cari latarbelakang demografisnya), ada yang memasukkan “iman kepada Nabi” sebagai bagian dari prinsip filosofis rasional “iman kepada kenabian”. Ini mungkin bisa disebut sebagai pandangan Islam poros Syiah plus representasi Islam non Arab. (Penyebutan aspek etnis “Arab” dan “non Arab” kadang menjadi penting bagi kelompok ini karena isu “Islam lokal” yang selalu digemborkannya).

Kelompok ini, secara filosofis, menjelaskan “nabi” dan “kenabian” (an-nubuwah) sebagai dua entitas konseptual yang berbeda, meski menjurus kepada figur yang sama. “Iman kepada Nabi” tanpa didahului dengan “iman kepada kenabian” hanya akan mengarahkan pengiman kepada keterikatan personal. Inilah yang bisa dianggap sebagai celah kritik pemujaan personal yang disebut dengan “kultus individu”. Menerima dan meyakini sebuah person dan figur sebagai Nabi, tanpa dilandasi dengan pandangan dunia Ketuhanan berikut sistem dan tujuan penciptaan, sangat rentan bagi munculnya kebingungan dalam menyikapi keputusannya baik sebagai pewarta wahyu maupun sebagai pemimpin. (bersambung)

{ 0 comments }

“Agama Biasa”… Mau? (bagian 2)

by konspirasi on February 26, 2010

Perhatian! Note ini hanya akan bisa dicerap dan tidak mudah disalahpahami bila dijahit dengan note sebelumnya (bagian 1)

Yang menarik, adalah penganut “agama biasa” terbagi dalam dua kelompok yang terlihat sangat berseberangan. Kelompok pertama, yang meyakini pengawal agama dan penyampai sebagai manusia biasa alias pasti berbuat salah dan lupa, menerima sepenuhnya “menu biasa” itu tanpa sedikitpun menolak atau paling tidak merevisinya agar menjadi “luar biasa”, karena memang tidak menyadari atau memang mengabaikan kritisisme. Lebih dari itu, kelompok ini menganjurkan semua kelompok untuk mengambil dan meniru pilihan menunya dengan mengerek bendera “back to origine” (alias kembali ke “salaf”).

Betapapun kenyataan menegaskan tidak semua hukum terjelaskan dalam teks al-Quran dan riwatar-riwayat Nabi, karena sejak berakhirnya masa pewahyuan dan pengawalan agama dengan wafatnya Muhammad saw, kelompok yang getol memasang atribut “salafi” ini tetap bersikukuh menganggap semua persoalan dan problema manusia baik individual maupun sosial telah dijelaskan hukumnya dalam teks al-Qur’an dan Sunnah. Kontradikisi demikian memang tidak menjadi beban psikologis dan tidak membuat mereka risih secara intelektual. Mengapa? Sejak semula, tampaknya kelompok ini, terutama para pemukanya, menyadari akan adanya “celah” invaliditas ini. Karenanya, kelompok ini mengantisipasinya dengan menutup rapat celah kritisisme dengan mengharamkan logika dan meniru penegasan para pemuka Kristen yang menganggap iman sebagai kontra akal dan logika.

Tidak hanya betrhenti disitu, kelompok ini memunculkan sejumlah doktrin penunjang demi memproteksi AD/ARTnya dengan mengharamkan dan menyesatkan kelompok-kelompok lain, terutama yang menjadikan logika sebagai sesat, kafir dan sejumlah atribut2 lainnya yang dijadikan sebagai palu vonis melalui kampanye dan propaganda ekstensif dan sistematis.

Apa lacur? Karena terlanjur memposisikan logika dan rasio sebagai musuh nomer satu, kelompok ini menafsirkan teks-teks ayat dan ruwayat metofaris secara skriptural dan literal, terutama yang berkaitan dengan Tuhan. Jangan heran bila mereka menafsirkan “istawa ala al`arsy” sebagai “nongkrong di atas singgasana”. Selain tidak perlu diherankan, penafsiran mereka yang visual dan fisikal terhadap Tuhan tidak patut disalahkan, karena ia hanyalah konsekuensi dari sebuah pandangan fundamental, yaitu bahwa pengawal agama dan perantara Tuhan dengan manusia tidak lebih dari ordinary man.

