List/Grid

Tag Archives: saya

Hitler Pinjam Uang demi Mobil Mercedes

Hitler Pinjam Uang demi Mobil Mercedes

Pemimpin Nazi Adolf Hitler pernah menyurati pemilik dealer mobil mewah, Mercedes Benz untuk mengutang sebuah limousine. Adolf berjanji akan membayarnya saat royalti bukunya, ‘Mein Kampf’, cair. Surat ditulis diktator Jerman… Read more »

Warga Israel Menggunakan Twitter dan Facebook  untuk Melawan

Warga Israel Menggunakan Twitter dan Facebook untuk Melawan

Ketika juru bicara Angkatan Pertahanan dan Kantor Kementerian Luar Negeri Israel tengah membakar dek Marmara, metaforis berbicara, saat fajar di hari Senin, masyarakat seluruh dunia melihat. Begitu juga dengan rakyat… Read more »

AKU BERLINDUNG KEPADA ALLAH DARI TIPU DAYA POLISI YANG TERKUTUK…

AKU BERLINDUNG KEPADA ALLAH DARI TIPU DAYA POLISI YANG TERKUTUK…

Siapakah Polisi yang terkutuk itu? Mereka adalah Polisi yang bukannya menegakkan hukum, malah melacurkannya. Di negara hukum, kejahatan terbesar adalah PELACURAN HUKUM, yang dilakukan oleh aparat penegak hukum di institusi… Read more »

Jack Straw Minta Maaf Atas Komentarnya Tentang Cadar

Jack Straw Minta Maaf Atas Komentarnya Tentang Cadar

Sekretaris kehakiman Inggris, Jack Straw secara terbuka meminta maaf untuk pernyataan kontroversialnya tentang wanita muslim yang menutup wajah mereka. Permintaan maafnya tersebut disampaikan olehnya dalam sebuah pertemuan dalam rangka kampanye… Read more »

Kisah Pilu Tentara AS Di Medan Perang

Kisah Pilu Tentara AS Di Medan Perang

Spesialis William B Allen adalah petugas medis Angkatan Darat AS yang bertugas mendampingi dua putaran tur perang di Irak. Ia menghabiskan 27 bulan di sana. Dia baru saja menyelesaikan program… Read more »

Muslimah Bercadar di Kanada Diusir dari Ruang Kelas

Muslimah Bercadar di Kanada Diusir dari Ruang Kelas

Ilustrasi Sumber media pada hari Senin kemarin (12/4) mengungkapkan bahwa salah satu sekolah Kanada telah mengeluarkan seorang mahasiswi muslim dari ruang kelas yang sedang mempelajari bahasa Perancis, dengan alasan karena… Read more »

Hina Wanita Berjilbab, Pria Belanda Dicekal Pemerintah

Hina Wanita Berjilbab, Pria Belanda Dicekal Pemerintah





AMSTERDAM (SuaraMedia News) – Pemerintah kota Hoogezand-Sappemeer Hoogezand-Sappemeer di Belanda mencekal seorang pria yang memperlakukan seorang karyawati berjilbab dengan agresif.

Juru bicara pemerintah lokal mengkonfirmasi laporan yang muncul di surat kabar Dagblad van het Noorden itu.



Seminggu yang lalu, pria tersebut menolak untuk dibantu oleh seorang karyawati berjilbab dan menegaskannya dengan keras. Ia berbicara kepada wanita itu dengan diskriminatif dan menghina.



Pemerintah kemudian mengundang pria itu untuk berbicara, namun ketika langkah itu tidak membuahkan hasil apapun, dewan memutuskan untuk mencekal pria itu masuk ke semua gedung pemerintah selama satu tahun.



Dengan itu, dewan ingin menegaskan bahwa emosi semacam itu tidak ditolerir di kota multibudaya seperti Hoogezand-Sappemeer.



Sang karyawati terguncang oleh insiden itu dan akan mengajukan keluhan ke saluran telepon diskriminasi. Pemerintah tidak berpendapat bahwa pencekalan itu unik.






