OTTAWA (SuaraMediaNews) – Kanada memasukkan Al-Shabaab, sebuah kelompok militan dari Somalia yang baru-baru ini menyatakan bergabung dengan Al-Qaeda, ke dalam daftar “kelompok teroris”. Dengan demikian, Kanada dapat melarang Al-Shabaab beroperasi atau mencari dana. Demikian kata pemerintah Kanada pada hari Minggu (07/03).
Pemerintah Kanada baru saja menerima laporan dari komunitas Somalia bahwa Al-Shabaab bermaksud meradikalisasi dan merekruit para pemuda Kanada.

“Pemerintah ……bertekad bahwa kelompok teroris ini tidak menerima dukungan dari sumber-sumber Kanada,” kata Vic Toews, Menteri Keselamatan Umum.

Melalui daftar yang baru saja dibuat tersebut, pemerintah Kanada melarang warganya untuk berhubungan dengan aset-aset yang dimiliki atau dikendalikan oleh Al-Shabaab. Barangsiapa berpastisipasi, berkonstribusi, atau memfasilitasi aktivitas kelompok tersebut akan dinyatakan sebagai pelaku tindak kriminal.




Menteri urusan dalam negeri Ingggris mengumumkan tindakan yang sama pada bulan ini.

Menurut keamanan Barat, Somalia telah menjadi tempat persembunyian bagi para militan – Somalia tidak memiliki pemerintah pusat yang efektif selama hampir dua dekade.

Harakat al-Shabaab Mujahideen (Gerakan Pemuda Pejuang), atau yang lebih dikenal sebagai Al-Shabaab, adalah sebuah kelompok pemberontak di Somalia. Pada musim panas tahun 2009, Al-Shabaab menguasai sebagian besar wilayah selatan Somalia, termasuk ibukotanya, Mogadishu. Di Mogadishu, Al-Shabaab memberlakukan hukum Shariah berdasarkan intepretasi mereka sendiri yang cukup keras.

Tidak diketahui secara pasti berapa anggota Al-Shabaab. Per Desember 2006, diperkirakan angota Al-Shabaab berjumlah antara 3000 sampai 7000 orang.

Kemunculan Al-Shabaab berawal dari kekacauan politik yang terjadi pada tahun 2006. Pada saat itu, terjadi konflik antara Somalia dan Ethiopia. Angkatan bersenjata Ethiopia berhasil menyingkirkan Islamic Court Union dari kursi kekuasaannya di Somalia. Islamic Court Union lantas terpecah menjadi sejumlah kelompok yang lebih kecil, termasuk Al-Shabaab.

Al-Shabaab menggambarkan diri mereka sebagai pelaku “jihad” yang melawan musuh-musuh agama. Kelompok tersebut berperang melawan pemerintah transisi Somalia (Transitional Federal Government – TFG) dan African Union Mission to Somalia (AMISOM). Al-Shabaab juga mengumumkan perang terhadap PBB dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat dari Barat yang membagikan bantuan pangan kepada rakyat Somalia. Selama periode 2008-2009, 42 orang pekerja sosial telah terbunuh oleh Al-Shabaab.

Pada awalnya, Al-Shabaab menampik bahwa mereka bekerja sama dengan Al-Qaeda. Namun, pada bulan Januari 2010, pemimpin Al-Shabaab menyatakan bahwa Al-Shabaab bergabung dalam “jihad internasional” yang dilakukan oleh Al-Qaeda.

Al-Shabaab tidak lepas dari perpecahan. Pada tahun 2009, sejumlah pemimpin dan anggota Al-Shabaab bergabung dengan TFG. Salah satu pemimpin al-Shabaab yang membelot adalah Sheikh Mohamed Abdullahi, atau dikenal juga sebagai “Sheikh Bakistani”. Bakistani adalah mantan pemimpin Brigade Maymana. Bakistani yang membelot pada bulan November lalu mengatakan kepada VOA Somali Service bahwa ia tidak sependapat dengan misi bunuh diri dan eksekusi yang dilakukan oleh al-Shabaab.

Bakistani menyatakan bahwa ia telah beberapa kali dikunjungi oleh ayahnya. Sang ayah adalah pemimpin keagamaan setempat yang cukup populer. Sang ayahlah yang meyakinkan Bakistani untuk berubah haluan.

Walau demikian, juru bicara Al-Shabaab menyangkal keterlibatan Bakistani sebagai pemimpin al-Shabaab.

Pada bulan yang sama, seorang mantan anggota Al-Shabaab mengadakan wawancara dengan Agence France-Press (AFP) di Villa Somalia dengan perantaraan pemerintah federal Somalia. Dalam wawancara tersebut, sang mantan angota Al-Shabaab mengatakan bahwa ia telah mengalami dilusi. Awalnya, ia yakin bahwa ia berjuang untuk mengusir penjajah Ethiopia. Namun, ia lantas merasa tak tahan dengan intepretasi Al-Shabaab terhadap Islam.

Pada bulan Desember 2009, Sheikh Ali Hassan Gheddi, yang saat itu menjabat sebagai Commander in-Chief untuk militan Al-Shabaab di wilayah Shabele Tengah, juga membelot. Alasannya, ia tak tahan dengan kekerasan yang dilakukan Al-Shabaab. Al-Shabaab telah mengutip uang dari warga. Al-Shabaab menyatakan bahwa beruruasn dengan mereka sama artinya dengan menentang ajaran Islam. Menurut Sheikh Gheddi, alasan terbesarnya untuk keluar dari Al-Shabaab adalah keputuasn kelompok tersebut unutk melarang Program Pangan PBB (United Nation’s World Food Programme – WFP). (es/rts/wp) www.suaramedia.com
{ 0 comments }