List/Grid

Tag Archives: Pyongyang

Kepentingan AS di Balik Perseteruan Dua Korea

Kepentingan AS di Balik Perseteruan Dua Korea

MOSKOW – Presiden Rusia Dmitry Medvedev mendesak kedua negara tetangga, Korea Selatan dan Korea Utara, agar menahan diri, bisa menemukan jalan damai, dan dapat keluar dari krisis. Dia juga mengirimkan… Read more »

Teknoligi Balistik Iran  Bisa jangkau Eropa 2014

Teknoligi Balistik Iran Bisa jangkau Eropa 2014

LONDON – Iran dapat menjadikan Eropa Barat sebagai sasaran tembak peluru kendali pada tahun 2014, namun diperlukan waktu dua kali lebih lama sebelum Iran dapat menembak Amerika Serikat, kata para… Read more »

Teori James Bond Dalam Tenggelamnya Kapal Perang Korsel

Teori James Bond Dalam Tenggelamnya Kapal Perang Korsel

SEOUL – Pengebom bunuh diri yang dikirimkan Korea Utara menghancurkan sebuah kapal perang Korea Selatan dan menewaskan setidaknya 40 awak kapal. Setiap harinya, misteri terkait nasib kapal patroli Cheonan seberat… Read more »

Korea Utara Siap Dialog – Atau Perang – Dengan AS

Korea Utara Siap Dialog – Atau Perang – Dengan AS





PYONGYANG (SuaraMedia News) – Korea Utara pada hari Selasa (09/03) mengatakan pihaknya akan memperkuat pertahanan nuklirnya sehubungan dengan ancaman militer AS. Negara komunis tersebut juga bersiap untuk melakukan dialog, atau bahkan berperang dengan Washington.

Komentar tersebut dikeluarkan oleh seorang juru bicara kementerian luar negeri Korea Utara menyusul dilakukannya latihan gabungan militer besar-besaran antara AS dan Korea Selatan. Korea Utara memandang latihan tersebut sebagai ancang-ancang untuk melakukan invasi.



Pada hari Senin, negara komunis tersebut mengatakan, pihaknya telah memerintahkan militernya untuk siap siaga. Korut juga mengaku siap meledakkan fasilitas-fasilitas milik Korsel.



AS dan Korsel mengatakan bahwa latihan tahunan yang bertajuk operasi Key Resolve dan Foal Eagle tersebut bersifat defensif. Latihan tersebut melibatkan 18.000 personel militer AS dan 20.000 orang pasukan Korsel.






Namun, Seoul membantah argumen negara tetangganya tersebut dan mengatakan bahwa reaksi Korut tersebut adalah sebuah “kecaman stereotip”. Korsel juga menegaskan bahwa pihaknya tidak mendeteksi adanya aktivitas militer tidak biasa di perbatasan utaranya.



“Korea Utara tahu benar bahwa kami tidak bermaksud jahat,” kata juru bicara Menteri Pertahanan Korea Selatan, Won Tae-jae.



Biasanya, Korut merespon latihan perang di perbatasan selatan negaranya tersebut dengan marah, namun tidak ada kejadian apapun yang terjadi sesudahnya.



Latihan tahun ini digelar bertepatan dengan upaya diplomatik guna mengajak Korea Utara kembali ke meja perundingan pelucutan nuklir dengan enam negara.



Korut memutuskan untuk keluar dari forum tersebut pada bulan April, satu bulan sebelum melakukan uji coba senjata atom.



Sebagai prasyarat untuk kembali ke meja perundingan, Korea Utara menuntut komitmen AS untuk membuka jalur dialog mengenai kesepakatan damai guna mengakhiri gencatan senjata yang menyudahi Perang Korea tahun 1950-1953.



Secara teknis, Korea Utara dan Selatan masih berada dalam keadaan perang, karena Perang Korea tahun 1950-1953 diakhiri tanpa penandatanganan kesepakatan damai antara kedua negara.



