Posts tagged as:

xd xd xd

Kanada Berupaya Keras Cegah Pengaruh Al Shabaab

by konspirasi on March 9, 2010





OTTAWA (SuaraMediaNews) – Kanada memasukkan Al-Shabaab, sebuah kelompok militan dari Somalia yang baru-baru ini menyatakan bergabung dengan Al-Qaeda, ke dalam daftar “kelompok teroris”. Dengan demikian, Kanada dapat melarang Al-Shabaab beroperasi atau mencari dana. Demikian kata pemerintah Kanada pada hari Minggu (07/03).

Pemerintah Kanada baru saja menerima laporan dari komunitas Somalia bahwa Al-Shabaab  bermaksud meradikalisasi dan merekruit para pemuda Kanada.



“Pemerintah ……bertekad bahwa kelompok teroris ini tidak menerima dukungan dari sumber-sumber Kanada,” kata Vic Toews, Menteri Keselamatan Umum.



Melalui daftar yang baru saja dibuat tersebut, pemerintah Kanada melarang warganya untuk berhubungan dengan aset-aset yang dimiliki atau dikendalikan oleh Al-Shabaab. Barangsiapa berpastisipasi, berkonstribusi, atau memfasilitasi aktivitas kelompok tersebut akan dinyatakan sebagai pelaku tindak kriminal.






Menteri urusan dalam negeri Ingggris mengumumkan tindakan yang sama pada bulan ini.



Menurut keamanan Barat, Somalia telah menjadi tempat persembunyian bagi para militan – Somalia tidak memiliki pemerintah pusat yang efektif selama hampir dua dekade.



Harakat al-Shabaab Mujahideen (Gerakan Pemuda Pejuang), atau yang lebih dikenal sebagai Al-Shabaab, adalah sebuah kelompok pemberontak di Somalia. Pada musim panas tahun 2009, Al-Shabaab menguasai sebagian besar wilayah selatan Somalia, termasuk ibukotanya, Mogadishu. Di Mogadishu, Al-Shabaab memberlakukan hukum Shariah berdasarkan intepretasi mereka sendiri yang cukup keras.



Tidak diketahui secara pasti berapa anggota Al-Shabaab. Per Desember 2006, diperkirakan angota Al-Shabaab berjumlah antara 3000 sampai 7000 orang.



Kemunculan Al-Shabaab berawal dari kekacauan politik yang terjadi pada tahun 2006. Pada saat itu, terjadi konflik antara Somalia dan Ethiopia. Angkatan bersenjata Ethiopia berhasil menyingkirkan Islamic Court Union dari kursi kekuasaannya di Somalia. Islamic Court Union lantas terpecah menjadi sejumlah kelompok yang lebih kecil, termasuk Al-Shabaab.



Al-Shabaab menggambarkan diri mereka sebagai pelaku “jihad” yang melawan musuh-musuh agama. Kelompok tersebut berperang melawan pemerintah transisi Somalia (Transitional Federal Government – TFG) dan African Union Mission to Somalia (AMISOM). Al-Shabaab juga mengumumkan perang terhadap PBB dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat dari Barat yang membagikan bantuan pangan kepada rakyat Somalia. Selama periode 2008-2009, 42 orang pekerja sosial telah terbunuh oleh Al-Shabaab.



Pada awalnya, Al-Shabaab menampik bahwa mereka bekerja sama dengan Al-Qaeda. Namun, pada bulan Januari 2010, pemimpin Al-Shabaab menyatakan bahwa Al-Shabaab bergabung dalam “jihad internasional” yang dilakukan oleh Al-Qaeda.