Sementara itu, Seorang Muslimah Belanda di kota Almere telah mengajukan keluhan kepada polisi terhadap pemimpin lokal sayap kanan PVV (Partai untuk Kebebasan), Raymond de Roon.



Ayşe Bayrak-de Jager telah mengklaim bahwa advokasi PVV tentang pelarangan jilbab di lembaga publik diskriminatif terhadap dirinya dan kaum muslimah lainnya.



“Jilbab saya adalah bagian dari identitas saya dan saya pasti tidak akan melepasnya.” Bayrak-de Jager dikutip dalam De Telegraaf.



“Saya telah menjadi seorang Muslim dan saya memilih sendiri untuk memakai jilbab.” Muslimah itu mengatakan dia akan terus melakukannya. “Saya hanya akan membiarkan satu orang menanggalkan pakaian saya dan itu adalah suami saya.” (rin/ie/sm) www.suaramedia.com


Pembelot Korea Utara Bongkar Perdagangan Rahasia Dengan Barat

Pembelot Korea Utara Bongkar Perdagangan Rahasia Dengan Barat





VIENNA (SuaraMedia News) – Kim Jong Ryul menghabiskan waktu 20 tahun menjalankan bisnis para diktator Korea Utara dengan perusahaan-perusahaan Eropa, sebelum kemudian membelot kepada Austria pada tahun 1994. Kini, ia mengkhawatirkan keselamatan dirinya setelah keluar dari persembunyian pekan ini.

“Saya telah keluar dari persembunyian. Tapi berapa lama saya akan melihat matahari bersinar, saya tidak tahu. Saya rasa waktunya tidak lama,” katanya kepada AFP.

“Korea Utara akan coba menangkap lalu membunuh saya. Saya merasa sangat takut,” kata Kim Jong Ryul.

Dengan mengenakan kacamata berbingkai baja sambil tersenyum ramah, pria berperawakan kecil yang kini telah berusia 75 tahun tersebut menghabiskan waktu 20 tahun untuk melakukan hal-hal yang legal maupun ilegal bagi Korea Utara. Ia mengatakan bahwa dirinya dapat dengan mudah mengakali embargo ekonomi yang dijatuhkan kepada negara komunis tersebut.






Dalam beberapa kali perjalanan belanja menuju benua Eropa, pria yang fasih berbahasa Jerman tersebut bisa membeli apa saja, mulai dari teknologi mata-mata, senjata dan pesawat kecil hingga mobil mewah dan karpet, serta sepucuk pistol berlapis emas untuk Kim Il Sung, ayah pemimpin Korea Utara saat ini, Kim Jong Il.

Salah satu tempat tujuan yang paling sering ia datangi adalah Vienna, karena Korea Utara tahu benar bahwa Austria dapat diandalkan untuk merahasiakan rekening bank, di negara tersebut, perdagangan dapat dilakukan tanpa batasan, dan pengawasan bandaranya tidak ketat.

Dengan menggunakan paspor diplomatik Korea Utara, Kim Jong Ryul seringkali menghabiskan waktu berbulan-bulan di Eropa, biasanya dengan membawa serta tas kopor penuh uang tunai. Di Eropa, Kim Jong Ryul berurusan dengan perusahaan-perusahaan kecil yang tidak peduli siapa yang membeli barang mereka asal mendapatkan tambahan biaya 30 persen.

Kedutaan besar Korea Utara di Vienna seringkali dipergunakan sebagai lokasi penyimpanan perlengkapan mata-mata terlarang dan teknologi canggih sebelum dikemas ulang dan dikirim ke luar negeri dengan dokumen pengapalan palsu, ditambah dengan bantuan oknum bea cukai yang telah disogok, katanya.

Bukan hanya Austria, perusahaan-perusahaan di Swiss, Jerman dan Perancis juga berniaga dengan orang-orang asal Korea Utara. Ada pula barang yang didatangkan dari Cekoslowakia (sebelum pecah menjadi Republik Ceko dan Slovakia).

