Posts tagged as:

New York





PYONGYANG (SuaraMedia News) – Korea Utara pada hari Selasa (09/03) mengatakan pihaknya akan memperkuat pertahanan nuklirnya sehubungan dengan ancaman militer AS. Negara komunis tersebut juga bersiap untuk melakukan dialog, atau bahkan berperang dengan Washington.

Komentar tersebut dikeluarkan oleh seorang juru bicara kementerian luar negeri Korea Utara menyusul dilakukannya latihan gabungan militer besar-besaran antara AS dan Korea Selatan. Korea Utara memandang latihan tersebut sebagai ancang-ancang untuk melakukan invasi.



Pada hari Senin, negara komunis tersebut mengatakan, pihaknya telah memerintahkan militernya untuk siap siaga. Korut juga mengaku siap meledakkan fasilitas-fasilitas milik Korsel.



AS dan Korsel mengatakan bahwa latihan tahunan yang bertajuk operasi Key Resolve dan Foal Eagle tersebut bersifat defensif. Latihan tersebut melibatkan 18.000 personel militer AS dan 20.000 orang pasukan Korsel.






Namun, Seoul membantah argumen negara tetangganya tersebut dan mengatakan bahwa reaksi Korut tersebut adalah sebuah “kecaman stereotip”. Korsel juga menegaskan bahwa pihaknya tidak mendeteksi adanya aktivitas militer tidak biasa di perbatasan utaranya.



“Korea Utara tahu benar bahwa kami tidak bermaksud jahat,” kata juru bicara Menteri Pertahanan Korea Selatan, Won Tae-jae.



Biasanya, Korut merespon latihan perang di perbatasan selatan negaranya tersebut dengan marah, namun tidak ada kejadian apapun yang terjadi sesudahnya.



Latihan tahun ini digelar bertepatan dengan upaya diplomatik guna mengajak Korea Utara kembali ke meja perundingan pelucutan nuklir dengan enam negara.



Korut memutuskan untuk keluar dari forum tersebut pada bulan April, satu bulan sebelum melakukan uji coba senjata atom.



Sebagai prasyarat untuk kembali ke meja perundingan, Korea Utara menuntut komitmen AS untuk membuka jalur dialog mengenai kesepakatan damai guna mengakhiri gencatan senjata yang menyudahi Perang Korea tahun 1950-1953.



Secara teknis, Korea Utara dan Selatan masih berada dalam keadaan perang, karena Perang Korea tahun 1950-1953 diakhiri tanpa penandatanganan kesepakatan damai antara kedua negara.



Juru bicara kementerian luar negeri Korut, dikutip oleh kantor berita resmi Pyongyang, menyebut latihan militer tersebut sebagai “latihan perang nuklir yang bertujuan untuk melakukan serangan awal kepada Korea Utara.”



Latihan tersebut membuktikan kebenaran proposal kesepakatan damai, tambah juru bicara tersebut.



“Korea Utara sepenuhnya siap untuk melakukan dialog atau perang. Kami akan terus mengembangkan pertahanan nuklir selama ancaman dan provokasi militer AS masih terus dilakukan.”



AS, China, Rusia, Jepang, dan Korea Utara seringkali mengungkapkan harapan mereka bahwa Korea Utara akan bergabung kembali dengan proses dialog tersebut.



Oktober tahun lalu, baik AS maupun Korut telah menunjukkan itikad baik dengan digelarnya dialog kedua negara.



Departemen Luar Negeri AS bahkan menghadiahkan visa ke AS pada seorang pejabat senior Korea Utara yang akan melakukan pembicaraan dengan akademisi AS dan mungkin juga dengan diplomat negara Paman Sam itu.



Sumber yang mengetahui permasalahan itu mengatakan bahwa visa tersebut akan diberikan pada Ri Gun, negosiator nomor dua di Korea Utara dalam negosiasi nuklir antara dua Korea, China, Jepang, Rusia, dan AS yang kini sedang terhenti.



Pada hari Jumat (16/10/09), AS mengatakan akan mengijinkan Ri Gun berkunjung ke negaranya dalam bulan ini, sebuah gerakan yang menurut para analis dapat menjadi langkah pertama menuju pembicaraan antara keduanya untuk mengakhiri program nuklir Pyongyang.



Ri Gun akan menghadiri beberapa pertemuan di New York dan San Diego dengan sejumlah akademisi dan pakar swasta yang mempelajari Korea Utara.