Al-Shabaab tidak lepas dari perpecahan. Pada tahun 2009, sejumlah pemimpin dan anggota Al-Shabaab bergabung dengan TFG. Salah satu pemimpin al-Shabaab yang membelot adalah Sheikh Mohamed Abdullahi, atau dikenal juga sebagai “Sheikh Bakistani”. Bakistani adalah mantan pemimpin Brigade Maymana. Bakistani yang membelot pada bulan November lalu mengatakan kepada VOA Somali Service bahwa ia tidak sependapat dengan misi bunuh diri dan eksekusi yang dilakukan oleh al-Shabaab.



Bakistani menyatakan bahwa ia telah beberapa kali dikunjungi oleh ayahnya. Sang ayah adalah pemimpin keagamaan setempat yang cukup populer. Sang ayahlah yang meyakinkan Bakistani untuk berubah haluan.



Walau demikian, juru bicara Al-Shabaab menyangkal keterlibatan Bakistani sebagai pemimpin al-Shabaab.



Pada bulan yang sama, seorang mantan anggota Al-Shabaab mengadakan wawancara dengan Agence France-Press (AFP) di Villa Somalia dengan perantaraan pemerintah federal Somalia. Dalam wawancara tersebut, sang mantan angota Al-Shabaab mengatakan bahwa ia telah mengalami dilusi. Awalnya, ia yakin bahwa ia berjuang untuk mengusir penjajah Ethiopia. Namun, ia lantas merasa tak tahan dengan intepretasi Al-Shabaab terhadap Islam.



Pada bulan Desember 2009, Sheikh Ali Hassan Gheddi, yang saat itu menjabat sebagai Commander in-Chief untuk militan Al-Shabaab di wilayah Shabele Tengah, juga membelot. Alasannya, ia tak tahan dengan kekerasan yang dilakukan Al-Shabaab. Al-Shabaab telah mengutip uang dari warga. Al-Shabaab menyatakan bahwa beruruasn dengan mereka sama artinya dengan menentang ajaran Islam. Menurut Sheikh Gheddi, alasan terbesarnya untuk keluar dari Al-Shabaab adalah keputuasn kelompok tersebut unutk melarang Program Pangan PBB (United Nation’s World Food Programme – WFP). (es/rts/wp) www.suaramedia.com


{ 0 comments }

Netanyahu: Ayah Saya Telah Ramalkan Tragedi 9/11

by konspirasi on March 9, 2010





TEL AVIV (SuaraMedia News) – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bahwaa ayahnya pernah memprediksikan serangan 11 September terhadap menara kembar World Trade Center New York pada tahun 1990-an.

Haaretz melaporkan bahwa pernyataan tersebut dilontarkan pada peringatan 100 tahun hari lahir ayah sang perdana menteri, Benzion Netanyahu, yang merupakan seorang sejarawan dan aktivis Zionis.



Perdana Menteri Israel tersebut menambahkan bahwa orang-orang yang tidak mengetahui masa lalu mereka tidak akan mengerti dan tidak akan mampu memprediksi masa depan mereka.



Pada tanggal 17 April 2008, harian Israel Maariv melaporkan bahwa Benjamin Netanyahu, yang kala itu merupakan pemimpin Partai Likud, mengatakan kepada audiens di Universitas Bar Ilan bahwa Peristiwa 11 September 2001 menguntungkan Israel.



“Kami mendapat keuntungan dari satu hal, dan hal itu adalah serangan terhadap menara kembar dan juga Pentagon, serta perjuangan Amerika di Irak,” kata Netanyahu kepada Maariv. Ia juga menambahkan bahwa kejadian tersebut “menggiring opini publik Amerika untuk keuntungan kami.”






Tidak berapa lama kemudian, Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad mengungkapkan keraguan atas kebenaran peristiwa 11 September, ia menyebut 9/11 hanyalah dalih yang sengaja diciptakan untuk menginvasi Afghanistan dan Irak.



“Dengan dalih itu, mereka (AS) menyerang Afghanistan dan Irak. Dan sejak saat itu, ada jutaan orang yang tewas, itu baru di Irak.”