Keganjilan masih berlanjut. Akibat dari pilihan nekad ini, sikap dan cara mereka menghadapi tema-tema mutakhir, teristimewa fenomena-fenomena modernitas, benar-benar menggelikan sekaligus menyeramkan. Karena kecanduan “visualisasi”, mereka menyatakan perang terhadap segala sesuatu yang bersifat esoterik, mistik, abstrak dan, tentu saja semua yang beraroma tasawuf. Siapapun yang menyimpan apresiasi terhadap tasawuf, apalagi menjadi member ordo atau tarekat akan dibungkus oleh kelompok “kacamata kuda” ini dalam karung “sesat” dan “bid’ah”.

Dan karena hampir selain mereka, dianggap teridentifikasi virus bid’ah, sesat dan syirik, harga darah kelompok lain di mata kelompok ini tidak terlalu mahal alias “biasa”. Kelompok ini dengan bekal “agama biasa” melakukan segala aksi pemusnahan, pembunuhan dan paling ramah, penyesatan, hanya dengan satu alasan amar makruf dan nahi munkar, yang lagi-lagi ditafsirkan secara “biasa”. Karenanya, pengkafiran sesama muslim pun menjadi kebiasaan. Ini semua karena “biasa”. (bersambung)

{ 0 comments }

Ratusan Orang Norwegia Masuk Islam Pada 2009

by konspirasi on December 25, 2009

OSLO (SuaraMedia News) – Lebih dari 100 penduduk Norwegia menyatakan diri sebagai Muslim selama tahun 2009. Fakta tersebut juga ditemui gereja Katolik seiring meningkatnya jumlah orang yang mulai mencari agama baru.

Yusuf Estes, seorang pembicara Muslim asal AS pada Juni lalu melakukan kunjungan ke Norwegia. Setelah pidatonya di Oslo University College, lima mahasiswa menyatakan diri sebagai Islam.

Mereka membaca dua kalimat syahadat di hadapan ratusan teman-temannya.

Meski belum ada data statistik mengenai jumlah pasti orang Norwegia yang masuk Islam, namun TV2 menerima data dari berbagai Masjid, Pusat Islami, dan organisasi Muslim dari seluruh negara.

Tahun ini saja, lebih dari 100 orang yang menjadi Muslim.

Sebagian besar pengikraran diri sebagai Muslim dilakukan di Islamic Center of Grønland, Oslo. Maulana Mehboob ur-Rehman merupakan Imam yang telah mengIslamkan 14 orang.

“Siapapun yang hendak menjadi memeluk Islam harus melafalkan dua kalimat syahadat, mengakui Allah sebagai Tuhan mereka dan Nabi Muhammad sebagai Rasulnya. Inilah yang mereka butuhkan untuk menjadi seorang Muslim. Paktek-praktek keagamaan seperti sholat dan bacaannya dapat dipelajari setelahnya,” sang imam memberi tahun TV2.

Fahad Qureshi adalah kepala organisasi Islamnet. Mereka lah yang merencanakan pidato di Oslo University College ketika lima mahasiswanya mengikrarkan diri sebagai Muslim.

Saat ini Qureshi secara rutin memberikan materi pengetahun tentang Islam di jalan Karl Johan.

“Kami tidak berada disini untuk mengIslamkan maupun menyusupkan Islam. Kami hanya berusaha menyampaikan informasi mengenai Islam dengan memberitahukan yang sebenarnya. Di Karl Johan, banyak orang yang menghampiri kami. Beberapa dari mereka sangat tidak bersahabat dan mengatakan bahwa usaha kami sia-sia belaka. Namun sebagian lainnya mencari informasi dan berharap dapat mengetahui Islam lebih dalam. Dan kami menyediakan informasi secara gratis, baik berupa selebaran maupun DVD,” kata Qureshi.

Pada akhir Maret Qureshi menyelenggarakan konferensi damai Islami Skandinavia pertama di Oslo.

“Ide dari konferensi itu adalah membangun jembatan antara Islam dengan agama lainnya. Dan kepada masyarakat yang tidak mempercayai, kami mencoba memaparkan tentang Islam apa adanya dan secara terbuka, bukan sebagai agama yang digambarkan di media-media barat. Tujuan utamanya adalah untuk menjernihkan kesalahpahaman mengenai gama yang damai ini.”