Departemen Luar Negeri tidak mengatakan apa-apa tentang kemungkinan adanya pembicaraan antara pejabat AS dan Korea Utara, namun sebuah sumber mengatakan bahwa besar kemungkinan diplomat AS Sung Kim akan bertemu dengan Ri secara informal dalam kunjungannya ini.



AS berharap sebuah dialog bilateral akan mengembalikan Korea Utara ke pembicaraan yang lebih luas untuk menghentikan program nuklirnya. (dn/af/bc/sm) www.suaramedia.com


{ 0 comments }





WASHINGTON (SuaraMedia News) – Pria pelaku penembakan terhadap dua orang polisi di Pentagon tampaknya melakukan tindakan tersebut karena yakin bahwa pemerintah AS sendiri yang menjadi dalang serangan 11 September.

Menurut keterangan Polisi, John Patrick Bedell, nama sang pelaku, beraksi sendirian dan tidak memiliki hubungan dengan organisasi “teroris”.



Dalam hasil investigasi terbaru, ditunjukkan bahwa Bedell yakin peristiwa ambruknya menara kembar World Trade Center di New York merupakan konspirasi pemerintah AS.



Dalam sebuah tulisan tertanggal 25 November 2006 berjudul “Directions to Freedom, Part Two” (arah menuju kebebasan, bagian dua), Bedell mengatakan bahwa konspirasi kejahatan internasional pemerintah Amerika Serikat adalah sebuah realita yang terjadi sejak lama.



Bedell mengkritik dinas intelijen dan militer AS, yang menurutnya merupakan alat-alat rezim tidak sah.






“Organisasi (pemerintah) ini, seperti sekian banyak pemerintaha pembunuh lainnya dalam sejarah, akan bersedia mengorbankan ribuan nyawa penduduknya, dalam peristiwa seperti serangan 11 September, sebagai tumbal untuk melanggengkan kekuasaan barbarnya,” tulis Bedell.



Dalam posting dengan nama pengguna JPatrickBedell, ia menginginkan keadilan terhadap kasus kematian Kolonel Marinir James Sabow di Orange County pada tahun 1991 lalu, yang dinyatakan sebagai peristiwa bunuh diri namun diyakini merupakan upaya menutupi fakta. Bedell menuliskan bahwa kasus tersebut akan menjadi langkah maju dalam menguak kebenaran di balik 9/11.



Ada pula posting serupa yang mengkritik undang-undang marijuana pemerintah AS dengan menyertakan link terhadap kasus pengadilan di Orange County atas tuduhan mengolah marijuana dan melawan petugas kepolisian.



Dalam catatan pengadilan yang tersedia secara online menunjukkan bahwa tanggal lahir dalam kasus yang disebutkan oleh JPatrickBedell sesuai dengan John Patrick Bedell yang melakukan penembakan Pentagon.



Bedell, 36, menghembuskan nafas terakhir pada hari Kamis malam karena luka-luka yang diderita setelah terlibat baku tembak dengan polisi penjaga Pentagon pada pagi harinya.



Dalam rekam medisnya, Bedell tercatat memiliki sejarah gangguan jiwa dan menunjukkan perilaku aneh, hal  itu membuat orang tua Bedell beberapa pekan lalu memberitahu aparat di Hollister, California, dan memperingatkan bahwa putra mereka ada dalam kondisi tidak stabil serta mungkin memiliki senjata, demikian kata pihak berwajib pada hari Jumat.



Dua orang polisi yang terlibat baku tembak dengan Bedell langsung dilarikan ke rumah sakit dan hanya menderita cedera ringan.



Curtis Hill, Sherif wilayah San Benito mengatakan bahwa Bedell pernah masuk rumah sakit jiwa setidaknya empat kali. Catatan persidangan menunjukkan bahwa Bedell didiagnosis mengidap bipolar disorder (gangguan suasana hati yang mirip namun berbeda dengan kepribadian ganda).



Orang tua Bedell melaporkan hilangnya putra mereka pada tanggal 4 Januari, satu hari setelah petugas patroli jalan raya Texas menghentikan Bedell karena kedapatan mengebut di Amarillo, demikian disebutkan dalam catatan orang hilang. Kepada petugas PJR tersebut, Bedell mengaku hendak menuju East Coast. Sang petugas menggunakan telepon Bedell untuk menelepon sang ibu, Kaye Bedell, karena pria tersebut terlihat kacau.