Menanggapi ancaman Iran, Netanyahu membandingkan Ahmadinejad dengan Adolf Hitler dan menyamakan program nuklir Teheran dengan ancaman Nazi terhadap Eropa pada akhir tahun 1030-an.



Netanyahu mengatakan bahwa ada satu hal yang membedakan Iran dengan Nazi. “Rezim Nazi memulai konflik global sebelum mengambangkan senjata nuklir,” kata Netanyahu. “Rezim ini (Iran) mengembangkan senjata nuklir sebelum terlibat dalam konflik global.”



Beberapa waktu lalu, Tim King dari situs Salem News menyebutkan: “Pemerintah AS memang ingin masyarakat percaya bahwa gedung-gedung tersebut ambruk karena lalapan api. Akan tetapi, dalam sejarah belum pernah ada api yang mampu meruntuhkan gedung pencakar langit. Jilatan api memang membakar hingga kerangka bangunan, tapi api tidak bisa meruntuhkan gedung.”



“Anggap saja hal itu mungkin terjadi, maka menara kembar WTC menjadi bangunan yang paling tidak mungkin runtuh. Kerangka baja menara kembar tersebut tidak akan sampai ambruk, bahkan jika gedungnya sendiri runtuh.”



“Ketika kami mulai menulis mengenai hal ini. Matt Lintz, desainer web kami, mengetahui adanya upaya-upaya Angkatan Udara AS untuk meretas situs Salem News.”



Salem News menyebutkan bahwa mungkin setengah penduduk AS masih belum menyadari bahwa ada gedung ketiga yang juga turut runtuh pada tanggal 11 September 2001. Dan gedung tersebut tidak dihantam pesawat. Namun, dalam gedung tersebut terdapat banyak catatan yang berharga bagi industri keuangan.



Richard Gage, seorang arsitek asal San Francisco yang merupakan pendiri organisasi nirlaba Architecs & Engineers for 9/11 Truth, mengatakan: “Bagaimana mungkin baja seberat 200.000 ton tercerai berai dan roboh dalam waktu hanya 11 detik? Ribuan orang arsitek dan insinyur mempertanyakan hal tersebut, mereka menyerukan kepada Kongres untuk memerintahkan investigasi baru terhadap peristiwa runtuhnya menara kembar dan Building 7 (7 World Trade Center).”



“Untuk meruntuhkan bangunan semacam itu dalam waktu singkat, maka harus ada ledakan buatan di gedung tersebut. Dan ledakannya harus mengarah ke luar,” kata Richard Gage, seorang arsitek asal San Francisco yang merupakan pendiri organisasi nirlaba Architecs & Engineers for 9/11 Truth.



Jeff Gates, seorang penulis di Salem News, mengatakan bahwa satu-satunya negara yang akan diuntungkan dari peperangan (pasca persitiwa 9/11) adalah Israel. (dn/vn/hz/sm) www.suaramedia.com


{ 0 comments }





PYONGYANG (SuaraMedia News) – Korea Utara pada hari Selasa (09/03) mengatakan pihaknya akan memperkuat pertahanan nuklirnya sehubungan dengan ancaman militer AS. Negara komunis tersebut juga bersiap untuk melakukan dialog, atau bahkan berperang dengan Washington.

Komentar tersebut dikeluarkan oleh seorang juru bicara kementerian luar negeri Korea Utara menyusul dilakukannya latihan gabungan militer besar-besaran antara AS dan Korea Selatan. Korea Utara memandang latihan tersebut sebagai ancang-ancang untuk melakukan invasi.



Pada hari Senin, negara komunis tersebut mengatakan, pihaknya telah memerintahkan militernya untuk siap siaga. Korut juga mengaku siap meledakkan fasilitas-fasilitas milik Korsel.



AS dan Korsel mengatakan bahwa latihan tahunan yang bertajuk operasi Key Resolve dan Foal Eagle tersebut bersifat defensif. Latihan tersebut melibatkan 18.000 personel militer AS dan 20.000 orang pasukan Korsel.