Diperkirakan 150.000 penduduk Norwegia dari 5 juta penduduk adalah Muslim. Islam menjadi agama terbesar kedua di Norwegia.

Kendati Norwegia termasuk negara teraman di dunia menurut the World Peace Index di tahun 2007, negara itu masih dirasa kurang dalam berjuang menyatukan agama-agama minoritas.

Di beberapa daerah, tradisi Islam berbenturan dengan gaya hidup non religius yang dianut sebagian besar orang Skandinavia. (al/ie/sm) www.suaramedia.com


{ 0 comments }

Memetik Pelajaran dari Peristiwa Asyura

by konspirasi on December 25, 2009

Sebuah artikel bagus yang ditulis oleh teman saya, Dr. Suadi Saad, salah satu intelektual muda NU yang sangat akrab dengan literatur dan karya-karya pemikir Syiah.

Tragedi pembunuhan terhadap Husain b. Ali as (cucu Rasulullah saw) oleh Yazid b. Muawiyah, yang terjadi pada tanggal 10 Muharram 61 H (680 M) di padang Karbala, merupakan tonggak sejarah Islam yang tak akan terlupakan oleh kaum muslim, apapun mazhabnya. Hal itu, salah satunya, karena peristiwa tersebut menyangkut keluarga Nabi saw yang dihormati oleh mereka semua.

Di kalangan muslim Ahlussunnah, misalnya, terdapat banyak riwayat tentang kedudukan Imam Husayn as dan `itrah (keluarga) Nabi saw. Disinyalir pula ada beberapa ayat Qur’an yang diturunkan mengenai kedudukan mereka. Di antara hadis tersebut adalah sabda Rasulullah saw, “حسين منى و أنا منه” (Husain adalah bagian dariku dan aku adalah bagian darinya), juga hadis-hadis yang diriwayatkan di dalam menafsirkan ayat-ayat Mubâhalah, Tathhîr, dan Mawaddah. Di dalam tradisi Ahlussunnah juga banyak hadis yang diriwayatkan dari Nabi saw yang meramalkan kesyahidan Imam Husain as di Karbala serta kewajiban untuk membela beliau. Di dalam buku-buku sejarah Ahlussunnah juga disebutkan faktor-faktor yang memicu timbulnya Revolusi Karbala pada masa Muawiyah dan Yazid itu, demikian juga watak sebenarnya dari pemerintahan mereka. Misalnya, watak kesenangan dan ketamakan Muawiyah akan kekuasaan serta kebejatan moral Yazid yang senang mengumbar nafsu birahinya. Itulah yang mendorong beberapa mufti dan ulama Ahlussunnah seperti al-Alusi, al-Taftazani, al-Syawkani, dan lainnya untuk menyatakan Yazid sebagai seorang kafir.

Selain alasan di atas, karena peristiwa itu merupakan manifestasi perjuangan melawan kebatilan dan kesewenang-wenangan. Kita mengetahui bahwa Imam Husain as pada zamannya telah bangkit melakukan serangkaian perlawanan dan kemudian mati syahid dalam melakukan perlawanan itu. Banyak sekali riwayat yang berbicara mengenai pernyataan kesedihan dan belasungkawa terhadap Imam Husain as. Seorang muslim yang bermazahab apapun tidak bisa mengingkari riwayat-riwayat yang semacam itu.

Pada saat itu kondisi umat Islam telah sedemikian rupa, hingga sampai pada titik di mana Imam Husain as sadar bahwa merupakan kewajibannya untuk bangkit demi menjaga dan memelihara Islam. Kebangkitannya adalah kebangkitan di jalan membela kebenaran. Perselisihannya dengan khalifah bukan didasarkan atas keyakinan bahwa “kamu tidak boleh eksis dan saya yang harus eksis”. Akan tetapi perselisihannya bersumber kepada ajaran-ajaran pokok dan mendasar. Walaupun yang menempati kedudukan Yazid adalah orang lain, tetapi dia bertindak seperti yang dilakukan Yazid, Imam Husain as pun tetap akan bangkit. Baik orang itu berbaik-baik kepada beliau maupun berlaku buruk.