Kaye Bedell mengatakan bahwa putranya baik-baik saja, sang petugas kemudian melepaskan Bedell dan hanya memberikan peringatan. Namun keesokan harinya ia mengatakan kepada aparat California bahwa putranya tidak punya tujuan ke East Coast karena tidak memiliki kerabat atau sanak saudara di daerah tersebut, ia juga mengatakan bahwa dia dan suaminya mengkhawatirkan kondisi mental putra mereka, kata Hill.



Bedell pulang ke rumah pada tanggal 18 Januari. Ia meminta orang tuanya untuk “tidak banyak tanya” mengenai kemana dia pergi sebelumnya. Namun, ia kembali pergi setelah itu, dan kedua orang tuanya tidak tahu kemana tujuan Bedell. (dn/pv/lt/np) www.suaramedia.com


{ 0 comments }



SYDNEY (SuaraMedia News) – Amina Wadud, seorang ulama wanita Muslim, telah dicap baik sebagai seorang pahlawan bagi kaum feminis dan sebagai seorang Muslim sesat.

Pahlawan wanita untuk kerangka akademiknya bagi umat Islam dalam hukum dan reformasi kebijakan di seluruh dunia; sesat karena memimpin sholat campuran jender di New York pada 2005 yang menjadi berita utama di seluruh dunia.

Sesi sholat itu menyebabkan wanita Afrika Amerika berubah status menjadi selebriti pembaharu Muslim, posisi yang teolog itu tampaknya tidak sepenuhnya nyaman.

“Saya mencoba untuk menjaga rasa humor tentang hal itu,” katanya, berbicara di Sydney setelah pertemuan di Melbourne dan Canberra.

“Saya tidak memulainya. Saya tidak menyalakan sensasi itu.”

“Saat itu sedikit lucu tapi saya tidak bisa tinggal di sepanjang jalur tersebut. Saya suka bagian dasar hidup saya di mana saya memiliki anonimitas.”


Ketika ditanya apakah kontroversi telah mengurangi aktivisme dan beasiswa tentang Islam dan isu-isu gender, dia berkata: “Saya menyesali hal-hal yang dikurangi untuk alasan apapun. Tapi saya tidak menyesal jika itu alasan mengapa orang mengurangi hal-hal. Orang tidak senang dengan pekerjaan saya untuk waktu yang lama. Jadi sholat itu hanyalah sebuah tipu muslihat … dan … alasan untuk tidak mendengarkan apa yang Anda katakan.”

Dr Wadud adalah penulis beberapa buku, termasuk “Women: Re-reading the sacred text from a woman’s perspective” dan “Inside Gender Jihad: Women’s reform in Islam”.

Tesis sentral-nya adalah bahwa selama berabad-abad Islam telah ditafsirkan oleh ulama laki-laki yang telah dikaburkan dengan dasarnya etos egaliter. Etos ini, Dr Wadud mengatakan, telah mengilhami pekerjaan reformasinya khususnya seputar hukum keluarga Islam.

Sementara sebagian menyebutnya bid’ah, kritikus Dr Wadud lain melontarkan tuduhan bahwa dia memicu kontestasi teks-teks agama tak pernah berakhir yang tidak memiliki tujuan di zaman modern dalam kerangka sekuler. Namun, bukunya telah bekerja sebagai kerangka kerja bagi para aktivis Muslim, khususnya melalui kelompok-kelompok lobi dan organisasinya, Sisters in Islam di Malaysia.

Salah satu ide sentral Dr Wadud adalah bahwa sebagai orang beriman ia menerima keilahian Al-Qur’an, bagaimanapun,  pembacaannya harus selalu terbuka untuk pengawasan dan evaluasi ulang. Hal ini terutama penting jika hukum harus didasarkan pada ajaran dan memiliki pada dampak kehidupan perempuan di dunia nyata.

Lahir di Amerika Selatan, di Maryland pada 1952, dari ayah seorang pengkhotbah Metodis, Dr Wadud masuk Islam di universitas tempatnya belajar pada usia 20 tahun setelah menjadi seorang praktisi Buddhis dalam waktu yang singkat.

“Saya pernah menjadi seorang praktisi Buddha selama setahun,” katanya.

“Saya datang ke Islam dan tumbuh secara eksponensial dan saya datang untuk memahami alam semesta yang bekerja untuk saya.”

Teologi pembebasan dari pemimpin gerakan hak-hak sipil kulit hitam dan pendidikannya sendiri juga mempengaruhinya.