Namun, Seoul membantah argumen negara tetangganya tersebut dan mengatakan bahwa reaksi Korut tersebut adalah sebuah “kecaman stereotip”. Korsel juga menegaskan bahwa pihaknya tidak mendeteksi adanya aktivitas militer tidak biasa di perbatasan utaranya.



“Korea Utara tahu benar bahwa kami tidak bermaksud jahat,” kata juru bicara Menteri Pertahanan Korea Selatan, Won Tae-jae.



Biasanya, Korut merespon latihan perang di perbatasan selatan negaranya tersebut dengan marah, namun tidak ada kejadian apapun yang terjadi sesudahnya.



Latihan tahun ini digelar bertepatan dengan upaya diplomatik guna mengajak Korea Utara kembali ke meja perundingan pelucutan nuklir dengan enam negara.



Korut memutuskan untuk keluar dari forum tersebut pada bulan April, satu bulan sebelum melakukan uji coba senjata atom.



Sebagai prasyarat untuk kembali ke meja perundingan, Korea Utara menuntut komitmen AS untuk membuka jalur dialog mengenai kesepakatan damai guna mengakhiri gencatan senjata yang menyudahi Perang Korea tahun 1950-1953.



Secara teknis, Korea Utara dan Selatan masih berada dalam keadaan perang, karena Perang Korea tahun 1950-1953 diakhiri tanpa penandatanganan kesepakatan damai antara kedua negara.



Juru bicara kementerian luar negeri Korut, dikutip oleh kantor berita resmi Pyongyang, menyebut latihan militer tersebut sebagai “latihan perang nuklir yang bertujuan untuk melakukan serangan awal kepada Korea Utara.”



Latihan tersebut membuktikan kebenaran proposal kesepakatan damai, tambah juru bicara tersebut.



“Korea Utara sepenuhnya siap untuk melakukan dialog atau perang. Kami akan terus mengembangkan pertahanan nuklir selama ancaman dan provokasi militer AS masih terus dilakukan.”



AS, China, Rusia, Jepang, dan Korea Utara seringkali mengungkapkan harapan mereka bahwa Korea Utara akan bergabung kembali dengan proses dialog tersebut.



Oktober tahun lalu, baik AS maupun Korut telah menunjukkan itikad baik dengan digelarnya dialog kedua negara.



Departemen Luar Negeri AS bahkan menghadiahkan visa ke AS pada seorang pejabat senior Korea Utara yang akan melakukan pembicaraan dengan akademisi AS dan mungkin juga dengan diplomat negara Paman Sam itu.



Sumber yang mengetahui permasalahan itu mengatakan bahwa visa tersebut akan diberikan pada Ri Gun, negosiator nomor dua di Korea Utara dalam negosiasi nuklir antara dua Korea, China, Jepang, Rusia, dan AS yang kini sedang terhenti.



Pada hari Jumat (16/10/09), AS mengatakan akan mengijinkan Ri Gun berkunjung ke negaranya dalam bulan ini, sebuah gerakan yang menurut para analis dapat menjadi langkah pertama menuju pembicaraan antara keduanya untuk mengakhiri program nuklir Pyongyang.



Ri Gun akan menghadiri beberapa pertemuan di New York dan San Diego dengan sejumlah akademisi dan pakar swasta yang mempelajari Korea Utara.



Departemen Luar Negeri tidak mengatakan apa-apa tentang kemungkinan adanya pembicaraan antara pejabat AS dan Korea Utara, namun sebuah sumber mengatakan bahwa besar kemungkinan diplomat AS Sung Kim akan bertemu dengan Ri secara informal dalam kunjungannya ini.