Perang Imam Husain as adalah perang akidah dan keyakinan, perang yang dilandasi oleh keyakinan. Yaitu perang antara kebenaran dan kebatilan. Dalam perang antara kebenaran dan kebatilan, Iman Husain as tidak lagi mempunyai pengaruh kepada pihak lawan, dan dalam keadaan yang demikian, setiap orang mukmin harus lebih memilih mati dibandingkan hidup. Seorang muslim, ketika melihat bahwa kebenaran sudah tidak bisa lagi dijalankan dan kebatilan sudah tidak bisa dicegah, maka dia harus bangkit dan siap untuk mati syahid.

Asyura dan Bi`tsah
Jika kita menilik sejarah ke belakang, maka perjuangan Imam Husain as hampir identik dengan perjuangan kakeknya, Nami Muhammad saw. Pada awal abad ketujuh, bersamaan dengan permulaan risalah beliau (bi`tsah) dan munculnya Islam, terjadi gerakan reformasi keagamaan yang sangat serius, yang bertujuan untuk mentransformasi budaya dan hubungan-hubungan sosial lainnya yang ada di Mekah. Gerakan ini mengajak masyarakat untuk melakukan revisi yang mendalam terhadap agama mereka, mengubah persepsi mereka, mempertimbangkan kembali tindak-tanduk dan hubungan sosial mereka yang berbahaya dan tak berakhlak. Gerakan ini kritis terhadap praktek penyembahan berhala. Dengan menekankan moralitas, spiritualitas, dan kemanusiaan, gerakan ini menyatakan bahwa hidup manusia di bumi ini mempunyai makna dan tujuan. Gerakan ini juga mendukung rasionalitas dan keadilan, serta mendorong kebiasaan, tradisi, dan aturan yang positif.

Di dalam perkembangan gerakan pembaharuan keagamaan ini, sebagaimana gerakan sosial lainnya, terdapat bahaya dan ancaman yang mengintai di belakangnya. Ancaman ini menjadi semakin serius setelah wafatnya Nabi Muhammad saw di mana akhirnya gerakan yang idealistik dan monoteistik bermetamorfosis menjadi sistem Khilafah dan “Kekaisaran Islam”. Selama metamorfosis ini, sedikit demi sedikit, muncul sebuah “kelas baru” yang ketamakannya mencapai taraf psikotik. Kelas baru yang sangat materialistik dan ambisius ini memegang kontrol monopolistik atas kekayaan dan kekuasaan politik. Proses ini akhirnya berpuncak pada munculnya kekuasaan Bani Umayah. Disebabkan oleh kekejaman rejim ini, seperti biasanya, semua orang pun bungkam seribu bahasa. Tak ada anggota masyarakat yang berani melawan terhadap perilaku penguasa yang bejat.

Dua tahun sebelum Muawiyah (dari Bani Umayah) meninggal, Imam Husain as berbicara kepada beberapa tokoh muslim di Mina, “Aku khawatir, dengan keadaan seperti sekarang ini, Kebenaran menjadi ditinggalkan dan barangkali sama sekali dilupakan.” Sejak itulah, rejim penguasa berusaha keras untuk menyingkirkan Imam Husain as.

Di satu sisi, kita melihat rejim Umayah seakan-akan adalah kekuasaan yang relijius, tetapi ia tidak dipilih oleh rakyat. Ia adalah kekuasaan yang otokratis dan diktator, tidak adil, dan tidak toleran terhadap oposisi. Di sisi lain, kita menyaksikan seorang manusia yang ingin memecah kebungkaman, untuk menyatakan “tidak” terhadap penguasa yang lalim. Ia berjuang demi reformasi, bukan karena ambisi. Dia adalah pejuang kebebasan, yang menolak hidup dengan berarang muka. Ia menderita demi mempertahankan kebenaran dan membawa perubahan struktural dalam masyarakat, tetapi ia tetap membolehkan para sahabat dan teman-temannya untuk memilih jalan mereka sendiri secara bebas.