“Keluarga saya adalah salah satu situasi di mana hubungan antara ketidakadilan sosial dan iman terlihat eksplisit. Anda tidak menindas. Penindasan adalah melawan kehendak Tuhan, “katanya.

“Saya dibesarkan di era kesadaran kulit hitam. Saya tinggal di sebuah masa transformatif sebagai anak muda-Anda bisa mendengar dan merasakan bahwa anda punya tanggung jawab sosial  tertentu – mandat untuk berjuang untuk menghapus ketidakadilan seperti yang sedang dibentuk dalam konteks kehidupan kita sebagai Afrika-Amerika.

“Saya dibesarkan dalam semangat revolusioner keadilan dan itu adalah masuk akal untuk mentransfer itu dalam hal Islam dan keadilan gender.”

Dr Amina Wadud menemukan banyak dari kebingaran di sekitar pekerjaannya tidak menyenangkan, begitu banyak sehingga pada satu titik dia menghindari label ‘feminis’ sama sekali.

“Jelas ada sektor besar non-Muslim dan penduduk Muslim yang berpikir bahwa feminisme Islam adalah sebuah oxymoron,” katanya.

“Saya kurang peduli sekarang tentang apakah atau tidak saya membuat semua orang nyaman dalam hal penunjukan diri (menjadi feminis) daripada di titik yang lain.”

Katanya istilah ‘feminisme’ sering menyebabkan orang mengabaikan pekerjaan yang ia lakukan.

“… Saya merasa sedikit lebih nyaman di kulit saya sendiri dan bisa mengatakan feminis. Pada saat lain (saya akan menghindari label) dalam rangka untuk menghindari diskusi politik dan untuk menghindari marginalisasi pekerjaan saya menjadi  politik itu, “kata Dr Wadud.

Ketidaksesuaian ini tidak sesuai dengan studi pemikiran Islam dan pemikiran filsafat sendiri.

“Mereka membatasi feminisme dari intelektual dan sejarah politiknya sendiri,” katanya. “Mereka juga membatasi Islam dari lintasan egaliter sendiri.”

Dr Wadud telah menemukan kerumunan permusuhan lebih menunjuk ke arahnya di Sydney daripada di Melbourne, di mana sebagian besar penonton Muslim tampak jauh lebih terlibat.

Minggu ini dia berceramah di University of Technology, Sydney, melibatkan beberapa perdebatan sengit dengan pemuda.

“Beberapa orang di khalayak Australia, mereka datang karena mereka sudah mendengar ada sesuatu yang salah atau buruk atau jahat tentang saya” katanya.

“Mereka datang karena mereka akan meluruskan saya. Ketika mereka sampai di sini dan saya tidak mengatakan apa-apa yang keterlaluan bagi mereka untuk menangkap saya.”

Dr Wadud menemukan argumen dengan mereka yang bahkan sebelum memngetahui ide-idenya, dan sekarang difokuskan pada mengulurkan tangan untuk mereka yang sudah paham.

“Di masa lalu saya merasa tanggung jawab yang lebih besar untuk dipahami oleh orang sebanyak mungkin,” katanya.

“Anda menghabiskan waktu Anda mencoba untuk mengkonversi orang-orang yang benar-benar tidak yakin tentang ke mana Anda akan pergi.”

“Kemudian ada beberapa orang yang mencoba untuk memahami hal-hal tertentu dan memiliki tingkat nominal perjanjian tertentu dan mungkin ingin pergi lebih jauh dan terlibat dengan ide-ide Anda. Itu tingkat yang lebih menarik untuk terlibat.”

Ada rumor ancaman pembunuhan, namun Dr Wadud cepat untuk membenarkannya.

“Saya tidak pernah menerima ancaman mati,” ia tertawa.

“Ada hal di mana orang-orang ini menemui saya dan mengatakan saya mendapat ancaman kematian. Tetapi tidak pernah ada yang benar-benar mengancam saya. ” (iw/smh) www.suaramedia.com


{ 0 comments }







TRIPOLI (SuaraMedia News) – Moammar Gadhafi dan keluarganya ada di antara 188 tokoh Libya yang dilarang mengunjungi Swiss, menurut keputusan yang dibuat di Bern di tengah pertikaian diplomatik, kata sebuah surat kabar Libya pada hari Minggu.

OEA, harian swasta yang dekat dengan anak terkemuka pemimpin Libya itu, Seif al-Islam, mengeluarkan laporan dengan mengutip seorang pejabat “tingkat tinggi” dengan identitas yang tidak dicantumkan.