AS berharap sebuah dialog bilateral akan mengembalikan Korea Utara ke pembicaraan yang lebih luas untuk menghentikan program nuklirnya. (dn/af/bc/sm) www.suaramedia.com


{ 0 comments }





ADDIS ABABA (SuaraMedia News) – Sebuah investigasi Observer menunjukkan bagaimana negara-negara kaya mendapatkan jaminan untuk memenuhi kebutuhan warganya, dengan memanfaatkan lahan seluas dua kali lipat daratan Inggris. Dan, lahan tersebut berada di Afrika, kawasan yang identik dengan kekurangan pangan. Guardian melaporkan hasil investigasi tersebut pada hari Senin (07/03).

Di Ethiopia, tepatnya di Rift Valley di Awassa, tedapat sebuah rumah kaca terbesar di negara tersebut. Rumah kaca tersebut belum sepenuhnya rampung, namun perkembanganya sudah cukup mengesankan. Luasnya lebih dari 20 hektar – 20 kali lebih besar daripada lapangan bola. Di dalam rumah kaca tersebut, ditanam tomat, cabai, dan sayur-sayuran lain yang berjajar dalam barisan sepanjang 500 m. Kondisi di dalam rumah kaca tersebut dikendalikan oleh komputer. Para insinyur Spanyol bertangung-jawab atas struktur baja rumah kaca. Para pakar dari Belanda bertanggung-jawab atas penggunaan air yang bersifat minimal di rumah kaca itu. Setiap hari, 1000 orang wanita memetik dan mengepak 50 ton bahan pangan. Dalam 24 jam, setelah menempuh jarak sepanjang 1000 mil, bahan pangan itu telah berada di toko dan restoran di Dubai, Jeddah, dan negara-negara lain di Timur-Tengah.






Ada sebuah paradoks di sini. Ethiopia adalah salah satu negara termiskin di dunia. Namun, ketika 13 juta rakyat Ethiopia butuh pangan, pemerintah Ethiopia menyediakan 3 juta hektar tanah tersubur di Ethiopia bagi negara-negara makmur dan sejumlah orang terkaya di dunia yang lantas mengekspor pangan kepada rakyat mereka sendiri.



Tanah seluas 1000 hektar di Awassa tersebut disewa selama 99 tahun oleh seorang usahawan milyarder dari Saudi yang lahir di Ethiopia, Sheikh Mohammed al-Amoudi. Al-amoudi adalah satu dari 50 orang terkaya di dunia. Perusahaan Al-Amoudi, Saudi Star, akan mengakuisisi dan mengembangkan lahan seluas 500.000 hektar di Ethiopia pada beberapa tahun mendatang. Sejauh ini, perusahaan itu telah membeli empat pertanian dan telah menanam  gandum, padi, sayur-mayur, dan bunga untuk pasar Saudi. Perusahaan itu diharapkan dapat mempekerjakan lebih dari 1000 orang.



Ethiopia hanyalah satu dari 20 negara Afrika yang tanahnya dibeli atau disewa untuk pertanian intensif. Sebuah investigasi yang dilakukan ole Observer memperkirakan bahwa sekitar 5 juta hektar lahan – dua kali luas daratan Inggris – telah diakuisisi dalam beberapa tahun terakhir atau sedang berada dalam proses negosiasi. Negosiasi tersebut melibatkan pemrintah dan para investor kaya yang bekerja dengan memanfatkan subsidi pemerintah. Data yang digunakan dalam investigasi tersebut dikumpulkan oleh Grain, International Institute for Environment and Development, International Land Coalition, ActionAid, dan lembaga swadaya masyarakat lainnya.



Para pelaku di bidang agribisnis internasional, investment banks, hedge funds, commodity traders, wealth funds, setrta dana pensiun Inggris, yayasan dan individu tertarik pada lahan termurah di dunia yang terletak di Afrika. Entitas-entitas tersebut mengincar Sudan, Kenya, Nigeria, Zambia, Malawi, Ethiopia, Kongo, Zambia, Uganda, Madagaskar, Zimbabwe, Mali, Sierra Leone, Ghana, dan sebagainya.