Memang, salah satu karakteristik dasar dari risalah-risalah agung adalah wataknya yang memisahkan yang benar dari yang batil dalam segala menifestasinya. Ketika kebenaran memudar akibat keadaan yang ada, ketika segala sesuatu dilakukan dengan mengatasnamakan kebenaran, dan ketika beberapa orang mengeksploitir kata-kata itu, maka berbagai kekuatan kebenaran terus-menerus dimarjinalkan dan kebobrokan merajalela. Lalu, ketika kebenaran diturunkan dari keagungannya dan kebatilan berkuasa, nilai apakah yang masih tersisa bagi umat manusia?

Di sinilah para rasul, para imam, dan syuhada yang agung memegang peran. Mereka bangkit untuk mengenyahkan gelapnya kebatilan, sehingga cahaya kebenaran muncul kembali menyinari seluruh penjuru hidup manusia dan mencerahkan akal, menyadarkan jiwa, serta mengubah perihidup hewani yang rendah menuju perihidup manusiawi yang mulia.

Itulah mengapa kita yakin bahwa budaya Asyura bersinar bagaikan permata di dalam sejarah Islam dan kemanusiaan, dan bahwa Imam Husain as merupakan guru yang agung dan tulus hati bagi seluruh umat manusia.

Beberapa Fondasi
Di antara prinsip ideologis peristiwa Asyura adalah pengesaan Tuhan (tawhîd) dan amar ma`ruf nahi munkar. Ketauhidan itu termanifestasi di dalam pernyataan Imam Husain as “Aku menerima sepenuhnya kehendak-Mu”. Tujuan beliau adalah semata-mata untuk mencapai ridla Allah. Beliau melaksanakan tugasnya dan tidak ragu untuk mengorbankan jiwanya.

Fondasi politik dari gerakan Karbala adalah dilupakannya amr bil-ma`ruf (menyuruh kepada kebaikan) dan nahy `an al-munkar (mencegah kemungkaran) sebagai sebuah faktor politis bagi pelaksanaan hukum Islam. Pidato Imam Husain as menggambarkan berbagai dimensi dan konotasi yang luas dari konsep amr bi al-ma`ruf dan nahy `an al-munkar dan, yang lebih penting lagi, sisi praktis dari isu yang secara politik sangat kritis, yakni melawan para penguasa lalim, mengembalikan hak orang-orang tertindas, menumpas penindasan dan perilaku yang batil, serta menjunjung tinggi keadilan di dalam masyarakat.

Gerakan Asyura dan pemberontakan Imam Husain as merupakan puncak kewajiban amar ma`ruf nahi munkar dan menggambarkan adanya pengorbanan di dalam melaksanakanya. Tugas ini banyak diutarakan di dalam berbagai pernyataan dan tindakan Imam Husain as. Misalnya, beliau tidak mau mengadakan perjanjian dengan Yazid dan memberontak untuk menjaga agama yang dibawa oleh kakek-Nya.

Landasan lain yang menjadi penggerak dan dasar yang efektif dari peristiwa Asyura adalah keadaan yang menyedihkan dari para pemimpin dan tokoh-tokoh agama, serta tidak adanya sense of responsibility mereka terhadap masyarakat Islam. Tekad Imam Husain as untuk memberontak, sebagaimana dinyatakan di dalam khutbah beliau dua tahun sebelum kematian Mu`awiyah, bukanlah kekuasaan dan dunia, tetapi “ingin menunjukkan (kepada umat) peta ajaran agama dan mereformasi umat Islam…”

Imam Husain as adalah personifikasi dari Jihâd dan kesyahidannya adalah manifestasi dari keyakinan akan Hari Akhirat. Imam Husain as telah terbunuh bukan di dalam rangka membela kepentingan pribadi, bukan di dalam rangka mengorbankan dirinya sebagai tebusan bagi dosa-dosa umat, melainkan dalam rangka membela kebenaran dan dalam jalan memerangi kebatilan.