Juru bicara kementerian luar negeri Korut, dikutip oleh kantor berita resmi Pyongyang, menyebut latihan militer tersebut sebagai “latihan perang nuklir yang bertujuan untuk melakukan serangan awal kepada Korea Utara.”



Latihan tersebut membuktikan kebenaran proposal kesepakatan damai, tambah juru bicara tersebut.



“Korea Utara sepenuhnya siap untuk melakukan dialog atau perang. Kami akan terus mengembangkan pertahanan nuklir selama ancaman dan provokasi militer AS masih terus dilakukan.”



AS, China, Rusia, Jepang, dan Korea Utara seringkali mengungkapkan harapan mereka bahwa Korea Utara akan bergabung kembali dengan proses dialog tersebut.



Oktober tahun lalu, baik AS maupun Korut telah menunjukkan itikad baik dengan digelarnya dialog kedua negara.



Departemen Luar Negeri AS bahkan menghadiahkan visa ke AS pada seorang pejabat senior Korea Utara yang akan melakukan pembicaraan dengan akademisi AS dan mungkin juga dengan diplomat negara Paman Sam itu.



Sumber yang mengetahui permasalahan itu mengatakan bahwa visa tersebut akan diberikan pada Ri Gun, negosiator nomor dua di Korea Utara dalam negosiasi nuklir antara dua Korea, China, Jepang, Rusia, dan AS yang kini sedang terhenti.



Pada hari Jumat (16/10/09), AS mengatakan akan mengijinkan Ri Gun berkunjung ke negaranya dalam bulan ini, sebuah gerakan yang menurut para analis dapat menjadi langkah pertama menuju pembicaraan antara keduanya untuk mengakhiri program nuklir Pyongyang.



Ri Gun akan menghadiri beberapa pertemuan di New York dan San Diego dengan sejumlah akademisi dan pakar swasta yang mempelajari Korea Utara.



Departemen Luar Negeri tidak mengatakan apa-apa tentang kemungkinan adanya pembicaraan antara pejabat AS dan Korea Utara, namun sebuah sumber mengatakan bahwa besar kemungkinan diplomat AS Sung Kim akan bertemu dengan Ri secara informal dalam kunjungannya ini.



AS berharap sebuah dialog bilateral akan mengembalikan Korea Utara ke pembicaraan yang lebih luas untuk menghentikan program nuklirnya. (dn/af/bc/sm) www.suaramedia.com


Pembelot Korea Utara Bongkar Perdagangan Rahasia Dengan Barat

Pembelot Korea Utara Bongkar Perdagangan Rahasia Dengan Barat





VIENNA (SuaraMedia News) – Kim Jong Ryul menghabiskan waktu 20 tahun menjalankan bisnis para diktator Korea Utara dengan perusahaan-perusahaan Eropa, sebelum kemudian membelot kepada Austria pada tahun 1994. Kini, ia mengkhawatirkan keselamatan dirinya setelah keluar dari persembunyian pekan ini.

“Saya telah keluar dari persembunyian. Tapi berapa lama saya akan melihat matahari bersinar, saya tidak tahu. Saya rasa waktunya tidak lama,” katanya kepada AFP.

“Korea Utara akan coba menangkap lalu membunuh saya. Saya merasa sangat takut,” kata Kim Jong Ryul.

Dengan mengenakan kacamata berbingkai baja sambil tersenyum ramah, pria berperawakan kecil yang kini telah berusia 75 tahun tersebut menghabiskan waktu 20 tahun untuk melakukan hal-hal yang legal maupun ilegal bagi Korea Utara. Ia mengatakan bahwa dirinya dapat dengan mudah mengakali embargo ekonomi yang dijatuhkan kepada negara komunis tersebut.






Dalam beberapa kali perjalanan belanja menuju benua Eropa, pria yang fasih berbahasa Jerman tersebut bisa membeli apa saja, mulai dari teknologi mata-mata, senjata dan pesawat kecil hingga mobil mewah dan karpet, serta sepucuk pistol berlapis emas untuk Kim Il Sung, ayah pemimpin Korea Utara saat ini, Kim Jong Il.

