WASHINGTON (SuaraMedia News) – Dalam upaya untuk mencuci bersih kejahatan Israel terhadap rakyat Palestina, termasuk operasi militer kejam yang sedang berlangsung di Jalur Gaza, duta besar Israel untuk AS, Michael Oren, mencemooh kesusilaan manusia, kebebasan berbicara dan kebenaran yang obyektif.
Dalam sebuah ceramah di Universitas California-Irvine pada hari Senin (08/02), Oren berusaha menampakkan wajah buruk Israel sebagai negara demokratis dan beradab yang berbagi nilai-nilai dasar Barat seperti hak asasi manusia dan kebebasan sipil.

Namun, banyak mahasiswa yang tidak tahan mendengar kebohongan nyata tersebut.

Mereka mencelanya, meneriakinya “pembunuh” dan “berapa banyak orang Palestina yang kau bunuh.”

Beberapa petinggi pro-Zionis UC-Irvine kehilangan kesabaran ketika upaya untuk menjelaskan kebijakan pemerintah Israel itu berubah menjadi hal yang sangat memalukan.




Sebelumnya, Persatuan Mahasiswa Muslim di UC-Irvine mengutuk kehadiran duta besar negara apartheid itu ke kampus.

“Oren sendiri berpartisipasi di dalam Pasukan Pertahanan Israel dalam perang yang terjadi di Libanon dan Palestina. Oren dan rekan-rekannya hanya dapat diberi ijin bicara dalam Pengadilan Kriminal Internasional.”

Marah atas teriakan-teriakan para mahasiswa terhadap kejahatan Israel di Gaza, Palestina, dan Libanon, Zionis meminta maaf telah menuduh mahasiswa Muslim kampus UC-Irvine mengutuk Israel.

Sesungguhnya, bukan para mahasiswa itu yang mencela Israel, namun Israel yang telah mencela dirinya sendiri dengan bertindak dan bersikap seperti seorang penjahat, negara pembunuh yang membunuh ratusan anak-anak dan kemudian mengklaimnya sebagai kesalahan.

Dapat dikatakan bahwa Oren diinterupsi bukan karena dia orang Yahudi, tapi lebih karena ia merupakan perwakilan sebuah negara penjahat.

Jika cukup banyak orang yang mengkonfrontir dan mengganggu perwakilan Israel kapan pun mereka menginjakkan kaki di ibukota-ibukota dunia dan di kampus-kampus, mungkin banyak nyawa anak-anak, wanita, dan warga sipil lainnya yang dapat diselamatkan.

Beberapa supremasis Zionis akan meminta kebebasan berbicara seolah membela pembunuhan massal dan genosida dilindungi oleh Amandemen Pertama Amerika. Isunya bukanlah kebebasan berbicara, melainkan membela dan membenarkan genosida.

Terlebih lagi, jika Zionisme dan perwakilan jahatnya memiliki hak untuk kebebasan berbicara, maka Nazisme dan perwakilannya harus mendapatkan hak yang serupa. Apalagi, Zionisme dan Nazisme bagai pinang dibelah dua. Mereka adalah dua sisi dari koin yang sama.

Selain itu, sejak kapan rezim Yahudi-Nazi di tanah pendudukan Palestina menghormati kebebasan berbicara atau kebebasan lainnya yang terkait dengan non-Yahudi? Bukankah Israel mengebom dan menghancurkan stasiun radio Palestina di Ramallah pada awal intifada Aqsa? Bukankah angkatan udara Israel mengebom dan menghancurkan studio dan transmiter TV Aqsa dalam serangan militer tahun lalu?

Lebih dari dua dekade lalu, Israel bertindak terlalu jauh dengan memadamkan listrik di seluruh Tepi Barat dan Jalur Gaza untuk mencegah rakyat Palestina menonton siaran pidato pemimpin mereka, Yasser Arafat, di Jenewa. Karena itu, Israel mungkin adalah negara terakhir di muka bumi yang dapat mengklaim bahwa mereka benar-benar peduli tentang kebebasan berbicara dan kebebasan sipil lainnya. (rin/pic) www.suaramedia.com