Ethiopia telah menyetujui 815 proyek pertanian bermodal asing sejak tahun 2007. Tanah Ethiopia dapat disewa dengan harga $1 per hektar per tahun. Negara-negara emirat seperti Saudi,  Qatar, Kuwait, dan Abu Dhabi merupakan pembeli terbesar. Pada tahun 2008, Saudi mengumumkan pengurangan produksi sereal sebesar 12 perse demi konservasi air. Sebagai gantinya, Saudi menyediakan $5bn sebagai pinjaman untuk perusahaan yang ingin berinvestasi di luar negeri dalam sektor pertanian yang potensial.  Foras, perusahaan investasi Saudi yang didukung oleh Islamic Development Bank dan para investor kaya Saudi, berencana untuk membeli lahan di Mali, Senegal, Sudan, dan Uganda. Perusahaan telah menyediakan dana sebesar $1bn dan berharap dapat mensuplai 7 juta ton beras bagi pasar Saudi dalam 7 tahun ke depan.



Dengan tindakan semacam itu, Saudi tak hanya mengakuisisi lahan Afrika, namun juga menghemat air sebanyak ratusan galon per tahun. Menurut PBB, air akan menjadi faktor yang sangat menentukan dalam 100 tahun mendatang.



Lahan Afrika menarik bukan hanya untuk kebutuhan pangan, namun juga untuk biofuel. China telah menandatangai kontrak dengan Republik Demokratik Kongo untuk menanam kelapa sawit di tas lahan seluas 2,8 juta hektar sebagai bahan biofuel. Madagaskar dan perusahaan Korea Selatan, Daewoo, sempat membahas proyek biofuel yang melibatkan lahan seluas 1.2 juta hektar – hampir separuh lahan yang dapat ditanami di negara itu. Namun, kesepakatan tersebut terhambat oleh adanya kerusuhan.



Menurut Tim Rice, penulis laporan ActioAid, diperkirakan bahwa Uni Eropa (UE) memerlukan lahan seluas 17,5 juta hektar – lebih dari separuh luas Italia – untuk memenuhi 10 persen kebutuhan biofuel pada tahun 2015. “Pencaplokan lahan demi biofuel di Afrika telah memojokkan petani dan produksi pangan. Jumlah orang yang kelaparan akan meningkat,” kata Rice. Perusahan-perusahaan Inggris telah mendapatkan lahan di Angola, Ethiopia, Mozambik, Nigeria, dan Tanzania, untuk menanam sayur-mayur dan bunga.



Perusahaan-perusahaan India, dengan dukungan pinjaman dari pmerintah, telah membeli atau menyewa ratusan ribu hektar lahan di Ethiopia, Kenya, Madagascar, Senegal, dan Mozambik, untuk pertanian padi, tebu, jagung, dan kacang-kacangan untuk memenuhi kebutuhan domestik.



Perusahan-peusahaan Korea Selatan pada tahun lalu telah membeli 700.000 hektar lahan di utara Sudan untuk menanam gandum. Uni Emirat Arab telah mengakuisisi 750.000 lahan di negara tersebut. Bulan lalu, Saudi mendapatkan kesepakatan atas lahan seluas 42.000 hektar di propinsi Nil.



Menurut pemerintah Sudan, lahan di negaranya sedang laris-manis. “Kami mendapat banyak permintaan dari banyak pengembang. Negosiasi masih berlangsung,” kata Peter Chooli, direktur sumber daya air dan irigasi, di Juba, pada minggu lalu. “Sebuah kelompok dari Denmark sedang berdiksusi dengan pemerintah dan pihak lain ingin menggunakan lahan di dekat Nil.”