Salah satu tempat tujuan yang paling sering ia datangi adalah Vienna, karena Korea Utara tahu benar bahwa Austria dapat diandalkan untuk merahasiakan rekening bank, di negara tersebut, perdagangan dapat dilakukan tanpa batasan, dan pengawasan bandaranya tidak ketat.

Dengan menggunakan paspor diplomatik Korea Utara, Kim Jong Ryul seringkali menghabiskan waktu berbulan-bulan di Eropa, biasanya dengan membawa serta tas kopor penuh uang tunai. Di Eropa, Kim Jong Ryul berurusan dengan perusahaan-perusahaan kecil yang tidak peduli siapa yang membeli barang mereka asal mendapatkan tambahan biaya 30 persen.

Kedutaan besar Korea Utara di Vienna seringkali dipergunakan sebagai lokasi penyimpanan perlengkapan mata-mata terlarang dan teknologi canggih sebelum dikemas ulang dan dikirim ke luar negeri dengan dokumen pengapalan palsu, ditambah dengan bantuan oknum bea cukai yang telah disogok, katanya.

Bukan hanya Austria, perusahaan-perusahaan di Swiss, Jerman dan Perancis juga berniaga dengan orang-orang asal Korea Utara. Ada pula barang yang didatangkan dari Cekoslowakia (sebelum pecah menjadi Republik Ceko dan Slovakia).

Semua hal tersebut diungkapkan dalam sebuah buku baru yang mengisahkan mengenai kehidupan Kim Jong Ryul berjudul “Im Dienst des Diktators” (melayani diktator) yang ditulis oleh Ingrid Steiner-Gashi dan Dardan Gashi. Diterbitkannya buku tersebut pekan ini membuat pria tua tersebut keluar dari persembunyian setelah sekian lama.

Sebelumnya, ia merupakan seorang anggota partai yang setia dan tidak pernah melakukan keselahan. Kolonel Kim Jong Ryul membelot ke Austria pada tanggal 18 Oktober 1994 ketika melakukan kunjungan ke negara tersebut. Ia memalsukan data kematiannya untuk menghilangkan jejak, agar tidak terendus Korea Utara.

Ia merasa muak dengan rezim Korea Utara yang bermewah-mewah di atas kelaparan dan penderitaan rakyatnya. Ia juga sudah tidak mau lagi disuruh-suruh oleh penguasa tertinggi Korea Utara. Kim meninggalkan keluarganya di Korea Utara tanpa memberikan kabar sedikitpun mengenai rencananya.

“Saya menginginkan kebebasan, saya butuh kebebasan,” katanya kepada AFP.

Ketika keluarganya mengantar kepergiannya di bandara Pyongyang pada bulan Oktober 1993, dia sudah bertekad untuk membelot.

Namun, Kim tetap memendam hasrat untuk pulang ke tanah kelahirannya jika rezim penguasa telah tumbang, dan kematian Kim Il Sung pada tahun 1994 memberikannya harapan.

“Saya harap jika sang diktator telah tiada, maka akan ada perubahan, sebuah revolusi.”

“Saya sudah menunggu begitu lama, dan setelah 15 tahun saya masih tetap di sini. Dengan buku ini, saya harap ada sesuatu yang bisa saya tinggalkan.”

Selama 15 tahun, Kim Jong Ryul tinggal secara ilegal di Austria, mencoba untuk tidak menonjolkan diri, membatasi pertemanan, dan hidup dari uang simpanan yang disembunyikan sebelum ia melarikan diri.

Selama itu pula Kim tidak pernah medengar kabar keluarganya, yang tidak pernah diberitahu mengenai keputusan pembelotan tersebut, demi menjaga keselamatan dirinya dan keluarga.

“Saya tidak tahu apakah sanak keluarga saya masih bernyawa. Mengirim surat adalah hal yang amat berbahaya, karena mereka semua mengira saya sudah mati.”

Kini, harapan Kim, yang memiliki lima buah televisi dan belajar bahasa Jepang agar lebih mudah mengikuti perkembangan mengenai negara asalnya, untuk pulang semakin redup.

