OSLO (SuaraMedia News) – Kepala Partai FRP (Partai Progresif Norwegia) di Oslo, Tybring-Gjedde, seorang Kristen, menyerukan kepada para siswa Muslim di negara tersebut agar mengenakan Bintang David yang identik dengan kaum Yahudi. Langkah tersebut dilakukan untuk memperingati pemusnahan masal kaum Yahudi dalam tragedy Holocaust.
“Langkah ini akan menjadi langkah yang bagus untuk menunjukkan rasa solidaritas mereka (umat Muslim) atas penderitaan yang dirasakan kaum Yahudi,” kata Tybring-Gjedde kepada kantor berita VG.

Dia berpikir bahwa sekolah-sekolah di Norwegia seharusnya memperkenalkan sebuah hari dalam setahun, dimana para siswa diberi pelajaran mengenai sejarah Yahudi dan tragedi Holocaust.

“Untuk menunjukkan tekad masyarakat atas janji mereka dalam memerangi kekerasan terhadap anak-anak Yahudi, masyarakat harus mengenakan sebuah simbol yang mewakili tekad tersebut. Dan saya kira dalam kasus ini, simbol Bintang David merupakan simbol yang paling tepat,” ujar Tybring-Gjedde.

Dia menekankan dia takkan memaksa siapapun untuk mengenakan lambang tersebut.




Namun usul ketua FRP tersebut nampaknya tidak dapat dipahami dengan baik oleh Dewan Islam.

“Usul untuk mengenakan lambang Bintang David sebagai tanda solidaritas dapat dipertimbangkan ketika dia (Tybring-Gjedde) juga mengajukan usul serupa dengan jilbab,” jelas Sekjen Shoaib Sultan.

Ketua Masyarakat-Beragama Mosaic, Anne Sender, menyuarakan pernyataan yang mendukung mengenai ide satu hari dimana para siswa akan belajar mengenai sejarah Yahudi dan Holocaust, namun nampaknya lebih skeptis atas ide pemakaian simbol Bintang David.

“Dengan mengenakan lambang Bintang David, saya rasa para siswa tidak akan mempelajari apapun,” kata Sender.

Partai FRP mempunyai sejarah panjang terkait umat Muslim di negara tersebut.

Tahun lalu, pemimpin partai ini sebelumnya, Siv Jensen, dengan keras menentang pemerintah dan apa yang disebutnya sebagai “penyusupan Islamisasi” di Norwegia, hal tersebut disampaikan selama sebuah pertemuan nasional partai.

“Kenyataan yang ada saat ini menunjukkan bahwa masyarakat tengah berada dalam proses mengikuti bentuk penyusupan-Islamisasi dalam masyarakat dan adalah tugas kita untuk menghentikannya,” ujar Jensen dalam pidatonya.

Dan mengenai perdebatan atas jilbab, Jensen berpendapat bahwa hal itu merupakan salah satu perlakuan ‘istimewa’ pemerintah kepada kelompok-kelompok minoritas.

“Ketika kita mengikuti permintaan mereka atas daging halal di penjara, ketika kita mengizinkan para siswa wanita tidak melakukan olahraga bersama siswa pria Norwegia lainnya, ini adalah contoh-contoh perlakuan istimewa yang saya kira akan mengurangi kemampuan berbaur dengan masyarakat Norwegia dan masih akan menjadi tantangan yang besar dalam beberapa dekade ke depan,” katanya kepada kantor berita TV2

Jensen berpendapat bahwa para tahanan seharusnya puas dengan apa yang telah mereka dapatkan untuk makan sehari-hari.

“Dan kami tidak akan menyetujui permintaan atas hari libur keagamaan,” imbuhnya, sembari menambahkan bahwa mereka juga akan menolak pemisahan gender dalam kelas olah raga dan berenang di sekolah-sekolah. (al/ie) www.suaramedia.com

OSLO (SuaraMedia News) – Ombudsman untuk Kesetaraan dan Diskriminasi percaya sebuah lelucon yang diterbitkan oleh Verdens Gang (VG), sebuah surat kabar populer di Norwegia sangat bodoh dan tidak menghormati Muslim.
Maaf untuk hal seperti ini di pagi hari.”