“Pihak berwenang Swiss telah mengambil keputusan yang melarang 188 tokoh Libya dari memasuki Swiss,” kata pejabat itu seperti dikutip di situs OEA.



Laporan itu mengatakan di antara mereka yang masuk daftar hitam itu adalah anggota parlemen, orang-orang dari kantor perdana menteri dan “pejabat militer, keamanan dan ekonomi.”






Ada reaksi langsung dari Swiss.



Tetapi pejabat Libya di OEA memperingatkan bahwa keputusan itu akan “merusak kepentingan Swiss” dan bahwa “jika tidak dihapuskan, (Tripoli) akan menjawab dengan langkah-langkah timbal balik.”



Namun surat kabar itu tidak mengatakan kapan keputusan itu diambil atau mulai akan diberlakukan.



Hakim berwenang di Libya kemudian menghalangi dua pengusaha Swiss meninggalkan negeri dan menempatkan mereka pada sidang dua kasus terpisah; visa tinggal mereka dan kegiatan bisnis ilegal.



Keduanya, Max Goeldi dan Hamdani Rasyid, telah bersembunyi di kedutaan Swiss sejak Juli 2008.



Awal bulan ini sebuah pengadilan banding Libya mengurangi  hukuman penjara 16 bulan Goeldi  karena visa tinggalnya sampai empat bulan, sementara hukuman Hamdani atas tuduhan yang sama dijatuhkan pada bulan Januari.



Mereka juga sama-sama diajukan ke pengadilan atas tuduhan kegiatan bisnis ilegal. Kasus terhadap Hamdani diberhentikan sementara Goeldi diperintahkan untuk membayar denda 800-dolar.



Oleh karena hal tersebut, Swiss memperingatkan para penduduknya agar tidak bepergian ke Libya. Hal tersebut diungkapkan setelah negara yang terletak di Afrika Utara tersebut masih belum membebaskan dua orang pebisnis Swiss yang ditahan di negara tersebut sejak tahun lalu.



Kementerian luar negeri Swiss, lewat sebuah peringatan perjalanan di situs internetnya, mengatakan bahwa ketegangan politik tersebut bermula pasca penangkapan putra dari pemimpin Libya, Muammar Gaddafi di Jenewa tahun lalu, dan hal tersebut tampaknya berlarut-larut.



“Pemerintah Libya melakukan balas dendam terhadap warga negara dan perusahaan Swiss yang ada di Libya, misalnya, kasus penangkapan warga negara Swiss dan upaya menghalang-halangi bisnis perusahaan Swiss.”



Kementerian luar negeri menentang segenap perjalanan menuju Libya, ditambahkan pula bahwa resiko penculikan amat tinggi karena operasi kelompok-kelompok bersenjata di sebagian besar kawasan gurun sahara.



Libya telah terlibat dalam pertikaian diplomatik dengan Swiss sejak Juli 2008 setelah penangkapan singkat di Jenewa putra Gadhafi lainnya, Hannibal, dan istrinya ketika dua pelayan hotel mengeluh cara ia memperlakukan mereka.



Presiden Libya, Kolonel Moammar Gadhafi mengajukan sebuah proposal kepada PBB selama kunjungannya ke New York bulan ini untuk menghapuskan keberadaan negara Swiss dari peta internasional setelah sengketa mengenai penahanan dari salah satu anak Presiden tersebut.



Menurut proposal yang tidak biasa itu, negara yang dikenal dengan pegunungan Alpen tersebut seharusnya digabungkan dengan Perancis, Jerman dan Italia.



Namun, tindakan tersebut tampaknya tidak akan pernah disetujui oleh dewan karena itu dianggap melanggar prinsip dari charta PBB, seorang juru bicara dari badan multi nasional tersebut berkata.



Menurut charta tersebut, tidak ada anggota dari negara tersebut yang dapat mengancam keberadaan atau kedaulatan dari negara lain dalam keanggotaan. (iw/meol) www.suaramedia.com




{ 0 comments }

Siddiqui: Vonis Hukuman Seumur Hidup Datang Dari Israel

by konspirasi on February 10, 2010







ISLAMABAD (SuaraMedia News) – Ilmuwan saraf Pakistan Aafia Siddiqui divonis bersalah karena mencoba membunuh personel militer AS dan agen FBI di Afghanistan dua tahun lalu.