Semua hal tersebut diungkapkan dalam sebuah buku baru yang mengisahkan mengenai kehidupan Kim Jong Ryul berjudul “Im Dienst des Diktators” (melayani diktator) yang ditulis oleh Ingrid Steiner-Gashi dan Dardan Gashi. Diterbitkannya buku tersebut pekan ini membuat pria tua tersebut keluar dari persembunyian setelah sekian lama.

Sebelumnya, ia merupakan seorang anggota partai yang setia dan tidak pernah melakukan keselahan. Kolonel Kim Jong Ryul membelot ke Austria pada tanggal 18 Oktober 1994 ketika melakukan kunjungan ke negara tersebut. Ia memalsukan data kematiannya untuk menghilangkan jejak, agar tidak terendus Korea Utara.

Ia merasa muak dengan rezim Korea Utara yang bermewah-mewah di atas kelaparan dan penderitaan rakyatnya. Ia juga sudah tidak mau lagi disuruh-suruh oleh penguasa tertinggi Korea Utara. Kim meninggalkan keluarganya di Korea Utara tanpa memberikan kabar sedikitpun mengenai rencananya.

“Saya menginginkan kebebasan, saya butuh kebebasan,” katanya kepada AFP.

Ketika keluarganya mengantar kepergiannya di bandara Pyongyang pada bulan Oktober 1993, dia sudah bertekad untuk membelot.

Namun, Kim tetap memendam hasrat untuk pulang ke tanah kelahirannya jika rezim penguasa telah tumbang, dan kematian Kim Il Sung pada tahun 1994 memberikannya harapan.

“Saya harap jika sang diktator telah tiada, maka akan ada perubahan, sebuah revolusi.”

“Saya sudah menunggu begitu lama, dan setelah 15 tahun saya masih tetap di sini. Dengan buku ini, saya harap ada sesuatu yang bisa saya tinggalkan.”

Selama 15 tahun, Kim Jong Ryul tinggal secara ilegal di Austria, mencoba untuk tidak menonjolkan diri, membatasi pertemanan, dan hidup dari uang simpanan yang disembunyikan sebelum ia melarikan diri.

Selama itu pula Kim tidak pernah medengar kabar keluarganya, yang tidak pernah diberitahu mengenai keputusan pembelotan tersebut, demi menjaga keselamatan dirinya dan keluarga.

“Saya tidak tahu apakah sanak keluarga saya masih bernyawa. Mengirim surat adalah hal yang amat berbahaya, karena mereka semua mengira saya sudah mati.”

Kini, harapan Kim, yang memiliki lima buah televisi dan belajar bahasa Jepang agar lebih mudah mengikuti perkembangan mengenai negara asalnya, untuk pulang semakin redup.

“Saya ingin melihat kembali keluarga saya, putra dan putri saya satu kali lagi sebelum saya menutup mata, namun hal itu mungkin tak akan terjadi.”

“Bagi orang Asia, setia kepada pemimpin adalah hal yang amat penting. Saya telah melanggar hal itu, dan kini saya menjadi pengkhianat. Saya mengkhianati tanah kelahiran dan saya mengkhianati revolusi.”

“Risiko berbicara dengan para pengarang buku sudah saya perhitungkan sebelumnya. Lagipula saya pasti akan mati, jika demikian, mengapa harus mati tanpa arti?”

“Saya sangat takut, saya tidak tahu peluru dari mana yang akan menghabisi saya.”

Namun, Kim mengaku tidak menyesal, ia mengatakan bahwa membelot merupakan keputusan yang 100 persen benar. Namun, ia tetap melakukan tindak pencegahan. “Mulai besok, Anda tidak akan melihat saya lagi. Besok, atau hari-hari setelahnya, saya akan menghilang.” (dn/af) www.suaramedia.com


Amina Wadud : Antara Pahlawan Wanita Dan Muslim Sesat

Amina Wadud : Antara Pahlawan Wanita Dan Muslim Sesat



SYDNEY (SuaraMedia News) – Amina Wadud, seorang ulama wanita Muslim, telah dicap baik sebagai seorang pahlawan bagi kaum feminis dan sebagai seorang Muslim sesat.