Seorang bukanir yang menjalankan perusahaan invetasi Jarch Capital di New York, Philip Heilberg, telah menyewa lahan seluas 800.000 hektar di Darfur, Sudan. Heilberg berjanji, ia tak hanya akan menciptakan lapangan kerja, namun juga akan memberikan 10 persen atau lebih keuntungan yang ia peroleh kepada masyarakat setempat. Namun, ia dituduh pemerintah Sudan telah “mencaplok” tanah adat. Ia juga dituduh memancing upaya Amerika untuk memecah-belah Sudan.



Menurut Devlin Kuyek, peneliti dari Grain yang berbasis di Montreal, berinvestasi di Afrika adalah sebuah strategi baru untuk mendapatkan pangan yang dijalankan oleh banyak pemerintah.



“Negara-negara kaya mengincar Afrika tak hanya demi pengembalian modal yang sehat. Namun, juga sebagai polis asuransi. Kekurangan pangan dan kerusuhan di 28 negara pada tahun 2008, menurunnya persediaan air, perubahan iklim, dan pertumbuhan populasi yang pesat telah membuat tanah jadi menarik. Afrika memiliki sebagian besar lahan, dan, dibandingkan dengan benua lain,  murah,” kata Kuyek. (es/gd) www.suaramedia.com


{ 0 comments }





ANKARA (SuaraMedia News) – Israel mungkin akan merasa tidak senang, namun sebuah tayangan populer televisi dan film Turki yang dulu menceritakan mengenai seorang dokter Yahudi yang mencuri organ tubuh para tahanan Muslim di Irak, kini mengemukakan rencana untuk merilis sebuah film yang mengambil setting di Palestina.

“Valley of the Wolves: Palestine” diproyeksikan akan menelan dana lebih dari 10 juta euro. Dengan biaya produksi sebesar itu, film tersebut masuk dalam jajaran film termahal Turki.



Dijadwalkan rilis pada bulan November, film tersebut mencoba menyusul kesuksesan “Valley of the Wolves: Iraq” yang rilis pada tahun 2006.



“Valley of the Wolves: Iraq” yang menceritakan para prajurit AS yang membabi buta di Irak, mencatatkan penjualan tiket sebanyak 4,2 juta lembar di tengah tudingan anti-Amerika dan anti-Semit.



“Setelah Irak, kami memutuskan bahwa dalam film Polat berikutnya, kami akan kembali mengangkat kisah internasional,” kata Bahadir Ozdener, sang penulis naskah, yang duduk di sebuah ruangan penuh kamera antik di Nisantasi, sebuah kawasan elit di Istanbul.



Yang menjadi tokoh utama adalam Polat Alemdar, seorang agen yang selalu menenteng pistol, berpakaian rapi dan tidak terlalu banyak menunjukkan ekspresi wajah.






Diperankan oleh aktor Necati Sasmaz, yang belum pernah memiliki pengalaman akting sebelumnya, dan disulih suara oleh aktor lainnya, Polat terkadang disebut-sebut sebagai James Bond-nya Turki. Sosok Polat diidolakan oleh jutaan anak muda Turki, yang sampai meniru gerak-gerik dan pola bicaranya.



Dalam film baru tersebut, Ozdener mengatakan bahwa dirinya ingin membuka mata dunia dan menceritakan sejarah, mengenai apa yang sebenarnya terjadi di Palestina.



Dia menyebut konflik Palestina sebagai sebuah contoh sempurna dari target-target kaum penjajah. Turki telah sejak lama menjadi anggota NATO, sekutu tradisional Amerika Serikat, dan menjalin hubungan dengan Israel sejak pertengahan tahun 1990-an. Turki menganut paham sekuler, namun mayoritas penduduk negara tersebut adalah Muslim.



“Cerita yang diangkat dalam tayangan ini adalah kisah alternatif dari peristiwa yang sebenarnya terjadi,” tambah Orhan Tekelioglu, seorang cendekiawan yang menulis mengenai film tersebut dalam kolomnya di surat kabar Radikal.