“Saya ingin melihat kembali keluarga saya, putra dan putri saya satu kali lagi sebelum saya menutup mata, namun hal itu mungkin tak akan terjadi.”

“Bagi orang Asia, setia kepada pemimpin adalah hal yang amat penting. Saya telah melanggar hal itu, dan kini saya menjadi pengkhianat. Saya mengkhianati tanah kelahiran dan saya mengkhianati revolusi.”

“Risiko berbicara dengan para pengarang buku sudah saya perhitungkan sebelumnya. Lagipula saya pasti akan mati, jika demikian, mengapa harus mati tanpa arti?”

“Saya sangat takut, saya tidak tahu peluru dari mana yang akan menghabisi saya.”

Namun, Kim mengaku tidak menyesal, ia mengatakan bahwa membelot merupakan keputusan yang 100 persen benar. Namun, ia tetap melakukan tindak pencegahan. “Mulai besok, Anda tidak akan melihat saya lagi. Besok, atau hari-hari setelahnya, saya akan menghilang.” (dn/af) www.suaramedia.com


Berlanjutnya Misteri Pengiriman Senjata Korea Utara

Berlanjutnya Misteri Pengiriman Senjata Korea Utara





BANGKOK (SuaraMedia News) – Pada hari Senin (01/02), Thailand mengungkapkan adanya pengiriman senjata yang misterius dari Korea Utara pada tanggal 12 Desember yang lalu.

Saat itu, pemerintah Thailand menangkap sebuah pesawat Korea Utara yang sedang mendarat untuk mengisi bahan bakar. Pesawat itu adalah pesawat kargo Ilyushin II-76 yang terbang dari Pyongyang dengan lima orang awak. Pemerintah Thailand menemukan adanya senjata seberat 35 ton di dalam pesawat.



Korea Utara adalah negara yang miskin dan mengandalkan ekspor senjata demi pendapatannya. Korea Utara diperkirakan memperoleh ratusan juta dollar setiap tahun dari penjualan misil, onderdil misil, dan senjata-senjata lain ke negara-negara seperti Iran, Suriah, dan Myanmar. Pada bulan Juni lalu, PBB memberlakukan sanksi kepada Korea Utara setelah negara tersebut mengadakan uji coba nuklir dan misil. Negara tersebut dilarang mengekspor senjata apa pun. Dengan demikian, penerbangan pesawat dari Korea Utara dengan kargo berisi senjata yang akan diirimkan ke suatu negara merupakan sebuah tindak pelanggaran terhadap sanksi PBB.






Maka, pemerintah Thailand segera menindaklanjuti penemuannya dengan memberi laporan kepada Dewan Keamanan PBB. Laporan tersebut bocor, sampai ke telinga para wartawan di New York pada akhir minggu lalu.



Gosip pun berkembang. Tersiar kabar bahwa pesawat Korea Utara tersebut bermaksud untuk terbang ke bandara Mahrabad, Teheran. Namun, menurut juru bicara pemerintah Thailand, Panitan Wattanayarkorn, “Mengatakan bahwa senjata itu akan diterbangkan ke Iran mungkin adalah hal yang tidak tepat.” “Laporan itu hanya mengatakan ke mana pesawat itu akan pergi sesuai dengan rencana terbangnya, namun tidak dijelaskan kemana senjata itu akan diantar,” kata Wattanayarkorn pada hari Senin. “Hal itu masih dalam penyelidikan, dan para tersangka berada dalam sistem hukum kami,” lanjutnya.



Saat ini, pemerintah Thailand masih menahan lima awak pesawat Ilyushin II-76. Empat orang awak tersebut berasal dari Kazakhstan dan satu orang awak berasal dari Belarus. Mereka dikenai tuduhan memiliki senjata ilegal. Namun, tuduhan itu dapat dicabut setelah penyelidikan membuahkan hasil, kata pihak kepolisian.