Pahlawan wanita untuk kerangka akademiknya bagi umat Islam dalam hukum dan reformasi kebijakan di seluruh dunia; sesat karena memimpin sholat campuran jender di New York pada 2005 yang menjadi berita utama di seluruh dunia.

Sesi sholat itu menyebabkan wanita Afrika Amerika berubah status menjadi selebriti pembaharu Muslim, posisi yang teolog itu tampaknya tidak sepenuhnya nyaman.

“Saya mencoba untuk menjaga rasa humor tentang hal itu,” katanya, berbicara di Sydney setelah pertemuan di Melbourne dan Canberra.

“Saya tidak memulainya. Saya tidak menyalakan sensasi itu.”

“Saat itu sedikit lucu tapi saya tidak bisa tinggal di sepanjang jalur tersebut. Saya suka bagian dasar hidup saya di mana saya memiliki anonimitas.”


Ketika ditanya apakah kontroversi telah mengurangi aktivisme dan beasiswa tentang Islam dan isu-isu gender, dia berkata: “Saya menyesali hal-hal yang dikurangi untuk alasan apapun. Tapi saya tidak menyesal jika itu alasan mengapa orang mengurangi hal-hal. Orang tidak senang dengan pekerjaan saya untuk waktu yang lama. Jadi sholat itu hanyalah sebuah tipu muslihat … dan … alasan untuk tidak mendengarkan apa yang Anda katakan.”

Dr Wadud adalah penulis beberapa buku, termasuk “Women: Re-reading the sacred text from a woman’s perspective” dan “Inside Gender Jihad: Women’s reform in Islam”.

Tesis sentral-nya adalah bahwa selama berabad-abad Islam telah ditafsirkan oleh ulama laki-laki yang telah dikaburkan dengan dasarnya etos egaliter. Etos ini, Dr Wadud mengatakan, telah mengilhami pekerjaan reformasinya khususnya seputar hukum keluarga Islam.

Sementara sebagian menyebutnya bid’ah, kritikus Dr Wadud lain melontarkan tuduhan bahwa dia memicu kontestasi teks-teks agama tak pernah berakhir yang tidak memiliki tujuan di zaman modern dalam kerangka sekuler. Namun, bukunya telah bekerja sebagai kerangka kerja bagi para aktivis Muslim, khususnya melalui kelompok-kelompok lobi dan organisasinya, Sisters in Islam di Malaysia.

Salah satu ide sentral Dr Wadud adalah bahwa sebagai orang beriman ia menerima keilahian Al-Qur’an, bagaimanapun,  pembacaannya harus selalu terbuka untuk pengawasan dan evaluasi ulang. Hal ini terutama penting jika hukum harus didasarkan pada ajaran dan memiliki pada dampak kehidupan perempuan di dunia nyata.

Lahir di Amerika Selatan, di Maryland pada 1952, dari ayah seorang pengkhotbah Metodis, Dr Wadud masuk Islam di universitas tempatnya belajar pada usia 20 tahun setelah menjadi seorang praktisi Buddhis dalam waktu yang singkat.

“Saya pernah menjadi seorang praktisi Buddha selama setahun,” katanya.

“Saya datang ke Islam dan tumbuh secara eksponensial dan saya datang untuk memahami alam semesta yang bekerja untuk saya.”

Teologi pembebasan dari pemimpin gerakan hak-hak sipil kulit hitam dan pendidikannya sendiri juga mempengaruhinya.

“Keluarga saya adalah salah satu situasi di mana hubungan antara ketidakadilan sosial dan iman terlihat eksplisit. Anda tidak menindas. Penindasan adalah melawan kehendak Tuhan, “katanya.