Warga negara Pakistan itu dinyatakan bersalah atas tujuh poin tuduhan yang terdaftar dalam keluhan terhadap dirinya dari sebuah juri di Pengadilan Federal AS pada hari Rabu.



Siddiqui membantah semua tuduhan itu selama persidangan, menyebutnya konyol dan bersikukuh bahwa ia dijebak, dipenjara, dan disiksa oleh agen-agen AS di Pakistan dan Afghanistan.



Siddiqui dituduh merampas senapan M-4 milik seorang opsir AS di sebuah kantor polisi di provinsi Ghazni pada tahun 2008 dan melepaskan dua tembakan ke arah agen FBI dan personel militer saat sedang diinterogasi atas tuduhan kepemilikan dokumen detail rencana teroris.






Tuntutan hukum mengklaim bahwa Siddiqui menerjang dari balik tirai dan berusaha membunuh agen-agen AS dan kemudian tertembak di bagian perut.



Pengacara keluarga langsung mengajukan banding dengan alasan prasangka dan bias. Pembela Siddiqui mengkritik keras kejadian versi pemerintah, mengatakan bahwa tidak ada bukti forensik, seperti sidik jari atau jejak bubuk senjata, yang menunjukkan bahwa Siddiqui merampas senapan itu dan menembakkannya.



Pengacara pembela Siddiqui, Linda Moreno, mengatakan tidak ada bukti bahwa senapan itu pernah ditembakkan, selongsong peluru ditemukan dan tidak ada lubang bekas tembakan. Tidak satupun dari agen maupun personel militer yang terluka.



Kedua belas anggota juri berunding selama dua hari sebelum menghasilkan vonis mutlak terhadap tujuh tuduhan.



Penjatuhan hukuman akan dilakukan pada tanggal 6 Mei. Siddiqui (37), lulusan salah satu universitas paling bergengsi di AS ini, Institut Teknologi Massachusetts (MIT), akan menghadapi hukuman penjara minimum 30 tahun atas tuduhan penembakan. Ia juga dapat dijatuhi hukuman penjara hingga 20 tahun penjara untuk upaya pembunuhan dan delapan tahun untuk tuduhan-tuduhan lainnya.



Meskipun bersalah atas dua upaya pembunuhan, juri mengatakan bahwa ia tidak melakukan kejahatan itu dengan terencana. Dan meskipun tidak dituntut dengan tuduhan terorisme, jaksa penuntut menggambarkannya sebagai calon teroris yang juga merencanakan untuk mengebom New York.



Pengacaranya berusaha membuktikan bahwa kesehatan jiwanya terganggu, namun hakim memutuskan ia cukup sehat untuk menjalani persidangan.



Siddiqui, seorang wanita bertubuh kecil dan rapuh dengan balutan tunik berwarna krem dan kerudung putih yang menutup mulut dan dahinya, tidak menunjukkan emosi ketika juri mengumumkan vonisnya.



Setelah juri meninggalkan ruangan, Siddiqui mengatakan, “Ini adalah vonis dari Israel, bukan Amerika. Kemarahan harus diarahkan pada tempatnya.”



Kedutaan Pakistan di Washington juga mengkritik vonis tersebut dalam sebuah pernyataan yang sebagian berbunyi, “Kami kecewa atas vonis juri yang tak terduga ini dalam kasus Dr. Aafia Siddiqui.”



“Pemerintah akan melakukan semua yang diperlukan untuk memberikan keadilan padanya sebagai seorang warga negara Pakistan.”



Pada bulan Maret 2003, Siddiqui menghilang dari Karachi, Pakistan, bersama ketiga anaknya. Dilaporkan oleh koran setempat bahwa ia telah ditahan atas tuduhan terorisme.



Banyak aktivis politik yang meyakini bahwa ia adalah tahanan 650 di fasilitas penahanan AS, Bagram, di Afghanistan, di mana menurut mereka ia disiksa selama lima tahun hingga otoritas AS mengklaim dalam sebuah pengumuman bahwa mereka telah menemukannya di Afghanistan.



Selama dua minggu persidangan, Siddiqui berulangkali menginterupsi kesaksian saksi mata dan dipindahkan dari ruang sidang.



Siddiqui ditahan oleh kepolisian Afghan yang mengatakan bahwa ia membawa kontainer bahan-bahan kimia dan catatan yang merujuk pada serangan-serangan terhadap AS. (rin/pv/wb) www.suaramedia.com




{ 0 comments }

</