Menurut laporan, senjata yang diangkut oleh pesawat Korea Utara tersebut hanyalah senjata ringan, misalnya granat. Jelas, itu bukan jenis senjata cangih yang diidamkan oleh negara seperti Iran. Sejak awal, terdapat spekulasi bahwa senjata itu akan dikirimkan kepada kelompok Timur-Tengah yang didukung oleh Teheran.



Terkait dengan penangkapan pesawat Ilyushin II-76 oleh pemerintah Thailand pada 12 Desember yang lalu, Associated Press mengadakan penyelidikan di sejumlah negara. Hasil penyelidikan menunjukkan bahwa penerbangan pesawat tersebut difasilitasi oleh sebuah web perusahaan persekutuan (holding companies) dan sejumlah alamat palsu, mulai dari Selandia baru hinga Barcelona. Semua itu ditujukan untuk mengaburkan kemana sebenarnya tujuan pesawat tersebut. Pilot utama pesawat Ilyushin II-76 bersikeras bahwa tujuan utama pesawat adalah Kiev, Ukraina.



“Saya tak pernah mengatakan atau memberi konfirmasi bahwa pesawat itu akan terbang ke Iran. Saya hanya tahu bahwa pesawat itu akan terbang menuju Ukraina dan kargo akan diturunkan di situ. Itulah informasi yang saya miliki,” kata pengacara yang ditunjuk untuk mewakili awak pesawat, Somsak Saithong, kepada Associated Press pada hari Senin.



Pada hari Senin itu pula, ketika Thailand masih dibingungkan oleh misteri senjata dari Korea Utara, Korea Utara malah dalam keadaan adem-ayem. Korea Utara sedang menerima tamu dari Korea Selatan.



Para pejabat dari Korea Utara dan Korea Selatan mengadakan pertemuan guna membahas pengembangan kompleks industri. Ini tentu saja merupakan sebuah perkembangan yang menggembirakan, mengingat. Korea Utara dan Korea Selatan memiliki sejarah konflik yang panjang. Sehubungan dengan perbedaan ideologi, kedua negara pernah berperang pada 1950-1953. Peperangan berakhir pada 1953 bukan karena keduanya mencapai kesepakatan damai, namun semata-mata karena kedua negara sepakat menurunkan senjata saja. Sejak saat itu, kedua Korea tetap berada dalam posisi seteru. Minggu lalu, sempat terjadi konflik di perbatasan perairan kedua negara. Untungnya, tak ada korban jiwa atau kerusakan dalam insiden tersebut.



Pertemuan antara delegasi Korea Selatan dan Korea Utara pada hari Senin (01/02) berlangsung di Kaesong, sebuah kota di perbatasan kedua negara. Kompleks industri Kaesong adalah sebuah proyek rekonsiliasi antara kedua Korea yang telah berjalan cukup lancar, meskipun sekali-kali ketegangan politik mencuat di antara kedua negara. Kompleks tersebut berisi sekitar 110 pabrik Korea Selatan dan mempekerjakan sekitar 40.000 warga Korea Utara. Kompleks industri Kaesong merupakan perpaduan asset kedua negara: tenaga kerja murah dari Korea Utara dan modal beserta ketrampilan dari Korea Selatan. Tidak seperti industri Korea Utara yang melulu mengandalkan produksi senjata, Kaesong menghasilkan peralatan dapur, tekstil, elektronika, dan barang-barang industri ringan lainnya.



Dalam pertemuan pada hari Senin, delegasi Korea Utara mencetuskan perihal peningkatan upah. Tahun lalu, Korea Utara meminta Korea Selatan untuk meningkatkan upah bagi pekerja dari Korea Utara, dari 75 dolar per bulan menjadi 300 dollar per bulan. Namun, kali ini, pihak Korea Utara tidak menyebut besar peningkatan upah secara spesifik. Sementara, pihak Korea Selatan menginginkan agar pembicaraan lebih terfokus pada masalah akses lintas batas antar kedua negara. Koera Selatan juga menginginkan fokus pada perihal perumahan bagi pekerja Korea Selatan di kompleks industri Kaesong. (es/yh) www.suaramedia.com