“Saya dibesarkan di era kesadaran kulit hitam. Saya tinggal di sebuah masa transformatif sebagai anak muda-Anda bisa mendengar dan merasakan bahwa anda punya tanggung jawab sosial  tertentu – mandat untuk berjuang untuk menghapus ketidakadilan seperti yang sedang dibentuk dalam konteks kehidupan kita sebagai Afrika-Amerika.

“Saya dibesarkan dalam semangat revolusioner keadilan dan itu adalah masuk akal untuk mentransfer itu dalam hal Islam dan keadilan gender.”

Dr Amina Wadud menemukan banyak dari kebingaran di sekitar pekerjaannya tidak menyenangkan, begitu banyak sehingga pada satu titik dia menghindari label ‘feminis’ sama sekali.

“Jelas ada sektor besar non-Muslim dan penduduk Muslim yang berpikir bahwa feminisme Islam adalah sebuah oxymoron,” katanya.

“Saya kurang peduli sekarang tentang apakah atau tidak saya membuat semua orang nyaman dalam hal penunjukan diri (menjadi feminis) daripada di titik yang lain.”

Katanya istilah ‘feminisme’ sering menyebabkan orang mengabaikan pekerjaan yang ia lakukan.

“… Saya merasa sedikit lebih nyaman di kulit saya sendiri dan bisa mengatakan feminis. Pada saat lain (saya akan menghindari label) dalam rangka untuk menghindari diskusi politik dan untuk menghindari marginalisasi pekerjaan saya menjadi  politik itu, “kata Dr Wadud.

Ketidaksesuaian ini tidak sesuai dengan studi pemikiran Islam dan pemikiran filsafat sendiri.

“Mereka membatasi feminisme dari intelektual dan sejarah politiknya sendiri,” katanya. “Mereka juga membatasi Islam dari lintasan egaliter sendiri.”

Dr Wadud telah menemukan kerumunan permusuhan lebih menunjuk ke arahnya di Sydney daripada di Melbourne, di mana sebagian besar penonton Muslim tampak jauh lebih terlibat.

Minggu ini dia berceramah di University of Technology, Sydney, melibatkan beberapa perdebatan sengit dengan pemuda.

“Beberapa orang di khalayak Australia, mereka datang karena mereka sudah mendengar ada sesuatu yang salah atau buruk atau jahat tentang saya” katanya.

“Mereka datang karena mereka akan meluruskan saya. Ketika mereka sampai di sini dan saya tidak mengatakan apa-apa yang keterlaluan bagi mereka untuk menangkap saya.”

Dr Wadud menemukan argumen dengan mereka yang bahkan sebelum memngetahui ide-idenya, dan sekarang difokuskan pada mengulurkan tangan untuk mereka yang sudah paham.

“Di masa lalu saya merasa tanggung jawab yang lebih besar untuk dipahami oleh orang sebanyak mungkin,” katanya.

“Anda menghabiskan waktu Anda mencoba untuk mengkonversi orang-orang yang benar-benar tidak yakin tentang ke mana Anda akan pergi.”

“Kemudian ada beberapa orang yang mencoba untuk memahami hal-hal tertentu dan memiliki tingkat nominal perjanjian tertentu dan mungkin ingin pergi lebih jauh dan terlibat dengan ide-ide Anda. Itu tingkat yang lebih menarik untuk terlibat.”

Ada rumor ancaman pembunuhan, namun Dr Wadud cepat untuk membenarkannya.

“Saya tidak pernah menerima ancaman mati,” ia tertawa.

“Ada hal di mana orang-orang ini menemui saya dan mengatakan saya mendapat ancaman kematian. Tetapi tidak pernah ada yang benar-benar mengancam saya. ” (iw/smh) www.suaramedia.com


Tiga Momen Bersama Gus Dur

Tiga Momen Bersama Gus Dur

Ada tiga momen perjumpaan saya dengan Gus Dur yang masih sangat berkesan di hati saya. Ketiga momen itu terdiri dari momen yang menggembirakan, menakjubkan, dan memilukan. Catatan ini semoga selalu… Read more »