Tentu saja, kita menginginkan teladan dan ajaran beliau tetap hidup di muka bumi. Kita ingin, ajaran perlawanan kebenaran terhadap kebatilan senantiasa hidup di muka bumi. Kita ingin bahwa ini merupakan ajaran kebebasan dan kemerdekaan, serta satu ajaran perlawanan terhadap kelaliman, yang akan senantiasa hidup.
Beberapa Pelajaran

Tragedi Karbala adalah sebuah peristiwa yang luarbiasa, dan melihat fakta bahwa keagungannya unik dan tak tertandingi, konsekuensinya juga besar. Yang mendorong Imam Husain as untuk bangkit memberontak adalah untuk menghentikan penyimpangan dan bid`ah terjadi di area politik Islam. Penyimpangan itu adalah penentangan terhadap eksistensi sistem Islami dengan meletakkan kekuasaan di tangan orang-orang yang tidak qualified. Setelah Nabi saw wafat berbagai peristiwa berjalan sedemikian rupa sehingga akhirnya mengubah Khilafah menjadi sebuah jabatan turun-temurun. Imam Husain as berjuang melawan penyimpangan ini.

Jika kita melihat Asyura dari sudut pandang ilmu manajemen modern, maka nampak sangat jelas kuatnya kepemimpinan di dalam bidang “motivasi”. Motivasi Asyura adalah di luar batas waktu dan ruang. Motivasi ini adalah bahwa kata Asyura berarti peristiwa plus motivasi. “Asyura” menimbulkan respons intelektual dan emosional yang mendalam dan Imam Husain as telah berhasil menciptakan motivasi yang paling tinggi di kalangan para sahabatnya.

Di dunia yang sekuler saat ini, kita masih melihat peristiwa Asyura tetap relevan. Jika Asyura adalah sebuah realitas, karakter sekuler dunia saat ini juga adalah fakta. Ada tiga elemen dasar di dalam budaya dunia kontemporer: ilmu, individualitas, dan kemerdekaan. Ketiga elemen yang menjadi ideal ini termanifestasi di dalam sejarah dalam bentuk tiga tokoh legendaris: Sokrates, Kristus, dan Husain. Kita menemukan tiga bentuk tragedi pada ketiga tokoh ini, yang menggambarkan tragedi yang mulia dan kematian yang agung. Perbandingan antara ketiga figur ini mengungkapkan berbagai konsep yang laten dalam kehidupan manusia. Tragedi abadi Sopkrates muncul dari pengetahuan manusia tentang kebodohannya sendiri. Tragedi Kristus adalah terjadi karena kecintaan kepada Tuhan. Dan tragedi Imam Husain as adalah demi mempertahankan kemedekaan umat manusia.

Tragedi Karbala menimbulkan banyak perubahan dan perkembangan dalam cara berfikir mengenai berbagai aspek politik, relijius, dan sosial umat Islam. Telah nyata bahwa gerakan Asyura memainkan peran penting dalam memberi semangat bagi kaum muslim di dalam perjuangan mereka menegakkan kebenaran.

Imam Husain as telah bertekad untuk menjalankan “Kehendak Tuhan” untuk membangun dan memperbaharui kembali masyarakat Islam yang murni serta menumpas berbagai konflik masa depan di Dunia Islam, disertai tekad untuk menumpaskan kelaliman para penguasa.

Tantangan yang ada pada masa kini, sekalipun berbeda, tetapi permusuhannya sama saja. Di masa lalu terdapat unsur defensif yang kuat, dan sekarang demikian pula. Pada masa lalu musuhnya adalah orang muslim yang dipengaruhi oleh non-Muslim. Sekarangpun orang muslim masih menyerang tanah kaum muslim lainnya dengan ditopang oleh non-Muslim.

Kuatnya umat muslim terletak pada persatuan umat dan unsur pengorbanan sebagaimana digambarkan oleh Imam Husain as. Kelemahan umat terletak pada ketakberstuan di kalangan umat muslim, ketamakan kepada kekuasaan dan kekayaan dunia, yang menggerakkan kekuatan-kekuatan iblis melawan Islam. Peristiwa Asyura mengajarakan kaum muslim untuk tidak berkompromi dengan para penguasa lalim masa masa kini.

Akhirnya, mari kita tidak membiarkan Imam Husain as mati. Mari kita menjaga beliau dalam bentuk sebuah pemikiran, sebuah ide, dan sebuah keyakinan memerangi kezaliman. Semoga.

{ 0 comments }

</