“Sederhananya, (film) itu mengisahkan mengenai Turki yang mendapatkan serangan kekuatan asing, pertama dari AS, kemudian dari Israel.”



Valley of the Wolves: Palestine dibuat beberapa saat setelah seri Valley of the Wolves memicu kecaman di Israel.



Pada bulan Januari lalu, sehubungan dengan penayangan sebuah episode serial televisi populer tersebut, yang mengisahkan agen-agen Israel menculik seorang anak Turki, Deputi Menteri Luar Negeri Israel, Danny Ayalon, memanggil duta besar Turki.



Pertemuan Ayalon dan duta besar Turki berbuntut panjang karena Ayalon menolak menjabat tangan Ahmet Oguz Cellikol, sang duta besar Turki, dan mendudukkan Cellikol di kursi yang lebih rendah di hadapan kamera televisi.



Turki marah besar dengan tindakan tersebut, dan kini, hubungan Israel dan Turki bertambah tegang dengan film tersebut, yang akan menceritakan sepak terjang Polat Alemdar di Gaza, Tepi Barat dan Yerusalem.



“Kami tidak bisa menanggapi sesuatu yang belum kami saksikan,” kata Tal Gat, deputi konsulat jenderal Israel di Istanbul.



Liga Anti Penistaan (Anti-Defamation League – ADL), sebuah kelompok Yahudi yang berbasis di AS dan menentang anti-Semitisme, mengatakan bahwa film tersebut berseberangan dengan tradisi Ottoman (Turki) yang menjunjung toleransi beragama.



“Dalam sejarahnya, Turki tidak “tercemar” dengan anti-Semitisme,” kata Abraham Foxman, direktur nasional ADL. “Tapi ironisnya, saat ini Turki menyebarkan anti-Semitisme melalui media massa.”



Tayangan Valley of the Wolves, yang dibuat oleh perusahaan produksi Pana Film, meraup sukses luar biasa di Turki.



Valley of the Wolves berisi cerita mitologi yang disukai kalangan nasionalis. Mengisahkan mengenai pahlawan tunggal yang memandu orang-orang Turki keluar dari lembah Asia Tengah, melewati jebakan musuh.



Serial televisi yang dikenal dengan nama “Kurtlar Vadisi” di Turki tersebut pertama kali ditayangkan pada tahun 2003. Dalam tayangan awal tersebut, Polat Alemdar ditugasi untuk menembus tembok kejahatan terorganisir di Turki.



Dengan dibumbui adegan baku tembak dan kekerasan, tayangan tersebut dengan cepat mampu mencuri perhatian para pemirsa. Menurut klaim Pena, saat ini tayangan tersebut ditonton oleh 20 hingga 40 juta warga Turki.



Kemudian, muncullah Valley of the Wolves: Iraq, film yang ditayangkan pada tahun 2006. Dalam film tersebut, Polat Alemdar berjibaku dalam kejadian pada bulan Juli 2003, ketika pasukan AS menangkap dan menyekap pasukan khusus Turki di sebelah utara Irak.



Dengan gaya pengambilan gambar layaknya film Hollywood, film tersebut menceritakan mengenai penyiksaan yang terjadi di penjara Abu Ghraib.



Setelah Irak, Pana Film membuat seri yang mengisahkan konflik melawan gerakan separatis Kurdi. Namun pemerintah mendesak agar tayangan “Valley of the Wolves: Terror” dihentikan setelah tayang satu episode, karena tema yang diangkat dianggap terlalu sensitif.



Kritikus film Turki, Alin Tasciyan, yakin bahwa Valley of the Wolves, yang mengusung gaya Hollywood, dapat menyampaikan pesan yang amat berbeda. Dia menybut film tahun 2006 tentang Irak tersebut sebagai film yang “anti-Amerika, namun dengan gaya yang sangat Amerika.” (dn/hz) www.suaramedia.com


{ 0 comments }

</